
Tante Dewi begitu gelisah di dalam kamarnya. Bahkan ia sampai menggigit jari jempolnya saking gemetarnya. Rasanya, ia memiliki firasat buruk di dalam hatinya. Entah apa, ia pun tak mengerti.
Suara bel apartemennya, terus dibunyikan dengan keras dan berulang-ulang. Ternyata rasa gelisah nya itu karena sepertinya pemilik apartemen sewanya akan datang untuk menagih uang sewa untuk bulan depan.
"Aduh, gimana ini? Aku tidak punya uang untuk memperpanjangnya. Kalau aku keluar dari sini, terus aku harus tinggal dimana? Aku tidak mau seperti dulu lagi yang terlunta-lunta di jalanan."
Sementara suara bel di depan, semakin terus berulang-ulang. Tante Dewi sampai ketakutan. Pada akhirnya, Tante Dewi pun membuka pintunya.
"Lama sekali bukanya," ucap si pemilik.
"Aku tadi sedang mandi makanya tidak dengar," alibinya, padahal mah disengaja.
"Oh ya?"
Tante Dewi mengangguk.
"Aku datang kesini cuma ingin meminta kepastian. Kamu mau memperpanjang masa sewanya atau mau pindah."
"Aku ingin memperpanjang, tapi apa boleh uangnya dibayar di akhir bulan?"
"Enak saja, disini bukan kontrakan murahan, tetapi apartemen elite, mana ada orang yang bayar di akhir bulan. Penyewa disini selalu bayar tepat waktu. Kalau tidak mampu tidak usah menyewa ditempat mahal! Sana pergi keluar dari apartemen milikku! Masih banyak penyewa lain yang mau tinggal disini!" marah si pemilik.
"Aku mohon Mba, pasti aku bayar kok."
"Tidak, tidak boleh, cepat kemasi saja barang-barang mu. Aku akan segera iklankan kalau apartemen ini kosong!"
"Mba, bantu saya tolong!" ucap Tante Dewi dengan memohon.
"Kalau kamu perlu bantuan, kamu datang pada orang yang salah. aku bukan orang yang sebaik itu. Cepat kemasi, aku beri waktu satu jam untuk kamu pergi dari apartemen ini!"
Tante Dewi pun masuk ke dalam. Ia segera mengemasi barang-barangnya. Kini tak ada lagi harta kekayaan yang tersisa. Cuma pakaian saja yang ia bawa. Selesai beberes, ia keluar dari apartemen sambil menarik kopernya.
Setelah itu, si pemilik apartemen pergi dan Tante Dewi pun pergi juga dari sana. Ia benar-benar tak tahu mau pergi kemana. Keluarga tidak punya. Harta tidak punya. Bahkan orang-orang hanya melihatnya dengan sinis ketika bertemu di jalan.
*
*
Devan berkunjung ke rumah keluarga Regan karena mendapatkan kabar dari Grace kalau Renatta habis kecelakaan. Ia benar-benar cemas pada sahabatnya itu. Untungnya, ketika datang, Devan disambut dengan baik oleh Mommy Jessie.
"Temannya Natta ya?" tanya Mommy Jessie.
"Iya Tante," jawab Devan.
Tapi Mommy Jessie seperti familiar dengan wajah laki-laki ini. Rasanya ia pernah melihatnya.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Wajah kamu rasanya tidak asing."
"Aku mantan suami Amanda, Tante. Wajar kalau Tante merasa tidak asing, mungkin Tante pernah melihat saya bersama Amanda secara langsung atau dari foto."
"Ah, benar, Tante pernah melihatnya dari foto. Silahkan duduk dulu. Tante akan panggilkan Natta dulu."
Devan duduk disana sambil menunggu kehadiran Renatta. Beberapa menit kemudian, Renatta datang dengan tongkatnya dibantu oleh Mommy Jessie.
"Kalian mengobrol lah, kamu mau minum apa?"
"Apa aja boleh Tante, asal tidak merepotkan."
"Oke."
Mommy Jessie pun pergi dari sana membiarkan Devan dan Renatta berdua di ruang tamu.
Devan terus memandangi kaki Renatta yang masih di gips.
"Aku benar-benar prihatin dengan keadaan kamu Nat, rasanya cobaan terus datang silih berganti padamu."
Renatta menghela napasnya sebelum menanggapi ucapan Devan.
"Mau bagaimana lagi, sepertinya jalan hidupku memang seperti ini. Aku harus menerima dan menjalaninya dengan baik."
"Aku tahu, kamu memang wanita kuat, tapi rasanya, ini terlalu kejam Nat."
"Lalu aku harus apa? Menyalahkan Tuhan atas takdir yang Dia buat untukku? Nggak kan?"
Devan terdiam. Apa yang diucapkan Renatta memang benar.
Pelayan pun datang memberikan makanan dan minuman.
"Terima kasih Bi," ucap Devan. Si pelayan itu mengangguk.
Renatta pun membuka topik kembali dengan meminta maaf ke Devan.
"Aku minta maaf atas semua masalah yang terjadi di dalam hidupmu, Dev."
Devan bingung. Karena ia memang tidak mengerti arah pembicaraan Renatta.
"Pernikahanmu yang gagal itu, semua itu, rencana dari Amanda. Dulu dia tahu kalau aku menyukaimu, makanya dia ingin membuat aku menderita dengan menempatkan kamu di sisinya. Di saat aku dekat dengan Regan, Amanda pun kembali membuat ulah dengan ingin merebut Regan lagi. Sampai akhirnya kalian pun bercerai. Semua itu Amanda lakukan untuk membalas dendam padaku. Aku benar-benar merasa bersalah, telah membawa kamu yang tidak tahu apa-apa."
Devan memang terkejut mendengar semua ucapan Renatta, tapi ia pun memang sadar, kalau Amanda tak pernah mencintainya. Apalagi selama pernikahan mereka, Regan terus lah yang selalu dibicarakan oleh Amanda.
"Semua itu bukan salah kamu Nat. Itu semua pilihanku. Aku nya aja yang bodoh. Padahal aku sudah tahu siapa yang membuat kamu terus merasa bersalah pada Regan dulu. Tapi, aku tetap mencintainya. Ini semua sudah jadi jalan hidupku. Bukan salahmu, Nat. Jangan meminta maaf atas kesalahan yang tidak kamu lakukan."
"Tetap aja Dev, aku merasa bersalah untuk hal ini. Karena kamu dibawa-bawa."
"Sudah jalannya begitu Nat. Lagipula, kini aku hidup dengan baik tanpa dia," ucap Devan ingin membuat Renatta tak merasa bersalah lagi.
Sayangnya, Renatta tahu, kalau Devan belum sembuh sepenuhnya. Mungkin memang terlihat baik-baik saja, tapi sorotan mata itu, tergambar jelas kalau Devan tidak baik-baik saja.
"Apa kamu tahu kalau Amanda di penjara?" tanya Renatta.
Devan mengangguk.
"Apa kamu tidak berniat untuk bertemu dengannya?"
Devan mengangkat bahunya tidak tahu. Rasanya ia malas sekali bertemu orang yang sudah membuat luka di hidup dan hatinya.
"Kamu sendiri bagaimana?"
"Aku ingin bertemu dengannya, dan mendengarkan semua kebencian yang dia punya padaku. Tapi mungkin nanti setelah aku sembuh."
Devan mengangguk-angguk.
"Katanya, kecelakaan ini disengaja, lalu apa pelakunya sudah ditemukan?"
Renatta menggeleng.
"Aku belum mendengar berita apapun lagi dari Regan. Mungkin dia sedang mengurusnya."
"Ah, begitu."
Tap tap tap.
Suara langkah kaki terdengar berjalan mendekat ke ruang tamu. Regan muncul dengan tangan yang bersilang di depan dada.
"Ngapain kamu kesini?" tanyanya dengan ketus dan sorotan mata yang tajam.
"Menjenguk Natta," jawab Devan.
"Pulang!" usir Regan.
Bukannya marah, Devan justru tersenyum. Ia tahu kalau Regan cemburu padanya. Pasti Regan pun sudah tahu kalau Renatta pernah mencintai dirinya. Tapi ia senang karena Renatta mendapatkan cinta yang tulus dari Regan.
"Nggak usah cemburu, aku dan Natta cuma berteman."
Regan tak memperdulikan itu, ia tetap menatap tidak suka pada Devan.
"Ternyata emang benar ya, benci sama cinta itu bedanya tipis sekali. Aku ingat betul kalau kamu sangat membenci Renatta dulu. Tapi, lihat sekarang? Kamu jadi posesif padanya. Seperti takut kehilangannya. Aku harap kamu selalu konsisten dan tak pernah menyakitinya."
"Dih! Banyak bicara sekali!"
Karena tak ingin keduanya terus adu mulut, Renatta pun meminta Regan untuk duduk di sebelahnya.
"Kenapa disitu? Harusnya aku duduk di antara kalian berdua," ucapnya yang tidak ingin Renatta dekat-dekat dengan Devan.
"Ish! Mommy bikin kesal deh, kenapa membiarkan orang ini masuk ke dalam rumah," kesalnya lagi.
"Jangan banyak bicara Re, duduk diam aja."
Regan pun menurut pada ucapan Renatta dan malah memperlihatkan sikapnya yang manja ke Renatta dengan menyandarkan kepalanya ke Renatta. Ia melakukan itu, untuk mengusir Devan pergi dari rumahnya.
Devan hanya geleng-geleng kepalanya. Ia seperti bukan melihat Regan yang dikenalnya. Regan yang biasanya ketus dan terlihat membenci Renatta kini berubah jadi manja.
"Sangat tidak bisa diprediksi. Kalau begitu aku pamit ya Nat. Kapan-kapan aku akan datang lagi."
"Heh! Jangan datang lagi! Karena pintu rumah ini tertutup untukmu!" ketus Regan.
"Jangan bilang begitu," ucap Renatta.
Regan pun mendengus sebal.
Sementara Devan malah tersenyum. Devan sudah berdiri dari duduknya. Sebelum pergi ia mengucapkan kalimatnya.
"Aku harap kamu akan selalu bersama Renatta dalam keadaan apapun. Selalu percaya padanya dan tidak akan pernah menyakitinya."
"Cih! Tidak usah kamu bilang pun aku akan melakukannya."
Devan benar-benar pergi dari hadapan keduanya. Renatta menatap Regan dengan sinis.
"Ternyata kamu orangnya cemburuan."
"Cemburu itu tanda cinta, Nat. Jadi wajar."
"Iya aku tahu, tapi nggak bisa sedikit aja kamu baik ke Devan? Dia datang untuk menjenguk, bukan untuk cari masalah."
"Ya, ya, ya, tetap saja aku kesal padanya."
"Lain kali jangan begitu lagi."
"Hm," jawabnya dengan malas.
"Kenapa kamu keluar dari ruang kerjamu, bukannya kamu sedang ada pekerjaan banyak?"
"Bagaimana mungkin aku bisa tenang bekerja, kalau tahu calon istriku berbicara berdua dengan laki-laki lain? Coba kamu pikirkan."
Renatta pun mengerti kemudian mengusap pelan kepala Regan.
"Aku sudah mengatakannya sebelumnya. Mau sebanyak apapun pria bodoh di dunia ini, kamu tetap pria bodoh pilihanku."
"Kenapa aku nggak suka dengarnya ya?" ucap Regan.
"Nggak usah didengar kalau nggak suka."
Regan mendengus kesal. Padahal kan dirinya ingin Renatta mengucapkan kata cinta yang lebih romantis.
"Dasar nggak peka," gumam Regan.
*
*
TBC