
Tanpa memandang George, Mira bangun dari tempat tidurnya dan segera memungut pakaiannya dilantai.
"Ku rasa ini adalah kebiasaan burukmu. Melempar pakaian secara sembarangan saat gairah menguasaimu." Ucap Mira sambil memakai pakaiannya.
George terkekeh. "Memangnya ada pria yang sehat secara jasmani yang bisa menahan gairah yang sudah membuncah. Apalagi saat melihat wanita sepertimu."
"Memangnya ada apa dengan diriku?"
"Kau cantik sayang, dan begitu menarik."
Wajah Mira memerah karena malu. Untuk menghindari tatapan George yang seolah menggodanya, Mira bergegas ke kamar mandi diluar.
Mira mengunci pintu kamar mandi lalu duduk diatas closet yang tertutup kemudian kedua tangannya memegang pipinya yang terasa panas.
Demi Tuhan, apa apa dengan diriku ? Apa yang sudah terjadi padaku ? Oh, sial!
Pikiran Mira kalut kala ia menyadari apa yang baru saja terjadi. Itu bukan seperti kali pertama saat mereka melakukannya. Kali ini tidak bisa disebut sebagai pemerkosaan sebab dia sendiri turut bekerja sama bahkan dengan penuh semangat.
Beberapa saat kemudian, George menggedor pintu. "Apa kau baik - baik saja didalam? Biarkan aku masuk." Seru George.
Mira membuka kunci pintu lalu memandang sekilas wajah George yang tampak cemas. "Sedikit lebih baik daripada sebelumnya." Ucap Mira saat mengalihkan wajahnya menghadap wastafel.
"Kalau begitu kembalilah ke kamar dan tidurlah."
"Sebentar lagi. Aku masih harus membersihkan diri. Aku tidak bisa tidur jika badanku lengket."
"Baiklah, aku akan menunggumu disini."
Cukup lama bagi Mira berada didalam kamar mandi. Dia bukan hanya membersihkan dirinya tetapi jika juga harus menjernihkan pikirannya saat dia kembali menghadapi George.
George kembali menggedor pintu. "Kau belum selesai juga?"
"Sudah," sahut Mira.
Segera dibukanya kunci pintu lalu mencari celah untuk bisa melewati pria itu kemudian langsung berjalan cepat menuju kamar.
George memandang Mira dengan kesal saat wanita itu sudah berbaring di ranjang. "Apa aku baru saja diabaikan?" tanya George.
"Tidak," sangkal Mira.
"Lalu apa artinya tadi, kau melewatiku tanpa permisi."
"Aku lelah dan mengantuk." jawab Mira.
George menggelengkan kepalanya tak percaya. "Kurasa kau berbohong. Aku paling tidak suka dibohongi. Aku membenci kebohongan."
"Semua orang juga tidak tidak suka dibohongi George." Kata Mira langsung.
"Lalu mengapa kau melakukannya ? Mengapa kau membohongiku?"
Mira mendesah tanpa semangat. "Aku harus menghindarimu karena aku malu." tukas Mira dengan suara pelan.
George berbaring disamping wanita itu lalu meraih tangannya dan menaruh diatas perut berototnya. Dia memegang tangan Mira dengan erat lalu memandang Mira penasaran. "Mengapa kau malu?"
"Aku tidak tahu."
"Kau, sok tahu. Tapi, apa kau juga begitu?"
George tertawa pelan. "Sejujurnya tidak."
Mira memutar kedua bola matanya malas. "Dasar menjengkelkan!"
George masihbtertawa pelan, merasa dirinya mulai konyol.
"Baiklah, mari kita bicara kejujuran saat ini. Sebenarnya, aku ingin menyukaimu, mencintaimu dan mendambakanmu sepenuhnya hingga aku tak peduli lagi dengan kelemahan serta kekuranganmu. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya."
George mengangkat dagu Mira hingga mereka berhadapan. "Itu sangat mudah sayang." Ucap George serius.
Mira menarik napas dengan tak sabar. "Benarkah? Bagaimana caranya ?"
"Aku bersyukur karena perlahan kau sudah membuka hatimu untukku. Terima kasih sudah berniat mencintaiku dengan sepenuhnya." Ucap George tulus.
George menampilkan senyum yang lembut lalu berucap penuh keyakinan. "Take me to your heart."
Masih dengan senyum yang lembut George kembali berkata, "Taruh aku didalam hatimu bahkam didalam jiwamu agar kau bisa mencintaiku dan mendambakanku sepenuh hatimu. Dengan sendirinya kau akan tahu apa dan bagaimana cinta itu meski tanpa petunjuk. Itulah caranya."
Mira mengangguk pelan, mengerti dengan ucapan George.
"Maukah kau melakukannya?" Pinta George.
Mira tampak ragu tapi pada akhirnya dia menyetujui. Tanpa sadar Mira memeluk tubuh George dan menyandarkan kepalanya didada bidang pria itu.
"Terima kasih," ucap George sambil membelai rambut Mira lalu mencium puncak kepala wanita itu dengan lembut.
"Lalu apa kamu sudah benar - benar mencintaiku?" Tanya Mira penuh selidik.
"Apa kau tak percaya saat aku berkata, aku mencintaimu."
"Entahlah. Aku ingin percaya tapi keraguan selalu saja hadir dalam hatiku."
"Mulai sekarang jangan pernah ragu padaku. Aku benar - benar sudah mencintaimu. Kamu wanita spesial karena kamu berbeda dari wanita - wanita yang pernah aku kenal.
Mata George berbinar. " Mira, percayalah. Kau segalanya untukku. So, take me to your heart babe."
✨✨✨✨✨✨✨
Tinggalkan jejaknya ya kak,
Klik tombol like, favorite, dan berikan komentar dan vote nya juga ya...
.
.
.
Thank you 😘