Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
Bab 81 - Aku mencintaimu pria bodoh!



Renatta dan Regan duduk berdua di depan televisi. Namun, Regan sudah tak lagi fokus menonton karena dilanda penasaran oleh Renatta.


"Nat, tadi kemana aja sama Grace?" tanya Regan sambil memegang kepala Renatta untuk melihat ke arahnya.


"Cuma makan aja sambil cerita-cerita. Terus kita pergi ke tempat wisata. Tapi bukan sama Grace aja, ada Devan juga."


Mendengar nama Devan disebut, Regan langsung berubah jadi kode posesif dan serius.


"Kenapa harus ada Devan juga? Kalian nggak deket-deket kan jalannya?"


Renatta hanya tersenyum kemudian meraih wajah Regan untuk disentuhnya.


"Jangan khawatir, aku tidak akan jatuh cinta lagi ke Devan. Kan udah ada kamu di hatiku," ucap Renatta dengan sangat lembut.


"Tetep aja, kamu juga dulunya suka sama aku, terus berpaling ke Devan, terus jatuh cinta lagi ke aku. Bisa aja kan hal itu kejadian lagi kamu jatuh cinta ke Devan lagi karena pertemuan kalian."


Renatta gemas sekali dengan ucapan yang dikeluarkan oleh Regan. Rasanya ia ingin sekali tertawa sekarang. Ia memang mudah luluh dengan perhatian, tapi ketika ia sudah menempatkan seseorang di hatinya, ia takkan pernah berpaling. Dalam artian, Renatta selalu setia pada satu laki-laki ketika jatuh cinta.


"Kamu terlalu berpikir berlebihan. Aku tidak mungkin jatuh cinta lagi sama dia. Kami punya jalan hidup masing-masing. Kami juga cuma teman. Jadi apa yang kamu pikirkan itu tidaklah benar."


"Tetap saja, kenapa ada dia? Kalian cuma pergi berdua saja tadi? Apa jangan-jangan Grace yang mengajak?" curiga Regan.


Renatta menggelengkan kepalanya.


"Kami hanya kebetulan bertemu di restoran yang sama. Lalu jadinya pergi bertiga deh. Kami bernostalgia dengan kenangan-kenangan di masa lalu. Lalu sorenya aku dan Devan mengantar Grace ke bandara. Setelahnya, aku dan Devan mengobrol tentang banyak hal lalu barulah aku pulang."


"Kalian bicara apa saja? Jadi kalian cuma berdua setelah perginya Grace?"


Renatta mengangguk.


"Banyak sekali yang aku ceritakan ke dia. Begitu juga dengan dia. Aku bercerita banyak hal yang aku hadapi setelah pertemuan terakhir aku dan dia di London. Tentang kita juga aku cerita kok. Begitu juga dengan Devan yang cerita kehidupannya setelah pisah rumah dan bercerai dari Amanda."


Regan jadi tersenyum karena Renatta tidak menyembunyikan hubungan mereka dari Devan. Walaupun mereka memang sengaja menyembunyikan hubungan agar tak tercium awak media yang masih panas-panasnya.


"Terus gimana kata Devan soal hubungan kita berdua?" tanya Regan yang penasaran dengan tanggapan Devan itu.


"Dia ikut senang, dan mendoakan hubungan kita supaya langgeng. Dia bahkan meminta maaf sama aku karena tidak bisa membantu ketika aku kesulitan ketika jadi viral waktu itu. Apalagi dia baru tahu ketika aku memperlihatkan nya ke dia. Aku sih memaklumi kalau dia tidak tahu. Karena ada sebagian orang kalau ditimpa masalah, pasti ingin menghilang dari semuanya. Tidak ingin dicari dan tidak ingin mengingat-ingat lagi yang lalu. Wajar kalau dia tidak tahu, karena tak sering memegang ponselnya. Kalau pun memegang ponsel, belum tentu dia buka media sosialnya."


Regan mendengus kesal karena sepertinya Renatta sangat paham sekali dengan Devan.


"Aku paham dia karena kami telah kenal lama. Begitu juga dengan kamu dan Amanda."


Lagi-lagi Regan mendengus kesal.


"Aku saja merasa jadi orang bodoh ketika tahu, Amanda bukan seperti orang yang aku kenali. Jadi, mau itu sudah kenal lama atau tidak, tidak bisa menyamaratakan seseorang mampu mengenal seseorang dengan baik."


"Kamu benar."


"Aku memang selalu benar," ucap Regan dengan percaya dirinya.


Tangan Renatta yang masih ada di pipi Regan tadi, Regan pegang dan ia arahkan ke bibirnya. Ia benar-benar mencintai wanita yang ada di depannya. Rasanya rasa cintanya selalu bertambah setiap harinya. Mungkin Tuhan sengaja menyatukan mereka ketika sama-sama terluka. Supaya tahu, bagaimana acara menghargai dan tidak membuat orang yang mereka cintai terluka.


"Nat, kamu tahu kan kalau aku mencintai kamu?"


Renatta mengangguk.


"Iya kah? Bukannya udah pernah?" tanya Renatta yang lupa-lupa ingat.


"Udah pernah kapan coba? Mau diingat sampai lebaran monyet aja nggak bakalan ingat, karena kamu tidak pernah mengatakannya."


"Baiklah."


Renatta membenarkan posisinya dengan merubah posisi duduknya di sofa dan mendekatkan tubuhnya ke Regan. Kini jarak di antara mereka paling cuma sekitar 50 cm aja.


Renatta terus mendekatkan tubuhnya, Regan sudah kepedean kalau Renatta akan mengatakan cinta lalu mencium bibirnya. Ternyata itu semua hanyalah ekspektasinya saja.


Wanita itu mendekat ke tubuhnya, tapi lebih ke mendekat ke telinganya yang bagian kiri lalu membisikkan kata cinta disana.


"Aku mencintaimu pria bodoh! Mau di dunia ini ada laki-laki yang lebih bodoh dari kamu, kamu akan tetap jadi tahta tertinggi di hatiku. Terima kasih karena sudah hadir dan membuat aku jadi wanita yang berharga di matamu."


Ternyata sebuah bisikan Renatta itu damage nya lebih dari ciuman bibir. Rasa-rasanya tubuhnya merinding juga hatinya jadi jedag-jedug nggak karuan rasanya.


Renatta menjauhkan tubuhnya dari tubuh Regan kemudian tersenyum manis di depan Regan. Sementara Regan masih diam untuk menormalkan dirinya. Mungkin jika ia tak bisa mengontrol diri, ia benar-benar akan melewati batas. Renatta bisa saja ia terkam begitu saja. Tapi ia ingat betul kalau Renatta tak ingin sentuhan lebih dari ciuman.


Karena suasana yang mendukung, kini Regan yang mendekat ke Renatta. Ia sengaja menempelkan dahinya ke dahi Renatta.


"Aku tidak sabar ingin menjadikan kamu sebagai istriku. Aku sungguh tersiksa harus terus menahan diri Nat. Tapi, aku akan tetap berusaha menghormati apapun keputusan kamu. Aku mencintai kamu wanita jahat."


Bibir keduanya saling bertemu. Saling mengecap dan beradu. Mereka mencurahkan semua rasa dalam ciuman itu. Sampai akhirnya mereka melepaskan ciuman itu. Regan langsung mendaratkan kecupan di kening Renatta dan memeluk dengan erat wanitanya.


"Terima kasih sudah hadir dan mengisi hatiku. Aku mungkin memang tak sempurna, tapi aku akan berusaha menjadi seseorang yang selalu bisa kamu andalkan."


Renatta mengangguk di pelukan Regan. Ia benar-benar merasa jadi wanita yang beruntung.


*


*


Di tempat lain, Tante Dewi sedang menemui seorang preman di gedung terbengkalai. Ia memberikan tugas kepada preman tersebut untuk mencelakai Renatta.


"Ini uang muka untuk pekerjaan mu dan temanmu. Kalau nanti kalian berhasil membuat dia celaka dengan keadaan parah aku akan memberikan uang sisanya. Lihat foto ini baik-baik. Aku akan memberitahukan dimana dia tinggal dan bekerja. Kalian bisa membuntutinya dulu baru membuat rencana. Aku serahkan semuanya ke kalian. Mau dengan cara apapun, itu tidak jadi masalah. Asalkan harus hati-hati jangan sampai ada yang curiga bahkan sampai polisi ikut campur. Apa kalian mengerti?"


"Mengerti sekali. Kami pasti akan melakukan tugas dengan baik."


"Bagus."


Tante Dewi tersenyum senang. Lalu pergi dari sana. Ia teringat kalau uang muka tadi adalah hasil dari penjualan tas miliki Amanda. Jika mereka berhasil membuat Renatta celaka. Ia harus menjual tas mahal lainnya milik Amanda.


"Jangan harap kamu bisa bahagia Renatta. Kamu sudah menghancurkan hidup anakku. Aku tidak terima. Padahal kamu dulu yang jahat sama Amanda. Tapi kenapa justru kamu yang sekarang mendapatkan apa yang Amanda mau. Aku tidak akan biarkan itu semua."


*


*


TBC