
Selama beberapa jam George tidak bisa berpikir jernih karena bayangan masa lalu yang buruk muncul dalam pikirannya.
Dua kali mengalami kegagalan cinta karena pengkhianatan membuat George membenci wanita munafik. Ia lebih menghargai jalang daripada wanita yang berpura - pura baik dan suci.
"Aku tidak sabar bertemu denganmu." Geroge bergumam dalam hati.
***
Mira menyelesaikan pekerjaannya tepat pukul sembilan malam. Hari ini ia datang terlambat ke kantor karena pagi tadi kepalanya terasa berat. Jadi Mira memutuskan untuk datang terlambat ke kantor dan menebusnya dengan bekerja lembur.
"Sial . . . mengapa aku lupa waktu sih ? Lembur sih lembur, tapi nggak sampe jam segini kali." Gerutu Mira sambil melihat jam yang tergantung di dinding ruangannya.
Mira segera membereskan barang - barangnya, bersiap - siap untuk pulang. Ia berjalan keluar dari gedung kantornya menuju sebuah taman yang ada didekat kantornya supaya ia bisa duduk disana sambil menunggu taxi yang akan lewat.
Pada saat Mira berjalan, tiba - tiba saja sebuah mobil van berhenti tepat disampingnya.
Mira terkejut pasalnya ketika pintu van itu terbuka, keluarlah beberapa orang pria yang berpakaian serba hitam. Salah satu pria menarik tangan Mira lalu membekap mulutnya dan segera menyeretnya masuk kedalam mobil van itu. Didalam mobil Mira meronta - meronta, berteriak - teriak minta dilepaskan. Namun sayangnya semua pria didalam mobil tersebut tidak mendengarkan kata - kata Mira.
"Wanita ini merepotkan saja."Kata seorang pria bertubuh kekar yang berada di samping kanan Mira.
"Jika kalian tidak mau direpotkan, maka lepaskan aku." Ucap Mira sedikit berteriak.
"Aku bukan orang kaya, aku bukan anak konglomerat. Aku baru mulai berkarir jadi aku tidak memiliki banyak uang. Kenapa kalian menculikku ?" Suara Mira semakin meninggi.
Karena ia terlalu ribut, akhirnya pria itu menutup mulut dan hidung Mira dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius.
Perlahan Mira terkulai lemas sampai akhirnya ia pingsan.
Dalam perjalanan, Mira mulai sadarkan diri. Mira mulai menggerakkan kepalanya tegak meski kepalanya terasa pusing. Perlahan ia membuka kedua matanya. Dilihatnya ada dua orang pria mengapit dirinya, dan ada lagi dua orang pria berada didepannya. Yang satu sedang mengemudikan mobil sementara pria satunya lagi sedang menelepon seseorang.
Mendengar hal itu, Mira syok bukan main. Seluruh tubuhnya gemetar dan jantungnya berdetak kencang ketakutan.
*Apa yang akan terjadi padaku ? Bos ? Siapa bos mereka ? Apa aku melakukan kesalahan ? Apa yang akan mereka lakukan padaku ? Gumam Mira dalam hati.
Tuhan bantuhlah aku*.
Tiba - tiba Mira merasakan mobilnya berhenti. Pria disamping Mira membuka pintu mobil dan menarik tangan Mira, sementara pria yang disamping kanannya mendorong Mira agar segera keluar dari mobil.
Keduanya menurunkan Mira dan memaksanya berjalan mengikuti langkah mereka.
"Jika anda tidak mau sesuatu yang lebih buruk terjadi pada anda nona, maka turuti kata - kata kami." Kata pria bertubuh kekar itu.
Mira berusaha berjalan mengimbangi langkah mereka meski kakinya terasa lemas.
Mira melihat sekitarnya. Ketakutannya sedikit berkurang karena sekarang ia yakin ia berada disebuah hotel, bukan di sebuah tempat yang gelap dan menakutkan seperti di film - film, jika seseorang diculik pasti akan dibawa ke tempat seperti itu.
Kedua pria itu langsung membawa Mira ke kamar Mr. George.
Ketika mereka berada didepan pintu, pria bertubuh kekar itu hendak menekan bel namun Mira segera menepis tangannya.
"Mengapa aku dibawa kesini ? Siapa bos kalian ?" Mira memberanikan diri bertanya.
"Maaf nona, kami tidak tahu. Kami hanya menjalankan perintah." Jawab pria itu singkat sembari menekan bel.
Pintu terbuka otomatis dan kedua pria itu langsung mendorong Mira masuk kedalam. Mira yang terhuyung kedepan tidak dapat menyeimbangkan langkahnya sehingga membuat tubuhnya terjatuh. Tetapi dengan cepat Mira berdiri dan membalikan tubuhnya mencoba membuka pintu. Namun sia - sia saja, pintu itu sudah terkunci.