
Sudah hampir seminggu Regan tak bertemu dengan Renatta. Bahkan untuk chatan saja tidak lagi. Oma Lina benar-benar mengawasinya dengan sangat ketat. Di kantor ada Ozy yang mengawasinya, di rumah malah lebih banyak lagi, ada Oma, Mommy begitu juga dengan Daddy nya. Ia merasa seperti sedang dipisahkan dengan sengaja.
Bahkan ketika berada di kamar pun, ia seperti dikurung yang tidak boleh keluar kemana-mana. Padahal ia sudah bilang mau pergi bertemu teman-teman kuliahnya dulu. Tapi Mommy nya melarang karena takut Regan berbohong. Padahal Regan sudah bilang, kalau Renatta tidak termasuk dalam teman-teman kuliahnya itu, karena Renatta cuma sekolah sampai SMA.
Jadilah, Regan di kamarnya cuma duduk sambil memeluk gulingnya dengan wajah yang merenggut. Untuk mengisi kekosongan nya, ia menonton video di YouTube menggunakan laptopnya. Padahal kalau ia berniat, ia bisa saja menghubungi Renatta melalui media sosialnya. Tapi, ketika ada celah tersebut, Regan malah merengut lagi, karena Renatta terakhir kali online 2 minggu yang lalu.
"Semua orang menyebalkan sekali sih!"
Mau tidur pun rasanya, tidak akan nyenyak. Sudah seminggu ini, Regan tidur di tengah malam, dan bangun di pagi-pagi buta. Ia sengaja menyibukkan dirinya agar tak memikirkan Renatta, supaya rasa rindunya bisa ditahan.
"Kira-kira dia sedang apa ya sekarang? Apa dia merasakan hal yang sama denganku? Apa dia juga rindu aku juga?"
*
*
Dan ternyata, Renatta merasakan hal yang sama. Bahkan Renatta sampai terus menerus melihat ke jendela, berharap Regan datang dan masuk lewat sana.
Tak ada hal yang dilakukan Renatta, ia cuma duduk diam sambil terus banyak berpikir. Bahkan untuk saling komunikasi mengenai pernikahan, harus dengan kakaknya kalau mau mengobrol dengan Mommy Jessie.
"Sisa seminggu lagi, tapi rasanya masih lama sekali. Seperti sudah berbulan-bulan. Apa Regan juga merasakan hal yang sama denganku?"
Keduanya sama-sama berpikiran hal serupa. Cuma bisa bertanya-tanya tanpa adanya kepastian.
*
*
Pagi mulai menyapa dengan sinarnya yang masuk lewat celah-celah ventilasi di kamar Regan. Ia baru teringat kalau hari ini adalah hari libur, harusnya ia bisa menikmati hari liburnya dengan senang. Ini malah tidak, ia merasa terpenjara di rumah.
Sampai ketika, Mommy nya mengetuk pintu kamarnya. Regan pun membiarkan Mommy Jessie untuk masuk.
"Ada apa, Mom?" tanya Regan.
"Kirain Mommy kamu belum bangun. Itu di bawah ada Ozy. Katanya mau ngajak kamu keluar."
"Tumben banget," ucap Regan yang keheranan.
"Udah sanah mandi, terus turun ke bawah, sekalian kita sarapan bareng."
Regan pun menurut saja, lagian hari liburnya juga masih belum ada rencana. Siapa tahu hari ini Ozy sedang khilaf dan malah mempertemukannya dengan Renatta.
Regan langsung beranjak dari tempat tidurnya ke kamar mandi. Mulai melakukan ritualnya. Ia mengguyur tubuhnya dengan shower air hangat. Menikmati setiap air hangat yang jatuh ke tubuhnya. Setelah selesai, ia langsung mengenakan pakaian dan keluar dari kamarnya.
"Lama banget mandinya, keburu jamuran aku nungguin kamu mandi," omel Ozy yang cape menunggu Regan.
"Banyak omong!" balas Regan dengan ketus kemudian duduk di depan meja makan.
Selesai sarapan, Regan berjalan beriringan dengan Ozy sambil bertanya kemana mereka akan pergi.
"Udah jangan banyak tanya, cukup ikut dan nurut aja. Daripada kamu bosan di rumah terus, mending nurut aja."
Regan mendengus sebal karena jawaban Ozy tersebut. Ia masuk ke dalam mobil Ozy dan duduk di samping kemudiannya. Ozy melajukan mobilnya untuk keluar dari halaman rumah.
Di perjalanan, Regan terus menebak kemana mereka akan pergi di kepalanya. Bahkan ia sampai tidak sadar malah menebaknya dengan gumaman kecilnya.
"Kalau perginya ke rumah Renatta, aku pastikan, gaji nya Ozy akan aku naikan lagi."
Rupanya, gumaman itu terdengar begitu jelas di telinga Regan.
"Dasar nggak pekaan banget!"
"Emang aku peduli?"
Jawaban Ozy tersebut mendapatkan lirikan tajam dari mata Regan. Alhasil, Ozy pun jadi bungkam dan fokus menyetir saja.
Mobil Ozy berhenti di sebuah supermarket. Regan menatap Ozy meminta penjelasan.
"Tempat yang kita tuju adalah supermarket, kamu harus bantu aku belanja bulanan, dari sayuran, buah-buahan, susu bayi, sampai perlengkapan bayi lainnya. Aku tidak mau pusing sendiri mencarinya. Jadi kamu harus bantu, aku sudah punya list belanjaannya. Jadi, kita tinggal cari aja yang sesuai."
Regan melongo tidak percaya. Baru kali ini Ozy begitu melunjak padanya. Saat ia akan memilih untuk berada di dalam mobil saja dan menunggu, Ozy yang sudah keluar dari mobil dan malah membuka pintu mobilnya dan menarik Regan untuk keluar.
"Sekali ini aja, aku minta bantuan darimu. Kamu juga kan belum kasih hadiah apa-apa atas kelahiran bayiku, jadi semua belanjaan hari ini, kamu juga yang harus bayar."
"WHAT!!!"
Regan melongo lagi. Ia sudah pasrah saja. Apalagi ketika Ozy mengeluarkan list belanjaannya yang hampir 30 cm itu.
"Gila! Banyak banget! Selama ini kamu tidak pernah menafkahi istri kamu?" tanya Regan yang keheranan.
"Sembarangan! Kebutuhan bayi itu banyak, kebutuhan ibu menyusui juga banyak. Kita harus memberikan nutrisi yang bagus untuk ibu hamil dan bayinya. Jadi, tidak bisa makan sembarangan. Nanti kamu juga akan merasakannya."
Ozy menarik tangan Regan untuk masuk ke supermarket. Ia mendorong troli untuk memudahkannya membawa belanjaan nantinya. Mereka memulai memilih barang dari bagian makanan, lalu perlengkapan bayi, dan kebutuhan lainnya.
Ketika berada di tempat perlengkapan pakaian bayi, Regan bingung mau memilih ukuran yang mana. Ditambah banyak sekali pilihan warnanya.
"Zy, Zy," panggil Regan yang kebingungan. Tapi Ozy tak berada di dekatnya. Entah kemana perginya sahabatnya.
Regan pun terus berkeliling di sekitaran sana, melihat-lihat sambil mencari si Ozy. Tanpa diduga dan direncanakan sebelumnya, ternyata Renatta ada disana juga sedang memilih pampers bayi yang pasti untuk keponakan tercintanya.
Senyum mulai mengembang dari bibirnya. Ternyata ikut dengan Ozy tak ada salahnya juga. Rindunya yang sudah meradang bisa tersampaikan meski hanya sebentar. Yang awalnya mau mencari Ozy, Regan malah mengikuti Renatta dari belakang.
Sampai pada akhirnya, Renatta pun sadar ada yang mengikutinya. Ia sengaja berhenti untuk menengok ke belakang. Dan ketika tahu siapa yang mengikutinya, Renatta cuma terdiam, sementara Regan malah cengengesan.
Di saat itu juga, Ozy muncul dan langsung menarik Regan menjauh.
"Nat, kita duluan ya. Bye."
Ozy bahkan berpamitan ke Renatta. Sepanjang ia berjalan, Regan selalu menatapnya dengan tajam.
"Kenapa sih malah narik-narik segala? Padahal aku belum puas bertemu Renatta nya. Aku bahkan belum sempat bertegur sapa! Menyebalkan sekali!"
"Ingat! Kamu itu, masih dipingit. Seharusnya kalian tidak boleh bertemu. Tapi karena hari ini tanpa direncanakan, jadinya tidak apa-apa."
"Tuh kan tidak apa-apa. Ya udah ayok balik kesana lagi, aku mau bicara sama Natta!" kekeh Regan yang mendapatkan pukulan ringan di tangannya dari Ozy.
"Nggak boleh! Ayo ke kasir aja! Aku sudah selesai belanjanya."
Dengan wajah yang masam, Regan pun menurut. Ia membayar semua belanjaan Ozy. Setelahnya mereka berdua keluar dari supermarket dan pergi dari sana.
*
*
TBC