
Besoknya, Renatta benar-benar datang lagi ke rumah keluarga Regan. Dan benar saja, Oma Lina sengaja berada di kamar. Karena tidak enak kalau masuk ke kamar Oma, Renatta pun jadi menghabiskan waktunya mengobrol banyak hal dengan Mommy Jessie.
"Kamu bakalan tiap hari kesini?"
Renatta mengangguk.
"Untuk meluluhkan hati orang, butuh waktu Mom. Jadi nggak bisa kalau cuma beberapa kali aja. Meskipun kedatanganku hari ini ditolak tidak apa-apa."
Mommy Jessie malah tersenyum.
"Oma malah sudah menyangka kalau kamu akan datang lagi makanya dia sengaja tidak keluar ketika mendengar suara kamu. Nanti pas jam makan siang, bawakan makan untuk Oma ke kamar."
Renatta mengangguk. Sambil mengobrol, Mommy Jessie dan Renatta pun menghabiskan waktu mereka dengan menonton acara drama komedi yang kemarin ditonton dengan Oma Lina.
Mommy Jessie tertawa terbahak-bahak ketika menontonnya. Benar-benar sangat lucu.
"Kemarin Oma bilang lawakan seperti ini garing Mom."
"Bohong kali tuh, sepertinya Oma gengsi kalau tertawa di depan kamu."
"Ya, aku juga nggak tahu sih."
Mereka pun asik menonton hingga acara tersebut selesai. Mereka sampai tidak sadar kalau jam makan siang sudah tiba waktunya. Renatta pun pergi ke dapur dan membawakan makan siang yang sudah dibuatkan untuk Oma Lina.
Renatta mengetuk pintu kamar Oma Lina. Setelah mendapatkan persetujuan dari dalam, Renatta membuka pintunya.
Ketika sudah masuk ke dalam kamar, Oma Lina begitu terkejut ketika yang mengantarkan makanan adalah Renatta. Bahkan wanita itu tampak tersenyum dengan manisnya.
"Dimakan ya Oma. Harus habis. Kasihan kalau nggak habis. Para pekerja di rumah ini sudah susah payah membuatkan ini untuk Oma. Karena kata Mommy Jessie Oma lagi nggak mau melihat aku. Aku akan langsung keluar dari kamar Oma. Selamat menikmati makanannya Oma."
Renatta pun benar-benar langsung keluar kamar dan malah mangkal di teras samping rumah. Ia mendapatkan telepon dari Regan.
"Halo, ada apa?"
"Kamu lagi di rumah keluargaku?"
"Iya, tapi hari ini sepertinya zonk. Mungkin setelah ini aku akan langsung pulang aja."
"Jadi, kamu nyerah?"
"Nggak nyerah, kalau hari ini gagal kan besok coba lagi."
"Ya udah kalau mau pulang, jangan lupa mampir ke supermarket. Kamu kan tahu sendiri, kulkas di rumahku dalamnya kosong. Jadi kamu isi aja terserah kamu. Nanti aku transfer uangnya."
"Iya, udah dulu kalau gitu. Semangat kerjanya ya."
Sambungan telepon pun berhenti. Renatta meminta kertas kosong dan pulpen untuk menulis pesan yang ditujukan ke Oma Lina. Ia masukkan ke dalam kue yang telah ia bawa.
"Bi, nanti kalo Oma keluar dari kamarnya, tolong kasihkan ini ke Oma ya."
"Baik Non."
Setelah itu, Renatta menghampiri Mommy Jessie untuk berpamitan pulang.
"Buru-buru sekali Nat."
"Iya Mom. Mau belanja juga soalnya. Kalau Regan yang belanja yang ada isi kulkas cuma makanan instan doang. Kan nggak bagus buat kesehatan."
Mommy Jessie tersenyum.
"Kalau begini calon istrinya. Mommy emang nggak perlu khawatir. Kamu pasti bisa menghandle Regan yang keras kepalanya nggak ketulungan itu. Dia memang suka sembarangan kalau makan. Bahkan kadang, makanan kadaluarsa aja lupa dibuang, sampai ia sendiri keracunan makanan itu."
"Iya Mom. Kemarin aja aku yang buangin."
"Ya udah, sok kalau mau belanja mah. Hati-hati ya, Nat. Jangan lupa besok kesini lagi. Kalau Oma menolak lagi, kita pergi jalan-jalan aja berdua."
Renatta mengangguk. Lalu mencium tangan Mommy Jessie dan pergi dari rumah keluarga Regan menaiki taksi.
*
*
Ketika sudah tak mendengar suara Renatta lagi, Oma Lina keluar dari kamarnya. Mommy Jessie menyindir mamanya itu.
"Mama nggak kasihan apa? Renatta jauh-jauh kesini untuk ketemu dan mendekatkan diri ke mama, tapi mama malah mengabaikannya. Aku tidak habis pikir."
Namun, sindiran itu tak berarti bagi Oma Lina. Ia malah berjalan dengan tanpa dosanya ke dapur untuk mengambil minuman dingin. Tanpa sengaja ia melihat bingkisan yang biasanya Renatta bawakan.
"Itu untuk Nyonya dari Non Renatta," ucap salah satu pekerja disana.
Oma Lina pun langsung menyangkingnya dan mengambil minuman dingin di dalam kulkas. Setelah itu, ia kembali ke kamarnya. Sebelumnya ia sudah membawa pisau kecil untuk memotong kuenya nanti.
Di dalam kamar, Oma Lina langsung membuka kota kuenya. Tak sengaja ia menemukan sebuah kertas yang ada di dalam plastik. Ia membukanya dan membaca tulisan yang ada di dalam kertasnya.
Oma pasti tidak suka aku datang lagi kan? Maaf ya Oma. Tapi, aku akan terus datang sampai Oma bisa menerima aku.
Oh, iya. Oma harus menonton film home alone, dijamin lucu. Udah banyak season nya. Nanti kalau Oma udah selesai nonton dan mau tahu acara lucu lainnya. Oma bisa tanya aku.
Semoga hari-hari Oma menyenangkan :)
Oma Lina melipat lagi kertasnya. Ia merasa Renatta itu anak muda tapi masih kuno sekali. Jaman udah modern masih aja kasih pesan lewat surat begini. Tapi ketika melihat kuenya, Oma Lina langsung tergiur dan langsung memotongnya. Lalu melahapnya dengan sangat rakus.
*
*
Renatta pulang ke apartemen Regan dengan membawa banyak sekali belanjaan dapur. Ia membeli berbagai macam sayuran dan hanya membeli sedikit makanan olahan untuk Regan. Ia membereskannya dengan rapih ke dalam kulkas. Setelah semua bahan sayuran sudah masuk ke dalam kulkas, Renatta lanjut memasak olahan ayam untuk makan malam mereka. Walau tidak terlalu pintar masak, Renatta sering membantu kakaknya untuk memasak, jadi ia tahu bumbu-bumbu untuk memasak berbagai olahan makanan.
Dua jam kemudian, Regan sudah pulang kerja. Ketika ia membuka pintu apartemennya, aroma masakan tercium di indera penciumannya. Dari aromanya sih terasa nikmat dan lezat. Ia pun segera menghampiri Renatta yang masih berkutat di dapur.
"Kamu masak apa?" tanya Regan.
"Gulai ayam, sambal, sama goreng kerupuk."
"Oh, tapi kenapa banyak sekali masaknya?" tanya Regan.
"Niatnya mau aku kasih ke Mommy kamu. Pasti dia udah lama nggak nyobain rasa makanan Indonesia. Mumpung sekarang belum waktunya jam makan malam, aku mau pindahin ke wadah dulu."
"Tapi, aku kan nggak punya wadah yang ada tutupnya Nat," ucap Regan memberitahu.
"Aku tahu, makanya tadi aku beli tupperware juga. Kamu mandi gih, kalau kamu nggak cape, antar aku ke rumah keluarga kamu ya. Tapi kalau kamu cape mah, nggak usah juga nggak papa."
"Tenang aja, walaupun capek, kalau itu urusannya sama kamu. Aku rela."
Senyum di bibir Renatta mengembang.
"Jangan gombal. Kamu kelihatan aneh kalau seperti itu. Kamu tuh cocoknya emang cuma bersikap dingin sama marah-marah. Itu lebih mencerminkan sikap kamu."
Regan jadi memanyunkan bibirnya karena dikatai seperti itu oleh Renatta. Tapi, ia dengan cepat malah mencium pipi Renatta dan berlari masuk ke kamar.
Renatta hanya bisa geleng-geleng kepalanya. Ia benar-benar harus siap dengan sikap Regan yang masih baru baginya. Harus siap-siap spot jantung dengan sikap manja Regan.
*
*
Mobil Regan sudah masuk ke halaman rumah keluarganya. Ia datang bersama Renatta membawa makanan yang dibuat langsung oleh Renatta. Tadi ia sudah mencobanya, dan rasanya enak, tidak mengecewakan.
"Ya ampun, kalian tumben malam-malam datang kesini?" tanya Mommy Jessie.
"Tuh, yang ngajakin Mom," tunjuk Regan dengan mulutnya ke arah Renatta.
Renatta hanya nyengir dan memberikan wadah yang isinya gulai ayam ke Mommy Jessie.
"Ini aku buatkan gulai ayam, Mom. Rasanya memang tidak seenak di restoran, tapi tidak buruk juga kok."
"Wah, kamu sampai repot-repot begini. Makasih loh, Nat. Mommy emang lagi pengen banget makan ini. Cuma lupa terus minta dimasakin sama bibi."
"Pas banget berarti ya Mom. Renatta emang calon mantu idaman Mommy," puji Regan dengan bangganya.
Renatta menoel lengan Regan.
"Apaan sih?" ucapnya yang tidak paham kode dari Renatta.
"Kalau begitu, kalian mau ikut makan malam disini apa langsung pulang?"
"Kayanya sih langsung pulang Mom. Soalnya aku masih ada deadline untuk besok," jawab Regan.
Renatta yang tidak tahu akan hal itu langsung mendelik ke Regan. Tahu begitu, ia tidak akan meminta Regan untuk mengantarnya.
"Kok nggak bilang?"
"Demi kamu, apapun aku lakukan Nat. Daripada kamu kesini naik taksi, aku nggak rela Nat."
"Duh! Yang bucin! Yang bucin!" ledek Mommy Jessie yang membuat pipi Renatta bersemu merah.
"Kalau begitu kita pamit Mom. Jangan lupa dimakan sampai habis. Kasihan calon mantu Mommy udah masak capek-capek."
"Tentu aja dong. kalian hati-hati di jalannya."
"Siap Mom."
Renatta dan Regan pun memasuki mobil. Regan melajukan mobilnya untuk keluar dari area rumah keluarganya.
*
*
TBC