Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
TIDAK PERCAYA



Cahaya matahari menembus sela - sela jendela menandakan bahwa pagi telah tiba.


Mira terbangun dengan badan yang lemas, masih sedikit mengantuk. Mira mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya mentari yang bersinar menembus ruangan kamar itu.


Sementara George baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang terlilit dipinggangnya.


"Selamat pagi. Kau sudah bangun sayang ?" Sapa George dengan senyum manisnya.


Mira memandangi George.


"Mengapa dia tersenyum seperti itu ? Sebegitu bahagiakah dia karena telah mendapatkan tubuhku ?" Batin Mira.


"Ahh sialan." Kesadaran Mira tampaknya sudah seratus persen kembali. Mata Mira terbelalak mendapati tubuh George yang setengah telanjang yang terlihat begitu menggoda. Sumpah, siapapun wanita yang melihat tubuh atletisnya pasti akan langsung terkagum - kagum.


"Jam berapa sekarang ?" Tanya Mira.


"Entahlah. Mungkin jam sembilan atau jam sepuluh." Jawab George sambil memakai pakaiannya.


"Apa...?!!!" Ah sial, aku sudah terlambat. Kemarin terlambat, hari ini terlambat juga. Apa kau ingin dipecat Mira ? Pergi kemana rasa tanggung jawabmu ?" Rutuk Mira pada diri sendiri.


"Kau tidak terlambat sayang." Ucap George santai.


"Kau libur hari ini."


"Apa maksudmu ?" Tanya Mira penasaran.


"Aku sudah memberitahukan pada bosmu kalau kau tidak bisa ke kantor hari ini karena kau sakit." Jawab George dengan suara datar.


"Aku tidak percaya kau melakukannya. Apa hakmu ?" Jawab Mira kesal sambil menatap George.


Ponsel... dimana ponselku ???


Mata Mira terbelalak lagi. Kini ia disuguhkan dengan pemandangan yang indah dimana George membuka lilitan handuknya hendak menggantinya dengan celana jeans berwarna hitam miliknya.


Mira tak melepaskan pandanganya itu sebab pertunjukan didepannya ini sangat sangat menggoda. Matanya tetap setia memandangi aktifitas ganti baju George.


"Double sialan."Batin Mira.


Mira bukanlah wanita liar yang otaknya hanya diisi dengan pikiran mesum. Tapi setelah kejadian semalam entah mengapa benaknya kini telah terisi dengan hal - hal erotis.


"Aku harus segera pergi dari sini sebelum pikiranku bertambah rusak."


Mira merapatkan selimut untuk menutupi tubuhnya yang telanjang, kemudian ia berjalan menuju kamar mandi.


Sementara George menatap Mira yang terlihat kewalahan memegangi selimut.


"Apa ?" Tanya Mira penuh selidik merasa was - was dengan tatapan George.


"Tidak ada." Sahut George lirih.


Pergilah bersihkan dirimu dan untuk sementara gunakan kimono handuk yang ada didalam kamar mandi sambil menunggu pakaianmu ada.


"Ohya.. Dan itu ponselmu masih kusimpan." Tambah George.


Mira berlalu meninggalkan George tanpa mengatakan apa - apa.


"Hahahahaaaa . . ." George terkekeh.


"Kau sangat lucu sayang. Kalau saja kau tahu wajahmu itu sudah seperti tomat berwarna merah maka pasti kau akan tertawa terbahak - bahak." Batin George.


Setelah selesai memakai pakaiannya, George segera menghubungi Lucas memintanya datang ke kamar yang ia tempati. Lucas bergegas menuju kamar George bosnya.


Untunglah Lucas menginap di hotel yang sama dengan George karena itu tak butuh waktu lama bagi Lucas untuk berada dikamar bosnya itu.


"Apa yang harus kulakukan bos?" Tanya Lucas dengan wajah serius.


"Apa terjadi perang didalam kamar ini ?


Demi dewa, apa yang sudah dilakukan bosnya pada wanita itu ? Dimana dia ? Apakah wanita itu mati ? Dimana mayatnya ?" Batin Lucas.


"Belikan pakaian untuk Mira." Perintah George.


Aku tidak tahu ukurannya. Apakah S atau XS ? Entahlah. Pokoknya belikan saja pakaian untuknya.


Dan satu lagi. Simpan sprei itu. George menunjuk sprei yang diatas ranjang yang sudah kotor sebab ada noda darah disana.


"Kau tidak perlu mencucinya. Biarkan saja seperti itu. Hanya simpan baik - baik sprei itu." Tambah George penuh penekanan.


"Siap bos." Jawab Lucas, mengerti dengan perintah bosnya.


Setelah selesai membungkus sprei putih kemerahan itu, Lucas pamit pada bosnya untuk segera melaksanakan perintah yang satunya lagi.


Untunglah bosnya itu menguasai bahasa Indonesia sehingga tidak ada kesulitan baginya untuk berbicara dengan pria Amerika itu mengingat Lucas tidaklah pandai berbahasa inggris.


Lucas adalah salah satu anak buah kepercayaan George. Dia adalah kepala dari seluruh anak buah George di Indonesia. Sebenarnya ini bukan kali pertama George datang ke Indonesia. Ia sudah beberapa kali kemari tetapi bukan di Jakarta melainkan di Bali.


Memiliki usaha resort yang mewah nan romantis membuat George harus terbang ke Bali setidaknya dua atau tiga kali dalam setahun.


Sementara didalam kamar mandi.


Mira yang mengguyur tubuhnya dengan air hangat merasakan perih dibeberapa bagian terutama dibagian pangkal pahanya.


Semalam benar - benar pertarungan kelas berat yang tentu saja tak mampu ia menangkan.


Mira masih tidak percaya bahwa kini dirinya bukan lagi gadis suci. Airmatanya menetes membaur menjadi satu dengan air dari shower kamar mandi.


"Hiks . . . hiks . . ." Suara tangis Mira.


"Maafkan aku Tuhan. Aku sudah berbuat dosa. Engkau pasti tahu kalau ini benar - benar diluar kendaliku. Bahkan sekarang aku tidak tahu harus berbuat apa."Seru Mira dalam tangisnya.


"Tok . . . tok . . . tok . . ." Suara ketukan pintu.


"Apa kau baik - baik saja didalam ?" Tanya George sedikit khawatir.


"Iya." Jawab Mira singkat.


"Kalau begitu cepatlah keluar. Kita harus sarapan." Seru George dengan suara sedikit keras.


"Apa? Sarapan ? Kita ? Setelah apa yang terjadi, apa kau pikir aku bisa duduk dan makan bersamamu ?" Teriak Mira dari dalam kamar mandi.


"Aku tidak peduli. Cepatlah keluar." Perintah George.


"Kau benar - benar sialan! Pria brengsek! Pria iblis, pergilah ke neraka!!!" Teriak Mira geram.


"Tidak masalah kau terus menggerutu seperti itu. Tidak apa - apa juga meski kau menyumpahiku. Tapi cepatlah keluar atau aku akan masuk kedalam sana dan menyeretmu." Seru George sedikit kesal.


"Dasar pria pemaksa! brengsek! Sialan! Aku tidak percaya didunia ini ada manusia seperti dia." Batin Mira.


***


Usai menyelesaikan mandinya, Mira berjalan menemui George yang sudah duduk manis dimeja makan yang berada disamping kanan kamar.


Mira memandang makanan yang ada diatas meja.


"Sepertinya enak. Tapi ada yang kurang." Gumam Mira dalam hati.


"Duduklah dan nikmati sarapanmu." Pinta George.


"Tapi . . . tapi . . ."Mira berbicara sedikit ragu.


"Ada apa lagi?" Tanya George penasaran.


"Aku mau makan nasi." Jawab Mira malu - malu.


"Oh...Maafkan aku sayang." Tunggulah sebentar, aku akan memesankannya.


Diatas meja hanya tersedia roti panggang dilengkapi selai cokelat, omelet, sosis, buah potong, jus buah serta kopi dan teh hangat.


Mira mengambil roti panggang dan mengolesinya dengan selai cokelat lalu segera memasukannya kedalam mulut.


"Belum pernah aku merasakan kelaparan seperti ini." Batin Mira.


Setelah beberapa saat, pesanan nasi sudah tiba diantar oleh seorang waiters.


Mira kembali meneruskan aktifitas makan minumnya tanpa mempedulikan George yang telihat sibuk dengan ponselnya sambil menikmati secangkir kopi.


Mereka menikmati sarapan mereka dengan tenang dan damai sampai suara seseorang memecah keheningan disana.