Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
Bab 84 - Kedatangan Papa Dewa dan Nesha



Pukul 7 malam, Renatta sudah sadar. Ia awalnya terkejut dengan kakinya yang tak bisa digerakkan. Apalagi ketika melihat ke kaki dan tangannya yang di gips. Bukannya menangis atau teriak histeris. Renatta justru malah diam. Hal tersebut membuat Oma Lina bertanya-tanya. Sementara Mommy Jessie dan Regan seolah tahu apa yang dipikirkan Renatta. Mommy Jessie mendekat ke Renatta.


"Kamu sudah bangun. Apa kamu lapar? Atau kamu ingin melakukan sesuatu?" tanya Mommy Jessie.


Renatta menggeleng pelan.


"Kamu tidak ingin tahu gimana kondisi kamu?" tanya Mommy Jessie lagi.


"Pasti patah tulang kan Mom? Aku bisa tahu dari melihatnya. Bahkan aku tidak bisa merasakan apapun di bagian kaki kananku."


"Iya, tapi kata dokter kalau kamu rajin terapi, ini semua bisa disembuhkan dua sampai tiga bulan."


Renatta hanya mengangguk kemudian memiringkan kepalanya ke arah jendela.


Tiba-tiba Regan berdiri di depan kepalanya. Ia pun terhalangi untuk melihat jendela.


"Kamu tidak bersedih dengan keadaanmu sekarang?" tanya Regan.


"Aku bahkan mengalami hal yang lebih dari ini sebelumnya. Bagiku, luka hati lebih sakit daripada luka fisik. Luka fisik bisa disembuhkan karena kelihatan, sementara luka hati? Itu tak terlihat. Aku cukup sadar diri, mungkin karma untukku memang tak akan berakhir."


Renatta mengucapkan kata-kata itu dengan tatapan kosong. Regan yang mendengarnya merasa kesal. Ia ingin sekali Renatta tidak berpikiran buruk terus ketika terjadi masalah menimpa dirinya.


"Kamu terlalu berpikiran buruk Nat. Ini bukan karma. Kamu tidak bisa menyimpulkannya seperti itu."


Bukannya menjawab, Renatta malah memiringkan wajahnya ke arah yang berlawanan.


"Tolong tinggalkan aku sendirian disini. Kamu, Mommy, dan Oma pulanglah ke rumah. Aku tidak apa-apa kok sendirian."


Tentu saja hal tersebut ditolak oleh semua orang yang ada disana. Mereka tidak bisa melakukan itu semua. Apalagi dengan kondisi Renatta yang seperti sekarang. Setidaknya ada satu orang yang menjaga.


"Kalau kami semua pergi siapa yang akan jaga kamu Nat," ucap Mommy Jessie.


"Ada banyak suster disini Mom. Pasti Mommy, Oma pun ada kegiatan di rumah. Aku beneran tidak apa-apa," ucap Renatta meyakinkan.


Mommy Jessie dan Oma Lina pun memutuskan untuk pulang saja, mereka berdua menyerahkan penjagaan Renatta ke Regan. Disaat hanya berdua di dalam ruangan. Suasana terasa begitu hening, tak ada yang berbicara duluan. Sampai rasanya Regan tak tahan untuk tetap diam, ia pun memulai untuk bicara.


"Aku sedang menyelidiki kasus kecelakaan tabrak lari yang menimpa kamu. Kalau kamu ingat sesuatu katakan saja. Aku tidak mungkin diam saja melihat kamu seperti ini."


"Terima kasih," ucap Renatta dengan posisi yang masih sama.


Regan pun kesal dan ia malah berjalan ke samping ranjang agar Renatta melihat dirinya. Regan malah dengan sengaja mendekatkan kursi agar ia bisa lebih dekat dengan Renatta. Ketika wajah Renatta ingin miring ke sebelah lagi. Regan mencegahnya.


"Jangan terlalu banyak gerak, kamu itu habis kecelakaan. Please deh, Nat!"


Jadinya Renatta pun tak memiringkan kepalanya. Ia menatap langit-langit kamar rawatnya.


"Kalau ini semua adalah karma. Aku takut kalau aku jadi menikah dengan kamu, karma aku akan berdampak buruk ke kamu. Apa kita batal nikah saja?" ucap Renatta dengan entengnya.


Regan langsung refleks berdiri dan memarahi Renatta.


"Kamu jangan asal bicara Nat! Apanya yang karma? Sudah aku bilang ini bukan karma! Pokoknya aku tidak mau dengar lagi, kamu bicara asal seperti tadi. Kita sudah berjanji akan bersama."


Saking kesalnya, Regan malah menjauh dari Renatta dan memilih untuk berdiam diri duduk di sofa. Renatta melihat itu, ia pun menghela napasnya juga. Sebenarnya ia tidak bermaksud berkata seperti itu. Hanya saja, mengingat kakinya yang seperti mati rasa itu. Renatta sangat takut, kalau ia tak bisa berjalan lagi. Ia tidak ingin jadi beban hidup untuk Regan dengan harus menjaganya sepanjang waktu. Bukannya pesimis bisa berjalan lagi, tapi ia hanya berpikir kemungkinan terburuk dari kondisinya saat ini. Dua sampai tiga bulan itu saja termasuk lama. Belum lagi, Regan harus bekerja, ditambah mengurus dirinya.


30 menit kemudian, Papa Dewa, Nesha dan Grace masuk ke ruang rawat Renatta. Mereka dibuat terkejut dengan apa yang terjadi dengan Renatta. Apalagi Nesha yang malah sudah menangis. Ibu hamil satu itu, selalu sensitif ketika melihat sesuatu yang sedih, apalagi keluarganya sendiri yang mengalami kecelakaan.


"Hiks, hiks, Nat, kenapa bisa begini? Apa Regan tidak menjagamu dengan baik? Kalau begini jadinya, untuk apa kalian bersama? Hiks."


Bahkan isak tangis dan ucapan Nesha itu terdengar jelas di telinga Regan. Laki-laki itu tetap pada posisinya yaitu diam.


"Kok bisa kejadian begini sih Nat?"


Padahal kalau dicerna lagi, pertanyaan Nesha dan Grace intinya sama, menanyakan kecelakaan tersebut kenapa bisa terjadi. Renatta belum ingin menjawabnya karena kejadiannya terlalu cepat sampai ia pun antara sadar dan tidak saat kejadian berlangsung.


Giliran Papa Dewa yang bicara.


"Untunglah kamu sudah sadar Nat. Papa bersyukur karena kamu masih diberikan hidup oleh Tuhan."


"Iya Pa," jawab Renatta.


"Keluarga Regan tidak ada yang datang?" tanya Papa Dewa yang hanya melihat Regan saja yang duduk di sofa.


"Mereka sudah aku suruh untuk pulang Pa. Aku bahkan meminta Regan untuk tak disini, tapi dia tidak mau," ucap Renatta mengadu.


Tatapan mata Papa Dewa kini menyorot ke Regan. Tatapan itu seolah mengatakan kalau ada sesuatu yang perlu dijelaskan oleh Regan padanya.


"Kamu dijaga kakak kamu sama Grace dulu. Papa mau bicara berdua dengan Regan di luar."


Renatta mengangguk.


Dengan satu kode dari dagu Papa Dewa, Regan pun mengikuti Papa Dewa yang keluar dari ruang rawat Renatta. Mereka berdua duduk di tempat sepi. Papa Dewa meminta Regan untuk menjelaskan serinci-rincinya tentang kecelakaan yang menimpa putrinya.


Regan menjelaskan sesuai apa yang dia ketahui. Karena dia pun belum mendapatkan kabar apapun dari Ozy.


"Sebenarnya aku sendiri pun tidak tahu kejadian pastinya gimana Om. Tadi siang, Renatta minta izin keluar untuk beli makan. Awalnya saya menolak dan meminta untuk beli online saja. Tapi, Renatta tak mau. Dia pun pergi keluar. Tapi setelah 20 menit berlalu, Renatta tak kunjung kembali, aku pun akhirnya keluar dari ruanganku dan akan menyusul Renatta. Tapi ketika sampai di lantai bawah, aku mendapatkan kabar kalau Renatta kecelakaan dan di saat aku keluar dari gedung, Renatta sudah akan dimasukkan ke dalam mobil ambulans. Aku sudah meminta orang untuk menyelidikinya, tapi sampai sekarang belum ada kabar Om."


Papa Dewa langsung menunduk lemas. Ia masih mendengarkan penjelasan dari Regan mengenai Renatta yang sepertinya korban tabrak lari, karena si pelaku yang tak bertanggungjawab sama sekali tak datang bahkan untuk meminta maaf sekalipun.


Dengan hati yang lapang, Papa Dewa langsung meminta maaf ke Regan karena sudah mengalahkan dan memarahi Regan saat di telepon tadi. Setelah tahu kejadian tersebut memang tanpa kehadiran Regan, Papa Dewa jadi tahu kalau sepertinya ini adalah musibah.


"Lalu bagaimana kondisi Renatta? Apa yang terjadi pada kakinya? Apa patah tulang?"


Regan langsung mengangguk mengiyakan. Ia pun menjelaskan kondisi Renatta sesuai dengan apa yang dikatakan oleh dokter tadi.


"Aku tahu, pasti om tidak akan bisa kembali ke Malang dengan tenang, untuk itu, aku akan meminta izin ke Oma, supaya Om bisa tinggal di rumah keluargaku."


"Om lebih baik menyewa kontrakan saja disini, sampai Natta sembuh daripada merepotkan keluarga kamu Regan," tolak Papa Dewa.


Tapi, namanya juga Regan, ia sangat anti ditolak, ia memaksa Papa Dewa untuk menuruti keinginannya. Regan bahkan sampai menelpon omanya di depan Papa Dewa.


"Oma, keluarganya Natta boleh ya menginap di rumah sampai Natta sembuh?"


"Iya, boleh. Oma akan siapkan kamar untuk mereka nantinya. Dua kamar kan?"


Regan mengiyakan. Lalu menutup panggilannya.


"Om dengar sendiri kan? Oma sudah mengizinkan. Lagian kalau tinggal di rumah keluargaku, Om tidak usah khawatir untuk banyak hal. Disana juga banyak pekerja yang bisa membantu menjaga Nesha. Tak baik jika Nesha terus melihat Renatta, dia akan terus-menerus menangis saking tidak teganya. Hal itu bisa mengganggu kehamilannya."


Papa dewa tampak berpikir sejenak. Ia pun akhirnya memutuskan untuk mengikuti saja kemauan Regan. Keduanya pun selesai bicara dan kembali ke ruangan.


*


*


TBC