Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
Bab 79 - Calon Menantu



Beberapa hari setelahnya, saham perusahaan Wijaya kembali naik. Para wartawan pun satu per satu mulai menghilang dan malah berkerumun di kantor polisi. Tapi tentu saja mereka tak bisa mendapatkan apapun disana. Mereka bahkan mengunjungi kediaman keluarga Regan dan perusahaan keluarga Regan. Tapi tetap tak mendapatkan jawaban apapun. Semuanya seolah-olah sudah selesai masalahnya. Padahal para media bergerombol ingin tahu akar masalahnya dari mana. Soalnya mereka terkejut dengan sikap Amanda yang berbeda sekali dengan apa yang ditunjukkan sebelumnya.


Tante Dewi yang mau menjenguk keadaan putrinya saja harus sampai menyamar, supaya tidak dicurigai dan ditanya-tanya banyak hal.


Kini Tante Dewi dan Amanda sedang mengobrol di ruangan khusus.


"Ma, kenapa aku tidak bebas-bebas juga? Mana pengacara yang datang waktu itu? Kenapa dia cuma datang sekali saja?"


Tante Dewi bingung mau menjelaskannya dari mana. Tapi ia harus tetap menceritakan semuanya ke Amanda supaya Amanda tahu.


"Mama digugat cerai oleh Papa Wijaya."


"Hah? Apa?"


Amanda terkejut. Saking terkejutnya ia sampai berdiri dari duduknya.


"Jangan becanda deh Ma."


"Mama nggak becanda Manda. Mama digugat cerai karena ulah kamu ini. Pengacara Wijaya menyelidiki kebenaran atas kasus yang kamu alami, lalu menceritakannya pada Wijaya. Bukan cuma itu aja, kamu sudah diberhentikan dari perusahaan dan kamu tidak mendapatkan apapun dari keluarga Wijaya."


Amanda memperlihatkan wajah kesalnya sambil mengacak-acak rambutnya. Ia merasa percuma saja ia berusaha keras selama ini supaya bisa diberikan warisan dari papa sambungnya. Nyatanya, ia tak mendapatkan apa-apa sekarang. Lalu apa tadi mamanya bilang, karena ulahnya? Amanda tak terima karena semua rencananya berasal dari sang mama.


"Mama jangan menyalahkan aku! Ini semua kan rencana mama. Aku hanya melakukannya sesuai dengan apa yang direncanakan. Siapa yang tahu kan, Regan sampai sedetail itu hingga menyewa detektif segala."


"Seharusnya kamu juga waspada, kamu malah ceroboh!" marah Tante Dewi.


"Stop Ma! Jangan menyalahkan aku!"


Tante Dewi pun menghela napasnya. Ia berhenti menyalahkan anaknya dan mulai menyalahkan Renatta.


"Semuanya karena Renatta yang mulai mencuci otak Regan dan keluarganya."


"Iya, aku kesal dan benci banget padanya Ma. Pokonya aku nggak mau tahu, mama harus buat dia menderita. Mama harus bantu aku. Karena aku tidak bisa membalas perbuatan Renatta di dalam penjara dengan tanganku."


"Tapi mau melakukan apa? Sekarang kita cuma punya tabungan sedikit, ada sih tas-tas mahal kamu dan perhiasan mama yang bisa dijual untuk mendapatkan uang."


Amanda tersenyum lalu berucap, "Jual saja Ma. Mama sewa preman atau bahkan gangster sekalian untuk melenyapkan Renatta. Daripada aku melihat Renatta bahagia dengan Regan. Lebih baik aku melihat Regan menangis karena kehilangan Renatta dan aku bisa masuk lagi ke kehidupan Regan," ucapnya yang masih percaya diri sekali akan diterima keberadaannya di dekat Regan. Padahal saat ini, Regan melihatnya saja ogah.


"Baiklah, lalu kamu gimana disini? Ada yang jahatin?" tanya Tante Dewi.


"Aman kok Ma. Mereka semua takut sama aku. Mama kan tahu sendiri aku seperti apa. Aku tidak lemah lembut."


"Syukurlah, ini mama bawakan kamu perlengkapan skincare kamu supaya kulit kamu tidak kusam dan buluk."


"Makasih Ma. Mama tahu aja yang aku butuhkan."


*


*


Di Malang, setelah Papa Dewa mendengarkan penjelasan dari Renatta beberapa hari lalu mengenai ditangkapnya Amanda dan masalah yang selalu ditutupi oleh Renatta mengenai dirinya dan Amanda, Papa Dewa jadi ingin menelpon Tante Dewi. Tapi ia tidak tahu apakah nomor Tante Dewi masih sama atau sudah ganti. Dan ketika ia menelponnya, rupanya nomor tersebut sudah tidak terdaftar lagi.


Sejujurnya, ia masih tidak habis pikir dengan Amanda. Dulu dirinya sempat menolong mereka tapi kenapa mereka malah menjahati anaknya. Ia tahu Renatta pernah berbuat salah, tapi jika dibandingkan dengan kesalahan Amanda, jauh lebih banyak Amanda.


"Kamu kuat sekali Nat. Papa bangga memiliki putri seperti kamu. Teruslah kuat dan pantang menyerah. Papa yakin, kebahagian kamu akan datang sebentar lagi."


"Siang Om, maaf mengganggu waktunya."


"Siang juga Regan. Tidak ganggu kok. Om juga sedang istirahat. Paling nanti kerja lagi satu jam kemudian."


Karena tak diterima kerja di perusahaan mana pun, ia pun bekerja sebagai tukang ojek online. Motornya dibelikan oleh Renatta walaupun cuma motor second.


"Maaf kalau aku ungkit-ungkit masa lalu."


"Iya tidak masalah. Om sudah terbiasa. Tanyakan saja apapun yang ingin kamu tanyakan."


Papa Dewa sudah siap untuk mendengarkan pertanyaan yang ingin ditanyakan oleh Regan.


"Apa om masih ingat sesuatu tentang kasus om dahulu? Sekecil apapun yang Om ingat, katakan saja, aku akan bantu memulihkan nama baik om kembali," tanya Regan sambil sedikit memaksa ingatan Papa Dewa.


"Sudahlah Regan, tidak usah repot-repot memulihkan nama baik Om. Itu sama saja buang-buang uang. Om juga tidak ingin kamu nantinya juga ikut terseret. Sudah, yang berlalu biarkan saja. Om sudah ikhlas kok."


Papa Dewa menolak untuk membuka lembaran yang telah usang itu karena tak mau hidupnya yang sekarang sudah merasa baik jadi kalang kabut lagi.


"Sekarang aku jadi tahu, kenapa Renatta bisa sebaik itu. Ternyata sifat itu turunan dari Om."


"Ya, Renatta dulu hanya salah arah dan didikan dari mama tirinya," ucap Papa dewa menambahkan penjelasan.


"Tapi Om, kalau Om diam dan tidak buka suara. Orang yang sudah menjebak Om akan kesenangan Om. Bisa saja dia melakukan hal tersebut lagi ke orang lain. Ini semua bukan hanya demi nama baik Om, tapi juga demi membongkar kejahatan."


Ucapan Regan itu membuat Papa Dewa akhirnya menceritakan apa yang terjadi sebelum hari penangkapannya itu. Di ingatannya, ia hanya tidak sengaja melihat laporan keuangan yang berbeda jauh dengan laporan yang ada di tangannya di meja sang direktur. Ia pikir itu mungkin salah lihat atau salah baca, tapi ternyata tidak. Ia melihat kejanggalan itu lalu tanpa sengaja direktur pun masuk ke dalam ruangannya.


Papa Dewa jadi ketar-ketir saat itu. Ia pura-pura tidak tahu saja apa yang ia lihat dan keluar dari ruangan direktur dengan wajah cemas yang berpura-pura tak tahu apapun.


Tapi sayangnya, si direktur ternyata tahu kalau Papa Dewa melihat laporan keuangan yang asli. Ia pun dituduh dan dijadikan kambing hitam atas korupsi di perusahaan tempatnya bekerja. Papa Dewa yang sebenarnya tahu siapa pelakunya. Tadi di waktu itu ia tak memiliki bukti, kekuasaan atau pun kekayaan seperti mereka untuk membela diri. Makanya ia hanya bisa diam dan menerima semuanya.


Regan yang mendengar pun malah jadi emosi. Apalagi ketika ia mendengar nama perusahaan tempat Papa Dewa bekerja adalah salah satu pesaing bisnisnya sekarang yaitu perusahaan Pandora.


"Om tenang aja, pokoknya aku akan memulihkan nama baik Om. Om cukup kasih aku kepercayaan."


"Apa tidak merepotkan mu?" tanya Papa Dewa yang takut merepotkan Regan.


"Untuk calon papa mertua, itu tidak merepotkan sama sekali."


Papa Dewa tersenyum mendengarnya.


"Baiklah, calon menantu, aku serahkan semuanya padamu. Masalahku, putriku, tolong selesaikan semuanya dengan baik."


"Haha, siap Om."


Entah kenapa Regan jadi tertawa karena merasa panggilan calon menantu begitu menggelitik di perutnya.


*


*


TBC