Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
BERTEMU CLIENT



Hari demi hari dilalui Mira dengan penuh rasa syukur, sebab pekerjaannya berjalan dengan lancar. Setelah turut mengawasi proses produksi masal pakaian rancangannya dan meninjau langsung keadaan pasar, Mira merasa sangat puas karena pakaian rancangannya mendapat sambutan yang baik dari konsumen.


Mira juga kini dapat bernafas lega karena gaun nyonya melinda hampir selesai. Meski ia tampak kelelahan karena harus bergadang, namun semua menjadi sepadan dengan hasilnya.


Siang ini Mira pamit pada Bella untuk pulang lebih awal. Malam nanti ia dan Arifin bosnya harus menemui clien dari New York.


Mira berdandan serapih dan secantik mungkin. Sebenarnya ini bukan kali pertama bagi Mira, Arifin dan Yan sekretaris Arifin menemui client. Hanya kali ini sedikit berbeda sebab client mereka adalah Mr. George Goldsmith seorang penerus eksekutif mode asal New York yang begitu terkenal karena perusahaannya mewadahi puluhan pertokoan retail dan aksesoris dengan merek ternama.


Mira mendudukan pinggul sintalnya dikursi belakang mobil. Baru saja Arifin dan Yan menjemputnya di apertemennya.


Selama dalam perjalanan, tidak banyak yang mereka bicarakan. Mira hanya membacakan pesan singkat dari Lisa sahabatnya.


"Tolong jaga suamiku. Jangan biarkan dia minum terlalu banyak, dan terus awasi dia agar dia tidak main perempuan."


Lisa.


"Katakan padanya aku bukan anak kecil lagi yang harus dijaga oleh seorang babysitter. Dan siapa juga yang mau main perempuan ? Memangnya aku ini lelaki hidung belang apa ?" Gerutu Arifin dengan suara kesal.


"Hahahahaha....." Mira tertawa lebar mendengar ucapan Arifin.


"Oke."Jawab Mira dengan tegas karena mendapat lirikan tajam dari Arifin.


Tapi bukannya membalas pesan Lisa seperti yang dikatakan Arifin, ia malah menulis ;


"Tentu saja sayang. Aku pastikan dia tidak berbuat macam - macam."


****


Mira dan Arifin berjalan memasuki sebuah ruangan private tempat pertemuan mereka dengan Mr. George Goldsmith. Sementara Yan hanya menunggu mereka di depan pintu ruangan.


Mira membenahi pakaiannya sebelum bosnya membuka pintu.


Ceklek... Pintu terbuka.


Ternyata didalam ruangan sudah ada penghuninya. Mr. George Goldsmith datang terlebih dahulu dibanding mereka. Namun bukan itu yang membuat Mira sedikit risih. Didalam ruangan ada dua orang wanita yang berpakaian terbuka duduk disisi kanan dan kiri clien mereka sambil meraba - raba tubuh kekar pria itu. Sementara wanita satunya lagi sibuk ******* bibir pria itu dengan begitu bergairah.


"Hmmm...Selamat malam Mr. George." Sapa Arifin ramah sambil mengulurkan tangannya.


"Maaf kami terlambat."


Kemudian Mira mengikuti bosnya itu. Ia mengulurkan tangan dihadapan Mr. Geroge Goldsmith disertai senyuman manis ciri khas Mira.


Sorot mata George menjalar ke seluruh bagian tubuh Mira. Wanita itu memakai blouse berbahan shifon berwarna kuning dan rok mini slim flit berwarna hitam.


Dia benar - benar cantik dan sexy.


Seketika George menjadi begitu bergairah. Pemandangan didepanya seolah mentransfer hasrat ingin memiliki didalam diri George.


Mira menyadari kalau penampilannya itu bisa membuat kaum pria tergoda. Bagaimana tidak ? Lekuk tubuhnya terpampang jelas dan kaki jenjangnya terlihat begitu sexy.


Tapi Mira tetap percaya diri dan merasa nyaman. Tidak mengapa, toh kaum pria hanya melihatnya saja, tidak benar - benar merasakan dan menikmati tubuhnya.


"Silahkan duduk." Ucap Mr. George.


"Terima kasih." Arifin dan Mira berbicara bersamaan.


"Sebelum memulai semuanya, kalian bisa memesan apa saja." Mr. George berbasa - basi.


"Terima kasih." Ucap Arifin, sementara Mira hanya tersenyum.


"Just Vodka." Pinta Arifin.


Mira membulatkan matanya memandang Arifin seolah ada api yang membara didalam matanya.


"Bagaimana denganmu Miss Mira ?" Tanya Mr


George.


"White wine." Jawab Mira singkat.


Mira memang bisa minum minuman beralkohol. Namun dia tahu sampai dimana batas kemampuannya. Sebelum benar - benar mabuk, ia segera menghentikan minumnya.


Mira mengeluarkan map yang ia bawa dan menyerahkannya pada Mr. George Goldsmith.


Setelah berdiskusi cukup lama, akhirnya kedua belah pihak menandatangani kontrak kerjasama.


"Rancanganmu bagus Miss. Starlin." Puji Mr. George.


"Terima kasih atas pujiannya Mr. George. Call Me Mira. Just Mira." Kata wanita dengan disertai senyumnya yang manis yang menampilkan lesung pipinya.


"Damn!!! Apa kau sedang menggodaku baby ??" Batin George.


Arifin terlihat sudah mulai meminum vodka yang sudah tersaji dihadapannya.


Mira menarik tangan Arifin dan berbicara tepat di telinga bosnya itu.


"Kau harus berhenti sekarang. Kau bukan peminum yang baik. Aku tak mau kau dan aku mendapat masalah karena ulahmu ini. Aku tidak ingin mendengar omelan Lisa besok." Kata Mira.


"Relax sayang. Ini hanya rahasia kita berdua saja." Ucap Arifin.


Sialan. Kenapa aku bisa slow respon ya ? Ini sudah terlambat. Dia benar - benar sudah teler.


Mira kemudian berpamitan pada Mr. George.


Pria itu tampak baik - baik saja meski dia telah banyak minum.


Mungkin karena dia bule jadi dia jago dalam hal minum minuman keras.


"Maaf Mr. George. Sepertinya kami harus pergi." kata Mira.


"Atasanku sepertinya sudah mabuk. Dia memiliki kebiasan buruk ketika mabuk, jadi mohon pengertian anda." Tambah Mira.


George mengerti, tidak mungkin mereka melakuknnya disini.


"Tidak mengapa Miss. Mira." Selamat menikmati malam anda.


Apa maksudnya ? Menikmati malam ? dengan Arifin ?


Iwh . . .


Apa dia berpikir aku dan Arifin ini punya hubungan lebih dari sekedar atasan dan bawahan ?


Apa aku terlihat seperti ****** ?


Sial . . . Ini semua gara - gara kamu bos. Dasar brengsek kamu. Gumam Mira dalam hati.


"Ini tidak seperti yang anda pikirkan Mr. George. Tapi terimakasih atas pengertian anda. Selamat malam."


Mira berlalu meninggalkan George bersama kedua wanita yang sedari tadi setia mendampinginya.


Mira berjalan dengan tangan kanannya melingkar di pinggang Arifin dan tangan kirinya menahan tangan kiri Arifin yang berada di atas pundak Mira.


Merepotkan saja. Kalau kau bukan bosku, sudah kubiarkan kau disana, mempermalukan dirimu sendiri.


Sialan . . .