
Setibanya di ruang ganti tempat Luna berada, Mira meletakkan kotak yang dipegangnya diatas sebuah meja yang terletak disebelah meja rias dengan sangat hati - hati.
Sementara Acha hanya diam melihat Mira kemudian matanya beralih memandangi Luna yang terlihat sedang berpikir keras. Luna duduk dikursi depan meja rias dengan siku tangan kirinya bertumpu pada meja rias sementara jemari panjangnya memijat ringan dahinya yang tidak sakit.
"Apa anda baik - baik saja nona Luna ?" Suara itu sukses menarik perhatian Luna.
"Maafkan aku nona." Aku tahu keadaan nona seperti ini karena kesalahan kami." Kata Mira yang merasa bahwa pengiriman gaun pesanan Luna yang tidak tepat waktu adalah kesalahannya.
"Entahlah... Aku tidak tahu apa aku bisa memaafkanmu." Ucap Luna dengan suara berat.
Tapi setidaknya kau sedikit beruntung. Kau tidak perlu mendengarkan amukanku karena tenagaku sudah habis ku gunakan untuk marah - marah seharian ini. imbuh Luna.
Seorang Luna bukanlah orang yang akan berbicara pelan kepada lawan bicaranya yang membuatnya kesal. Karena itu apa yang terjadi saat ini membuat Mira semakin merasa bersalah.
"Sekali lagi maafkan aku nona." Sebagai tanda permintaan maafku aku akan menjadi MUA untuk nona. Seru Mira penuh kesungguhan.
"Hahahaahah...." Luna tertawa.
Kau jangan bercanda, kata Luna sambil menatap Mira.
Keahlianmu itu adalah merancang pakaian bukan merias wajah.
aku tidak yakin kau bisa merias wajahku. Bisa - bisa aku terlihat seperti setan. Tambah Luna sambil menggelengkan kepalanya.
"Percayalah nona." Ucap Mira meyakinkan Luna.
Luna memandang wajah Mira yang terlihat penuh keyakinan kemudian beralih memandang Acha sambil memasang wajah bingung seolah meminta pendapat dari Acha.
"Kita tidak memiliki waktu yang cukup untuk mencari tukang make up profesional." Seru Acha.
Tidak ada salahnya kita membiarkan Mira merias wajahmu. Sebenarnya wajahmu itu sudah cantik sayang. Gak perlu di apa apain aja kamu sudah terlihat cantik.
Jadi kurasa kamu tidak perlu khawatir Lun.
Kata Acha.
"Kau yakin Cha ?" Tanya Luna.
"Iya sayang. percaya deh sama Mira." Dia pasti bisa membuat wajahmu yang cantik itu menjadi semakin cantik. Jawab Acha.
"Oke. Mari kita lihat apa kau benar - benar memiliki bakat menjadi MUA. Ucap Luna sambil menatap serius Mira.
"Terima Kasih nona." Aku jamin anda akan puas dengan hasil riasanku." Kata Mira.
Soal merancang pakaian tidak perlu diragukan lagi. Mira adalah ahlinya.
Tapi entah apa yang membuat Mira seberani ini. Ia hanya yakin ia pasti bisa merias wajah Luna. Selebihnya biarkan saja mengalir seperti apa adanya.
Tidak ada salahnya mencoba. Asal kau yakin , kau pasti bisa.
"Cha, dimana alat make up nya ?" Tanya Mira sambil melihat ke arah Acha.
"Oh ya.Sebentar aku ambilkan dulu." Jawab Acha.
Acha mengambil peralatan make up yang memang biasa dibawanya sebagai peralatan make up cadangan.
Setelah itu Acha memberikan perlengkapan make up itu kepada Mira.
***
Saat sudah berurusan dengan spons, kuas dan alat make up lainnya, keseriusan Mira seolah meningkat. Ia mengabaikan semua hal disekitarnya termasuk ponselnya yang entah sudah berapa kali berdering.
Mira hanya menyentuh ponselnya untuk mematikan nada dering kemudian ia kembali menyimpan ponselnya itu kedalam tas miliknya kemudian segera melanjutkan pekerjaannya. Sesekali Mira mematut wajah Luna dari cermin dihadapannya seperti sedang mengoreksi setiap hal diwajah cantik Luna.
Acha yang melihat tingkah Mira mengerti bahwa dia tidak ingin diganggu. Akhirnya Acha memilih duduk disofa yang terletak di sudut dinding sambil memperhatikan aksi Luna.
Hati Acha sebenarnya dilanda perasaan khawatir. Pasalnya dia tidak pernah melihat Mira mendandani seseorang. Namun tidak ada jalan lain sekarang ini selain percaya pada desainer itu.
"Semoga saja tangan yang pandai menggambar pakaian itu bisa sama pandainya merias wajah." Batin Acha.
Tiga puluh menit kemudian Mira sudah selesai dengan pekerjaan dadakannya. Dia cukup puas dengan hasil kerjanya.
Kemudian Mira menyuruh Luna membuka matanya.
Ekspresi wajah Luna yang datar tiba - tiba berubah sumeringah.
"Bagaimana ?" Tanya Mira.
"Ini beneran aku ?" Kata Luna.
"Ya iyalah, ini beneran kamu sayang." Ucap Acha yang sudah berdiri dihadapan Luna.
"Apa ku bilang. Percaya aja sama Mira. Hasil make up nya pasti bagus." Tambah Acha.
"Kamu berlebihan Cha." Ini tidak sebaik make up nya Amira. Kata Mira.
Nah sekarang nona tinggal memakai gaunnya. Imbuh Mira sambil membuka kotak yang berada diatas meja.
Luna yang puas dengan hasil make up Mira membuatnya melupakan kesalahannya dan memilih memaafkan desainer itu.