
Regan melihat lutut Renatta dan tumit kaki Renatta yang berdarah juga sepatu Renatta yang patah. Ia menghela napasnya sebentar. Baru hilang sebentar saja Renatta sudah terlihat sangat menyedihkan begini. Bagaimana kalau dia tidak berhasil menemukan Renatta? Bisa saja Renatta akan dikira gelandangan disana.
Dengan cepat, Regan malah menyobek dress yang digunakan Renatta karena sedikit sobek juga. Lalu ia tutup lutut Renatta yang berdarah itu dengan sobekan dress Renatta.
"Pak, kenapa disobek? Ini kan jadi semakin pendek! Gimana kalau nanti ada orang jahat yang tiba-tiba ingin memp*rkosa saya? Lagian ini juga pakaian mahal yang dibelikan Devan saat saya ulang tahun," ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Jadi kamu lebih memilih lutut kamu terus terbuka dibandingkan dengan ditutup? Aku bisa membelikan gaun yang lebih bagus dari ini jika kamu mau!" kesal Regan yang kemudian melilitkan kain yang dirobeknya.
"Aww! Jangan kencang-kencang dong Pak!"
Regan tidak menjawab karena kesal. Ia pun membuang sepatu Renatta yang sudah patah itu ke tong sampah yang ada disana.
"Lah, kok dibuang sih Pak?"
"Apa? Mau bilang kalau sepatu itu juga hadiah dari Devan? Lagian udah rusak juga!"
Lagi-lagi Renatta mendengus. Regan membantu Renatta untuk berdiri.
"Kalau begini jadinya. Masa saya jalan tanpa alas kaki sih Pak. Tega banget!"
Regan langsung mengeluarkan sweater yang dibelinya untuk Amanda dan mengikatnya di pinggang Renatta untuk menutupi bagian belakang Renatta saat ia menggendong wanita itu nantinya.
"Pak, ini kan punyanya Amanda. Kenapa dipakaikan ke saya?"
"Berisik banget sih! Cepat naik," ucap Regan yang sudah berjongkok di depan Renatta.
"Saya berat loh Pak! Meski badan saya kecil begini."
"Cepat naik! Atau kamu lebih memilih saya tinggalkan disini?"
Renatta pun langsung naik ke punggung Regan. Ia melingkarkan tangannya di leher Regan.
Regan mulai berdiri dan berjalan sambil menggendong Renatta.
"Berat apanya coba? Badanmu setipis triplek begini. Kamu tidak pernah makan apa gimana?"
Renatta memukul bahu Regan karena tidak terima disamakan dengan triplek yang tipis.
"Sudah ditolong, malah mukul pula!"
"Iya, maaf Pak. Habis Bapak nyebelin banget sih!"
"Kamu tuh lebih nyebelin, bikin orang khawatir aja."
"Jadi Bapak mengkhawatirkan saya?"
"Iya lah, kalau kamu menghilang disini. Aku bisa dituntut oleh keluarga mu nantinya."
Renatta jadi sedikit kecewa dengan jawaban yang dikeluarkan oleh mulut Regan. Seketika ia teringat kalau semua data pribadinya ada di dalam tas nya. Ia jadi pusing dan bingung, apa nantinya ia bisa pulang atau tidak.
"Pak, tapi saya tadi kecopetan. Tas saya dicuri dan data penting milik saya ada disana semua."
"Dasar ceroboh! Menjaga diri sendiri aja nggak mampu."
"Ya, itu artinya saya butuh dijaga seseorang Pak."
"Jangan menjawab terus Natta!" marah Regan.
"Baik Pak."
Selama perjalanan menuju ke hotel, Regan dan Renatta saling terdiam. Karena Regan yang memintanya untuk diam. Sesampainya di hotel pun, Regan membawa Renatta ke dalam kamar Renatta.
"Aku akan pergi ke apotek dulu. Jangan banyak gerak."
Renatta mengangguk.
Tak lama kemudian, Regan kembali dengan membawa obat yang diperlukan untuk membersihkan luka dan menutup luka dari Renatta. Regan tanpa diminta pun mulai mengobati Renatta.
"Biar saya sendiri aja Pak!" ucap Renatta yang merasa tidak enak.
"Nggak!"
"Ih, galak banget jawabnya Pak!"
Regan tidak membalas lagi ucapan Renatta, ia malah fokus membersihkan luka Renatta. Renatta yang tidak suka suasana diam dan canggung begini, ia pun langsung membuat obrolan lagi.
Regan mendongak dengan menatap wajah Renatta dengan sangat tajam.
"Bisa nggak sih kamu jangan memikirkan orang lain disaat diri kamu terluka?"
"Bisa sih Pak! Tapi kan te ... "
"Sudah cukup kamu menghukum diri kamu sendiri! Sudah cukup kamu merasa bersalah selama ini! Sudah cukup Renatta! Jangan jadi orang bersalah disaat kamu sendiri tidak bersalah! Tolong katakan dengan jujur dari mulutmu! Apa benar bukan kamu yang melempar laptop saya?"
Renatta langsung terdiam. Entah kenapa ia malah jadi ketakutan saat Regan mengetahui semuanya. Ia sudah tak memperdulikan masa lalu tu lagi.
"Itu benar saya yang melemparnya Pak! Maaf!"
Regan langsung memegang bahu Renatta dengan sangat erat.
"Jangan melindungi siapapun! Lindungilah dirimu sendiri! Aku sudah tahu. Jadi jangan berusaha melindunginya lagi. Selama ini aku sudah salah dengan membencimu selama bertahun-tahun. Jadi, tolong katakan yang sejujurnya dari mulutmu sendiri. Aku ingin mendengarnya. Please!"
Melihat Regan yang terus memaksanya dan terlihat tulus merasa bersalah. Renatta pun mengatakan kalau memang bukan dia pelakunya. Semua kejadian dulu terjadi karena Amanda yang cemas takut diperlakukan buruk lagi olehnya.
"Maaf, maafkan aku!" ucap Regan kemudian memeluk Renatta. Renatta jadi terbengong karenanya.
Regan pun melepaskan pelukannya. Lalu menggenggam tangan Renatta.
"Jangan jauh-jauh dari aku lagi. Jangan menangis lagi! Jangan buat aku khawatir! Kalau ada sesuatu, langsung hubungi aku. Pokoknya jangan sampai kejadian seperti ini terjadi lagi, paham?"
Renatta mengangguk karena begitu tercengang dengan setiap kalimat yang ucapkan oleh Regan.
"Istirahat lah. Besok kita kan berkunjung ke rumah Mommy ku. Kalau butuh apa-apa, langsung hubungi aku."
Renatta mengangguk. Kemudian Regan pun keluar dari kamar Renatta. Ia bernapas lega karena Renatta masih baik-baik saja meski sedikit terluka.
Regan pun mendapatkan kabar dari Grace, kalau ia sudah menemukan lokasi dari si pencuri. Regan pun langsung mengusutnya sampai tuntas. Hingga akhirnya semua barang milik Renatta pun telah kembali, kecuali uang tunai yang ada di dalam tasnya yang sudah diambil oleh salah satu pencopetnya yang belum tertangkap.
Sepulang dari kantor polisi, Regan melihat Amanda yang tiba-tiba ada di lobi hotel tempatnya menginap. Wanita itu melambaikan tangannya ke Regan. Awalnya Regan agak bingung, karena tiba-tiba Amanda ada di negara yang sama dengannya.
"Kenapa kamu ada disini? Sama siapa?" tanya Regan.
"Sendiri, aku sudah nggak kuat lagi sama Devan. Dia tidak pernah mau menuruti semua keinginanku. Aku bahkan selalu bertengkar dengannya hampir setiap hari. Yang paling aku tidak bisa terima adalah, dia masih terus saling berkabar dengan Renatta. Renatta seperti sudah jadi orang ketiga di antara aku dan Devan. Aku benci padanya. Seharusnya kamu pecat saja dia!" curhat Amanda ke Regan dengan wajahnya yang sudah terlihat mendung akan hujan air mata.
"Seharusnya kalau kamu ada masalah, kamu tidak harus kabur. Apalagi kaburnya malah menemui ku. Lalu apa bedanya kamu dengan Devan? Kalian sama-sama selalu mencari orang lain, ketika sedang ada masalah. Kalau seperti ini jadinya. Aku bisa dituduh juga sebagai orang ketiga di antara kalian. Selesaikan masalahmu dengan Devan. Aku akan menghubunginya untuk menjemputmu disini!"
Amanda menggeleng, ia benar-benar tidak ingin bertemu dengan Devan. Ia masih kesal dan belum bisa mengontrol emosinya.
*
*
Renatta yang merasa bosan berada di kamar pun, berniat keluar dari kamar dan duduk di sekitar taman yang ada di hotel. Lalu ia pun mendapatkan telepon dari Devan.
"Kamu dimana Nat?" tanya Devan.
"Aku ada di London, Dev. Kenapa?"
"Maksud aku, tepatnya di kamar hotel nomor berapa?"
Untuk beberapa saat, Renatta tampak berpikir. Lalu, setelahnya ia sadar kalau ternyata Devan berada di negara yang sama dengannya juga. Renatta pun mengucapkan nomor kamarnya.
"Kamu ngapain disini?" tanya Renatta lagi.
"Apa kita bisa bertemu? Apa kamu sibuk? Aku tidak bisa menceritakan semuanya di telpon."
"Baiklah. Tunggu aku di lobi hotel. Aku akan segera kesana. Lalu setelah itu kamu ahrus menceritakan apa yang terjadi. Semuanya."
"Iya Nat."
Sambungan telepon pun ditutup. Renatta kemudian keluar dari kamarnya dengan berjalan pincang karena lututnya yang masih sakit.
Renatta sampai di lobi dan melihat Devan yang melambaikan tangannya. Mereka tidak sadar kalau Regan dan Amanda pun ada disana juga.
*
*
TBC