Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
Bab 75 - Amanda ditangkap



Malam harinya, Renatta tampak termenung sendirian di ruang tamu apartemen Regan. Ia tampak seperti memikirkan sesuatu di kepalanya. Sejak pulang dari rumah keluarga Regan, Regan tak kunjung menghubunginya lagi. Renatta langsung berpikiran buruk. Tapi, ia tak ingin pikiran buruknya itu jadi kenyataan. Ia sudah berjuang sejauh ini, ia tidak ingin terluka lagi. Daripada dibuang dan ditinggalkan begitu saja. Ia lebih memilih untuk pergi dengan sendirinya.


Di saat ia akan mengirim pesan ke Regan, ia malah mendapatkan telepon dari laki-laki itu.


Renatta sengaja tak bicara sebelum Regan bicara duluan.


"Nat, jangan salah paham tentang sikapku hari ini. Kumohon."


"Lantas kenapa? Kamu memang tidak pernah mempercayai aku kan?"


"Bukan, bukan seperti itu. Di setiap tindakan pasti ada alasannya Nat. Aku punya alasan untuk itu."


"Oke baiklah. Aku akan mencoba mengerti itu."


Regan pun bernapas lega lalu mengakhiri teleponnya itu karena ia sedang berada di rumah sakit.


Renatta mendapatkan sedikit harapan untuk tetap bertahan dan tak jadi pergi.


*


*


Keesokan harinya, Oma Lina sudah mulai mau makan sedikit demi sedikit. Ia baru sadar di malam hari dan mendapati perutnya yang sakit juga wajahnya yang pucat ketika ia bercermin.


Regan pun menceritakan alasan Oma nya ada di rumah sakit. Oma Lina yang mendengarnya begitu terkejut. Ia benar-benar tidak menyangka Amanda melakukan hal kejam itu padanya. Awalnya ia sempat tidak percaya karena Amanda adalah anak yang baik dan lemah lembut. Mungkin Oma Lina akan lebih percaya kalau Renatta lah yang melakukan ini adanya. Tapi ternyata, bukti mengatakan kalau sidik jari Amanda ada di botol yang dibawa oleh pihak detektif tadi dan buktinya juga sudah didapatkan oleh Regan sebelum ia datang ke rumah sakit lagi.


"Oma benar-benar tidak menyangka Regan. Apa coba motifnya mencelakai Oma seperti ini? Memangnya Oma salah apa? Oma bahkan menyayanginya seperti cucu Oma sendiri."


Oma Lina menumpahkan isi hatinya sambil menangis. Ia merasa bodoh karena telah mempercayai dan menyayangi Amanda yang justru malah menyakiti dirinya.


"Bukan hanya Oma saja yang merasa bodoh! Aku bahkan merasa aku lebih bodoh karena sudah berhasil dibodohi Amanda selama bertahun-tahun. Aku selalu menyesal ke Renatta karena salah menuduhnya selama bertahun-tahun. Kalau saja Amanda tidak menyembunyikan kebenaran yang ada, mungkin dulu aku tidak akan sebenci itu ke Renatta. Untungnya, Tuhan membuka mata hatiku, dan menyadarkan aku kalau Renatta bukanlah wanita jahat seperti yang aku kira. Justru Amanda lah yang jahat dengan bersembunyi dibalik sikapnya yang lemah lembut itu. Aku harap Oma sadar dan jangan pernah berhubungan lagi dengan Amanda. Aku juga berharap Oma bisa menerima Renatta dengan tulus."


Oma Lina mengangguk. Ia langsung meminta maaf ke Regan karena berniat menjodohkan Regan dengan Amanda.


"Sudahlah Oma, lagipula meski dipaksa Oma sekalipun aku tidak mau. Yang terpenting sekarang, Oma harus segera pulih. Setelah ini aku akan datang ke kediaman Wijaya membawa polisi untuk menangkap Amanda dengan bukti-bukti yang ada. Aku juga mendapatkan informasi dari Gio, kalau Amanda juga terlibat dalam kasus pencemaran nama baik Renatta. Mungkin dia akan dipenjara dengan hukuman yang lebih berat."


"Iya, hukum saja dia. Oma tidak rela dia lolos begitu saja."


Oma Lina tak terima jika Amanda tidak mendapatkan ganjarannya. Ia akan mendukung semua keputusan yang akan diambil oleh Regan.


"Ngomong-ngomong kemana Renatta? Apa dia tidak datang bersamamu?" tanya Oma yang heran Regan datang sendirian.


"Aku sengaja tidak menghubungi Natta, Oma. Ini sekarang aku mau ke apartemen dulu menjemput Renatta lalu setelah itu baru pergi bersama polisi. Doakan semua ini lancar ya Oma."


"Pasti, pasti akan Oma doakan. Maaf, karena Oma telat menyadari kalau Renatta adalah wanita yang baik."


Regan menggenggam tangan Oma Lina dan tersenyum.


"Maka dari itu, perlakukan dia seperti cucu kandung Oma sendiri."


Oma Lina mengangguk.


Regan pun pergi dari ruangan rawat Oma Lina dan pergi ke apartemennya.


*


*


Suara pintu yang terbuka, membuat Renatta kaget. Ia segera mengedarkan pandangannya ke arah pintu. Rupanya Regan lah yang datang dengan pakaian yang masih sama seperti kemarin.


"Gimana keadaan Oma?" tanya Renatta ketika Regan akan masuk ke dalam kamarnya.


"Baik, bahkan sudah lebih baik dari kemarin," jawabnya kemudian masuk ke dalam kamar.


Renatta hanya tersenyum tipis. Ia merasa diabaikan. Tapi ia tak mempermasalahkan itu, ia berpikir mungkin Regan kelelahan setelah menjaga Oma Lina semalaman.


Beberapa puluh menit kemudian, Regan keluar dari kamarnya dengan pakaian yang berbeda. Ia mengajak Renatta untuk ikut tapi tak menjelaskan kemana tujuan mereka. Meski begitu, Renatta tak menolaknya, karena ia berpikir ia akan dibawa ke rumah sakit untuk mengunjungi Oma Lina.


Namun ia dibuat terkejut, ketika Regan membawanya ke kediaman Wijaya. Di kepalanya muncul banyak sekali pertanyaan.


"Tante dengar-dengar dari Amanda, Oma kamu masuk rumah sakit ya? Gimana keadaannya?" tanya Tante Dewi yang pura-pura perhatian.


"Sudah membaik Tante."


"Syukurlah, Maaf banget, Tante belum bisa jenguk. Di rumah lagi riweh soalnya."


"Nggak papa kok Tante, kalau lagi sibuk mah jangan dipaksain. Ngomong-ngomong Amanda nya mana Tante?" tanya Regan.


"Oh, ada kok. Tadi Tante udah bilangin supaya mandinya jangan kelamaan."


Regan pun mengangguk.


Tak lama kemudian, Amanda pun muncul dengan penampilan modis nya meski sedang berada di dalam rumah. Ia ikut duduk di ruang tamu.


Regan mulai membicarakan tentang sesuatu yang ditemukan di tempat sampah dapur rumah keluarganya.


"Kemarin aku mendatangkan detektif ke rumah untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa membantuku mencari apa yang menyebabkan Oma masuk ke dalam rumah sakit. Dan ternyata para detektif itu menemukan botol kecil entah cairan apa isinya. Sekarang masih diperiksa oleh pihak kepolisian. Kemungkinan besar cepat atau lambat pasti akan ditemukan sidik jari dari orang yang sudah mencelakai Oma. Aku hanya ingin orang tersebut mendapatkan hukuman yang sesuai. Entah siapa di antara Amanda dan Renatta yang melakukan hal keji itu."


Meski Regan terlihat tidak memihak, tapi Amanda merasakan kalau Regan menuduhnya secara terang-terangan karena tatapan mata Regan padanya tampak tidak suka.


"Maksud kamu mengatakan itu semua di hadapanku untuk apa? Kamu mau menuduhku yang sudah membuat Oma keracunan?" ucap Amanda yang kesal karena ditatap dengan curiga oleh Regan.


Regan justru tersenyum. Ia bahkan tidak pernah mengatakan kalau Oma nya masuk ke rumah sakit karena keracunan. Bisa saja Omanya muntah-muntah dan pingsan karena asam lambung atau sakit lainnya. Tapi, Amanda dengan mudahnya malah mengatakan hal tersebut.


"Tahu darimana kamu kalau Oma ku keracunan?" tanya Regan dengan penuh selidik.


Amanda langsung bungkam. Ia tidak sadar telah salah berucap. Tante Dewi pun jadi ikutan panik juga dan malah membela anaknya.


"Mungkin, Amanda cuma menebak-nebak saja Regan."


"Menebak ya?" tanya Regan yang mengulang perkataan terakhir dari Tante Dewi.


"Padahal kalau mengaku, mungkin hukuman akan lebih ringan," ucap Regan dengan mudahnya.


Renatta yang ada disana hanya diam. Ia begitu menikmati wajah ketakutan dari Tante Dewi dan Amanda.


"Regan! Kenapa sekarang kamu jadi gini sih? Kamu sudah tidak percaya aku lagi? Kita sudah kenal begitu lama loh!"


"Iya, aku kenal begitu lama dengan Amanda yang palsu. Yang selalu berpura-pura baik dan lemah lembut di hadapanku dan keluargaku. Kamu pikir aku akan terus jadi bodoh?"


Tak lama kemudian, polisi datang dan langsung menangkap Amanda. Tante Dewi marah dan emosi serta berteriak-teriak.


"Ada apa ini? Kenapa anak saya ditangkap begini? Dia tidak punya salah apapun!"


"Silahkan melakukan pembelaan nanti sesampainya di kantor polisi. Tapi anak anda memang terbukti bersalah dan diduga melakukan kesengajaan untuk meracuni saudari Lina."


"Itu fitnah! Saya tidak pernah melakukan itu semua! Lepas!"


Tapi tenaga Amanda tidak sebanding dengan tenaga polisi laki-laki itu. Amanda langsung dibawa keluar dari rumahnya.


Tante Dewi menangis dan terus berteriak kalau Amanda tidak bersalah, ia bahkan menyalahkan Renatta dan Renatta lah yang sudah menjebak Amanda.


Baru aja Renatta ingin membalas ucapan Tante Dewi, tapi Regan sudah menyerobot duluan.


"Sudah salah, masih menyalahkan orang lain pula. Tante, setidaknya Tante harus jadi ibu yang baik. Kalau anak salah yang ngaku salah jangan malah dibela. Atau jangan-jangan kalian berdua memang sekongkol?"


Tante Dewi menatap Regan dengan tatapan tak bersahabat. Di saat ia ingin menampar Regan. Wijaya datang dan keheranan dengan mobil polisi yang baru saja keluar dari gerbang rumahnya.


"Ada apa ini?" tanyanya.


"Tanyakan sendiri ke istri Om. Oh, iya, aku sudah menjebloskan Amanda ke penjara. Semoga saham perusahaan Wijaya nggak turun ya Om. Kami permisi."


*


*


TBC