
Kepanikan itu pun terdengar di telinga Regan yang sudah selesai telponan. Ia langsung kembali ke ruang tamu dan langsung dibuat kaget dengan Mommy Jessie yang sudah panik dan memerintahkan supir dan pekerja rumah lainnya untuk membersihkan muntahan dari Oma Lina.
"Mom, Oma kenapa?" tanya Regan yang khawatir sekaligus penasaran.
"Nanti kita bahas nya. Sekarang yang terpenting bawa Oma ke rumah sakit dulu."
Regan mengangguk, lalu tak lama kemudian, si supir masuk dan mengatakan kalau mobil sudah siap. Regan dan si supir itu pun menggotong tubuh Oma Lina untuk masuk ke dalam mobil. Mommy Jessie dan Regan langsung masuk ke dalam tanpa memperdulikan adanya Amanda dan Renatta disana.
Setelah kepergian mobil yang membawa Oma Lina ke rumah sakit dan ruang tamu sudah dibersihkan oleh pembantu, Renatta langsung menatap ke arah Amanda. Entah kenapa, ia langsung curiga. Karena sedari tadi mereka mengobrol, Oma Lina cuma memasukan minuman es jeruk ke dalam mulutnya.
"Jujur deh! Pasti ini ulah kamu kan? Kamu memasukan apa ke dalam minuman Oma Lina?" tuduh Renatta.
"Jangan sembarangan nuduh kamu, Renatta! Selama ini siapa yang selalu berbuat jahat! Aku atau kamu? Aku kenal Oma Lina lebih dulu daripada kamu. Aku menyayanginya. Mana mungkin aku membuat dia celaka! Kamu kan yang membuat Oma sampai muntah-muntah dan pingsan begitu?"
"Cih! Dasar wanita bermuka banyak! Aku tahu aku pernah berbuat salah ke kamu. Aku pun sudah meminta maaf dengan tulus. Tapi, kenapa kamu malah membalasnya dengan sangat kejam, Manda?"
Senyum miring Amanda terlihat. Ia tak ingin terus menyembunyikan sifat aslinya di depan Renatta.
"Asal kamu tahu, aku membencimu karena kamu selalu menindas ku! Kamu selalu mengata-ngatai aku miskin dan cuma numpang. Apa kamu tidak merasa kalau kata-kata itu begitu menyakiti hatiku? Apalagi kamu memiliki ayah yang begitu menyayangi kamu. Aku iri, makanya aku merebut perhatian ayahmu dan merebut perhatian semua orang yang menyayangimu. Supaya kamu sendirian dan bersedih sampai menderita."
Renatta menggelengkan kepalanya. Ia sudah menebaknya. Sejak di acara peresmian anak perusahaan Wijaya, Renatta tahu kalau Amanda tidak lemah lembut seperti yang ia kira. Ia hanya menyayangkan sikap Amanda yang justru berubah bukan semakin baik malah semakin buruk.
"Aku bertahun-tahun berusaha untuk menjadi lebih baik supaya bisa berubah dari kelakuan dan sikap burukku di masa lalu. Tapi kenapa kamu justru berubah jadi monster yang bahkan aku sendiri tak pernah menyangka nya."
Renatta tampak mengenal napasnya, karena bicara begini ke Amanda membutuhkan tenaga ekstra.
"Kamu membohongi semua orang yang menyayangimu. Kamu berlindung di balik topeng lemah lembut mu itu untuk membuat aku selalu menderita. Tidak bisa kah cukup kamu lampiaskan saja ke aku? Jangan libatkan orang lain jika memang kamu membenciku! Kamu sudah membuat Devan sakit hati, membuat Oma Lina masuk rumah sakit. Lalu apa selanjutnya? Kamu mau menjadikanku kambing hitam lagi, dengan menuduhku sebagai pelakunya, iya?"
Amanda tampak terdiam dan sedikit terkejut karena rencananya seperti sudah terbaca oleh Renatta. Tapi ia tak boleh menunjukkan hal itu di depan Renatta.
"Wajah cantik tak menjamin kalau hatimu juga cantik. Aku bersedih sekaligus bersyukur atas perceraian mu dengan Devan. Karena perceraian itu, bisa membuatnya terbebas dan terlepas dari wanita bertopeng seperti kamu walaupun dia harus sakit hati."
"Jangan banyak bicara kamu! Kamu tidak benar-benar diterima di keluarga ini tahu!" ucap Amanda dengan sedikit nada tinggi.
"Oh ya? Kamu bahkan lihat sendiri tadi, bagaimana perlakuan Oma padaku!"
Renatta malah sengaja mengatakan itu untuk meledek Amanda supaya jadi kesal.
Amanda terlihat kesal dan ingin sekali menampar wajah Renatta. Ia benar-benar sangat membenci Renatta sampai ingin melihat wanita itu terus menderita.
"Sampai kamu berbuat sesuatu yang merugikan aku lagi, aku tidak akan tinggal diam sekarang! Aku akan membela diriku sendiri!" ancam Renatta.
Amanda hanya menatapnya dengan wajah kesal dan sedikit menjauh dari Renatta.
*
*
Di rumah sakit, Oma Lina sudah dibawa masuk ke ruangan untuk diperiksa. Mommy Jessie dan Regan tampak gelisah dan khawatir tentang keadaan Oma Lina.
"Mom, kok bisa Oma pingsan? Sebenarnya ada apa?"
Regan mengangguk. Sembari menunggu hasilnya, Regan memberikan pesan ke Renatta untuk jangan pulang dulu. Ia juga membuka blokiran nomor Amanda dan memberikan pesan yang sama juga.
Setelah diperiksa oleh dokter, dokter pun mengatakan kalau Oma Lina mengalami keracunan akibat ada racun dari pestisida.
Mommy Jessie dan Regan yang mendengarnya langsung terkejut bukan main. Yang ada dipikiran keduanya hanya bagaimana mungkin hal tersebut terjadi. Karena sayuran yang mereka biasanya beli adalah yang organik dan beli di supermarket besar yang tentunya untuk hal kesehatan pasti terjamin kualitasnya. Jadi tidak mungkin hal itu terjadi.
"Mom, aku pulang dulu untuk mengusut tuntas semua ini. Aku tidak bisa tinggal diam karena Oma keracunan begini. Sangat tidak mungkin ini karena makanan yang Oma makan. Ini pasti Oma sengaja diracuni oleh seseorang."
Mommy Jessie mengangguk dan membiarkan Regan pergi untuk mengurus semuanya.
Sambil berjalan, Regan segera menelpon Ozy untuk memanggil detektif atau penyidik untuk datang ke rumahnya. Hal itu membuat Ozy terkejut.
"Ada apa? kenapa harus manggil detektif segala? Ada maling yang menyusup ke rumah keluargamu? Tapi sepertinya penjagaan disana lumayan ketat deh!"
"Jangan banyak tanya ini dan itu, lakukan saja apa yang aku perintahkan. Nanti gajimu aku naikkan. Kalau kamu penasaran, kamu ikut datang aja ke rumah."
"Oke baiklah, aku tidak akan banyak tanya. Ya sudah kita akhiri saja pembicaraan ini. Aku akan segera hubungi detektif kenalanku untuk datang kesana."
"Oke, thank you, Zy."
Setelah sambungan telepon selesai, Regan langsung buru-buru ke parkiran untuk minta diantar pulang oleh supir Oma nya. Ia meminta supirnya untuk menaikan kecepatan supaya cepat sampai di rumah.
*
*
Di rumah keluarga Regan, Ozy datang lebih dulu bersama dengan dua orang detektif yang diminta Regan. Tapi sayangnya, ia tidak tahu kejadian apa yang terjadi disana. Ia pun hanya bisa menunggu Regan datang. Namun, ternyata, ada Amanda dan Renatta disana. Ia pun langsung bertanya saja ke mereka berdua.
"Disini ada sesuatu yang terjadi ya?"
Renatta mengangguk.
"Oma muntah-muntah dan tiba-tiba pingsan lalu dilarikan ke rumah sakit," jawab Renatta.
Ozy jadi tahu permasalahannya, tapi seharusnya hal itu tidak sampai meminta detektif untuk datang kan? Mungkin saja Oma Lina memang sakit. Ozy jadi berpikir keras lagi untuk menebaknya.
Kini giliran Renatta yang bertanya tentang dua orang yang datang bersama dengan Ozy.
"Kamu ada kerjaan dengan Regan ya? Sampai membawa dua klien itu?"
"Mereka bukan klien, tapi detektif yang diminta Regan."
Mendengar kata detektif, Amanda langsung gemetar ketakutan. Ia benar-benar tak menyangka kalau hal ini akan jadi masalah serius begini. Niatnya kan cuma mau bikin Oma Lina keracunan saja, bukan membuat Oma Lina mati. Kenapa sampai mendatangkan detektif segala. Amanda benar-benar tak bisa menghilangkan kecemasan dan gemetar nya itu. Ia benar-benar ketakutan sekarang. Apalagi ditambah aura mengerikan dari Regan yang sudah sampai di rumah dengan tatapan yang begitu tajam.
*
*
TBC