
Sesampainya di mansion, Regan masih terus menatap Renatta dengan tajam. Membuat Renatta jadi heran sendiri.
"Kenapa sih Pak? Dari tadi matanya Bapak kaya gitu terus?"
"Lain kali jangan pakai baju kaya gini lagi. Dilarang pokoknya!" perintah Regan.
"Kan saya ini yang pake Pak."
"Pokoknya jangan! Awas aja kalau pakai yang seperti ini lagi!" ancam Regan kemudian menyuruh Renatta untuk masuk ke kamarnya dan berganti pakaian.
Regan pun turun dan menemui Mommy Jessie yang duduk dengan anggunnya di ruang tamu sambil minum anggur.
"Mom!" panggil Regan.
Mommy Jessie pun menyahut.
"Hmm."
"Lain kali jangan ajak Natta pergi lagi kalau Mommy mau dandanin dia kaya tadi. Aku nggak rela!" protes Regan yang membuat Mommy Jessie tersenyum.
"Idih! Sok jadi hak milik, padahal resmi aja belum. Sana dapatin dulu hatinya. Baru Mommy turutin. Lagian besok juga Mommy mau ajak Renatta ketemu sama teman-teman Mommy. Bye."
Mommy Jessie melambaikan tangannya ketika ia pergi keluar entah mau kemana. Regan mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia juga sudah berusaha, tetapi Renatta masih saja menolaknya.
*
*
"Gimana kabar kakak? Maaf ya Kak, aku belum bisa pulang, soalnya Regannya masih agak lama disini."
"Kakak baik. Iya nggak papa Nat. Lagian kamu juga disana kan kerja."
"Sebenarnya kerjanya sih udah selesai Kak. Cuma aku lagi nemenin dia yang ketemu Mommy. Niatnya sih aku bakalan pulang duluan. Tapi Mommy Regan ngelarang, Regan nya juga gitu. Ya udah deh, jadinya masih stay disini."
"Ya udah ikutin aja yang mereka mau. Kakak di rumah baik-baik aja kok. Paling kalo ngerasa sepi, kakak pergi ke rumah sakit kalau nggak ya ke penjara ketemu papa."
"Syukur deh kalau begitu Kak. Aku tutup dulu ya kak, soalnya Mommy Regan manggil."
"Iya Nat."
Sambungan telepon pun berhenti. Renatta keluar dari kamar dan menemui Mommy Jessie di teras samping rumah.
"Sini Nat, duduk!" ajak Mommy Jessie.
Renatta pun duduk di kursi yang seperti ayunan yang bisa bergoyang.
Mommy Jessie memegang tangan Renatta dan mengusapnya pelan.
"Apa yang kamu nggak suka dari Regan?" tanya Mommy Jessie langsung ke intinya.
"Nggak tahu."
"Lalu kenapa kamu menolaknya? Apa kamu benar-benar nggak ada perasaan sama sekali? Mommy tahu semua masalah yang kalian alami selama ini. Dari mulai yang laptop Regan sampai pada akhirnya ternyata bukan kamu pelakunya. Regan sudah cerita semuanya."
"Kalau untuk masalah itu mah, aku udah nggak mau mikirin lagi Mom. Udah lama banget berlalu nya juga."
"Terus apa alasannya?" tanya Mommy Jessie yang masih ingin tahu.
"Mommy tahu sikap Regan itu menyebalkan sekali. Mommy aja yang ibunya kadang gedeg sama dia. Pengen nampol terus kepalanya. Kalau udah nggak suka sama sesuatu dia pasti akan nggak sukanya terus-terusan. Gampang percaya sama orang yang menurutnya bisa dipercaya. Tapi kalau udah suka sesuatu juga, dia akan suka seterusnya. Kamu berhasil buat dia move on dari Amanda yang dia sukai selama 8 tahun lebih. Mommy senang saat mendengar Regan lebih berani menyatakan perasaannya ke kamu."
Mommy Jessie tampak menarik napasnya sebelum melanjutkan lagi bicaranya.
"Kalau kamu memang nggak ada perasaan, ya Mommy mau bilang apa lagi. Cinta yang dipaksakan tidak akan berakhir dengan bahagia kecuali dua-duanya yang berubah di tengah jalan. Tapi, kalau ada sedikit perasaan di hati kamu untuk Regan, jangan ditahan! Jangan tidak diakui! Lepaskan saja! Karena cinta itu terbalas."
Renatta bingung harus menjawab seperti apa, Mommy Jessie seperti sangat berharap sekali padanya.
"Sebenarnya aku juga menyukai Regan. Hanya saja, aku merasa tidak pantas berada di antara keluarga ini. Aku cuma orang biasa. Papaku di penjara karena dituduh melakukan korupsi. Mamaku di rumah sakit. Aku juga buka orang baik. Aku adalah mantan pembuly di sekolah. Rasanya sangat tidak cocok. Yang ada nantinya keluarga Mommy akan malu," jawabnya dengan menundukkan kepalanya.
Mommy Jessie lalu memeluk Renatta. Ia bisa melihat dengan mata hatinya kalau Renatta adalah anak baik-baik. Mau seperti apa masa lalunya dahulu. Itu tidak penting. Yang terpenting adalah mau berubah dan tidak seperti dulu lagi.
Setiap kata yang diucapkan oleh Mommy Jessie seperti sebuah mantra yang akan selalu diingat oleh Renatta.
"Mommy tidak pernah melihat dia sebahagia dan seposesif ini sebelumnya. Bahkan dengan Amanda pun dia tidak begitu. Mommy hanya tahu kalau tipe wanita yang disukai Regan adalah yang baik hati dan lemah lembut. Katanya sih dia tidak mau punya pasangan seperti Mommy yang berisik dan cerewet bahkan galak padanya."
"Tapi aku malah cerewet seperti Mommy. Malah dia sering menyuruh aku untuk diam. Aku juga suka menjawab setiap ucapannya. Aku bukan wanita baik dan sama sekali tidak lemah lembut. Aku hanya takut, kalau perasaan yang dirasakan Regan cuma sebuah pelampiasan dan sementara saja. Jadi, lebih baik seperti ini saja kan Mom? Nggak papa kan?"
Mommy Jessie tersenyum lalu menanggapi lagi ucapan Renatta.
"Itu dia masalahnya. Terkadang cinta itu tidak harus sesuai tipe. Kalau cinta sudah bertindak, tipe yang dia sukai awalnya akan berubah dengan yang bisa membuatnya nyaman. Intinya jangan mundur. Maju aja."
Mommy Jessie masih terus aja mendukung dirinya bersama dengan Regan. Padahal ia sendiri pun ragu.
"Percaya pada isi hati kamu sendiri. Jangan pikirkan hal lain saat kamu memutuskan. Hilangkan status sosial. Hilangkan jabatan, hilangkan juga masa lalu yang mengganggumu. Percaya diri dan beranilah."
Renatta jadi terdiam dan terus memikirkan perkataan Mommy Jessie.
Keakraban keduanya terlihat begitu jelas di mata Regan. Padahal mereka baru dua hari berkenalan, tapi terlihat sudah bertahun-tahun salin kenal. Ya Regan sih mewajarkan, karena Mommy nya yang aktif nya kebangetan.
*
*
Di saat Mommy Jessie sudah kembali ke kamarnya. Renatta masih berada disana, padahal jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Regan pun datang dan duduk di sebelah Renatta.
"Lagi mikirin apa?" tanya Regan.
"Nggak mikirin apa-apa," jawab Renatta.
"Ya udah, kalau gitu pergi ke kamar gih! Nanti kamu bisa sakit kalau masih di luar jam segini."
Renatta menggeleng. Ia masih ingin menikmati suasana malam yang sunyi ini. Pikirannya jadi terasa kosong, beban hidupnya seolah menghilang sejenak.
"Ya sudah, aku juga bakalan disini."
"Bapak balik aja ke kamar."
"Nggak mau!" tolak Regan dengan menyilangkan kedua tangannya di dada sambil bersandar ke kursi lalu memejamkan matanya.
Keduanya saling terdiam dengan pikirannya masing-masing. Tak saling bicara, tapi hati Regan terus mengoceh ini dan itu untuk membuat Renatta jadi miliknya.
"Nat ... "
"Ya Pak?" jawab Renatta.
"Kamu pasti bosen kan denger pernyataan cintaku? Tapi entah kenapa aku yang mengatakannya nggak pernah bosen. Aku nggak mau membohongi diriku sendiri. Aku harap kamu tidak terbebani."
"Apa yang Bapak sukai dari saya? Saya tidak termasuk ke tipe wanita idaman Bapak. Tadi Mommy Bapak cerita kalau Bapak itu suka cewek yang baik hati dan lembah lembut dan itu semua ada di Amanda. Tidak ada di saya."
Regan ingin sekali berteriak memanggil Mommy nya yang selalu saja ikut campur dan membocorkan hal itu. Tapi untuk sekarang sudah tidak penting lagi.
"Itu dulu sebelum aku cinta sama kamu. Semua tipe idealku sirna sudah saat bersamamu. Bahkan aku bisa move on lebih cepat dari Amanda."
"Apa Bapak bisa janji satu hal sama saya?"
"Janji apapun akan aku lakukan untukmu."
"Saya cuma butuh seseorang yang bisa menjaga saya, melindungi saya. Saya butuh sandaran yang bukan untuk sebentar tapi dalam jangka waktu yang lama. Saya ingin Bapak bawa saya ke hati Bapak. Bukan untuk singgah melainkan menetap. Saya sudah cape jatuh cinta, lalu tidak terbalas dan harus move on. Saya ingin cinta saya hanya ke satu orang dan berkepanjangan. Apa bisa?"
Regan yang mendengarnya jadi tersenyum senang. Ia pun membawa Renatta ke pelukannya.
"Tentu saja bisa bodoh! Bahkan aku tidak berniat singgah di hatimu. Aku ingin membangun rumah kebahagiaan kita sendiri."
*
*
TBC