
Renatta hanya terdiam saking terkejutnya mendapatkan ciuman dari Regan. Ia bahkan diam tak bergerak, padahal ciuman itu sudah berakhir beberapa menit lalu.
Regan tersenyum miring.
"Apa jawabanmu sudah berubah?"
Bukannya menjawab, Renatta malah memukul Regan dengan sangat keras.
"Aww ... aww ... Sakit Nat!"
"Arghhh! Ciuman pertamaku!" teriak Renatta sambil terus memukul Regan.
Laki-laki itu meng*lum senyumnya setelah mendengar teriakan Renatta.
"Jadi, tadi ciuman pertamamu? Wah, beruntungnya aku!"
"Dasar pencuri!" Renatta memukul perut Regan dengan kepalan tangannya. Kemudian ia berjalan keluar dari kamar Regan dengan bersusah payah karena kakinya yang pincang.
"Nat, aku bantu!"
"Diam disitu! Jangan bergerak!" perintah Renatta.
Regan pun menurut dan melihat Renatta yang sudah keluar dari kamarnya. Regan berteriak karena masih belum mendapatkan jawaban pasti dari Renatta. Ia bahkan sampai mengacak-acak rambutnya.
Berjam-jam Regan menunggu pesan dari Renatta. Namun, tak ada satu pun. Ya, padahal mah ia bisa mengetuk pintu kamar Renatta, tapi ia takut kalau tidak dibuka.
Yang ditunggu siapa, yang memberi pesan siapa. Regan malah mendapatkan pesan dari Amanda.
Re, apa titipan aku sudah kamu beli?
"Cih! Kenapa lagi sih dia? Padahal aku sudah meminta Devan untuk jangan pernah membiarkan Amanda untuk bertemu denganku lagi."
Seketika ia sadar dengan ucapannya. Harusnya tadi ia bilang Amanda tidak usah lagi berhubungan dengannya baik melalui ponsel atau bertemu langsung.
Dasar bodoh!
Regan pun mengirim pesan ke Amanda untuk terakhir kalinya.
Kamu sudah ada di London. Jadi belilah sendiri. Setelah ini, tolong jangan pernah temui aku lagi, jangan pernah meminta bantuanku lagi. Aku sudah terlanjur kecewa. Terima kasih karena kamu sudah buat aku jadi orang terjahat di dunia ini pada Renatta.
Lalu Regan memblokir nomor Amanda dan meletakkan ponselnya di atas meja. Ia kemudian melihat ke arah jendela. Langit sudah berubah warnanya, dari yang tadinya kemerah-merahan jadi berubah hitam. Itu artinya malam sudah datang.
Untuk tidur pun ia tidak bisa karena merasa perasaannya telah digantung oleh Renatta. Padahal kalau diingat-ingat lagi, Renatta sudah menolaknya.
*
*
Siangnya, Renatta sudah berkemas untuk pergi ke tempat baru lagi bersama Regan. Meski agak kesusahan membawanya, Renatta tetap tidak ingin meminta bantuan ke Regan.
Padahal, Regan di kamarnya tengah menunggu Renatta meminta bantuannya, karena untuk pertama kalinya laki-laki packing sendirian. Karena tidak mau melihat Renatta yang terbebani olehnya.
Sampai pada akhirnya keduanya bertemu di depan kamar masing-masing sambil memegang koper.
"Sini biar aku bawakan," tawar Regan.
Meski awalnya ingin menolak, tapi tetap saja Regan pasti akan terus memaksa. Jadi Renatta membiarkan saja Regan membawa kopernya.
"Kaki kamu gimana?" tanya Regan.
"Seperti yang Bapak lihat sendiri. Satu malam tidak akan mungkin mengubah kaki pincang jadi normal kembali. Tapi untuk rasa sakitnya sudah tidak seperti kemarin," jawab Renatta.
"Syukurlah kalau begitu."
Regan pun menyamakan langkah kakinya dengan Renatta, malah terkadang ia membantu Renatta ketika wanita itu sedikit kesulitan. Sampai akhirnya keduanya sudah ada di dalam mobil.
Suasana jadi agak sepi. Karena Renatta yang biasanya banyak tanya dan bicara jadi berubah diam seperti patung. Regan merasakan sedikit kekosongan disana. Ia pun berniat ingin melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Namun, tak jadi karena ia berpikir ulang kembali.
Setelah berjam-jam perjalanan. Keduanya telah tiba di sebuah mansion mewah milik keluarga Artajasa. Renatta yang baru pertama kali kesana memperlihatkan mata berbinarnya karena kagum dengan bangunan yang dilihatnya.
Ketika pintu terbuka, Regan langsung disambut oleh Mommy nya yang sudah berdiri di rumah tamu. Ia bahkan di peluk cium oleh Mommy nya sampai membuat Regan risih. Apalagi hal itu dilakukan di depan Renatta.
"Mommy ih, aku ini sudah besar. Bukan anak kecil lagi!"
"Apa sih! Kamu itu masih anak laki-laki kesayangan bagi Mommy."
Mata Mommy Jessie langsung bersinar ketika melihat seorang wanita yang datang bersama Regan ke rumah. Ia langsung menganggap wanita itu adalah calon menantunya.
"Uh, cantiknya kamu sayang. Siapa namanya?"
"Renatta Tante," jawab Renatta sambil mencium tangan Mommy Jessie.
"Aww! Sakit Mommy! Mommy ini kenapa kasar sekali sama anak sendiri!?"
"Lagian kenapa kamu nggak bilang kalau datang ke rumah bawa calon mantu. Mommy kan jadi nggak menyiapkan apa pun di rumah. Dasar, kebiasaan!"
"Eum, Tante, saya bukan kekasihnya Regan. Saya cuma sekretarisnya saja," sahut Renatta yang tidak ingin ada kesalahan pahaman.
Lagi dan lagi Mommy Jessie memukul lengan Regan.
"Aduh, Mommy sakit!"
"Habis kamu ini jadi laki pengecut banget! Nyantain kek, lihat loh Renatta sudah cantik paripurna begini. Sopan pula. Mantu idaman Mommy pokoknya. Jangan sampai kamu keduluan orang lain lagi seperti kejadian sebelumnya dengan Amanda."
Regan mendengus sebal karena Mommy nya selalu saja mempermalukan anaknya di depan orang lain.
"Aku udah nyatain loh Mom ke dia. Dianya aja yang belum jawab," ucap Regan.
Hal itu membuat Renatta jadi ketar-ketir sendiri. Apalagi Mommy nya Regan mulai merangkul bahunya.
"Kenapa sayang? Kenapa belum dijawab? Kamu nggak suka sama Regan? Ya wajar juga sih! Pasti dia nembak nya nggak romantis, iya kan? Kalau aja dia bukan anak Mommy, udah dibuang kali pas masih bayinya."
"Mom!"
"Shuttt! Diam!"
Regan pun jadi diam karena perintah Mommy nya. Renatta dipersilahkan untuk duduk dan diajak bicara empat mata. Sementara Regan diasingkan seperti orang asing.
"Saya sudah menjawabnya kok Tante. Saya menolak Pak Regan."
"Pak? Aduh ya ampun Regan! Kamu ini di kantor bagaimana sih? Kenapa sudah di luar jam kerja begini dia manggil kamu masih dengan sebutan Pak! Heh! Gimana mau punya mantu, kalau kamu nya cuek begini! Pusing nih kepala Mommy!"
"Aduh Renatta sayang, panggilnya jangan Pak gitu dong ke Regan kalau di luar jam kerja. Kesannya jadi jauh aja. Terus manggilnya jangan Tante, tapi Mommy aja biar enak didengar."
"Tapi Tan .."
"Mommy Renatta."
"Baik Mommy."
"Terus jangan formal-formal bicaranya. Santai aja, Mommy nggak gigit kok. Paling nanti cuma dorong aja biar jadian, hehe."
Renatta tersenyum tipis. Ia masih merasa tercengang dengan perbedaan sifat antara Regan dan Mommy nya yang 180 derajat jauhnya. Mommy terlihat sangat cerewet sementara Regan tidak terlalu. Cuma cerewetnya Regan karena pekerjaan saja.
"Berhubung Mommy tidak menyiapkan apapun untuk kalian, jadi Mommy mau keluar dulu sebentar. Re, ajak calon mantu Mommy ke kamarnya. Kalian pasti akan menginap kan?"
Padahal sudah Renatta katakan dia bukan siapa-siapa dari Regan. Tapi tetap aja ia diklaim sebagian calon menantunya. Tapi kalau dibantah lagi, akan panjang urusannya. Jadi, Renatta memilih untuk diam.
"Oke Mom. Itu di bagasi mobil Regan ada gaun untuk Mommy. Nanti ambil sendiri ya! Hati-hati di jalan Mom."
"Dasar anak tidak perhatian! Huh! Awas saja kalau kamu tidak berhasil membuat Renatta jadi calon mantu Mommy. Mommy cincang- cincang tubuh kamu terus Mommy kasih ke si Moly."
Moly adalah anjing besar pelihara Mommy Jessie.
"Sadisnya Mom!"
"Bodo amat!"
Mommy Jessie pun menghilang dari pandangan. Regan mengajak Renatta untuk pergi ke kamarnya.
"Bapak sama Mommy Bapak lucu ya? Kalian terlihat sangat akrab sekali padahal jarak di antara kalian sangatlah jauh."
"Lucu dari mana nya Natta? Yang ada tuh aku selalu jadi bahan amukan Mommy. Dia tuh ganas banget. Nggak tahu Daddy dapat perempuan kaya Mommy dari mana."
"Walaupun seperti itu, harusnya Bapak bersyukur bisa mendapatkan kasih sayang yang utuh. Tidak seperti saya Pak. Yang belum pernah merasakan pelukan dari ibu kandung saya sendiri," ucap Renatta sambil tersenyum kecut.
Regan jadi terdiam dan mengehentikan langkahnya.
"Walaupun begitu, kamu memiliki papa dan kakak yang sayang padamu."
"Iya, saya bersyukur untuk itu."
Regan pun menunjukkan kamar yang akan ditempati Renatta nantinya. Kamar itu berada tepat di sebelahnya. Kondisinya sudah bersih dan rapih karena memang Mommy adalah orang yang suka bersih-bersih meskipun jarang ada tamu yang datang.
*
*
TBC