
Waktu yang dinanti-nantikan akhirnya tiba juga. Hari pernikahan Regan dan Renatta sudah diujung mata. Sebentar lagi mereka akan resmi jadi pasangan suami istri.
Regan telah mengucapkan akad nya, itu berarti Renatta sudah sah menjadi istrinya. Semua saksi dan Ara tamu undangan yang hadir bersorak gembira bahkan tersenyum bahagia.
Renatta mengecup punggung tangan Regan lalu Regan mengecup kening Renatta. Keduanya saling tatap dan tersenyum.
Pernikahan Regan dan Renatta itu diselenggarakan secara meriah, bahkan sampai mengundang awak media. Juga dilakukan siaran langsung. Pastinya semua orang akan tahu tentang pernikahan mereka.
Bahkan Tante Dewi dan Amanda yang di penjara pun tahu. Amanda mengepalkan tangannya. Wanita itu tidak terima Renatta bisa memiliki kehidupan yang bahagia. Sampai terbesit lah rencana di kepala Amanda.
Amanda pergi ke halaman belakang lapas untuk mengambil pestisida. Ia akan meracuni dirinya sendiri agar bisa dibawa keluar dari lapas. Itulah satu-satunya cara yang terpikirkan olehnya.
Tante Dewi yang sejak tadi mengikutinya terkaget-kaget.
"Manda, apa yang mau kamu lakukan dengan pestisida itu?" tanya Tante Dewi dengan nada sedikit khawatir.
"Aku akan mencampurkannya ke minumanku Ma. Supaya nanti aku keracunan dan dibawa ke rumah sakit, di jalan nanti aku akan berontak dan kabur."
Tante Dewi yang mendengarnya langsung memarahi Amanda.
"Jangan gila kamu Manda! Gimana kalau nantinya malah membuat kamu kesakitan! Udah jangan ngide yang aneh-aneh deh!"
"Nggak bisa Ma. Aku nggak mau pernikahan mereka lancar-lancar aja," ucap Amanda.
Amanda pun langsung berjalan pergi menjauh dari Tante Dewi. Ia pergi ke dalam tempat tidurnya dan mengambil satu botol teh lalu mencampurkan sedikit pestisida ke dalamnya.
Beberapa menit setelahnya, Amanda mulai bereaksi muntah-muntah. Hal tersebut mengundang banyak orang untuk masuk ke dalam sel nya.
"Pak penjaga! Ada yang muntah-muntah!" teriak salah seorang yang datang.
Tak lama kemudian, penjaga itu langsung masuk dan membawa Amanda keluar dari sel nya. Ia menelpon ambulance agar datang dengan segera.
Perut Amanda rasanya lemas dan terus dikuras. Ia tak menyangka ternyata sesakit ini keracunan. Tahu begini, ia akan memilih cara lain.
10 menit kemudian, mobil ambulance datang dan akan membawa Amanda. Tapi, karena tangan Amanda yang tidak diborgol, ia dengan segala tenaga yang masih dimilikinya berusaha untuk kabur ketika ada celah.
Amanda berlari ke sebrang dan menghentikan taksi lalu pergi ke gedung dimana Regan dan Renatta melangsungkan pernikahan.
"Ngebut Pak!" pinta Amanda ketika mobil polisi dan mengikutinya dari belakang.
"Baik Mba."
Amanda merasakan pusing di kepalanya, ia lemas sekali. Tapi ia harus kuat menahan semua itu demi bisa melancarkan aksinya.
*
*
Satu per satu tamu undangan menyalami pasangan pengantin yang sedang berbahagia itu. Ada yang masih duduk-duduk sambil memakan hidangan yang disuguhkan, ada yang malah asik foto-foto di tempat itu juga.
"Kita sampai kapan harus mengalami semua tamu yang hadir?" bisik Renatta ke Regan.
"Sampai semua tamu undangan habis."
Renatta menghela napasnya. Ia tak pernah mengira kalau tamu undangan pernikahannya akan sebanyak ini. Bahkan sampai ribuan orang.
"Sejujurnya, aku ingin pernikahan yang dihadiri oleh keluarga dan teman-teman saja. Tapi, sepertinya itu memang tidak bisa, mengingat bagaimana keluarganya kamu."
"Terima kasih Nat."
Renatta mengangguk. Ia pun tersenyum ketika ada tamu yang naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat.
Ketika suasana sedang ramai-ramainya dan pasangan pengantin tersebut sibuk dengan tamu undangan, Amanda datang dengan berjalan tertatih-tatih. Ia mengacungkan pisau kecil yang dibawanya dari penjara yang ia sembunyikan di dalam br* nya.
Semua tamu undangan jadi panik dan menjauh dari Amanda. Bahkan ada yang berhamburan keluar, ada juga yang bersembunyi di bawah meja. Sampai akhirnya Amanda melihat keberadaan Regan dan Renatta.
Renatta jadi ikutan panik, sementara Regan bersikap biasa saja. Walaupun ia sudah kesal dan emosi ke Amanda karena telah datang dan merusak pesta pernikahannya.
Amanda terus berjalan sambil mengacungkan pisau kecilnya. Ia terus saja menumpahkan segala isi hatinya.
"Kamu! Kamu tidak pantas bahagia!" ucap Amanda sambil menunjukkan pisau kecil ke arah Renatta dari jarak yang agak jauh.
"Aku tidak bisa membiarkan kalian bersama, kalau aku tidak bisa bersama Regan, kamu juga tidak bisa!"
Amanda berjalan lebih dekat, beberapa penjaga pun mulai berdatangan untuk mencegah Amanda mendekat ke Regan dan Renatta.
Karena panik, Amanda langsung saja berlari dan menghunuskan pisau kecilnya ke arah Renatta, tapi itu tidak berhasil, karena Regan menghalangi tubuh Renatta, jadilah Regan yang tertusuk di perutnya.
Untungnya, pisau yang dibawa Amanda itu, hanya pisau buah yang tidak tajam, jadi pisau tersebut tidak sampai mengenai perut Regan secara langsung. Regan mengambil pisau yang menancap di pakaiannya dan membuangnya ke sembarang tempat. Ia menatap Amanda dengan tatapan penuh emosi. Ia sudah tak bisa lagi, bersikap diam seperti biasanya.
"Kamu sudah sangat keterlaluan Amanda! Aku tidak habis pikir dengan tingkah lakumu! Semua penderitaan mu selama ini, bukan karena Renatta, tapi karena ulahmu sendiri yang tidak jujur sama diri sendiri! Sejujurnya kamu iri dengan Renatta kan?"
"Arghhh!"
Amanda membanting gelas dan mendorong meja-meja di dekatnya. Ia bahkan sampai terduduk dan menangis. Namun, tatapannya masih penuh dengan kebencian.
Dari sana, Amanda melempar gelas ke arah Regan dan Renatta. Untungnya Keduanya bisa cepat menghindar. Regan langsung menyuruh Renatta untuk keluar biar dia sendiri yang mengurus Amanda.
"Tapi ... "
"Turuti mauku, Nat!"
Akhirnya Renatta pun pergi dari sana, sejujurnya ia cuma bersembunyi karena ia pun takut kalau sampai Amanda berbuat nekat dan mencelakai Regan.
Tiba-tiba polisi yang tadi mengikuti Amanda pun sampai disana, polisi tersebut sudah kehilangan jejak Amanda tadi karena taksi yang ditumpangi Amanda melaju dengan sangat cepat. Untungnya, ketika mereka melihat banyak orang yang keluar dari gedung, salah satu anggotanya kelaut dan bertanya. Dari sana lah mereka tahu kalau Amanda berada disana.
"Hentikan Saudari Amanda! Kalau kamu masih saja membahayakan orang lain, saya bisa menembak kamu sekarang juga!"
Amanda seolah tak memperdulikan ancaman polisi tersebut. Amanda masih melemparkan pecahan gelas yang ada di dekatnya ke Regan. Untungnya, tak ada satu pun yang tepat sasaran.
"Tuan Regan! Mohon menjauh lah!" pinta si polisi.
Polisi tersebut berjalan pelan ke arah Amanda. Amanda malah mengambil pecahan tersebut dan mengancam para polisi kalau ia akan bunuh diri.
"Letakan pecahan kaca itu Amanda!" cegah Regan yang tidak mau Amanda bunuh diri. Karena baginya, bunuh diri malah akan membuat Renatta berpikir kalau hal tersebut adalah kesalahan Renatta. Regan ingin Amanda mendapatkan hukuman yang setimpal.
"Kalau itu maumu! Ceraikan Renatta sekarang juga! Menikahlah denganku!"
"Gila! Aku tidak akan pernah melakukannya untukmu! Terserah! Mau bunuh diri pun aku tidak akan peduli!" ucap Regan yang jadi kesal karena Amanda.
Regan beranjak pergi dari sana. Dan Amanda benar-benar menyayat urat nadinya dengan pecahan tangan tersebut. Polisi langsung bertindak dan membawa Amanda keluar dari gedung.
Darah Amanda berceceran di sepanjang lantai. Renatta yang sedari tadi menyaksikan semuanya jadi menangis. Ia bahkan sampai terduduk karena saking lemas nya.
"Ya Tuhan! Kenapa harus seperti ini? Kenapa rasanya bahagia itu sulit untukku?"
Regan mendengar tangisan Renatta dan langsung menghampiri dan berjongkok di depan Renatta.
"Amanda tidak akan mati semudah itu, dia harus membayar semuanya Nat. Jangan pernah salahkan diri kamu! Amanda melakukan itu, karena pilihannya sendiri. Kumohon! Jangan salahkan diri kamu!"
Renatta hanya bisa menangis. Regan memeluk Renatta dengan eratnya. Lalu membawa Renatta masuk ke dalam kamar hotel yang sudah di sewanya di hotel tersebut.
*
*
Malam tiba, Renatta sudah mengenakan pakaian tidurnya. Tapi ia tak bisa tidur juga. Pikirannya selalu tertuju ke Amanda, ia benar-benar takut kalau Amanda mati.
"Kenapa kamu terus gelisah Nat? Ini sudah pukul 9 malam, seharusnya kamu tidur."
"Aku tidak bisa tidur, hatiku tidak tenang, aku terus kepikiran Amanda. Jika aku ingin ke rumah sakit dan mengetahui keadaan Amanda. Apa kamu membolehkan?"
Sejujurnya Regan sangat tidak suka dengan sikap Renatta yang satu ini. Wanita yang dicintainya itu masih bisa mengkhawatirkan orang yang sudah berulang kali menyakiti perasaannya dan fisiknya. Tapi, agar Renatta merasa tenang, Regan pun akhirnya mengiyakan.
Seharusnya malam itu menjadi malam pertama yang indah bagi pasangan baru itu, tapi semuanya sirna karena Amanda.
*
*
TBC