
Keesokan harinya, Regan mulai melancarkan misinya. Ia meminta bantuan dari seseorang untuk mencaritahu semua hal tentang Gio dan keburukannya.
Selain itu, Regan pun mendatangi kediaman Wijaya untuk berbicara dengan Karen. Karen menyambutnya dengan baik, karena memang sudah mengenal baik siapa Regan.
"Kenapa proses penceraian mu lama sekali?" tanya Regan ke Karen.
"Pengacaraku bilang, kalau bukti-bukti yang aku dapatkan masih belum cukup untuk bisa menceraikan Gio. Meskipun Gio memang terbukti berselingkuh. Makanya prosesnya lama sekali."
Regan tampak menghela napasnya.
"Apa ada hal yang mencurigakan dalam beberapa bulan terakhir? Bisa saja hal itu bisa memproses perceraian mu lebih cepat."
"Sebenarnya ada tarikan dana sebesar 200 juta, yang aku sendiri nggak tahu uang itu untuk apa. Tapi Gio bilang, uang itu untuk investasinya. Sampai ketika Renatta datang kesini dan ngasih tahu kalau Gio memberikan kakaknya uang 200 juta untuk pergi dari hidup Gio, katanya sih mereka menolak. Setelah itu aku tidak tahu kemana uangnya."
Regan jadi berpikir untuk mencari tahu kemana uang itu pergi. Ia juga jadi menduga-duga kalau Gio memang laki-laki yang hidung belang.
"Lalu setelah kalian berada dalam proses perceraian ini. Kapan terakhir kali kalian saling berkomunikasi?"
"Mungkin satu minggu yang lalu. Itu pun karena dia yang memohon-mohon agar aku mencabut gugatan cerainya. Tapi aku tidak sebodoh itu dengan langsung menuruti permintaannya."
Regan pun terus mendengarkan ucapan dari Karen. Karen pun sedikit merasa heran, karena Regan seperti berusaha keras untuk memulihkan nama baik Renatta.
"Apa kamu melakukan ini semua demi Renatta? Kamu menyukainya?" tanya Karen menebak-nebak.
Regan tidak menjawab, karena baginya, Karen tak perlu tahu bagaimana isi hatinya.
"Sepertinya iya. Aku senang karena kamu sudah move on dari adik tiriku. Sampai sekarang aku masih merasa heran kenapa Amanda memilih orang lain dibandingkan kamu. Padahal dia selalu menggantungkan dirinya ke kamu. Sekarang pun kehidupan pernikahan adikku tidak berjalan dengan baik. Katanya sih Amanda juga berniat untuk bercerai."
Regan hanya tersenyum kecut mendengarnya. Ia sudah tidak peduli lagi dengan Amanda. Mau wanita itu melakukan apapun, itu sudah bukan lagi urusannya.
"Itu urusan mereka," jawab Regan.
Mendengar jawaban itu dari Regan, Karen merasa ada sesuatu yang terjadi di antara keduanya. Tapi ia tak mau ikut campur juga. Karena memang bukan ranahnya lagi.
"Aku akan bantu kamu untuk segera bercerai dengannya. Aku akan buat dia menyesal sudah menyia-nyiakan kamu. Tapi aku juga tidak akan memberitahukan siapa selingkuhan Gio. Karena ada seseorang yang sedang melindungi wanita itu."
"Aku tidak peduli dengan selingkuhannya itu. Yang terpenting aku bisa bercerai dan perusahaan keluarganya putus kerja sama dengan perusahaan keluargaku. Aku juga yakin, kalau selingkuhannya itu memang benar-benar tidak tahu kalau Gio sudah beristri. Itu artinya Gio lah yang paling salah yang tidak cukup dengan satu wanita."
"Aku akan membantumu, tapi kamu juga harus membantuku."
Karena mengangguk. Keduanya pun saling bersalaman.
Ketika pembicaraan penting telah selesai, Regan pun hendak pulang dari sana. Namun ketika ia mau keluar, pintu malah terbuka dan memperlihatkan Amanda.
Regan diam tak menyapa dan berjalan tanpa memperdulikan Amanda yang terus memanggil namanya. Sampai di mobil pun, Amanda masih terus memanggil-manggil namanya. Tapi tetap dibiarkan saja oleh Regan.
Mobil Regan melesat jauh dari kediaman Wijaya menuju ke perusahaan milik keluarga Gio. Ia hanya melihatnya dari luar lalu pergi lagi ke suatu tempat.
*
*
Di kantor, Ozy mendapatkan hukuman dari Regan karena telah menyembunyikan berita penting dari Regan. Ozy diperintahkan untuk mengerjakan semua tugas Regan sampai waktu yang belum bisa dipastikan.
"Kalau tahu begini jadinya, aku lebih memilih untuk jujur saja. Huh! Dasar tidak punya hati! Gara-gara Regan aku jadi harus lembur setiap hari!"
Tiba-tiba yang sedang dibicarakan malah menelpon.
"Panjang umur sekali orang ini!"
"Ya, halo ada apa?"
"Astaga! Masih belum cukup kamu menumpahkan semua pekerjaanmu padaku? Sekarang kamu menambah lagi tugasku? Yang benar saja dong Regan! Aku ini manusia hey! Bukan robot!"
Di saat Ozy sedang marah-marah, Regan malah mematikan sambungan telponnya.
"Sialan! Anak ini! Kalau saja bukan sahabatku! Sudah aku buang ke laut!"
Lalu sebuah pesan pun masuk ke ponsel Ozy.
Lakukan apa yang aku perintahkan, ini hukuman untukmu! Kalau kamu menolaknya, aku pecat! Aku tunggu!
Ozy mengacak-acak rambutnya frustasi. Perintah Regan memang tidak bisa ia abaikan begitu saja. Kalau sampai ia dipecat, bagaimana ia bisa menghidupi keluarganya? Ya meskipun istrinya adalah dokter, tapi ia gengsi lah kalau dihidupi oleh istrinya. Karena setelah lulus kuliah dulu, Ia langsung bekerja jadi sekretaris Regan sampai Renatta yang menggantikan. Kalau tiba-tiba ia dipecat dan mencari pekerjaan lain, itu akan sulit dan mungkin tak akan bisa mendapatkan gaji sebesar di perusahaan keluarga Regan.
Setelah itu, Ozy mulai mencari tahu dari berbagai orang yang biasa ditemui Gio. Sampai akhirnya ia tahu kemana biasanya Gio pergi ketika malam tiba.
Ozy langsung mengirimkan alamat club yang biasanya dikunjungi oleh Gio ke Regan.
Aku sudah melakukan tugasku dengan baik. Jadi bisakah berikan aku sedikit keringanan?
Lalu dibalas tak lama kemudian oleh Gio.
Oke, thank you. Tugasmu tetap harus dilakukan. Jangan minta keringanatau tugasmu aku tambah lagi.
Ozy yang membaca pesan itu jadi mengerucutkan bibirnya. Lalu menaruh ponselnya di mejanya dan melakukan lagi pekerjaannya yang tertunda.
*
*
Malam harinya, Regan pergi ke club yang sering Gio datangi. Laki-laki itu tampak melihat ke area sekitar. Namun, tak melihat dimana Gio berada. Sampai matanya dibuat menyipit ketika melihat laki-laki dan wanita yang berciuman dengan panasnya di salah satu kursi yang isinya orang penting semua.
Regan merasa jijik dan merasa Gio adalah laki-laki menyedihkan yang seperti kurang bel*ian wanita sampai harus menyewa wanita seperti itu. Padahal seharusnya ia merasa sedih jika memang benar-benar menginginkan pernikahannya tetap utuh.
"Dasar buaya! Sudah membuat kakak Renatta hamil dan mencampakkannya. Kini kamu masih mengharapkan Karen, tapi kelakuanmu tak bisa ditolerir lagi."
Regan tak bisa membiarkan hal ini begini saja. Ia pun memotretnya dan memvideokan adegan yang dilakukan oleh Gio. Karena Regan yakin, Gio pasti akan menolak bukti ini. Setelah mendapatkan video yang terlihat wajah Gio dengan jelas. Regan pun ikut bergabung dengan perkumpulan Gio dan berpura-pura tidak tahu apa-apa.
Karena kehadiran Regan yang tiba-tiba itu, Gio pun segera menyingkirkan wanita yang sedang duduk di pangkuannya agar Regan tidak curiga dan tidak memberitahu hal ini ke Karen.
"Kapan ke Jakarta? Kata Amanda kamu dirawat di rumah sakit London. Sudah pulih?"
Regan mengangguk.
"Aku bosan karena disana tidak bisa minum-minum. Terlalu banyak larangan dari Mommy."
"Kasihan sekali. Kalau begitu, biar aku yang traktir. Sebagai penyambutan atas kedatanganmu kembali ke Jakarta."
"Terima kasih. Aku jadi merasa tidak enak," ucap Regan.
"Apaan sih! Kita ini kan sudah seperti keluarga. Aku mengenalmu karena Amanda. Begitu pun kamu. Sudah nikmati saja minumnya. Kita party party malam ini."
Regan benar-benar ada disana. Ia menahan amarah dan emosinya ketika berada di dekat Gio demi Renatta. Sampai dini hari pun tiba, Gio sudah mabuk dan meminta wanita yang tadi bersamanya untuk membawanya ke kamar yang ada di club itu.
Regan yang memang kuat minum, masih baik-baik saja. Ia pun membiarkan saja apa yang akan dilakukan oleh Gio. Tapi ia mengambil ponsel Gio diam-diam untuk mencari bukti atau apapun yang bisa membuat Gio menyesal.
*
*
TBC