Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
PAKAIAN BARU



" Selamat siang bos." Sapa Lucas.


"Ini, saya membawakan barang pesanan anda." Kata Lucas sambil memberikan beberapa papperbag kepada bosnya itu.


"Terima kasih Lucas. Kau sudah bekerja keras." Ucap George bersungguh - sungguh.


George memang pria dingin, namun masih ada sisi kebaikan didalam dirinya. Dia selalu menghargai setiap pekerjaan dari anak buahnya. Bukan hanya sekedar berterimakasih, tak tanggung - tanggung bahkan pria pirang itu dengan senang hati akan memberikan bonus berupa uang kepada setiap anak buahnya yang berhasil melakukan perintahnya dengan baik.


"Ini pekerjaan mudah bos." Kata Lucas sambil tersenyum geli.


"Pekerjaan mudah dari mana ? Bahkan sampai detik ini aku tidak pernah secara langsung membeli pakaian untuk istriku." Gumam Lucas dalam hati.


Hati dan Pikiran Lucas berdeda jauh dengan ucapanya kepada bosnya itu. Apalah daya, nasib anak buah ya seperti ini. Tidak peduli apa, perintah bos adalah nomor satu dan harus cepat diselesaikan.


#Flashback


Disebuah toko pakaian dengan merek terkenal terlihat seorang pria berbadan tegap tengah sibuk mengobrak - abrik pakaian wanita yang tergantung rapih di rak pakaian toko itu. Wajah pria itu sama sekali tidak ada manis - manisnya, namun apa yang dilakukannya kali ini menampakan seolah ia adalah lelaki romantis yang sedang dimabuk cinta sehingga ia rela membelikan secara langsung pakaian untuk pujaan hatinya. Pria itu adalah Lucas.


Lama kelamaan raut wajahnya semakin terlihat kebingungan bahkan hampir tampak seperti frustasi. Bagi Lucas ini adalah pekerjaan tersulit yang pernah ia lakukan sepanjang sejarah ia menjadi seorang bodyguard.


Beberapa menit kemudian raut wajah frustasi itu berubah menjadi sedikit lebih santai. Sejak seorang pramuniaga menghampiri Lucas dan menawarkan bantuan mencarikan barang yang ia perlukan, beban Lucas seolah berkurang.


" Selamat siang Kakak! Bisakah saya membantu anda ?" Tanya pramuniaga itu disertai senyum lebarnya.


Lucas sedikit terkekeh mendengar ucapan pramuniaga itu.


Mengapa dia memanggilku kakak ? Apa aku masih terlihat muda ? Hmmm....Wajah tampan memang akan selalu membuatmu terlihat awet muda.


" Iya, tentu saja kau harus membantuku nona." Jawab Lucas.


" Baiklah, apa yang anda butuhkan kak?" Tanya pramuniaga itu.


" Aku butuh pakaian untuk perempuan yang langsing tapi ia sedikit lebih tinggi darimu. Mungkin tingginya 165 cm. Dan satu lagi. Tolong kau carikan juga pakaian dalam untuknya." Pinta Lucas dengan suara pelan.


" Baik kak." Lalu bagaimana dengan model pakaiannya kak? Apa mau dress, kemeja, blouse, kaos, rok, jeans atau jumpsuit kak ?"


Lucas mengerutkan dahinya.


" Terserah kau saja nona." Jawab Lucas singkat.


Lucas bukannya malas berkomentar. Tapi ia sungguh tidak mengerti dengan model pakaian wanita. Tidak ada gunanya banyak berkomentar. Percayakan saja semuanya pada pramuniaga itu.


Pramuniaga itupun segera mengambil beberapa pakaian yang dirasanya cocok untuk sosok wanita langsing dengan tinggi 165 cm itu. Dipilihkannya sebuah dress brukat berwarna maroon dan dua buah blouse beserta jeans serta pakaian dalam berenda berwarna hitam dan merah untuk pelanggannya itu.


***


" Apa ada lagi yang harus saya lakukan bos? " Tanya Lucas sambil menatap wajah bosnya itu dengan serius.


" Ya. Tolong kau siapkan mobil. Kita akan pergi ke apertemennya." Ucap George sambil menatap ke arah Mira.


Mira yang sadar akan tatapan George segera mendongakan kepalanya menatap pria bule itu dengan mata melebar.


"Apa??? Ke apartemenku ? Siapa ?" Tanya Mira penuh selidik.


"Aku, kamu dan dia. Lucas akan mengantarkan kita kesana sayang." Jawab George santai.


"Tentu saja kita masih memiliki urusan sayang." Ucap George sambil tersenyum manis.


"Urusan apa lagi ?" Teriak Mira.


"Oh Sialan . . . Kenapa dia tersenyum seperti itu ? Kau tak perlu tersenyum seperti itu brengsek.


Dan kau jantungku yang sehat... Apa kau sudah tak sehat lagi? Berhentilah bermaraton didalam sana." Batin Mira.


Lucas memperhatikan dua orang yang berada dihadapannya.


Suasana didalam ruang makan itu tiba - tiba berubah menegangkan.


Wajah wanita itu berubah garang seolah ada amarah besar membuncah dalam dirinya. Sepertinya wanita itu sudah siap untuk mencabik - cabik musuhnya.


Sementara si pria masih terlihat santai seolah ia menunggu serangan dari si wanita. Tapi pria itupun tampak sudah memiliki senjata rahasia yang bisa mengalahkan wanita garang didepannya dengan sekali serang.


"Ehem... Kalau begitu saya permisi sebentar bos. Saya akan menyiapkan mobilnya dulu." Pamit Lucas.


Lucas segera berlalu meninggalkan George dan Mira yang masih saling menatap. Suara pamit Lucas pun tak mampu membuat keduanya bergeming.


"Jika maksudmu tadi adalah urusan pekerjaan, maka kau bisa bertemu dengan atasanku." Ucap Mira tegas, masih menatap sinis George.


"Ini bukan soal pekerjaan sayang. Ini soal kita." Ucap George lembut.


"What the hell..!!! Soal kita ??? Apa maksudmu Mr. George yang terhormat ???" Tanya Mira geram.


"Berhentihlah memanggilku Mr. George. Panggil aku George. Hanya George." Pinta George.


"Dan kau berhentilah memanggilku sayang! Aku bukan kekasihmu brengsek!" Seru Mira kesal.


"Oh... Jadi kau ingin aku jadi kekasihmu ?" Goda George disertai senyum genitnya.


Mendengar perkataan George membuat Mira melototkan kedua matanya.


Demi Tuhan, apa aku sedang berbicara dengan orang bodoh ? atau pria ini telah berubah menjadi pria sinting ?


Siapa ? Siapa yang ingin menjadi kekasihmu brengsek ?


Sebelum Mira kembali mengeluarkan amarahnya, buru - buru George berdiri mendekati Mira dan memberikan semua papperbag ke pangkuan Mira.


"Ini untukmu sayang." Gantilah bajumu. Apa kau tidak merasa kedinginan ?"


"Tidak mau! Ini bukan pakaianku. Pakaian ini kau pakai saja sendiri." Kata Mira sambil menghempas papperbag itu ke arah tangan George namun sialnya ia malah menghempas kannya tepat diperut datar pria itu.


"Apa kau sedang menggodaku?" Ucap George sambil tersenyum genit.


Sial . . . Mira memutar kedua bola matanya kesal.


"Jangan mimpi! Siapa yang menggodamu ?" Gerutu Mira.


"Baiklah kalau begitu sayang. Ambil ini dan segeralah ganti pakaianmu. kalau tidak . . .


Sebelum George menyelesaikan kalimatnya, Mira segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk menghindar dari pria yang hampir membuat jantungnya copot.