
Di dalam rumah, Tante Dewi meminta bantuan ke suaminya. Ia menyakinkan suaminya kalau Amanda hanya difitnah dan dijadikan kambing hitam oleh Regan.
Wijaya pun menenangkan istrinya dan berjanji akan membantu mengeluarkan Amanda dari penjara.
Tante Dewi akhirnya bisa senang. Apalagi suaminya langsung menghubungi pengacara keluarga mereka untuk membantu Amanda supaya terlepas dari tuduhan palsunya.
"Terima kasih Mas."
"Itu sudah kewajibanku sebagai papanya. Aku juga tidak ingin saham perusahaan keluargaku turun."
Wijaya pun langsung masuk ke dalam kamarnya. Sementara Tante Dewi akan pergi mengunjungi kantor polisi untuk berbicara dengan Amanda.
*
*
Di kantor polisi, Amanda dicecar banyak pertanyaan, tapi dia hanya diam tak mau bersuara. Ia bahkan menolak semua bukti yang ada di tangan polisi dengan mengatakan kalau itu hanya sebuah rekayasa.
Namun, polisi masih tetap yakin Amanda bersalah. Apalagi ditambah dengan pengakuan Gio yang mengatakan kalau Amanda adalah orang yang bekerja sama dengannya untuk mencemarkan nama baik Renatta.
Amanda pun mulai bersuara atas pernyataan yang dikatakan polisi itu. Ia tetap menolak apapun yang dituduhkan padanya.
Tak lama kemudian, Tante Dewi datang dan ingin mengunjungi anaknya. Karena interogasi sudah selesai, polisi pun membiarkan Amanda dikunjungi.
Tante Dewi meraih tangan Amanda dan harus percaya padanya kalau anaknya bisa bebas.
"Papa kamu sudah menyuruh pengacara keluarga kita untuk membebaskan kamu dari sini. Kamu tenang aja, kamu akan segera bebas."
"Tapi kapan Ma? Aku tidak mau disini!"
"Semua ini karena Renatta! Setelah dia datang kembali ke kehidupanku, semuanya jadi berantakan! Aku tidak terima Ma! Aku ingin dia terus menderita!" tambah Amanda lagi yang kini rasa bencinya semakin bertambah ke Renatta.
*
*
Regan dan Renatta sampai di rumah sakit untuk menjenguk Oma Lina. Setelah berada di dalam ruang rawat Oma Lina, Oma Lina malah langsung memeluknya.
"Maafkan atas sikap Oma yang tidak bersahabat sama kamu dalam waktu terakhir ini. Oma begitu percaya atas semua perkataan Amanda kalau kamu anak yang jahat dan hanya memanfaatkan Regan. Padahal kenyataannya, Amanda lah yang pura-pura baik. Maafkan Oma ya?"
Renatta balas memeluk Oma Lina kemudian melepaskan pelukan itu dan langsung meraih tangan Oma Lina.
"Nggak papa Oma. Aku sudah memaafkan Oma. Yang lalu biarlah berlalu. Aku sudah tidak mau mengingatnya lagi. Gimana keadaan Oma? Sudah membaik?"
"Sejauh ini sudah lumayan membaik, semoga saja dokter mengizinkan Oma untuk pulang sore ini."
Regan tersenyum senang melihat interaksi keduanya. Wanita-wanita yang disayanginya tampak akur.
Tak lama kemudian, Mommy Jessie pun masuk ke dalam ruangan membawa makanan ringan dan minuman dingin. Kemudian ia duduk di sofa, dan langsung meneguk minuman dingin itu.
"Kamu tahu sendiri, Amanda itu adalah keluarga Wijaya. Tentunya, Wijaya tidak akan tinggal diam. Bisa saja, dia mengerahkan segala cara untuk membuat Amanda keluar dari penjara," ucap Mommy Jessie setelah meneguk air minumnya.
Regan melihat ke Mommy nya dan tersenyum penuh keyakinan.
"Mommy pun tahu, kalau keluarga wijaya itu begitu menjunjung tinggi kehormatan keluarganya. Tapi Om Wijaya pun tak mungkin membela orang yang salah. Mungkin, sekarang Om Wijaya akan bertindak karena belum tahu apapun yang terjadi. Tapi, nanti ia pasti akan tahu sendiri. Aku sangat tidak sabar ingin tahu apa yang akan dilakukan Om Wijaya ke istri dan anak sambungnya itu."
"Kamu memang benar sih, tapi tetap saja, bisa jadi dia memilih untuk pura-pura tidak tahu mana yang salah."
"Kita lihat nanti saja Mom."
*
*
Pengacara pun mengangguk dan akan membela Amanda sampai ia terbebas. Amanda akhirnya bisa tersenyum senang.
Setelah bertemu dengan Amanda, pengacara itu pun mulai mencari-cari informasi untuk membuat Amanda terbebas dengan bertanya dan melihat bukti yang didapatkan oleh pihak kepolisan. Disana ia tersadar kalau Amanda tidaklah difitnah. Pengacara itu pun langsung menghubungi Wijaya dan menjelaskan semuanya.
*
*
Di ruang kerjanya, Wijaya yang mendapatkan telepon dari pengacaranya tentang kenyataan tentang kasus Amanda, ia mengepalkan tangannya dan ingin mengebrak meja kerjanya. Ia benar-benar kesal karena sudah dibohongi. Ia memang gila akan kehormatan, tapi ia bukanlah orang yang membela kejahatan. Ia pun meminta pengacara untuk berhenti membela Amanda. Dengan senang hati pengacara itu pun langsung pergi dari kantor polisi.
Wijaya langsung menemui Tante Dewi dan menanyakan kebenaran atas kasus Amanda. Kalau Tante Dewi mengatakan Amanda memang bersalah, ia mungkin akan mengampuni Tante Dewi. Sayangnya, Tante Dewi tetap memilih untuk tak memberitahukan kebenaran itu.
"Kamu hanya mengurus anak saja tidak becus! Padahal selama ini aku sudah menganggap kamu bagian dari keluargaku! Tapi kenapa anakmu malah membuat nama keluargaku tercoreng seperti ini?"
"Kamu ini kenapa sih Mas? Tiba-tiba marah-marah, aku sudah bicara jujur loh Mas. Kalau Amanda bukan pelakunya."
"Bohong! Pengacaraku sudah datang kesana dan mencari tahu semua yang terjadi. Amanda memang pelakunya. Aku tidak mau membela orang yang salah!"
Tante Dewi langsung panik. Ia meraih tangan Wijaya dan menggenggam nya kemudian memohon untuk membebaskan Amanda dari penjara.
"Mas, Amanda tidak bersalah. Tolong bebaskan dia! Mungkin pengacara kamu salah Mas!"
Wijaya langsung menghempaskan tangan Tante Dewi.
"Aku lebih percaya pengacaraku karena dia sudah lebih lama berkerja bersamaku daripada kamu dan Amanda yang masuk ke dalam hidupku! Sebelum saham perusahaan ku anjlok media mulai mengendus masalah ini. Aku akan memutuskan akarnya lebih dulu."
Tante Dewi langsung ketakutan dan khawatir setengah mati. Ia bahkan tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan Wijaya sekarang.
"Pergi kamu dari rumahku! Mulai sekarang pernikahan kita selesai. Aku akan mengurus perceraian kita dan memberhentikan Amanda dari kantor."
"Mas! Tega sekali kamu sama aku! Jangan lakukan itu Mas! Kita sudah bersama selama puluhan tahun Mas."
"Ya, aku tahu, aku berterimakasih karena kamu bisa jadi ibu yang baik untuk Karen. Tapi aku tidak bisa terima atas kelakuan anak kamu itu."
"Aku mohon mas! Pertimbangkan itu semua."
"Aku sudah mempertimbangkannya. Perpisahan memang yang terbaik. Jadi, segera kemasi barang-barang mu dan angkat kaki dari rumah ini."
Tante Dewi menangis, ia bahkan sampai berlutut dan memohon-mohon untuk tidak diceraikan. Gimana kehidupannya nanti kalau ia benar-benar bercerai dari Wijaya. Rasanya ia tak mau membayangkan jadi orang miskin lagi seperti dulu, yang rumah saja ia tidak punya.
"Cepat pergi dari sini!"
"Baiklah, aku akan kemasi barang-barang ku dan Amanda. Tapi kamu harus membagi harta gono-gini kita."
Wijaya tertawa meledek.
"Kamu datang kesini tanpa uang sepeser pun. Jadi kamu pergi pun harus seperti itu. Kita berdua tak memiliki anak dari pernikahan ini. Semua yang kamu miliki adalah dari pemberianku. Tak ada satu pun dari hasil kerja kerasmu!"
"Mas! Kumohon." Tante Dewi masih memohon.
Namun, Wijaya tak mau memperdulikan itu. Ia bahkan mengatakan sesuatu yang membuat Tante Dewi semakin menangis.
"Aku akan memblokir semua kartu kredit yang kamu miliki. Mobil dan semua fasilitas yang aku berikan akan aku cabut. Aku hanya tidak akan mengambil pakaian, tas, ataupun perhiasan yang kamu miliki. Anggap saja itu sebagai rasa terima kasihku."
Wijaya pun pergi dari hadapan Tante Dewi. Tante Dewi masih menangis histeris. Ia tak percaya semua ini akan terjadi padanya. Ia pun jadi ikut menyalahkan Renatta atas kemalangan yang terjadi padanya.
*
*
TBC