Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
Bab 48 - Akulah Pria bodoh itu



Keesokan paginya, baik Renatta maupun Regan sama-sama memperlihatkan wajah ceria dan berseri-seri. Bahkan hal itu tak bisa luput dari penglihatan Mommy Jessie.


"Wah, ada apa ini? Kayanya ada yang baru jadian. Iya kan? Hayo ngaku kalian!"


"Ih, Mommy nyebelin! Jangan ganggu kenapa sih?"


"Harusnya kamu tuh berterimakasih ke Mommy, karena Mommy udah bantu menyadarkan Natta. Dasar anak tidak tahu diri!"


Regan mengerucutkan bibirnya. Ia dan Mommy nya memang tidak pernah bisa akur dan bicara dari hati ke hati dengan benar. Bahkan lebih ke paksaan kalau cerita pun.


Renatta menyenggol lengan Regan untuk meminta maaf ke Mommy Jessie.


"Iya, maaf Mom. Makasih juga ya!"


Regan mengucapkannya seperti terpaksa. Tapi Mommy Jessie malah heboh dan memeluk Regan kalau mengecup pipi kanan dan kiri anaknya.


"Aduh sayang, makasih ya. Baru kali ini Mommy dengar anak brandal ini bilang maaf dan makasih ke Mommy nya bersamaan," ucapnya sambil memeluk Renatta.


"Oh, iya, sesuai ucapan Mommy kemarin, Mommy mau ajak Natta pergi ketemu teman-teman Mommy. Untuk yang namanya laki-laki dilarang untuk ikut maupun mengawasi."


Secara tidak langsung Mommy Jessie melarang Regan untuk jadi penguntit. Di dalam hatinya, Regan terus menggerutu.


Baru aja jadian, tapi kenapa jadi Mommy yang menguasai Natta? Hih! Kesal. Harusnya kan ini waktunya aku jalan sama Natta. Mumpung masih di London. Kalau udah di Indonesia mana bisa. Pekerjaan yang numpuk adanya juga.


"Jangan natap Mommy kaya gitu! Nanti Mommy colok mata kamu!" ucapnya sambil menunjukkan dua jarinya di depan mata Regan.


Mommy Jessie pun meminta Renatta untuk mengganti pakaian mengenakan pakaian yang ia belikan kemarin. Tapi Regan langsung berpikiran negatif, ia takut Renatta memakai pakaian jelek dan kurang bahan itu lagi.


"Jangan pakai pakaian yang kemarin yang kurang bahan itu!" larang Regan.


"Apaan sih! Orang Natta Mommy suruh pakai pakaian yang ala-ala cewek tomboi. Sana cari kegiatan aja sendiri. Atau susul aja Daddy kamu di kantor. Kasihan dia sendirian."


Mommy Jessie mendorong Regan untuk menjauh darinya dan Renatta.


Regan kesal tapi mau gimana lagi. Ia selalu saja kalah kalau berhadapan dengan Mommy nya. Kalau saja Mommy nya bukan Mommy Jessie yang galak dan cerewet abis, mungkin ia berani melawan.


*


*


Lagi dan lagi, Regan bosan di rumah sendirian. Meskipun sekarang ia sedang intens berkirim pesan dengan Renatta. Bahkan Renatta sempat mengirimkan foto-foto bersama dengan teman Mommy nya.


"Memang Renatta paling cantik di antara yang lainnya."


Ya iyalah Bambang, orang yang lainnya udah pawa tuwir semua.


Untungnya sebuah telepon dari Ozy, membuatnya jadi tidak merasa sepi-sepi amat.


"Hm, ada apa?"


"Kapan pulang? Pekerjaan mu sudah banyak tahu. Aku tidak bisa terus menghandle nya. Pekerjaanku juga banyak. Apalagi ditambah istriku yang lagi hamil. Aku harus kerja keras memenuhi ngidamnya yang aneh-aneh."


Regan tertawa mendengarnya.


"Ngidam aneh-aneh seperti apa contohnya?" tanya Regan.


"Masa dia minta donat isinya garam, terus aku yang harus makannya. Aku kan kesel."


Regan tertawa lagi di atas penderitaan temannya. Ia malah berharap istri temannya ngidam yang lebih gila lagi dari ini.


"Baguslah, paling aku pulang sekitar dua sampai tiga hari lagi. Mommy masih ingin jalan-jalan sama calon mantu nya."


"Heh! Calon mantu siapa? Sejak kapan? Kamu kan jomblo abadi yang cintanya tidak terbalas!"


"Sialan!"


"Eh tunggu dulu."


Ozy tampak berpikir, ia pun ingat jika Regan hanya membawa Renatta kesana. Apa jangan-jangan ...


"Calon mantu yang kamu maksud adalah Natta?"


"Iya lah siapa lagi."


"Wah, sejak kapan? Kok nggak ngasih tahu."


"Pria beristri dilarang kepo. Sudah ya aku mau jemput Mommy dan Renatta. Bye."


Sambungan telepon pun berakhir. Regan bersiap-siap setelah mendapatkan pesan dari Mommy nya untuk menjemput.


*


*


Setibanya di restoran, Mommy Jessie menyerahkan Renatta ke Regan. Karena Mommy Jessie harus pergi ke kantor katanya ada keadaan genting yang tidak bisa diwakilkan. Maka dari itu Mommy Jessie meminta Regan untuk datang.


"Jaga dia baik-baik. Jangan menyakitinya. Awas saja ya kamu! Mommy buang jadi anak nanti!"


"Ya sudah sana kalian kencan, kasihan yang baru jadian harus terganggu oleh Mommy. Bye."


Setelah Mommy Jessie pergi dari restoran. Regan mengajak Renatta untuk pergi ke toko pakaian untuk menganti pakaiannya Renatta. Meski cantik tapi Regan tidak suka dengan penampilan Renatta yang seperti itu. Regan pun memilihkan pakaian untuk Renatta yang simpel dan tidak banyak motifnya.


Lalu mereka pergi dari sana dan berjalan-jalan di berbagai tempat wisata yang ada di London. Saling bergandengan tangan dan senyum penuh kebahagiaan muncul dari keduanya.


Renatta masih merasa semua ini adalah mimpi. Ia tidak pernah membayangkan kalau cinta pertamanya akan tetap jadi pacar pertamanya, bahkan mungkin akan jadi cinta terakhirnya juga.


Keduanya duduk di kursi pinggir jalan. Disana ternyata tak cuma ada mereka tetapi banyak sekali pasangan yang lainnya. Bahkan ada yang sedang berciuman di tempat umum. Ada yang saling berpelukan dan ada yang cuma duduk samping-sampingan sepertinya dan Regan.


"Pemandangannya tidak enak sekali," ucap Regan.


"Kenapa memangnya? Bukannya melihat hal seperti ini di kota ini wajar?"


"Tetap saja, matamu jadi terkontaminasi oleh pemandangan itu. Bahkan kita belum berciuman."


Renatta langsung memukul lengan Regan.


"Apanya yang belum berciuman. Waktu itu apa? Bapak mencurinya tanpa izin!"


"Apaan itu mah cuma nempel doang Nat! Cuma kecupan namanya itu."


"Hih! Sama aja! Bibir ketemu bibir kok!"


"Beda Nat!"


"Sama Pak!"


"Ih ngeyel banget jadi cewek. Orang beda kok. Mau bukti?"


Renatta jadi terdiam. Ia tidak mau mendapatkan serangan lagi dari Regan apalagi ini di tempat umum.


"Sudah, lupakan aja Pak. Ayo kita ke tempat lain lagi," ucap Renatta yang sudah berdiri duluan.


Regan yang tidak digandeng jadi kesal sendiri. Ia bahkan merasa ditinggalkan oleh Renatta.


Lebai!


"Ish! Dasar cewek nggak peka!"


Regan pun berdiri dari duduknya dan berjalan mengejar Renatta yang sudah agak jauh. Ia bahkan melingkarkan tangannya di pinggang Renatta supaya wanita itu tidak bisa lari jauh darinya. Sudah kecil, mungil, kalau hilang, susah dicarinya.


Sampai pada akhirnya mereka berhenti lagi di sebuah taman. Mereka melakukan piknik disana. Suasana disana tidak terlalu ramai jadi Regan tanpa rasa malunya malah membaringkan kepalanya di paha Renatta.


Renatta tidak menyangka rupanya Regan memiliki sisi manjanya juga.


"Saya kira Bapak akan jadi harimau selamanya, rupanya bisa jadi anak kucing yang imut juga ya," ucap Renatta sambil mengelus kepala Regan yang meminta dielus.


"Dimana-mana cowok ya begitu, kalau udah nemuin yang buat dia nyaman. Dan hanya ia perlihatkan sisi manjanya itu ke wanta yang dicintainya. Ya kali aku begini di depan banyak orang. Yang ada nanti turun pamor ku!"


Renatta tertawa mendengarnya. Ya, iya tahu bagaimana Regan. Jadi pemimpin yang banyak maunya. Tidak ramah dan jarang tersenyum. Kalau tiba-tiba para pegawainya melihat Regan yang seperti ini. Bisa pingsan semua para pegawainya.


"Terima kasih sudah mencintai aku," ucap Renatta dengan lembut.


Regan pun tersenyum lalu meraih wajah Renatta dan menariknya untuk mendekat ke wajahnya. Kemudian Regan mencium Renatta dengan posisinya yang masih tiduran di paha Renatta.


Kali ini bukan hanya sekedar nempel bibir ke bibir melainkan Regan memperlihatkan apa itu yang namanya ciuman sebenarnya ke Renatta. Regan mel*mat bibir Renatta atas dan bawah. Sampai Renatta tidak bisa bernapas.


"Bernapas bodoh!" kesal Regan yang ciumannya harus terhenti.


Renatta mendengus sebal.


"Sekarang tahu kan apa bedanya kecupan dan ciuman? Kamu lebih suka yang mana?" tanya Regan dengan matanya yang terangkat seolah jadi pria yang genit.


"Iya tahu," jawab Renatta yang masih kesal dibilang bodoh. Lalu ia pun teringat akan ucapan Regan dulu yang mengatakan kalau dirinya tidak akan pernah dapat cowok dan yang mendapatkan dirinya adalah orang bodoh. Renatta pun mengingatkan hal itu ke Regan.


"Dulu Bapak mengatakan ini ke saya. 'Cih! Mana ada cowok yang mau sama kamu! Pasti yang mau adalah orang bodoh!' Dan ternyata orang bodoh itu adalah Bapak sendiri."


Regan sadar tapi ia tidak mau mengakuinya. Ia malah berpura-pura lupa.


"Oh iya? Kapan? Aku tidak merasa pernah bilang begitu. Kamu salah ingat kali."


"Cih, pura-pura tidak ingat. Padahal mah Bapak malu kan mengakuinya? Hahaha."


Melihat Renatta yang tertawa lepas seperti itu. Membuat hati Regan menghangat dan menarik tengkuk Renatta dan menciumnya lagi. Lalu menatap wajah Renatta dengan intens.


"Iya, aku lah pria bodoh itu. Pria bodoh yang beruntung mendapatkan mu."


*


*


TBC