
Setelah emosinya sudah terlupakan, dan Renatta sudah bisa mengontrolnya lagi, ia pun kembali ke ruangan rawat kakaknya. Ia dikejutkan dengan kakaknya yang sudah bangun dan malah memukul-mukul perutnya sambil menangis.
Renatta yang melihat itu langsung mencegah kakaknya untuk menyakiti dirinya sendiri dengan memeluknya erat. Kemudian keduanya sama-sama menangis.
"Maafkan kakak. Maafkan kakak yang tidak bisa jaga diri! hiks ... "
"Sekarang itu tidak penting kak, yang paling penting sekarang kakak harus minta pertanggungjawaban dari ayah dari janin yang kakak kandung ini. Kalau kakak tidak berani bilang padanya. Biar aku yang bilang."
Suara tangis Nesha semakin menjadi. Ia jadi semakin merasa bersalah ke adiknya.
"Maafin kakak dek! Huhu ... "
"Jelasin kak, kasih tahu aku siapa dia?"
Namun, Nesha masih belum mau bicara. Renatta pun tidak bisa memaksanya. Karena yang terpenting kakaknya tidak menyakiti dirinya sendiri juga janin yang dikandungnya.
Renatta keluar dari ruangan ketika kakaknya sudah tertidur. Ia duduk di kursi dengan menundukkan kepalanya. Ia harus memaksa kakaknya supaya mau bicara siapa yang telah menghamilinya.
*
*
Renatta berjalan di sekitar rumah sakit sambil menjernihkan pikirannya. Ia tidak bisa fokus, tidak bisa tenang selama kakaknya belum bicara jujur. Sampai sebuah panggilan pun ia dapatkan dari Ozy.
"Ya, kenapa Zy?"
"Kata Tante Jessie kamu sudah ada di Indonesia. Terus kenapa belum berangkat ke kantor? Pekerjaan Regan numpuk nih!"
"Iya aku memang sudah ada di Indonesia. Tapi, maaf aku belum bisa ke kantor, aku tidak bisa meninggalkan kakakku sendirian. Aku takut hal buruk akan terjadi padanya. Sementara aku akan ambil cuti dulu. Maaf ya Zy. Aku harus merepotkan kamu."
Terdengar helaan napas dari Ozy. Tapi dia bisa apa.
"Ya sudah, temani saja dulu kakakmu. Aku akan berusaha untuk menghandle semuanya lagi. Semoga cepat kembali ke kantor Nat."
"Iya, terima kasih ya Zy."
Sambungan telepon pun berakhir. Renatta bernapas lega karena Ozy tidak marah-marah padanya.
Lalu ada satu lagi, ia mendapatkan pesan dari Mommy Jessie yang mengatakan kalau Regan sudah melewati masa kritisnya. Tinggal menunggu Regan sadar dan melakukan pemulihan lalu setelahnya Regan bisa pulang ke Indonesia.
Renatta bernapas lega. Ia sangat bersyukur Regan bisa melewati masa kritisnya. Tapi ia tidak tahu apa hubungannya dengan Regan bisa berlanjut atau tidak.
*
*
Malam harinya, Renatta melihat kakaknya yang bersedih dan tidurannya pun menyamping. Bahkan air matanya jatuh tanpa mengeluarkan suaranya. Renatta pun menghapus air mata itu dan bertanya dengan lembut supaya kakaknya mau bercerita.
"Kak, tolong jujur siapa laki-laki itu? Tolong bilang, setidaknya kakak harus berbagi rahasia kakak dengan satu orang. Agar kakak merasa tidak terlalu terbebani."
Nesha masih terus menangis. Ia pun mulai bicara.
"Kakak baru tahu kehamilan kakak ini di hari yang sama saat kakak menelpon kamu. Kakak juga sudah meminta pertanggungjawaban darinya. Tapi yang ada kakak malah mendapati kalau dia sudah beristri dan rupanya kakak adalah selingkuhannya. Kakak harus apa sekarang Nat? Kakak jadi perusak rumah tangga orang tanpa kakak sadari, huhu ... "
Terkejut, itulah yang Renatta rasakan saat ini. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Tapi yang ia tahu, laki-laki itu ahrus tetap bertanggungjawab.
"Tapi kakak benar-benar tidak tahu kalau dia sudah beristri kan?"
"Nggak Nat. Dia selalu mengaku dirinya adalah single. Tapi ketika kakak meminta pertanggungjawaban dia malah mengatakan kejujurannya. Kakak jadi merasa bersalah pada istrinya. Makanya kakak nekat mau bunuh diri supaya semuanya terselesaikan dengan baik."
Renatta menggeleng lalu memeluk kakaknya.
"Bunuh diri bukan cara untuk menyelesaikan masalah kak. Itu malah menambah masalah. Kakak harus berani dan jujur. Pokoknya setelah kakak keluar dari rumah sakit, kakak harus pertemukan aku dengan laki-laki itu, aku tidak mau tahu," kekeh Renatta yang tidak ingin dibantah ucapannya.
*
*
Dua hari kemudian, Nesha pun sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Renatta selalu menjaganya dengan baik. Ia bahkan melakukan apapun yang dokter bilang. Ia tidak ingin kakaknya stress di kehamilan mudanya ini.
"Kakak sudah bicara dengannya, hari ini kita akan bertemu di restoran. Kamu mau ikut?"
"Tentu saja aku ikut. Aku tidak mau nantinya dia berbuat jahat sama kakak. Oh iya, siapa namanya kak?"
"Namanya Gio, dia menantu dari keluarga Wijaya. Kakak baru tahunya pas kakak bilang sedang mengandung."
Bak disambar petir! Renatta masih tidak percaya. Hidupnya seperti berputar disitu-situ saja.
"Cepet siap-siap kita akan pergi sekarang."
"Baik Kak."
*
*
Di sebuah restoran yang tidak mewah tapi tidak bisa dikatakan tidak mahal juga. Renatta, Nesha dan Gio sudah saling berhadapan. Renatta menatap kesal dan penuh amarah ke laki-laki di hadapannya.
"Kenapa kamu membawa orang lain Nes? Bukankah ini urusan kita berdua?" tanya laki-laki tak bertanggungjawab itu.
"Apa? Orang lain? Hellow saya ini adiknya," sahut Renatta yang menjawab dengan sendirinya.
"Oh, oke baiklah."
"Aku mencintaimu kamu Nes. Aku menikah dengannya karena perjodohan yang diatur kedua orang tuaku. Aku menginginkan anak itu. Jangan menggugurkannya. Kumohon!" ucap Gio.
"Lalu, apa kamu akan menceraikan wanita itu? Kalau kamu mencintai kakakku?" tanya Renatta.
"Tentu saja, aku akan berusaha untuk menyakinkan orang tuaku. Kalau di antara aku dan dia tidak ada rasa cinta. Dan aku akan menikahi kakak kamu. Tapi tolong beri aku waktu, karena ini semua tidak bisa berakhir semudah itu."
"Baiklah, kalau begitu aku beri waktu satu Minggu. Atau aku akan datang ke keluarga Wijaya untuk mengatakan apa yang kamu lakukan ke kakakku."
"Jangan, iya aku akan berusaha."
Lalu setelah itu, Gio pun pergi dari restoran. Sementara keduanya makan dengan lahap disana. Apalagi kakaknya yang terlihat begitu menikmati makanan itu. Sepertinya kakaknya sedang ngidam.
"Apa kakak percaya kalau dia akan menceraikan istri pertamanya yang katanya tidak dicintainya itu?"
"Kakak percaya, dia pasti akan menepati janjinya."
"Kok aku nggak percaya ya kak?"
"Sudah ah, jangan pikirkan itu dulu. Kakak mau makan semuanya sampai habis dulu."
"Iya, makanlah kak, pasti bayi kakak kelaparan di dalam perut kakak itu."
*
*
Seminggu pun telah berlalu, selama itu juga Renatta selalu mendapatkan kabar dari Mommy Jessie tenang perkembangan kesehatan Regan. Katanya Regan sudah sadar, tapi masih belum boleh banyak bicara dan gerak dulu. Jadinya Mommy Jessie hanya memberikan beberapa foto Regan ke Renatta.
Renatta tersenyum. Ia senang sekali akhirnya Regan sudah sadar, meski belum pulih sepenuhnya.
Selama itu juga, Renatta masih meminta cuti kerja, karena ia pasti tidak akan fokus untuk melakukan pekerjaan kalau pikirannya masih campur aduk sana-sini.
Renatta, Nesha dan Gio pun kembali bertemu untuk mendapatkan hasil akhir dari apa yang sudah dijanjikan oleh Gio. Namun ternyata apa yang didapatkan.
Gio malah memberikan uang 200 juta untuk Nesha, supaya bisa membesarkan anak itu sendirian. Dan dia tidak bisa menikah dengan Nesha karena keluarganya begitu bergantung dengan keluarga Wijaya. Kalau sampai ia dan istrinya bercerai, ia dan keluarganya bisa jatuh miskin.
Nesha sudah menangis sesenggukan disana. Sementara Renatta sudah geram dan gatal tangannya. Ia pun menampar pipi Gio dengan kerasnya.
"Dasar laki-laki tidak bertanggungjawab! Kamu lebih takut jatuh miskin dari pada jadi laki-laki yang gentle. Padahal kakakku sudah yakin sekali bahwa kamu akan menikahinya. Tapi kenapa kamu malah mengkhianati kepercayaannya? B*ngsat!"
Renatta lagi-lagi menampar wajah laki-laki itu.
"Kakakku tidak butuh uang 200 juta itu. Kami bisa membesarkan anak ini bersama tanpa bantuan darimu. Lihat saja, aku pasti tidak akan tinggal diam, karena kamu sudah menyakiti kakakku!" ancam Renatta kemudian mengajak Nesha pergi dari sana.
"Aku tidak punya pilihan lain," ucap Gio ketika baru selangkah Renatta dan Nesha pergi.
"Kata siapa? Ada, jika kamu mau jatuh miskin, tentunya kamu bisa bersama dengan kakakku. Tapi kamu hanya lelaki yang takut miskin. Jangan harap kamu bisa bertemu dengan anakmu nantinya. Karena aku akan melarang dengan sangat keras!"
"Nesha, maafkan aku!"
"Jangan dengarkan kak, jangan dengarkan laki-laki bajingan itu!" ucap Renatta sambil menutup kedua telinga kakaknya.
*
*
TBC