Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
Bab 93 - Apa aku boleh menerima semua ini?



Hari persidangan pun tiba, Regan membawa beberapa saksi yang dulu dekat dengan Papa Dewa dan tahu bagaimana sikapnya. Setelah pemaparan beberapa saksi tersebut, Papa Dewa pun dinyatakan tidak bersalah dan mendapatkan nama baiknya kembali. Bahkan semua harta dan rumah yang telah disita pun dikembalikan lagi ke Papa Dewa. Bahkan dari pihak kejaksaan dan kepolisian sangat-sangat meminta maaf karena mereka sudah salah menangkap orang yang justru tidaklah bersalah. Mereka pun akan membuat klarifikasi ke media agar Papa Dewa tak lagi dikucilkan di kalangan masyarakat.


Papa Dewa yang mendengar keputusan itu semua, ia menangis terharu. Ia benar-benar tidak percaya, keadilan akan datang padanya.


Nesha dan Renatta yang ikut menyaksikan pun jadi ikut menangis juga. Akhirnya, akhirnya kebenaran terungkap.


Selesai persidangan, di luar gedung, sudah banyak wartawan yang menunggu hasilnya. Mereka langsung bertanya banyak hal.


"Kalau Pak Dewa tidak bersalah, berarti selama ini kepolisian sudah salah menangkap orang dan jaksa sudah salah mendakwa anda begitu juga dengan hakim yang salah memutuskan. Apa Bapak memiliki dendam dan benci karena hal tersebut?"


Papa Dewa hanya tersenyum mendengarnya.


"Saya tidak benci, karena semuanya sudah berlalu dan saya pun tak ingin mengungkit semuanya lagi," jawab Papa Dewa.


"Lalu apa semua aset yang dulunya diduga hasil korupsi dikembalikan lagi?"


"Tentu saja dikembalikan, karena memang milik saya. Sudah dulu ya, saya mau pergi. Nanti akan ada klarifikasi resmi dari pihak kejaksaan dan kepolisian."


Papa Dewa pun melangkah pergi masuk ke dalam mobil Regan, yang disana sudah ada Renatta dan Nesha yang sudah duduk, begitu juga dengan Regan yang masuk setelah Papa Dewa masuk.


"Sekarang Om mau langsung pulang atau mau melihat rumah lama Om?" tanya Regan.


"Kalau Om mau melihat rumah lama Om, apa itu tidak merepotkan kamu?" tanyanya yang takut merepotkan Regan.


"Tentu saja tidak, apa sih yang merepotkan untuk calon mertua?"


"Cih! Penjilat!" ketus Renatta.


"Apa sih, nyaut aja kamu Nat!" balas Regan.


Papa Dewa hanya geleng-geleng kepala saja. Mobil pun melaju dengan kecepatan normal. Karena kalau ngebut, Regan takut bayi dalam kandungan Nesha akan lahir lebih cepat dari perkiraan.


Setelah hampir 30 menit menempuh perjalanan, mereka pun sudah tiba di rumah lama mereka. Masih ada tulisan disita oleh pihak kepolisian, ya, mungkin memang belum diambil saja tandanya.


Papa Dewa, diikuti Renatta, Nesha dan Regan memasuki rumah tersebut. Rumah yang dipenuhi banyak kenangan indah maupun sedihnya.


Renatta jadi teringat lagi ketika ia menangis memohon pada mama tirinya untuk tidak meninggalkannya sendirian. Itu jadi kenangan yang menyakitkan untuknya, saat tahu kalau ia tidak mendapatkan kasih sayang tulus dari mama tirinya. Tapi kenangan hanyalah sebuah kenangan. Lagipula, semuanya sudah berlalu, dan mama tirinya pun sudah meminta maaf dan ia pun sudah memaafkannya.


Rumahnya memang tidak terawat, tapi tidak terlalu terbengkalai banget. Mungkin masih ada orang yang membersihkannya. Di saat Papa Dewa naik ke lantai dua, Renatta, Regan dan Nesha duduk-duduk santai di sofa yang sudah berdebu. Renatta tidak tega membiarkan kakaknya kecapean kalau harus berkeliling jadi ia memutuskan untuk menemani. Karena kakinya pun merasa cape karena harus memakai tongkat terus.


"Nanti aku akan menyewa orang untuk membersihkan rumah ini. Jadi kalian bisa pindah dengan nyaman."


"Boleh, nanti aku akan bayar biaya sewanya. Kamu jangan terus membantuku dan keluargaku. Kami begitu berhutang banyak padamu."


"Jangan dipikirkan, lagipula kita nanti juga akan menjadi keluarga. Terus tentang kontrakan kalian yang di Malang itu gimana?" tanya Regan.


"Ya, tidak diperpanjang lagi. Mungkin nanti akan meminta orang untuk mengirim semua barang yang ada disana kesini. Lagipula ada Grace disana. Aku bisa minta bantuannya."


"Giliran ke Grace aja kamu minta tolong dengan santai. Giliran ke aku? Kamu selalu merasa tidak enak dan takut merepotkan."


Regan berbicara seperti itu karena merasa Renatta masih membuat jarak di antara mereka.


"Bukan begitu, aku hanya tidak jadi beban kamu Regan."


"Tahu lah."


Regan pura-pura merajuk dan memalingkan wajahnya. Nesha yang ada di antara pasangan tersebut hanya tertawa kecil saja. Merasa lucu, karena Regan sepertinya bucin akut ke adiknya. Seketika ia merasa sedikit iri karena dirinya tak mendapatkan pasangan yang seperti itu. Tapi, itu cuma sesaat saja, karena ia sudah bertekad untuk jadi single mom. Mungkin jika ada jodoh yang datang dan menerima dirinya dan anaknya, ia akan memikirkannya. Tapi untuk saat ini, pendamping hidup tak terlalu dibutuhkannya.


*


*


Regan, Renatta, Nesha dan Papa Dewa telah sampai di kediaman Regan kembali. Mereka kembali dengan senyuman. Mommy Jessie, Oma Lina juga Daddy Arthur satu persatu mengucapkan selamat atas nama baik Papa Dewa yang sudah kembali.


Daddy Arthur bahkan menawarkan pekerjaan untuk Papa Dewa sebagai HRD di perusahaannya menggantikan Ozy. Karena selama Renatta mengambil cuti, Ozy bekerja dua kali lipat. Ia berniat memindahkan Ozy kembali pada tempatnya yaitu menjadi sekretaris Regan kembali.


"Bagaimana calon besan? Apa kamu bersedia? Saya menawarkan ini bukan semata-mata karena kamu adalah papa dari calon menantu saya. Tapi saya melihat dari kinerja kamu di perusahaan kamu sebelumnya. Meskipun sudah hampir 8 tahun lebih berlalu, saya yakin kemampuan kamu masih bisa dipercaya."


Papa Dewa tidak bisa berkata-kata lagi. Ia seperti ketiban durian runtuh. Kebahagiaan untuknya seolah terus datang secara bertubi-tubi. Tanpa ragu, Papa Dewa pun setuju.


"Baguslah, aku akan segera memprosesnya."


Tapi, karena hal tersebut, Renatta jadi agak sedikit murung, itu artinya dirinya akan jadi pengangguran.


"Kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau setelah jadi pengangguran nantinya. Kalau kamu ingin memiliki kegiatan, aku bisa buatkan usaha untuk kamu dan kakak kamu."


"Ah, tidak, tidak usah, itu terlalu berlebihan," ucap Renatta menolak. Ia tidak ingin Regan mengeluarkan banyak uang hanya untuk membuatkan usaha untuknya.


"Tidak berlebihan Nat, Regan memang sudah merencanakan itu semua di akhir-akhir ini. Dia sudah meminta persetujuan dari Daddy. Tinggal kamu pilih, mau usaha apa yang kamu jalankan. Daddy dan Regan akan jadi penyumbang utamanya. Anggap saja itu investasi dari kami kalau kamu tidak mau menerimanya dengan cuma-cuma."


"Apa aku boleh menerima semua ini? Apa aku pantas?" Renatta justru tidak yakin dan menanyakannya.


"Jangan merasa berkecil hati seperti itu. Kamu cukup pilih dan jalani saja. Lalu setelah dijalani, baru kamu bisa menyimpulkan pantas atau tidak menerima ini semua. Tapi kalau bagiku, kamu memang pantas menerimanya, Nat. Jadi tolong terima saja."


"Pa, apa boleh?" tanya Renatta meminta persetujuan dari Papa Dewa.


"Kenapa bertanya ke Papa? Kamu aja mau apa tidak?"


Papa Dewa justru malah balik bertanya. Membuat Renatta malah mendengus.


"Aku akan pikirkan nanti."


"Kenapa harus nanti? Sekarang kan bisa," ucap Regan yang ingin Renatta menjawabnya sekarang.


Mau tak mau Renatta pun harus memberikan keputusan. Ia pun memutuskan untuk menerima tawaran itu. Tapi untuk jenis usaha apa, ia akan merundingkannya dengan sang kakak. Mereka akan memilih yang sesuai dengan kemampuan.


"Baiklah, bicarakan saja dulu. Kalau sudah kamu bisa cerita padaku."


Renatta pun mengangguk.


Satu per satu dari mereka masuk ke dalam kamar kecuali Regan dan Daddy Arthur. Keduanya berbicara di ruang tamu.


"Kamu memang tak salah dalam memilih pasangan. Mommy kamu juga tidak salah dalam menilai orang."


"Tentu saja, aku kan titisan dari Mommy," ucap Regan dengan percaya diri.


"Giliran nggak ada Mommy kamu aja, bilangnya seperti ini. Giliran lagi berdua adu mulut terus. Daddy kadang heran dengan kalian."


Regan hanya terkekeh pelan. Ya mau bagaimana lagi, soalnya emang setelan pabriknya seperti itu. Kalau tidak berdebat dengan Mommy nya rasanya seperti suo ayam kurang bumbu.


*


*


Dua hari kemudian, Papa Dewa sudah mulai bekerja di kantor keluarga Regan. Ozy menjelaskan dengan sangat detail tentang tugas-tugas Papa Dewa seperti apa, sebelum dia kembali pada tugasnya yang sebenarnya.


Papa Dewa yang pada dasarnya sudah berpengalaman, diajarkan dan dijelaskan sedikit saja sudah paham. Ozy jadi merasa lega.


"Semangat bekerjanya Om. Kalau ada yang sulit dipahami dan ada data-data yang membingungkan menurut Om. Om bisa tanya ke aku."


"Iya, terima kasih Zy."


"Sama-sama Om," ucapnya kemudian keluar dari ruangan.


Ozy pun berjalan pergi menuju ke tempat lamanya, rasanya terasa sudah lama sekali. Ketika tiba di meja kerjanya, Regan sudah menunggu disana dengan tangan yang masuk ke dalam saku celananya.


"Gimana? Udah kamu jelasin semuanya ke calon mertuaku?" tanya Regan.


"Ce ileh, calon mertua katanya. Sudah, sudah aku jelaskan. Om Dewa sepertinya sudah sangat paham mengenai pekerjaannya."


"Baguslah kalau begitu."


Regan pun akan beranjak pergi tapi tak jadi karena ada sesuatu yang terlupakan.


"Apa lagi yang mau kamu tanyakan?" tanya Ozy.


"Tidak ada, aku cuma mau bilang, hari ini aku akan kerja di rumah. Tapi, itu pun setelah aku mengantar Renatta untuk terapi. Jadi tolong handle semuanya seperti biasa. Kamu pasti sudah ahli mengaturnya. Tolong ya."


Ozy hanya mendengus sebal. Tapi setidaknya ia bersyukur tidak harus merangkap dua pekerjaan sekaligus. Ia hanya bisa mengiyakan perintah Regan itu.


"Tenang, gajimu akan selalu aku naikan, apalagi kamu sangat bekerja keras kemarin. Aku benar-benar berhutang banyak padamu. Nanti untuk biaya lahiran anakmu aku yang tanggung semuanya."


"Wah, beneran? Kamu lagi nggak becanda kan?"


"Kalau kamu inginnya aku becanda sih ya boleh-boleh aja."


"Eh, jangan! Kemungkinan istriku akan segera melahirkan. Kata dokter sih perkiraan Minggu ini. Bisa lebih cepat sehari atau bahkan lebih lambat. Ah pokoknya aku bersyukur sekali."


Ozy senyum-senyum bahagia. Ia jadi tak perlu mengeluarkan uangnya. Walaupun sebenarnya ia sudah menyiapkan tabungan untuk melahirkan. Tapi ada yang gratisan kenapa harus ditolak?


Regan pun jadi ikut tersenyum dan kemudian pergi dari hadapan Ozy.


*


*


TBC