Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
MENGANTAR



Jakarta


Mira mematut wajahnya didepan cermin. Ia baru saja selesai membersihkan dirinya. Perjalanan dari Bandung ke Jakarta sungguh melelahkan. Mandi merupakan cara terbaik untuk kembali menyergarkan tubuhnya, meskipun ritual mandinya hanya sebentar saja. Mira tidak memiliki banyak waktu. Ia harus segera mengantar gaun yang diambilnya di Bandung pagi tadi.


Mira merapihkan rambut panjangnya dan pakaian yang ia kenakan.


"Ku rasa cukup. Mira, kau memang cantik." Hehehehe... Mira berbicara menatap bayangannya didepan cermin sambil tersenyum cerah."


Satu hal yang unik dari seorang Miranda Starlin. Wanita itu memiliki kepercayaan diri tingkat dewa. Menurut Mira, kepercayaan diri adalah syarat utama meraih sesuatu yang luar biasa.


Percayalah pada dirimu sendiri dan keluarkan semangat yang besar yang kau miliki untuk meraih kesuksesan.


Jika kau yakin, maka apa yang kau harapkan akan terwujud.


Alasan itulah juga yang membuat Mira selalu berkata bahwa dirinya cantik.


Dia berharap itu akan terwujud meski dia tidak memakai pakaian dan sepatu branded atau memoles wajahnya dengan make up yang tebal.


Bukan berarti Mira tidak pernah membeli pakaian atau sepatu yang mahal.


Sebagai seorang desainer, Mira harus terlihat berkelas ketika ia bekerja. Karena itu ia memiliki beberapa pakaian, sepatu dan juga tas branded yang dibelinya ketika ia mendapatkan bonus dari kantor.


Mira tidak pernah membeli barang - barang branded dengan gajinya karena sebagian dari penghasilannya itu selalu ia berikan kepada orang tuanya.


Semenjak bekerja, Mira selalu membantu orangtuanya.


Papanya Marten Pesik sudah pensiun dari perusahaan tempat papanya bekerja dulu.


Uang pensiun papa digunakan untuk melanjutkan study S2 Mira di Jakarta.


Sedangkan mamanya Mira, Stella Ivanova hanya membuka minimarket didepan rumah mereka di Manado.


Penghasilan dari minimarket sebenarnya masih cukup untuk biaya hidup keluarga Mira.


Namun Mira harus mengirimkan uang kepada keluarganya untuk membiayai kuliah Mark Starlive adiknya. Terlebih adiknya itu memilih kuliah di fakultas kedokteran.


Butuh banyak biaya untuk bisa menjadi seorang dokter.


Karena itu setiap awal bulan, Mira selalu mentransfer sebagian gajinya kepada mama Stella. Mira percaya mama bisa mengatur keuangan termasuk membiayai kuliah Mark.


Oh ya, ada satu hal lagi yang unik dari Miranda.


Wanita itu juga memiliki tingkat kenarsisan yang tinggi.


Dimanpun dan kapanpun, Mira selalu mengambil foto sebagai kenang - kenagan untuknya.


Mira sering membagikan foto dan aktifitasnya didunia maya, namun itu hanya sekedar hobbynya saja. Yang benar - benar ia inginkan adalah menjadi terkenal karena sebuah prestasi.


Mira mengepalkan tangannya sambil setengah berteriak, "Fighting...fighting Mira. You can do this." Seru Mira dengan penuh semangat.


Dengan cepat Mira meninggalkan kamarnya yang sedikit berantakan karena pakaian yang berserakan diatas ranjang hingga dilantai.


Mira mengamibil sebuah kotak lalu menutup pintu apertemennya.


"Iya Pak. sebentar ya.. bentar lagi saya nyampe situ Pak." Mira berbicara dibalik telepon genggamnya, memberi penjelasan kepada ojek online yang sudah menunggunya diarea parkir apartemennya.


Mira memilih menggunakan jasa ojek online supaya dia bisa dengan cepat mengantar gaun Nona Luna. Meski cuaca sedang tidak bersahabat karena hujan rintik - rintik, Mira tetap memaksakan diri mengantar gaun yang dibawanya itu dengan sepeda motor.


Kesehatan ? Itu tidak penting saat ini. Bahkan saat ini aku tidak benar - benar sehat. Bagaimana bisa sehat jika urusan ini belum benar - benar selesai...


***


Dalam perjalanannya Mira menghabiskan waktu dengan diam. Tidak ada percakapan apa - apa antara Mira dan driver ojek online yang mengantarnya. Terlebih lagi dia susah payah menahan kotak berisi gaun yang di pegangnya. Gaun itu sengaja ditaruh didalam sebuah kotak dan diatur dengan sangat rapih oleh Mira agar gaun itu tidak kusut atau rusak.


Untung saja hujannya hanya rintik - rintik sehingga perjalanan mereka hanya memakan waktu singkat.


Setelah hampir satu jam, akhirnya Mira tiba disebuah perusahaan media yang begitu terkenal dijagat raya ini.


Mira menyerahkan helm yang dipakainya beserta selembar uang kepada driver itu.


Driver itu menyerahkan uang pecahan yang lebih kecil dari uang yang diberikan Mira barusan.


"Ini kembaliannya mbak." Kata driver itu.


"Tidak usah. Itu buat Bapak saja. Makasih ya Pak." Ucap Mira sambil berlalu meninggalkan driver itu.


Mira baru berjalan menuju gedung pencakar langit itu, tiba - tiba seorang muncul dan berteriak memanggil namanya.