Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
Bab 98 - Ciuman selamat pagi



Kini Regan dan Renatta sudah berada di rumah sakit, tepatnya mereka berdua sudah ada di depan ruang rawat Amanda. Wanita itu sedang tidur dengan dijaga ketat oleh pihak kepolisian di depan kamarnya. Renatta akhirnya bisa lega, karena Amanda tidak meninggal dunia.


"Gimana? Kamu sudah tenang sekarang?" tanya Regan yang duduk di samping Renatta.


Renatta mengangguk.


"Setidaknya dia tidak meninggal karena bunuh diri. Aku sungguh berharap Amanda hidup dan menyesali perbuatannya. Aku ingin dia sadar dan benar-benar berubah."


"Tapi, tetap saja Nat, kamu tidak bisa memaksa seseorang untuk berubah, dia sudah sangat-sangat menaruh kebencian padamu begitu banyak. Aku yakin kalau dia sadar nantinya, bukannya sadar, dia akan semakin benci kamu. Orang seperti Amanda itu, tidak tahu caranya meminta maaf bahkan menyesali perbuatannya."


Regan mampu mengatakan itu semua karena Amanda pun tak pernah meminta maaf tentang laptop Regan yang dirusak Amanda itu, bahkan Amanda masih saja menyalahkan Renatta. Entah bagaimana isi pemikiran Amanda, Regan benar-benar tidak tahu.


"Lebih baik sekarang kita balik lagi ke hotel," ajak Regan yang langsung diiyakan oleh Renatta.


Sesampainya di kamar hotel, tak ada adegan romantis di antara keduanya. Mereka hanya tidur di satu kamar yang sama.


Di tengah malam menjelang dini hari, Regan terbangun dan melihat Renatta yang sudah tidur dengan sangat pulas. Pria itu sengaja memiringkan tubuhnya, mengamati wajah tenang wanita yang sudah menjadi istrinya dan menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah istrinya.


"Mau seberat apapun kaki kita melangkah bersama, aku akan tetap melangkah bersamamu Nat. Tak ada lagi wanita yang bisa membuat aku seperti ini selain kamu."


Regan mengecup kening Renatta dan meraih tubuh Renatta untuk dipeluknya.


*


*


Pagi harinya, Regan bangun lebih dulu karena suara dering ponselnya yang terus berbunyi. Ternyata ada beberapa panggilan dari Mommy nya yang tidak terangkat.


"Hhh, ada apa Mom?" tanya Regan.


"Renatta baik-baik saja kan? Dia tidak kepikiran soal kejadian di pernikahan kalian kemarin kan?" tanya Mommy Jessie yang begitu khawatir.


"Iya, dia baik-baik aja kok Mom. Semalam, Natta terus gelisah sih Mom, tapi setelah tahu kondisi Amanda, dia jadi lega. Semoga aja, setelah ini takkan ada lagi yang mengganggu pikirannya."


"Syukurlah kalau seperti itu. Mommy jadi senang dengarnya. Lagian si Amanda kenapa belum kapok-kapok juga sih? Mommy heran sama anak itu? Bukannya menyesali perbuatannya malah makin menjadi."


Mommy Jessie jadi kesal sendiri ke Amanda yang mengganggu hubungan putra dan menantunya.


"Entahlah Mom. Aku juga tidak mengerti jalan pikirannya."


"Ya sudah kalau begitu, nanti kalau Renatta sudah bangun, suruh mandi, makan, terus kalian jalan-jalan aja sama-sama. Setelah itu baru pulang ke rumah."


"Iya Mom. Aku tutup ya Mom."


Sambungan telepon pun berhenti. Regan menghela napasnya. Lalu menaruh ponselnya di atas meja. Ia bangun dari posisinya dan langsung pergi ke kamar mandi.


Regan selesai mandi, Renatta pun sudah membuka matanya, tetapi masih berada di atas kasur dengan posisi duduk bersandar di ujung ranjang.


"Kamu udah kenyang tidurnya?"


Renatta mengangguk. Regan duduk di samping ranjang.


"Mandi gih, aku tungguin."


"Apa airnya dingin?" tanya Renatta.


"Tidak terlalu," jawab Regan.


Ketika Renatta sudah bangun dari posisinya dan akan pergi ke kamar mandi, Regan menahan tangan Renatta dan malah mendudukkan Renatta di pahanya.


Regan mengerucutkan bibirnya.


"Kenapa?" tanya Renatta.


"Malam pertama kita gagal, seharusnya semalam jadi malam yang indah untuk kita berdua."


Renatta mengusap kepala Regan dengan lembut.


"Masih ada malam nanti, besok dan seterusnya. Lagipula, kamu pun pasti capek semalam. Aku mandi dulu ya."


Padahal Regan yang meminta Renatta untuk mandi, tapi dirinya juga yang menghalanginya. Tangan Regan mengunci tubuh Renatta.


"Kalau begini terus, aku nggak mandi-mandi, terus kita kelaparan Regan."


"Sayang, panggil aku sayang dulu. Kita kan sudah sepakat mengganti panggilan masing-masing waktu itu."


Regan merajuk dan tak mau membiarkan Renatta pergi.


"Sayang, aku mau mandi dulu ya. Bisa lepaskan tangan kamu dari pinggangku?" ucap Renatta dengan lembutnya.


Regan malah menggeleng.


"Apalagi sekarang? Kamu tuh, kok banyak maunya."


"Hehe," dibalas dengan cengiran oleh Regan.


"Cium dulu," ucapnya lagi.


"Nggak mau ah, mulutku bau, belum mandi."


"Hih! Menyebalkan, ya sudah setelah mandi nanti kamu harus berikan ciuman selamat pagi untukku."


Setelah mengucapkan kalimat itu, Regan melepaskan Renatta dari genggamannya. Ia membiarkan Renatta mandi.


"Aku sudah selesai mandi, ayok kita keluar!" ajak Renatta.


"Ciuman selamat paginya dulu," ucap Regan mengingatkan.


"Padahal aku berharap kamu lupa."


"Enak aja, nggak bakalan lah."


Renatta mendekat ke Regan dan mengecup bibir Regan sekilas. Regan kesal karena yangs seperti itu bukan ciuman cuma sekedar kecupan saja.


"Nggak berasa Nat."


"Udah ih, ayok keluar aja," ajak Renatta lagi dengan tangannya yang terulur ke arah Regan.


Regan malah menarik tangan Renatta hingga keduanya sama-sama terjatuh di atas ranjang dengan posisi Renatta berada di atas. Regan tak menyia-nyiakan posisi tersebut. Ia langsung melahap bibir kenyal milik Renatta. Memberikan kenikmatan dari sentuhan bibirnya. Ketika Renatta menikmatinya juga, Regan merubah posisi mereka, dengan Renatta yang berada di bawahnya. Tangan Regan mulai bergerak menuju ke baju berkancing yang Renatta kenakan. Dua kancing teratas sudah terbuka, bahkan tangan Regan sudah menjalar disana. Menyentuh mainannya baru dengan perlahan. Ketika tangannya sudah berada tepat di atas dua gunung itu, perut Renatta berbunyi sangat keras. Membuat aktivitas keduanya jadi terhenti.


Regan mengehentikan kegiatannya.


"Sepertinya kita memang harus makan dulu," ucapnya.


"Ya, sepertinya begitu," balas. Renatta yang sedikit malu-malu. Apalagi tadi hampir saja Regan akan membuka br* milik Renatta.


Di dalam hatinya, sejujurnya Renatta benar-benar gugup, pasalnya hal seperti tadi baru pertama kali baginya.


Regan mengancingkan lagi pakaian Renatta dan menarik tangan Renatta untuk bangun.


Keduanya pergi dari kamar hotel untuk mencari makan.


*


*


Di rumah sakit, Amanda sudah terbangun dan langsung histeris. Ia benar-benar kesal karena dirinya tidak mati. Padahal dia ingin sekali mati dan menyalahkan Renatta sebagai pemicu utamanya untuk bunuh diri.


"Arghhh! Kenapa aku masih hidup?" cicitnya dengan teriakan.


Karena kesal dan tak mau terus berada di rumah sakit, Amanda pun ingin keluar dari ruang rawatnya. Ia baru tersadar, kalau ia dijaga ketat di depan pintu ruang rawatnya.


"Sialan! Aku ingin bebas!"


Amanda pun kembali pada posisinya. Tak lama dokter pun masuk kesana untuk mengecek kondisi Amanda.


Setelah diperiksa, dokter pun mengatakan sesuatu pada Amanda.


"Banyak orang di dunia ini yang ingin hidup, seharusnya kamu bersyukur masih diberikan kehidupan setelah berusaha bunuh diri. Saya harap, setelah ini kamu lebih bisa menghargai hidup kamu sendiri dengan melakukan hal-hal baik dan menyesali segala perbuatan buruk yang kamu lakukan."


"Jangan sok tahu dokter, anda itu tugasnya untuk menyembuhkan pasien bukan untuk menasehatinya!" kesal Amanda yang dinasehati oleh dokter itu.


"Saya tahu, tapi tidak ada salahnya, sebagai dokter juga memberikan nasehat supaya pasiennya memiliki kehidupan yang lebih baik. Untuk kondisi kamu sudah stabil, keracunan makanan yang kamu alami pun tidak parah, luka di pergelangan tangan kamu pun sudah diobati, sore nanti pun kamu sudah bisa pulang."


Amanda tak terlalu mendengarkan ucapan dokter tersebut, karena ia terlalu kesal dengan ucapan dokter sebelumnya.


Si dokter pun keluar dari ruang rawat Amanda dan menjelaskan kondisi Amanda juga ke polisi yang berjaga di depan.


*


*


Devan dan Grace bertemu di sebuah restoran untuk membahas kejadian kemarin di acara pernikahan Regan dan Renatta. Grace sungguh tak habis pikir dengan kelakuan di luar nalar dari Amanda itu.


"Gila! Sumpah gila banget! Amanda benar-benar tidak punya otak! Untungnya Regan dan Renatta sudah sah jadi suami istri, kalau belum, aku pastikan, akan membuat Amanda lebih lama berada di dalam penjara."


Setelah menumpahkan kekesalannya, Grace jadi terdiam, karena takut Devan masih menyukai Amanda. Meskipun memang keduanya sudah lama bercerai, tapi melupakan seseorang itu tidak mudah.


"Maaf, sepertinya aku sangat menggebu-gebu membicarakan Amanda."


"Nggak papa, santai aja kali Grace. Aku juga sudah melupakannya kok. Aku hanya tidak habis pikir sama diriku sendiri aja. Kenapa aku bisa jatuh cinta pada wanita seperti Amanda?"


"Kan cinta itu buta, Dev. Kalau sudah cinta, apapun kelakuan buruk orang yang kita cintai pastinya akan ketutup sama rasa cinta itu sendiri. Cinta itu tidak salah, kamu berhak menyukainya kok. Tapi, kamu juga berhak mendapatkan yang lebih baik."


"Kamu benar sih Grace."


Devan membenarkan ucapan Grace padanya.


"Ya iya lah."


"Kapan balik ke Malang?" tanya Devan.


"Besok mungkin atau lusa, aku pun belum tahu," jawab Grace yang masih belum tahu kapan pulangnya.


"Lusa aja, besok aku mau ajakin kamu jalan-jalan sebelum kamu pulang. Lagipula sudah lama sekali kita nggak pernah jalan-jalan berdua."


"Em, boleh," jawab Grace.


*


*


TBC