
Setelah pemakaman dilakukan, Nesha terus mengurung dirinya di dalam kamar. Ia begitu sedih telah kehilangan mamanya.
Renatta dan Papa Dewa pun sama, mereka pun merasakan kehilangan.
"Pa, ayo kita mulai hidup baru di suasana yang baru. Kita pindah dari kota ini ke kota lain. Aku udah dapat kerjaan baru dari Grace," ajak Renatta.
"Kamu yakin?" tanya Papa Dewa mematikan keinginan anaknya.
"Iya Pa. Kita sudah tak bisa lagi tinggal disini. Aku sudah di cap sebagai pelakor, papa pun sama sudah di cap sebagai seorang koruptor di kota ini. Mungkin dengan kita pindah ke kota lain. Kita bisa menjalani semuanya dan melupakan apa yang terjadi disini."
"Baiklah, papa mah setuju-setuju saja apa yang kamu inginkan. Yang terpenting kita semua bisa sama-sama."
"Makasih ya Pa. Besok aku akan mengurus semua urusanku disini dan mengatakan hal ini ke kakak."
"Iya sayang."
*
*
Renatta berangkat ke kantor tapi hanya untuk menyelesaikan tugasnya yang belum selesai. Lalu setelah selesai, ia menaruh surat pengunduran dirinya di meja Regan. Ia juga menyampaikan hal itu ke Ozy.
"Nat, kamu sungguh-sungguh mau mengundurkan diri? Kenapa? Apa karena berita itu? Apa kamu sudah bicarakan hal ini dengan Regan?"
"Aku hanya ingin suasana yang baru. Terima kasih ya karena selama kamu disini, kamu selalu membantuku. Satu permintaanku. Jangan beritahu apapun tentang berita itu ke Regan. Selamat tinggal Zy. Maaf aku selalu merepotkan mu selama ini. Dan ketika aku pergi pun aku merepotkan mu. Semoga kamu tidak membenci aku ya."
"Ih, apaan sih bilang kaya gitu, ya enggak lah Nat. Emang kamu mau mencari suasana baru dimana?" tanya Ozy yang penasaran.
"Yang dimana orang-orang tidak mengenali aku dan keluargaku."
Renatta pun pergi dari perusahaan dan pergi ke taman tempat biasanya ia dan Regan bertemu ketika olahraga pagi.
Sambil menangis Renatta mengetikkan pesan panjang ke Regan. Ia tidak bisa lagi menjalani hubungan dengan Regan. Ia tidak mau Regan dipandang buruk oleh orang lain karena dirinya. Jalan terbaiknya adalah mengakhiri hubungan mereka.
Terima kasih, Bapak sudah hadir dan mengisi hari-hari saya yang penuh dengan luka jadi penuh dengan tawa dan bahagia.
Terima kasih, karena Bapak selalu bilang, untuk tidak mementingkan orang lain, dan saya boleh egois untuk diri saya sendiri. Tapi sepertinya saya tidak bisa melakukan ini.
Maaf, karena saya, Bapak sampai kritis di rumah sakit. Sebagai pacar, saya adalah yang terburuk. Belum sehari jadi pacar saja, Bapak sudah masuk rumah sakit.
Saya tidak ingin Bapak memiliki pacar buruk seperti saya. Saya pergi. Jaga diri baik-baik. Carilah wanita yang terbaik untuk Bapak. Yang sesuai tipe Bapak. Satu lagi, jangan cari saya.
Setelah mengirimkan pesan itu ke Regan. Renatta langsung memblokir nomor Regan. Ia tidak ingin membawa kenangan ke tempat yang baru nantinya. Ia ingin melupakan semuanya yang ada di kota ini. Bukan cuma nomor Regan saja yang diblokir melainkan nomor Ozy dan Devan juga.
Kini ia hanya bisa percaya ke satu orang yaitu Grace. Renatta menghubungi Grace dan mengatakan kalau dia akan masuk ke perusahaan Grace secepatnya. Ia kan pergi ke tempat di kota Grace tinggali sekarang.
Lalu Renatta kembali menangisi keputusannya. Memang berat memutuskan hal seberat ini. Tapi, ia harus bisa demi kehidupan barunya.
*
*
Renatta sampai di rumah, ia masuk ke dalam kamar kakaknya. Ia mengusap kepala kakaknya dengan sayang.
"Kak kita pindah rumah ya? Aku mendapatkan kerjaan di luar kota. Kakak mau ikut kan? Papa juga akan ikut. Disana kita akan tinggal tanpa diketahui orang lain. Tidak ada yang tahu kalau kakak hamil di luar nikah. Jadi kakak tidak perlu khawatir. Mau ya?"
Nesha mengangguk setuju. Renatta sangat senang karena kakaknya tidak banyak tanya ini dan itu. Itu sangat membantunya.
Karena kakaknya sudah setuju, Renatta pun membereskan seisi rumah dengan papanya. Ia memilih barang mana saja yang akan dibawa dan mana saja yang akan dijual atau dibuang ke tong sampah.
Setelah lama berbenah, akhirnya selesai juga. Renatta lalu menjual beberapa perlengkapan di media sosial menggunakan akun kakaknya yang banyak pengikutnya.
Keesokan harinya, satu per satu barangnya sudah terjual walaupun tidak terjual semuanya. Tapi tidak apa-apa, sisanya bisa ia sumbangkan ke orang lain.
Tinggal menunggu jemputan dari travel untuk pergi ke luar kota. Renatta sudah siap untuk meninggalkan semuanya. Semua kenangan indah dan pahitnya.
*
*
Renatta, Nesha dan Papa Dewa sudah sampai di Malang. Kota itulah yang akan jadi tempat tinggalnya sekarang. Mereka membereskan barang-barang nya dan memasukannya ke dalam rumah baru mereka yang dibantu carikan oleh Grace.
Tidak terlalu besar, tidak terlalu sempit juga. Cukuplah untuk tiga orang. Harganya juga terjangkau, standar tidak mahal-mahal banget.
Padahal Renatta sudah ditawari apartemen milik Grace untuk ditinggalinya. Tapi Renatta menolak, karena katanya Grace sudah sangat membantunya dengan mencarikan pekerjaan dan juga tempat tinggal sederhana untuknya. Ia tidak mau jadi teman yang tidak tahu diri dengan memanfaatkan Grace tanpa tahu malu dan diri.
Keesokan harinya, Renatta datang ke tempat kerja barunya. Renatta diposisikan sebagai sekretaris dari Grace. Semua orang menyambutnya dengan baik dan penuh senyuman. Tapi ternyata semua itu palsu. Apalagi ketika Grace tak ada bersamanya, orang-orang malah membicarakan dirinya yang katanya masuk ke perusahaan keluarga Grace karena nepotisme.
Renatta sadar, kalau apa yang mereka ucapkan itu benar. Ia memang masuk kesana karena jalur sebagai sahabat dari Grace. Jadi, ia tidak mau ambil pusing masalah itu. Yang penting ia bisa membuktikannya dengan kinerja yang ia miliki.
"Gimana kerja disini Nat? Nyaman nggak? Kamu suka nggak kalau atasan kamu kaya aku?" tanya Grace.
"Nyaman kok, tenang aja."
"Syukurlah kalau begitu. Oh iya, aku dapat pesan dari Devan, katanya dia tidak bisa ngirim pesan ke kamu. Devan berpikir kalau kamu memblokir nomornya."
"Aku emang memblokir nomornya. Bukan cuma Devan aja, tapi semua orang yang ada disana termasuk dengan Regan. Aku ingin hidup dengan suasana baru. Aku tidak mau ingat-ingat lagi peristiwa disana."
"Pantes aja. Kamu beneran memutuskan hubungan dengan Regan? Bukannya kamu bilang kamu pacaran dengan dia?"
"Sudah selesai kok Grace. Aku tidak mau dia disangkutpautkan dengan masalahku ini. Kalau begitu aku kerja lagi ya, Grace."
Grace mengangguk. Lalu ia pun melanjutkan lagi pekerjaannya.
Waktu pulang kerja pun tiba. Rupanya walaupun ia sudah berpindah ke kota yang lain. Masalah berita viral di internet akan tetap menyebar dengan luar mau dimana pun ia berada. Bahkan di hari pertamanya berkerja. Renatta sudah mendapatkan banyak sekali cibiran dan cemoohan untuknya. Dari yang dibilang melakukan nepotisme sampai yang dibilang pelakor juga ada.
"Bisa-bisanya orang kaya kamu masuk ke perusahaan terkenal dan bekerja disini. Yang ada perusahaan ini akan mendapatkan hal buruknya dari kamu. Lebih baik kamu keluar saja dari sini! Jangan-jangan kamu juga hanya memanfaatkan Bu Grace untuk bisa bekerja dengan gaji yang besar! Dasar perempuan tidak tahu diri!"
"Aww ... awww ... awww ... sakit! rintih Renatta saat rambutnya dijambak oleh salah seorang pegawai ketika ia akan pulang.
"Sakit? Hm? Lebih sakit mana sama istri sah yang kamu dan suaminya khianatin?"
Setelah puas, si pegawai itu langsung pergi, begitu juga dengan Renatta karena tidak ingin jadi pusat perhatian orang-orang. Ia mencari tempat sepi di sudut perusahaan lalu menumpahkan tangisnya disana.
"Aku harus kuat, aku nggak boleh lemah! Aku bisa mengadopsi ini semua. Renatta semangat!"
*
*
Keesokan harinya, orang-orang yang mengganggu Renatta kemarin langsung dipecat oleh Grace. Grace tidak suka memiliki karyawan yang tidak memiliki sikap yang baik. Apalagi cuma modal tahu berita di internet yang belum tentu terjamin kebenarannya.
"Grace, harusnya kamu tidak melakukan itu."
"Harus Nat! Aku tidak suka sikap mereka. Aku juga tidak suka sahabatku diperlakukan begitu. Mereka memang pantas mendapatkannya."
Renatta menghela napasnya. Kalau seperti ini jadinya, orang-orang akan semakin membencinya karena Grace terlihat sangat membelanya. Tapi, mau gimana lagi?
"Lain kali, jangan begini lagi Grace. Kamu cukup berikan dia peringatan. Aku tidak mau orang-orang jadi menganggap aku ini anak emas kamu."
"Em, oke baiklah."
*
*
TBC