Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
Bab 88 - Papa Dewa bertemu Tante Dewi



Polisi yang bertugas untuk mencari preman-preman dan Tante Dewi sudah dikerahkan sejak tiga hari yang lalu. Salah satu dari preman tersebut sudah berhasil ditangkap, sementara yang satunya kabur entah kemana. Sedangkan untuk Tante Dewi sendiri, mereka sempat datang ke apartemen Tante Dewi, tapi rupanya wanita tua itu sudah tak tinggal disana lagi.


Mereka masih terus mencari sampai akhirnya, menemukan orang tersebut dengan pakaian yang terlihat mahal, wajah yang telah dirias make up serta masih mendorong kopernya.


Mobil pun berhenti melaju dan menghampiri Tante Dewi. Tante Dewi yang memang tidak tahu kalau sedang dicari pun tampak biasa aja dan tidak takut tetapi ketika dua orang tersebut bicara soal kecelakaan Renatta. Wajah pucat, tangan gemetaran serta keringat bercucuran mulai terlihat jelas sekali.


"Anda akan kami bawa ke kantor polisi untuk pemeriksaan," ucap salah satu polisi sambil memegang tangan Tante Dewi.


"Tidak! Lepaskan!"


Tante Dewi meronta-ronta minta dilepaskan.


"Kalian salah menangkap orang, aku bukan pelukannya. Lepaskan!"


Dia polisi itu tidak menghiraukannya.


"Bisa dijelaskan nanti di kantor, sekarang anda ikut bersama kami dulu."


Namun, Tante Dewi masih berontak, dan menendang salah satu si polisi. Tapi usahanya itu gagal, karena masih ada satu polisi lagi yang memegangnya.


Akhirnya mau tidak mau, Tante Dewi ikut bersama mereka ke kantor polisi. Sesampainya di kantor polisi, Tante Dewi selalu bungkam jika ditanya apapun. Padahal, salah satu preman sudah membongkar semuanya. Kalau Tante Dewi lah yang membayarnya untuk mencelakai Renatta. Sampai akhirnya, si polisi sengaja mempertemukan si preman dengan Tante Dewi.


Tante Dewi langsung berteriak dan menuduh-nuduh kalau preman itulah pelakunya. Tapi, ucapan Tante Dewi tersebut justru membuatnya malah mendekam di penjara. Karena sejauh ini, pelaku yang sudah mencelakai Renatta masih dirahasiakan dari khalayak umum. Jadi, bisa dipastikan tak ada seorang pun yang tahu kecuali pihak kepolisian dan keluarga.


"Anda sudah mengaku sendiri, hiduplah dengan nyaman di dalam sel," ucap si polisi sambil terus memasukkan Tante Dewi ke dalam sel.


Tante Dewi terduduk lemas karena hidupnya kini harus berakhir di penjara. Ia benar-benar tidak mau ini terjadi. Ia ingin hidup mewah dan bergelimang harta seperti sebelumnya. Tante Dewi menangis dan berteriak histeris.


Rupanya sel yang ditempati Amanda tak jauh dari sel mamanya. Amanda seolah bisa merasakan kehadiran mamanya disana.


"Mama?" ucapnya.


"Tapi sepertinya nggak mungkin mama disini sambil berteriak dan menangis. Mama pasti akan mengunjungimu dengan senyuman dan rencananya."


Amanda masih belum tahu kalau mamanya pun sudah di penjara. Kini tak ada lagi yang bisa membantu mereka berdua untuk membalaskan dendam ke Renatta.


*


*


Regan tersenyum senang ketika mendapatkan kabar kalau Tante Dewi sudah berhasil ditangkap, walau agak sedih karena masih ada satu preman lagi yang belum. Setidaknya, ia bisa sedikit bernapas lega.


"Nat, aku tidak akan membiarkan siapapun lagi untuk menyakitimu. Walau itu diriku sendiri. Sudah cukup kamu melewati penderitaan pelik selama ini," ucap Regan sambil mengelus kepala Renatta yang tertidur di pahanya.


Rupanya sejak tadi, mereka sedang menonton film bersama, tapi Renatta malah ketiduran di pahanya. Untungnya, ketika suara keras dering ponselnya, Renatta tidak terbangun.


"Satu demi satu, aku akan bantu semuanya kembali meski tidak seperti semula. Aku sedang mencari orang yang sudah memfitnah papa mu. Katanya, hari ini orang itu akan kembali ke Jakarta. Lihat saja apa yang akan aku lakukan padanya."


*


*


"Huh! Untung tingkat kesabaranku tinggi, kalau tidak, mungkin aku akan mengundurkan diri dari sini."


Ozy menatap layar komputernya mencari semua informasi yang berkaitan dengan direktur di perusahaan tempat papanya Renatta bekerja dulu. Ia memang sudah mendapatkan sedikit informasi tentang kembalinya orang tersebut, tapi ia akan mencari lebih banyak lagi untuk mendapatkan bukti. Bahkan Ozy sengaja memerintahkan detektif untuk menyamar jadi pekerja di perusahaan tersebut.


"Satu per satu masalah sudah berhasil terpecahkan dan terselesaikan. Jika semuanya sudah usai, pikiranku bisa lebih tenang. Tidak bercabang kemana-mana."


*


*


Papa Dewa yang sudah mengetahui semuanya karena Regan sudah bercerita. Ia pun pergi ke kantor polisi untuk bertemu dengan Tante Dewi. Wajahnya dipenuhi amarah tapi tangannya terus berada di dadanya untuk menahan emosinya.


Tak lama kemudian, Tante Dewi sudah ada di hadapan Papa Dewa. Wanita itu tampak diam dengan wajah tak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun. Papa Dewa benar-benar tidak habis pikir dengan wanita yang ada di hadapannya saat ini.


"Apa kamu tidak sedikit pun merasa bersalah pada putriku? Tidakkah sedikit saja kamu ingin meminta pengampunan darinya? Kenapa kamu begitu tega Dewi?"


"Cih! Untuk apa meminta pengampunan darinya! Putrimu juga dulu mencelakai putriku. Dia yang memulainya kenapa harus aku yang meminta maaf?"


Papa dewa menghela napas untuk mengatur emosinya supaya tidak meledak.


"Aku tahu, Renatta dulu memang jahat, tapi dia sudah berubah dan mengakui kesalahannya juga meminta maaf pada putrimu dengan tulus. Tapi kalian lah yang tidak mau memaafkannya."


"Kamu pikir, dengan meminta maaf semua masalah selesai begitu saja?" ucap Tante Dewi dengan emosi yang membara.


"Aku tahu. Tapi kalian sudah membalasnya dengan begitu kejam, sudah cukup! Aku tidak mau putriku menderita lagi. Aku juga menyesal telah membantu kalian dulu. Aku bahkan mengizinkan kalian tinggal di rumahku, menyambut kalian dengan baik, tapi kenapa kalian membalasnya dengan hal menyakitkan seperti ini? Kamu dan putrimu memang pantas mendapatkan ini semua. Aku berharap semoga kalian bisa mendapatkan pelajaran dari ini semua."


Setelah mengatakan itu, Papa dewa berdiri dari duduknya dan berjalan pergi dengan membawa kekecewaan. Sementara Tante Dewi berteriak histeris pada Papa Dewa mendoakan Renatta untuk mati.


"Semoga anakmu tidak bisa berjalan lagi, dan akhirnya dia depresi sama mati! Aku tidak terima semua ini! Aku tidak Terima! Gara-gara anakmu, aku jadi hidup seperti ini!"


Papa Dewa tak menoleh sedikit pun ke belakang. Percuma saja ia menanggapinya, orang yang di dalam hatinya sudah penuh kebencian mau disiram dengan kata-kata apapun tidak akan mempan kecuali jika di dalam hati mereka sendirilah yang menginginkannya.


Di luar penjara, Papa Dewa merasakan lemas di lututnya, ia pun berjongkok sambil menyembunyikan kepalanya. Ia merasa semua ini karena dirinya yang tak terlalu memperhatikan cara mendidik Renatta yang dilakukan oleh istrinya. Kalau dia tahu, istinya mendidik Renatta seburuk itu, mungkin Renatta tak akan menjadi jahat. Tapi, tak ada gunanya lagi menyesalinya sekarang. Papa Dewa sudah ikhlas, karena Renatta pun sudah jadi wanita baik, meskipun masih ada saja orang yang selalu berpikiran buruk tentang putrinya itu.


"Semoga kamu bisa bahagia Nak. Maafkan papa."


Papa Dewa bangkit dari posisinya dan memberhentikan taksi di depannya.


*


*


TBC