
Benar saja, ketika Renatta sudah sampai di pos ronda, kakak dan papanya langsung berdiri dari duduknya dan menanyakan apa yang terjadi.
"Aku nggak papa kok Pa, Kak. Tadi aku ditolong sama orang. Dia bahkan minjemin jaketnya sama aku," jawab Renatta.
"Harusnya papa nggak nurutin kemauan kamu tadi. Terus gimana itu pipinya? Sakit?"
"Sedikit Pa, kalau dikompres nanti pasti lama-lama hilang kok bekasnya. Oh, iya aku udah nemuin kontrakan untuk kita."
"Syukurlah. Kalo begitu ayo kita pergi. Kasihan kakak kamu pasti cape. Terus kamu juga harus segera dikompres."
Renatta mengangguk lalu mengambil tas nya yang tergeletak disana. Mereka bertiga pergi dari pos ronda ke kontrakan baru melewati gang kecil tadi. Tapi dia preman itu sudah tak ada disana.
Tanpa Renatta ketahui, lelaki tadi rupanya mengikuti Renatta sampai bertemu dengan keluarganya dari kejauhan. Setelah memastikan aman, laki-laki itu pun pergi dari sana.
*
*
Di sebuah hotel, seorang laki-laki melepas masker, kacamata juga kaos hitam panjangnya. Ia merasa tak becus menjaga Renatta. Kalau tadi dia datang terlambat pasti Renatta sudah jadi korban pelecehan.
Ia tampak menelpon seseorang.
"Zy, naikan beritanya besok. Aku tidak mau tahu. Aku sudah tidak bisa menunggu lagi."
"Tapi Re, besok berarti bertepatan dengan diresmikannya perceraian Karen dan Gio."
"Iya emang, biar dia mendapatkan hadiah yang berlipat-lipat."
"Kejam sekali dirimu Re."
"Siapa suruh dia cari gara-gara denganku! Ya terima saja akibatnya."
"Wow, cinta memang mengalahkan segalanya. Sepertinya kamu sangat-sangat mencintai Renatta."
"Berisik! Lakukan saja apa yang aku minta."
"Iya, iya, galak banget sih! Heran! Ngomong-ngomong kamu ada dimana? Kenapa di apartemen nggak ada?"
"Masih di bumi," jawab asal Regan membuat Ozy jadi kesal sudah bertanya.
"Ya, ya, ya, mau ke mars sekalipun silahkan saja. Sudah kan? Kamu tidak ada hal penting lagi yang mau dibicarakan denganku? Aku mau tidur dulu. Mau anget-angetan sama istri. Dadah!"
"Sialan!"
Regan langsung menutup ponselnya dan melepaskan sepatu dari kakaknya. Kemudian ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci kaki dan wajahnya.
Selesai itu, ia merebahkan tubuhnya dan memainkan ponselnya lagi sambil melihat foto-foto Renatta di akun media sosial wanita itu.
"Kamu terlihat lebih kurus sekarang. Pasti kamu tidak memikirkan kesehatan mu sendiri karena banyak hal yang harus kamu pikirkan. Maafkan aku Nat. Maafkan aku yang tidak ada ketika kamu dalam kesulitan. Harusnya aku bisa pulih lebih cepat, sehingga kamu tidak harus pindah seperti ini. Aku janji akan membuat nama kamu bersih kembali."
*
*
Keesokan harinya, Renatta sedang bersiap untuk berangkat kerja. Karena bekas tamparan masih ada, ia pun menutupinya dengan menggunakan riasan.
"Bagus, memarnya sudah tersamarkan."
Renatta keluar dari kamar dan berpamitan ke kakak dan papanya.
"Sarapan dulu Nat. Ini papa sudah buatkan susu sama roti selai."
Renatta pun meminum susu itu hingga habis dan membawa roti selainnya dan dimakan sambil berjalan.
"Makasih Pa. Aku berangkat dulu."
"Iya, hati-hati di jalan."
Sesampainya di perusahaan, tatapan orang masih saja sinis terhadapnya. Namun, Renatta sudah tak peduli lagi, yang penting ia bisa bekerja dengan baik dan mendapatkan uang untuk menghidupi keluarganya. Bahkan ketika disapa dengan nada mengejek pun, Renatta hanya membalasnya dengan senyuman. Ia sudah lelah dan cape kalau harus meladeni semuanya. Bisa-bisa energinya terkuras dan membuat dirinya drop.
Renatta duduk di tempat kerjanya, dan mulai menyusun jadwal Grace dan menangani klien yang meminta bertemu dengan Grace. Tapi tak lama kemudian, ada laki-laki yang tiba-tiba masuk begitu aja ke ruangan Grace. Renatta hendak menegur dan menjelaskan bagaimana prosedurnya sampai ia pun masuk ke ruangan Grace.
"Maaf Pak, anda belum memiliki janji untuk bertemu dengan Bu Grace. Mohon untuk keluar."
Tapi tak dijawab sama sekali. Bahkan laki-laki itu tak berbalik sedikit pun. Ia hanya membelakangi Renatta.
"Sudah tidak apa-apa Nat. Dia tamu penting kok. Kamu bisa keluar."
"Baiklah."
Setelah Renatta keluar dari ruangan Grace. Grace menatap laki-laki itu dengan tatapan tajamnya. Tapi malah ditatap balik oleh laki-laki itu.
"Apa? Apa maumu? Sudah aku bilang jangan datang dulu sebelum masalah Renatta kelar. Kenapa keras kepala sih?"
"Masalah itu sebentar lagi akan selesai. Aku kesini karena ingin melampiaskan amarahku. Kamu berjanji akan memberikan keamanan ke Natta. Tapi kenapa dia sampai mau diperk*sa sama preman. Dia bahkan diusir dari kontrakan sebelumnya yang katanya kamulah yang mencari kontrakan itu."
Grace yang baru mendengar kabar itu, matanya membulat tak percaya. Padahal ia sudah meminta si ibu pemilik untuk menerima Renatta. Ia bahkan sudah menjelaskan apa yang terjadi dengan Renatta. Kenapa malah mengusir juga? Grace jadi mengepalkan tangannya. Ia merasa dikhianati oleh si ibu itu.
"Lalu gimana kelanjutannya? tidak terjadi sesuatu kan dengan Renatta semalam? Apa dia sudah menemukan kontrakan baru?"
"Cuma hampir dilecehkan, karena aku datang tepat waktu. Mereka juga sudah menemukan tempat tinggal baru. Tapi tetap saja aku tidak bisa tenang. Pokoknya setelah masalah ini selesai, aku akan membawa Renatta dan keluarga nya kembali ke Jakarta."
Grace kesal tapi ia tetap menanggapi ucapan Regan.
"Iya kalau dia mau. Kalau dia benar-benar mau tetap disini bagaimana? Lagian kamu dan Natta kan sudah berakhir."
"Kata siapa? Berakhirnya sebuah hubungan itu harus dari kedua pihak, ini cuma dari sebelah pihak. Jadi hubunganku dan dia masih belum berakhir."
"Dasar tidak mau kalah! Sana balik aja ke Jakarta! Kamu ada disini tuh, bikin suasana ruangan jadi panas."
Regan membalasnya dengan lirikan mata tajam kemudian keluar dari ruangan Grace dengan memakai kaca mata hitam. Ketika keluar ruangan, untungnya, Renatta sedang tidak ada di tempatnya. Ia jadi lega dan kemudian menuju ke parkiran dan menelpon Ozy untuk menaikan beritanya setelah proses perceraian Gio dan Karen selesai.
Regan sengaja masih ada disana sambil menunggu hasil kabar dari Ozy lagi. Ia bahkan sampai tertidur karena lelahnya.
*
*
Grace keluar ruangan dan mengamati keadaan Renatta. Ia bersyukur Renatta baik-baik saja. Ia takut, kalau Renatta akan trauma.
"Kenapa Grace? Kenapa menatapku seperti itu?"
"Tidak, aku hanya bersyukur kamu baik-baik saja. Padahal semalam kamu hampir saja jadi korban pemerk*saan. Aku benar-benar lega, kamu bekerja seperti biasanya."
Renatta bingung. Karena yang tahu kejadian itu hanya dia, kakaknya, papanya dan si pria misterius penolongnya. Ia bahkan belum menceritakan itu ke Grace.
Grace yang melihat wajah kebingungan dari Renatta langsung kembali ke ruangan. Ia tidak mau ditanya-tanya oleh Renatta.
"Bodoh kamu Grace! Kenapa mulutmu ini tidak bisa dijaga! Untung saja kamu cepat-cepat pergi! Kalau tidak, habis kamu dicecar banyak pertanyaan oleh Natta."
Renatta di tempat kerjanya, masih merasa heran. Karena baik papa dan kakaknya tidak mungkin bercerita dengan Grace. Apa jangan-jangan pria misterius itu kenalan Grace?
Hanya itulah yang bisa ia duga-duga.
Dua jam kemudian, berita perceraian antara Karen dan Gio sudah jadi trending topik. Begitu juga dengan berita yang diminta oleh Regan.
*
*
TBC