Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
Bab 41 - Aku udah move on



Rapat pun telah selesai, Regan dan Renatta tampak menaiki lift untuk turun ke lantai bawah hanya berdua. Tidak ada pegawai perusahaan sana yang menaiki lift yang sama.


"Pak, kita habis ini mau kemana? Kan masih banyak jam kosong sebelum kita kembali ke hotel. Lagipula meeting hari ini pun sudah selesai dan dilanjut besok lagi."


"Balik ke hotel aja, aku masih butuh istirahat yang panjang habis perjalanan jauh."


Renatta mengerucutkan bibirnya. Padahal ia ingin sekali mengajak Regan jalan-jalan. Mumpung tidak ada kegiatan lain. Tapi apa boleh buat, Regan memang terlihat masih kelelahan meski ia bisa mengatur rasa lelahnya itu ketika tadi bertemu dengan klien.


"Baiklah, ayo kita pulang ke hotel aja Pak."


Keduanya pun kini sudah ada di dalam mobil. Regan mengemudikan mobilnya bak orang kesurupan lagi. Renatta terus menjerit-jerit karena ketakutan. Di dalam hatinya, Renatta terus menggerutu.


Ya Tuhan, aku masih ingin hidup. Tolong segera sadarkan Regan supaya tidak kesurupan lagi.


"Pak, kalau kita ditilang atau kecelakaan gimana coba? Kalau nantinya saya lumpuh dan tidak bisa mendapatkan suami. Emangnya Bapak mau tanggung jawab dan jadi suami saya? Nggak kan? Ayolah Pak kurangi kecepatannya, saya benar-benar takut Pak."


"Kalau aku bilang mau jadi suami kamu, gimana?"


"Itu satu hal yang nggak mungkin Pak. Tapi emang kalau terjadi hal buruk pada saya sekarang. Bapak mau tidak mau harus jadi suami saya. Titik!"


Regan tersenyum mendengarnya. Namun, ia masih tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Sampai tiba di area hotel, Renatta mengusap dadanya lega karena ia tidak mati.


"Untung saya baik-baik aja Pak. Jadinya bapak nggak usah repot-repot jadi suami saya," ucap Renatta sambil membuka pintu mobil Regan.


"Ya kalau beneran jadi suami kamu juga nggak papa sih? Lumayan dapat istri yang bisa disuruh-suruh," ucapnya kejadian menutup pintu mobilnya.


Regan pun mendekat ke Renatta dan merangkul pundak Renatta. Renatta yang mendapatkan perlakuan seperti itu langsung mendongak karena keheranan.


"Kenapa?" tanya Regan.


"Saya jadi takut kalau Bapak beneran kesambet setan di jalan," ucap Renatta kemudian melepaskan rangkulan Regan. Namun, Regan lagi-lagi merangkul Renatta.


"Ya Tuhan, jauhkan setan-setan yang melekat di tubuhnya. Hempaskan!" ucapnya sambil memejamkan matanya.


Regan langsung menoyor kepala Renatta.


"Enak aja! Aku nggak kesurupan. Stop! Mikir yang nyeleneh kaya gitu."


Renatta mengerucutkan bibirnya. Ia pun menerima saja perlakuan Regan yang tak biasa ini padanya.


Ketika sudah sampai di depan kamar masing-masing, Regan menyuruh Renatta untuk pergi ke kamarnya saja melanjutkan pekerjaan yang belum selesai, sementara dirinya mau istirahat sejam.


"Yee, enak sekali Bapak istirahat saya malah yang kerja."


"Kan nanti gantian, makanya aku minta nanti bangunin kalau aku udah sejam tidurnya."


"Iya deh iya Pak."


Regan merebahkan tubuhnya di atas ranjang sementara Renatta duduk lesehan sambil mengerjakan tugasnya disana. Mau kesal pun, percuma saja. Kalau sudah berkata A ya harus A. Regan tidak suka dibantah.


Renatta terus mengenakan tugasnya, ia bahkan sampai merasa ngantuk juga dan ingin istirahat. Tubuhnya juga sudah terasa pegal karena duduk terus. Untuk menghilangkan rasa kantuknya, Renatta pergi ke kamar mandi Regan untuk mencuci wajahnya supaya agak segar. Lalu ia kembali lagi dengan tugas-tugasnya.


Satu jam pun telah berlalu, Renatta pun berdiri dari posisinya untuk membangunkan Regan. Ia memanggil-manggil Regan tapi TKS kunjung bangun juga. Ia pun akhirnya menepuk bahu Regan supaya bangun. Tapi yang ada Regan malah memiringkan tubuhnya tidak ingin diganggu tidurnya.


Renatta pun berusaha membangunkan Regan lagi dengan menarik bahu Regan untuk berpindah posisi lagi. Akhirnya Regan pun bisa bangun dengan mata yang masih tertutup. Ia kemudian menjatuhkan tubuhnya lagi ke ranjang.


Renatta kesal dan langsung menarik selimut yang menyelimuti Regan. Namun, yang terjadi malah keduanya jadi tarik-menarik selimut dan membuat Renatta yang tenaganya tidak sebesar Regan harus terjatuh tepat di dada bidang Regan.


Untuk sesaat keduanya saling terdiam. Saling menatap wajah satu sama lainnya. Jantung Renatta tiba-tiba berdegup sangat kencang. Ia baru sadar, mungkin ia sudah berhasil move on dari Devan dan berpindah haluan ke Regan. Tapi ia tak bisa banyak berharap. Karena ia tahu diri akan siapa dia. Karena tidak mau sampai ketahuan oleh Regan, Renatta pun malah berkata, "Pipinya ada ilernya Pak."


Regan pun langsung mendorong tubuh Renatta sampai terjatuh ke lantai. Untungnya ia sempat menarik selimutnya jadinya ia terjatuh tidak terlalu sakit.


Namun tetap saja yang namanya jatuh pasti sakit. Renatta mengusap b*kongnya dan berdiri dari posisinya.


"Kira-kira dong Pak dorongnya. Udah tahu badan saya kecil. Disenggol dikit aja saya bisa tumbang Pak. Apalagi didorong sekuat itu. Untung aja disini nggak ada benda apapun yang bisa membahayakan saya. Pokoknya kalau terjadi hal buruk, Bapak harus menikahi saya."


Regan yang tadi melihat wajahnya ke cermin untuk mengecek ada ilernya atau tidak jadi kesal karena Renatta membohongi dirinya. Ia sedikit kesal tapi kasihan juga karenanya Renatta harus terjatuh. Tapi ketika mendengar ucapan Renatta yang selalu bicara tentang ia harus tanggung jawab.


"Kamu sesuka itu ya sama aku. Dari tadi bicaramu kalau bukan suami ya menikah. Kamu suka sama aku?"


"Ngaco! Ya enggak lah Pak. Mana berani saya menyukai Bapak. Lagipula Bapak kan belum move on. Yang ada saya malah jadi sakit hati terus. Saya udah nggak mau sakit hati, sakit hati terus. Bosen Pak! Lelah juga!"


"Kalau aku bilang, aku udah move on apa kamu percaya?"


"Ya percaya nggak percaya sih Pak. Udahlah, sana Bapak cuci muka dulu terus lanjutin pekerjaan saya. Saya mau istirahat juga di kamar. Tadi kan perjanjiannya gitu," pamit Renatta.


Tapi tangan Renatta ditahan oleh Regan.


"Ada apalagi Pak?"


"Aku sungguh-sungguh udah move on Nat."


"Ya, syukur kalau gitu Pak. Itu artinya Bapak bisa cari wanita yang baru," ucap Renatta sambil melepaskan tangan Regan.


"Saya ke kamar dulu ya Pak. Selamat mengerjakan."


Renatta sudah keluar dari kamarnya. Regan terus menatap ke arah pintu.


"Apa kamu tidak ingin tahu siapa yang sudah buat saya move on?"


*


*


Hari pun telah berganti, pertemuan dilakukan lagi di perusahaan yang sama seperti kemarin. Hampir 3 jam pertemuan dilakukan. Setelah selesai, lagi-lagi Renatta selalu bertanya kemana mereka akan pergi.


Kali ini Regan menjawab akan jalan-jalan ke pusat perbelanjaan untuk membelikan hadiah ke Mommy nya. Karena besok mereka akan mampir ke rumah Mommy nya.


Renatta pun tersenyum senang. Meski cuma pergi ke pusat perbelanjaan, setidaknya ia tidak ada di kamar hotel terus.


*


*


TBC