
Dasar pelakor!
Wanita murahan!
Perebut suami orang!
Kecantikannya digunakan untuk menjerat pria yang sudah beristri! Tidak punya adab.
Itulah kata-kata kejam yang selalu Renatta terima ketika berjalan pulang ke rumahnya. Ia tidak memperdulikan itu semua karena memang itu bukanlah dirinya. Yang paling penting sekarang, kakaknya jangan sampai tahu mengenai masalah ini. Ia tidak ingin kakaknya stress karena banyak pikiran. Sebisa mungkin ia harus membuat kakaknya senang dan bahagia.
Sesampainya di rumah, Renatta sengaja menyita ponsel kakaknya agar tidak berselancar di internet.
"Kenapa ponsel kakak kamu ambil?"
"Aku hanya tidak ingin kakak masih berhubungan dengan pria itu!"
"Nggak kok. Nomor kakak saja sudah dia blokir. Kakak sudah tidak mau mengingatnya lagi. Seperti yang kamu bilang. Kakak tidak akan menumpuk dosa. Jadi kakak akan melahirkan dan membesarkan anak ini dengan baik."
Renatta tersenyum senang mendengarnya.
"Tapi, tetap saja, untuk antisipasi, aku akan menyita ponsel kakak. Kalau kakak bosan, kakak bisa nonton tv atau melakukan apapun yang kakak mau di rumah."
"Ya udah, terserah kamu aja deh Nat. Kakak nurut aja."
*
*
Malam harinya, Renatta dihubungi oleh Grace. Grace tahu kalau itu bukan foto Renatta karena baginya yang pandai edit foto bisa membedakan mana foto asli dan mana yang editan. Grace pun meminta Renatta untuk jujur ke padanya.
"Laki-laki itu adalah orang yang menjalin hubungan dengan kakakku. Kakakku tidak tahu kalau dia sudah beristri. Intinya, aku mendatangi istrinya dan menunjukkan bukti perselingkuhan mereka. Lalu istrinya menggugat cerai dan si pria tidak terima dan malah membawa-bawa namaku dan menjadikan aku sebagai orang ketiganya. Seperti itulah cerita singkatnya, Grace."
"Huh! Dasar laki-laki tidak tahu diri! Sudah salah, malah menyalahkan orang lain pula! Pengen banget aku nonjok mukanya Nat. Terus kamu gimana? Nggak ada yang jahatin kamu kan?"
"Aman Grace, aku masih bisa menghadapinya kok."
"Kalau kamu butuh bantuan apapun, beritahu aku. Atau kamu ingin aku menghancurkan laki-laki itu? Aku bisa melakukannya dengan mudah."
"Nggak usah Grace, aku tidak mau kamu ikut terbawa-bawa masalah ini kalau kamu ikut campur. Tapi mengenai tawaran kamu waktu itu apa masih berlaku?"
Renatta menanyakan itu karena mungkin ia memiliki rencana B jika memang ia tidak bisa menghadapi masalah ini.
"Yang kerja di perusahaan keluargaku?"
"Iya."
"Masih kok. Tenang saja, tawaran itu selalu berlaku kapan pun. Tinggal kamu nya aja mau pindahnya kapan."
"Oh, oke. Makasih ya Grace. Nanti aku kabarin lagi.
Sambungan telepon pun terhenti. Renatta merasa hidupnya penuh dengan lika liku. Kalau ada bahagia, pastinya cuma sebentar, kebanyakan ia selalu menderita.
*
*
Di kantor lagi dan lagi ia dipandang dengan penuh ketidaksukaan. Bahkan di hari itu, tepatnya di kantin perusahaan, ia mendapatkan perlakuan tidak mengenakan dari beberapa pekerja.
"Wow, cantik-cantik gini malah jadi simpanan laki orang. Berapa biaya semalam nya? Mau dong! Nanti kalau udah siap! Kabarin ya!" ucapnya sambil mencolek b*kong Renatta.
Renatta menepisnya.
"Jangan sentuh-sentuh saya sembarangan! Saya bukan pelakor!"
"Halah! Mana ada pelakor mau ngaku. Ayolah, malam ini aku booking kamu. Sejam 20 juga mau?" ucap laki-laki yang lain lagi sambil mencolek dagu Renatta.
Renatta langsung menepisnya dan memelintir tangan orang itu hingga kesakitan.
Tapi karena mereka berbanyak orang, Renatta malah dibawa ke tempat sepi secara paksa, tanpa ada yang menyadari hal itu. Renatta akan dilecehkan disana oleh laki-laki yang tidak punya moral. Dia orang mencekal tangan Renatta dan yang satunya yang akan memulai duluan. Di saat pria itu akan menyentuh dada Renatta, seseorang muncul dari belakang dan menghajar mereka satu per satu.
Renatta terduduk karena lemas atas perlakuan tidak baik padanya itu. Ia menangis disana. Menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Nat!" ucap Ozy yang menepuk pundak Renatta.
"Hiks ... hiks ... Apa salahku Zy? Kenapa aku selalu menderita begini? Aku tidak melakukan kesalahan apapun! Aku bukan pelakor."
"Iya, iya, aku tahu," ucap Ozy yang membantu menenangkan Renatta. Kemudian ia membawa Renatta ke tempat kerjanya.
*
*
Renatta pulang kerja, lalu ketika di jalan pun ia dilempari oleh tepung, telur busuk dan macam-macam sayuran oleh para ibu-ibu yang merasa tersakiti juga. Lagi-lagi Renatta menangis karena mendapatkan perlakuan buruk itu. Ia kemudian pergi ke toko pakaian untuk membeli pakaian baru agar ketika pulang, kakaknya tidak akan curiga.
Sebenarnya Karen sudah memberikan pesan padanya, kalau ia ingin membantu dengan menunjukkan siapa selingkuhan suaminya yang sesungguhnya. Tapi Renatta menolak, karena tidak ingin kakaknya yang mendapatkan perlakuan seperti ini. Nantinya kakaknya bisa stress, dan memiliki niatan untuk bunuh diri lagi. Renatta tidak mau hal itu terjadi lagi. Biarlah dirinya yang jadi kambing hitam, asalkan kakaknya tidak tahu apapun yang terjadi di luar sana.
Setelah berganti dengan baju yang baru, Renatta pergi ke penjara untuk menyambut kebebasan papanya dari penjara.
Karena mendapati wajah putrinya yang terlihat bersedih, Papa Dewa pun bertanya ke Renatta.
"Kamu itu anaknya tidak pandai bohong ke Papa. Cerita aja kalau kamu memang ada masalah. Kita cari solusinya sama-sama."
Renatta memeluk papanya, kini ia memiliki sandaran lagi. Papanya sudah bebas. Tanpa sadar, Renatta malah menangis di pelukan papanya. Papa dewa yang tahu anaknya sedang bersedih, membiarkan saja agar Renatta merasa lega.
"Tidak usah cerita sekarang. Masih banyak waktu untuk bercerita nantinya."
Renatta menggeleng. Ia tidak mungkin bercerita di rumah, karena nantinya kakaknya bisa tahu.
Renatta pun menjelaskan apa yang terjadi akhir-akhir ini padanya dan juga kakaknya. Papa dewa merasa kecewa juga sakit hati karena tahu kedua anak kesayangannya tersakiti.
"Tapi, papa harus janji kalau nanti di rumah papa jangan marahin Kak Nesha. Dia emang salah, tapi si bajingan itu lebih salah pa. Kak Nesha sudah menerima ganjarannya, dan mau bertobat dengan mau melahirkan anaknya."
"Iya sayang, iya. Papa tidak akan marah. Papa cuma merasa kecewa, karena tidak bisa mendidik kakak kamu dengan baik. Andai saja, papa tidak ada disini, pasti kalian sudah hidup berkecukupan dan tidak mungkin terjerumus ke kenakalan seperti itu. Semua ini salah papa yang tidak bisa mendidik dan melindungi kalian."
"Papa ... "
Renatta memeluk papanya lagi, ia benar-benar rindu masa-masa mereka bersama sebagai sebuah keluarga utuh.
"Terus gimana keadaan mama?"
Renatta tak bisa menjawabnya. Karena keadaan Mama Kamala setiap harinya malah menurun. Kata dokter sudah tidak ada lagi harapan untuk hidup.
Baru juga bercerita begitu ke papanya, Renatta mendapatkan telepon dari rumah sakit kalau Mama Kamala sudah membuka matanya, tapi terus menyebut-nyebut nama Renatta.
"Pa, kita harus ke rumah sakit sekarang. Kita pulang dulu ke rumah untuk jemput Kak Nesha. Karena ponsel kakak masih aku yang bawa."
*
*
Di rumah sakit, Nesha, Papa Dewa dan Renatta ada di ruang rawat Mama Kamala. Mama Kamala memang sudah membuka matanya, tapi keadaannya tidak cukup baik.
"Na-natta ma-ma min-min-ta ma-af su-dah men-di-dik ka-mu de-ngan sa-ngat bu-ruk. Ka-mu ma-u ma-af-kan ma-ma?"
Renatta mengangguk dengan tangisnya. Ia bahkan sudah lupa bagaimana didikan Mama Kamala, yang ia ingat hanya harus selalu menjaga keluarga dan menyayangi keluarga.
"M-mas ma-af-kan a-a-ku."
"Aku sudah memaafkan kamu Mal."
"Sha, ma-af-kan ma-ma ka-re-na ngg-nggak bi-sa ber-sa-ma ka-mu."
"Mama, jangan bilang begitu, mama pasti sembuh," ucap Nesha sambil meraih tangan mamanya.
"Mas a-aku ti-tip Ne-sha."
Setelah ini, layar monitor menunjukkan garis lurus. Renatta dan Nesha menangis histeris atas kepergian mamanya. Dewa pun bersedih atas kepergian Kamala. Meski ia sudah mendidik Renatta dengan sangat keras. Tapi tetap saja, berkat Kamala juga, Renatta bisa mendapat kasih sayang seorang ibu.
*
*
TBC