Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
Bab 89 - Tertangkapnya pelaku korupsi



Mommy Jessie duduk di samping Nesha yang sedang mengelus-elus perutnya. Ia tahu, hal ini pasti berat untuk Nesha. Apalagi membesarkan anak tanpa kehadiran seorang suami. Belum lagi ketika nantinya si anak bertanya tentang ayahnya. Mommy Jessie sampai tidak bisa membayangkannya.


"Tante benar-benar kagum sama kamu Nes. Kamu mau mengandung anak itu di saat wanita di luar sana pasti akan menggugurkannya karena hasil dari hubungan di luar pernikahan."


"Awalnya, aku juga berniat mengugurkan nya Tante, aku bahkan sudah menyayat tanganku supaya aku mati. Tapi ternyata, Tuhan berkehendak lain. Aku masih hidup. Di saat itu, aku bersedih saat melihat perutku. Aku ingin mencoba untuk menggugurkannya. Tapi Renatta datang dan melarang ku sambil menangis dan memohon. Aku ingat betul apa yang dia ucapkan padaku, Tante."


Nesha mengingatnya dan mengatakan ulang perkataan Renatta dahulu.


"Jangan semakin berbuat dosa kak. Kakak sudah berdosa dengan sampai mengandung anak itu. Jangan membuat dosa kakak semakin menumpuk dengan membunuh anak yang tidak berdosa itu. Kakak tidak akan sendiri menghadapinya. Aku akan selalu menemani kakak. Tolong kak tolong ... hiks .. hiks ..."


Mommy Jessie yang mendengarnya pun tanpa sadar meneteskan air matanya. Ia masih mendengarkan Nesha bercerita.


"Lalu, aku pun memutuskan untuk mempertahankannya. Renatta benar-benar menjagaku, menjaga fisik dan mentalku sampai membiarkan dirinya yang selalu terluka. Aku merasa seperti beban untuk hidupnya. Merasa tidak berguna. Kakak macam apa yang selalu bergantung pada adiknya."


Mommy Jessie meraih tangan Nesha dan mengelusnya.


"Kamu mungkin menganggap diri kamu beban. Tapi Renatta tidak, karena hanya kamu lah keluarga yang dia punya ketika itu. Papanya tidak ada didekatnya, cuma kamu yang ada di sisinya. Kalau sampai kamu benar-benar pergi. Renatta mungkin akan terpuruk. Dia memilih dia yang terluka dibandingkan keluarganya sendiri. Pengorbanan seperti ini memang terdengar bodoh, tapi itu menunjukkan betapa dia memiliki hati yang baik dan kasih sayang yang tulus meski kamu cuma kakak tirinya. Jadi, Tante harap kamu bisa menjalani hidup kamu juga dengan bahagia. Jangan pedulikan kata-kata orang lain yang mencemooh mu. Karena mereka tak tahu seperti apa diri kamu yang sesungguhnya."


Nesha jadi menangis mendengarkan ucapan Mommy Jessie. Mommy Jessie memeluk Nesha dan menepuk punggungnya pelan.


"Kalau ada apa-apa, kamu bisa menghubungi Tante."


"Terima kasih Tante. Terima kasih juga karena Tante sudah menerima Renatta untuk masuk ke dalam keluarga Tante. Padahal Tante tahu sendiri bagaimana keburukan keluarga kami. Papa yang mantan narapidana, aku yang hamil di luar nikah, dan Renatta yang dulunya jahat. Aku benar-benar berterimakasih Tante. Tolong sayangi Renatta dengan tulus. Karena selama ini mamaku tidak pernah menyayanginya dengan tulus. Aku benar-benar ingin melihat Renatta tersenyum bahagia tanpa beban apapun yang dipikulnya. Sudah cukup pengorbanannya selama ini. Aku dan papa bisa hidup bahagia, jika melihat Renatta bahagia."


Mommy Jessie mengangguk sambil meneteskan air matanya. Ia bukannya merasa kasihan dan prihatin pada hidup keluarga mereka, tapi malah kagum Karena meski keadaan mereka seperti itu, tapi mereka saling menyayangi. Renatta pun adalah wanita kuat yang ia jumpai. Pantas saja ketika pertama kali bertemu, ia langsung menyukai Renatta tanpa syarat apapun. Rupanya, Renatta benar-benar wanita yang satunya sangat baik. Terlepas dari keburukannya di masa lalu.


"Iya, Tante akan menuruti semua ucapan kamu. Karena Tante pun memang menyayanginya. Dia berhasil membuat Regan berubah juga."


"Terima kasih Tante."


*


*


Di sebuah restoran, Ozy dan Regan membuat janji dengan direktur Pasifik Group untuk melakukan kerja sama. Disana mereka tampak mengobrol banyak hal dan menikmati makanan yang disajikan.


Regan mulai mengobrol tentang salah satu pegawai mereka yang di penjara dan kini sudah dibebaskan.


"Saya benar-benar tidak menyangka, kalau dulu di perusahaan Anda, ada yang melakukan korupsi. Saya baru mendapatkan informasi tersebut beberapa hari terakhir ini. Bahkan katanya orang itu sudah bebas sekarang. Apa Anda bisa menjamin kalau di perusahaan Anda tidak ada yang korupsi lagi? Karena saya tidak ingin perusahaan saya jadi ikut tercemar karena kini kita akan bekerja sama."


"Tentang saja Tuan Regan, kami sudah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh ke semua karyawan kami. Tidak akan ada yang melakukan hal seperti itu lagi. Jadi Anda tidak perlu khawatir," ucap Pak Eko, direktur dari Pasifik Group.


"Oh, seperti itu, baguslah. Saya bisa tenang sekarang," ucap Regan yang merasa lega. Padahal di dalam hatinya ia sudah tidak sabar ingin menjebloskan orang ini ke dalam penjara. Karena dia, papanya Renatta mendekam di penjara atas kesalahan yang tidak pernah dilakukannya.


"Tapi saya dengar-dengar, sebenarnya orang tersebut tidak bersalah, dia cuma difitnah saja. Kira-kira menurut anda sendiri bagaimana Pak Eko? Apa Anda mempercayai dia bersalah atau memang sengaja disalahkan?" ucap Regan untuk memancing sedikit kekesalan Pak Eko.


Raut wajah Pak Eko langsung berubah. Pria tua itu terlihat tak nyaman dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Regan.


"Em, sepertinya masalah ini sudah selesai. Sepertinya kita tidak harus membahasnya lagi. Kita bahas kerja sama yang akan dilakukan saja. Lagipula, itu semua sudah ditangani oleh polisi dengan benar. Mana mungkin polisi salah menangkap orang kan?"


Regan tersenyum tipis.


"Anda benar sekali, Pak. Tapi terkadang, seorang polisi pun bisa disuap untuk menyembunyikan kebenaran yang ada. Anda tahu sendiri lah bagaimana kekuasaan bisa berkuasa."


Pak Eko merasa hawa-hawa tidak enak berada di dekat Regan dan Ozy. Meskipun Ozy hanya diam saja sejak tadi. Tapi kenapa suasana jadi terkesan mencekam?


"Pasti Anda tahulah maksud saya, uang kan bisa menyelesaikan segalanya. Bisa saja orang tersebut cuma difitnah untuk menyembunyikan siapa koruptor yang sebenarnya. Ah, aku benar-benar tidak sabar menunggu berita sebentar lagi," ucap Regan yang malah membuat Pak Eko semakin dibuat kebingungan.


"Berita apa ya?" tanya Pak Eko.


"Nanti anda akan tahu sendiri kok!" ucapnya dengan senyuman penuh tanda tanya.


Tapi entah kenapa Pak Eko jadi tak nafsu makan karena terus bertanya-tanya berita yang akan terjadi. Apalagi sikap Regan yang terlihat misterius membuatnya jadi agak sedikit waspada.


Diketahui fakta bahwa kepulangan direktur itu ke Jakarta, karena Regan yang berniat bekerja sama. Makanya dia rela kembali. Padahal jika dia tahu kalau kembalinya hanya untuk membuat dirinya mendekam di penjara, tentu itu tak akan pernah dilakukannya.


Acara makan pun selesai. Regan mengajak, Pak Eko untuk satu mobil saja dengannya. Sementara mobil Pak Eko sendiri bisa dibawa oleh supirnya. Pak Eko tak menolak itu karena ia berpikir di perjalanan nantinya Regan pasti akan membicarakan tentang kerja sama mereka. Namun, apa yang ia pikirkan, tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.


Sejak berada di mobil Regan, ia hanya diam dan Regan pun tak mengajaknya bicara. Sekalinya bicara, ia malah dibuat terkejut.


"Anda pasti penasaran dengan berita apa yang terjadi kan? Saya akan menunjukkannya. Saya harap jantung anda masih aman."


Regan menunjukkan berita yang kini sudah mulai naik ke permukaan.


Mata Pak Eko membulat tak percaya dengan semuanya. Namanya, disebutkan dalam berita tersebut atas kasus korupsi dan pencemaran nama baik Dewangga, mantan manager mereka dahulu. Ia langsung menatap ke arah Regan dengan tatapan yang tidak bersahabat lagi.


"Apa maksud semua ini?" tanya Pak Eko.


"Dasar tua bangka! Masih tanya maksudnya apa? Anda bisa baca sendiri kan? Masa harus saya yang bacakan! Ogah banget!"


Pak Eko mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia kemudian bertanya lagi ke Regan.


"Kita akan kemana?"


"Ke kantor polisi lah, mau kemana lagi memangnya?"


Jawaban Regan itu membuat Pak Eko jadi panik dan berusaha keluar dari pintu mobil. Tapi rupanya pintu itu sudah dikunci dan Pak Eko tak bisa pergi kemana pun.


"Sudahlah Pak, jangan banyak bertingkah! Sudah tua! Harusnya tobat! Anda juga harus meminta maaf pada Pak Dewa yang anda fitnah itu. Memangnya saya tidak tahu? Cih! Dasar mata duitan!"


Pak Eko emosinya dan mencengkeram kerah kemeja Regan. Ozy yang melihat itu langsung panik. Tapi Regan memintanya untuk tetap tenang dan menyetir dengan baik.


"Tenaga bapak sama saya jauh sekali perbedaannya Pak. Saya tidak mau disangka anak yang tidak punya sopan santun terhadap orang tua. Jadi lebih baik bapak duduk diam dan jangan berontak," ucap Regan sambil menahan cengkeraman tangan Pak Eko dan menarik dasinya untuk mengikat tangan Pak Eko.


"Begini kan lebih bagus Pak," ucap Regan dengan tersenyum.


Pak Eko masih terus berontak, tapi Regan yang sudah memiliki banyak persiapan malah mengikat kedua tali sepatu Pak Eko supaya tersambung. Jadi Pak Eko tidak akan bisa berjalan dengan benar nantinya.


"Asal bapak tahu ya, Pak Dewa itu calon mertua saya. Jadi saya ingin namanya bersih dari segala tuduhannya. Enak saja, pelakunya hidup mewah dan berkecukupan sementara yang tidak bersalah malah menderita. Maka dari itu, bersiaplah Pak. Oh, iya saya lupa, semua aset-aset bapak juga sudah disita oleh pihak kepolisian."


Mata Pak Eko membulat lagi.


"Tenang saja, mengenai istri dan anak anda. Mereka aman-aman saja di rumah sakit. Cuma shock aja."


Regan mengatakan hal itu dengan tenang-tenang saja. Sementara Pak Eko terus berusaha berontak, tapi ia tak bisa apa-apa.


Sampaikan mereka di kantor polisi. Regan menaikan kaca mobilnya dan berbicara dengan seorang polisi.


"Aku sudah melakukan tugasku, kini kalian lah yang melakukannya. Tolong hukum juga pihak polisi yang telah disuap olehnya. Jangan biarkan dia hidup dengan tenang setelah menjebloskan orang yang salah."


"Baik Tuan Regan."


Pak Eko pun dikeluarkan dari mobil dan dibawa paksa oleh dua orang polisi. Regan bernapas lega sekarang, satu per satu masalah telah ia selesaikan dengan benar.


*


*


TBC