
Di hari itu, Grace datang ke perusahaan keluarga Regan. Ia memang sengaja kesana mumpung sedang ada di Jakarta. Ia bahkan langsung masuk saja ke ruangan Regan, padahal disana ada Ozy, Regan dan Renatta yang sedang sibuk berbicara tentang proyek mereka. Tapi Grace tak merasa bersalah. Ia malah duduk di sofa dengan tak tahu malunya.
Sementara Renatta, Regan dan Ozy tampak melongo dan akhirnya tersadar lalu melanjutkan kembali rapat mereka sebentar. Baru setelah itu, ia menghampiri Grace dan menanyakan alasan kedatangan wanita itu.
"Datang tak diundang, duduk bagaikan ratu, ngapain kesini? Bukannya pekerjaanmu di Malang juga banyak?"
"Memang, tapi aku ada kerjaan di Jakarta, aku mampir kesini untuk mengajak Renatta pergi jalan-jalan bersamaku. Soalnya sore nanti aku akan kembali lagi ke Malang."
"Nggak bisa, Renatta banyak kerjaan," tolak Regan yang tidak mau Renatta dibawa pergi oleh Grace.
"Ayolah, jangan pelit gitu. Renatta izin 5 jam kerja pun," bujuk Grace.
"Nggak aku izinkan, Renatta harus menyusun jadwalku untuk seminggu ke depan."
"Aku sudah menyusunnya," jawab Renatta.
"Nah, itu berarti Renatta boleh aku ajak keluar."
"Renatta harus mengerjakan file presentasi untuk meeting besok pagi."
"Aku sudah mengerjakannya sebelum kita meeting bertiga."
Senyum Grace semakin mengembang. Renatta orangnya Memnag rajin, ia tidak bisa diam kalau masih ada banyak pekerjaan. Makanya ia selalu menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan sebelum deadline. Ia merasa tak ada lagi alasan Regan untuk menghalanginya mengajak Renatta untuk keluar.
"Tuh, berarti Renatta sedang tidak ada pekerjaan. Pokoknya aku mau bawa Renatta jalan-jalan. Meski tanpa izin dari kamu. Bye," ucap Grace sambil menarik tangan Renatta untuk keluar bersamanya dari ruangan Regan.
Regan hanya menghela napasnya. Rasanya ia cemburu meski Renatta pergi dengan Grace yang sama-sama wanita. Ia ingin selalu berada di dekat Renatta.
"Ce ilah, kaya gitu aja cemberut. Biarin lah para wanita itu jalan-jalan. Kasian Natta juga, dia pasti butuh girl's time. Udah daripada terus kepikiran, mending kita ngopi-ngopi aja di cafe sebelah."
Karena ditarik tangannya oleh Ozy, Regan pun terpaksa ikut.
*
*
Grace membawa Renatta pergi ke sebuah restoran outdoor. Disana Grace memesan banyak sekali jenis makanan.
"Kenapa banyak sekali pesan makanan? Siapa yang mau menghabiskannya?" tanya Renatta yang terkaget-kaget dengan pesanan Grace.
"Kita berdua dong. Kapan lagi kan, kita mukbang seperti dulu," ucap Grace.
"Tapi nanti bayarnya, fifty fifty ya? Aku nggak mau kalau setiap pergi sama kamu, kamu terus yang bayarin."
Grace menggerakkan telunjuknya tidak setuju dengan ucapan Renatta.
"Jangan pernah sungkan sama aku. Kamu jadi sahabat baik ku saja sudah cukup. Jadi jangan berharap aku akan membiarkan kamu ikut bayar semuanya."
Renatta tak mau lagi membujuk, karena Grace orangnya susah dibujuk dan membiarkan saja Grace melakukan apapun yang ia inginkan.
Tak lama kemudian, semua pesanan sudah tertata dengan rapih di atas meja makan. Grace tampak takjub karena sudah lama ia tidak memesan banyak makanan seperti ini.
"Ayo kita makan."
Grace dan Renatta pun mulai makan bersama sambil mengobrol tentang kesibukan mereka masing-masing. Terkadang mereka pun cerita tentang masa lalu mereka.
Namun, mereka dikagetkan dengan Devan yang tiba-tiba berdiri di dekat meja mereka.
"Rupanya kalian sedang bersama. Kenapa kamu memblokir nomorku Nat? Kemana aja kamu selama ini?" ucap Devan sambil melihat ke arah Renatta yang sedang memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Renatta tak langsung menjawab karena ia harus mengunyah lebih dulu makanannya.
Tak hanya Renatta saja yang ditanya, rupanya Grace pun juga.
"Kenapa kamu juga nggak bilang kalau ada di Jakarta dan tak mengajakku kesini? Untung saja aku pergi kesini dan bertemu kalian."
"Sorry Dev. Aku cuma berpikir kalau kamu mungkin masih ingin menyendiri dan tak akan mau kalau aku ajak keluar, makanya aku mengajak Renatta saja," jawab Grace.
"Oke, baiklah, aku mengerti. Tapi tetap saja, ajak aku lain kali."
Grace pun mengangguk.
"Maruk banget kalian. Aku akan membantu kalian berdua mengabiskan semua makanan. Kita juga sudah lama sekali tak pernah berkumpul bertiga. Jadi jangan melarang aku disini."
"Iya," jawab Grace.
Tatapan Devan mengarah lagi ke Renatta, ia menunggu jawaban dari pertanyaannya tadi.
"Kalau diceritakan akan panjang sekali Dev. Aku cuma akan mengatakan garis besarnya saja. Setelah pulang dari London, di saat itu kakakku mendapatkan masalah, aku berusaha menyelesaikannya dan berakhir aku difitnah sebagai pelakor dan viral di dunia maya. Aku ingin lepas dari semua yang ada di Jakarta makanya aku memblokir semua orang yang ada di Jakarta, karena aku berniat untuk tak pernah kembali lagi kesini. Lalu kami sekeluarga memutuskan untuk pindah ke Malang."
Kini tatapan mata Devan berpindah ke Grace. Ia benar-benar merasa tidak diakui sebagai teman. Ia bahkan saat itu selalu menanyakan keadaan Renatta dan dimana keberadaan wanita itu, tapi Grace mengatakan tidak tahu.
"Jangan marah padaku, aku hanya menuruti kemauan Renatta. Dia yang menyuruhku untuk tidak memberitahukan apapun padamu."
Devan menghela napasnya. Kemudian mengambil makanan yang ada di depannya.
"Lalu kenapa sekarang kamu bisa ada di Jakarta Nat? Katanya kamu tidak berniat untuk kembali?" tanya Devan lagi.
Lagi-lagi Renatta terdiam. Ia bingung mau menceritakannya dari mana karena ceritanya pun panjang juga.
"Bisa tidak jangan tanya itu dulu, soalnya ceritanya panjang juga. Intinya aku sudah disini lagi."
"Terus keluarga kamu masih di Malang? Kalau mereka disana, kamu disini nyewa kontrakan lagi?" tanya Devan yang kepo nya tingkat maksimal.
"Iya mereka disana. Aku tinggal di apartemen Regan," ucap Renatta.
"Regan tinggal disana juga?"
Renatta mengangguk.
"Apa jangan-jangan kamu kembali kesini juga karena Regan?" tebak Devan.
"Itu salah satu alasannya," jawab Renatta yang tidak mau berbohong.
"Apa hubungan kalian sudah lebih baik dari yang dulu?" tanya Devan lagi.
Grace yang dari tadi mendengar pertanyaan Devan yang sudah seperti wartawan malah menginjak kaki Devan.
"Aww, sakit Grace!"
"Jangan tanya-tanya terus! Mumpung kita lagi berkumpul, mari kita menghabiskan waktu untuk senang-senang. Untuk rasa penasaran mu itu, bisa dilanjut lagi nanti."
"Lanjut gimana? Renatta aja masih memblokir nomorku!"
Renatta mengambil ponselnya Yanga da di dalam tas dan membuka blokiran dari Devan.
"Sudah aku buka blokiran nya."
Ucapan Renatta itu membuat Devan tersenyum senang.
Mereka bertiga pun makan sambil bernostalgia jaman-jaman mereka bertiga bermain bersama.
*
*
Renatta pulang ke apartemen Regan pukul 8 malam. Disana Regan sudah menunggu Renatta dengan duduk di depan televisi. Berpura-pura fokus menonton padahal ia penasaran dengan apa saja yang dilakukan Renatta dan Grace tadi. Padahal Grace bilang, wanita itu akan pulang sore, tapi kenapa justru mereka pergi sampai malam?
Ketika Renatta akan masuk ke dalam kamarnya, Regan malah bertanya membuat Renatta pun harus membalikkan badannya.
"Kenapa pulangnya malam sekali?"
"Nanti aku akan cerita. Tapi sekarang aku mau mandi dulu," ucap Renatta yang kemudian membalikkan tubuhnya lagi dan membuka pintu kamarnya.
"Aih, bikin penasaran aja deh! Huh! Pokoknya kalau suatu hari nanti Grace datang dan ingin membawa Renatta pergi lagi. Aku tidak akan mengizinkannya. Kalau perlu jika Grace terus memaksa, aku akan pergi ikut bersama mereka. Supaya tidak penasaran seperti ini."
*
*
TBC