Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
Bab 86 - Tahu pelakunya



Pagi mulai menyapa, suara wajan dan spatula yang beradu di dapur terdengar sampai telinganya. Matanya terbuka, sayangnya ketika ingin bangun dan membantu, Renatta sadar, kalau dirinya nantinya hanya akan merepotkan saja. Ia pun duduk dan termenung di kamar.


Merasa kehadirannya tidak berguna, merepotkan banyak orang.


"Huftt ..." Renatta menghela napasnya untuk menjernihkan pikirannya. Kalau berpikiran seperti itu terus di hadapan Regan, pastinya ia akan kena Omelan terus.


Dengan bersusah payah, Renatta keluar kamarnya menggunakan tongkat. Padahal jika mau, Renatta bisa menelpon seseorang untuk membantu dirinya.


Ketika sudah keluar dan berdiri di dekat dapur, Mommy Jessie melihat Renatta dan menghampirinya.


"Ya ampun sayang, kenapa keluar sendirian? Harusnya tadi minta tolong ke Mommy."


Renatta tersenyum lalu menjawab, "Nggak papa Mom. Aku juga ingin berjalan sebisaku."


"Ya, kamu dan Regan memang sama saja. Sama-sama keras kepala," ucap Mommy Jessie.


"Mommy masak apa?" tanya Renatta.


"Bukan mommy yang masak. Tapi mereka, Mommy cuma bantu beresin di meja makan doang," jawabnya sambil menunjuk para ART nya.


"Ouhh."


Tak lama kemudian, Regan keluar dari kamarnya dengan sudah bersiap. Mommy Jessie yang melihatnya cuma geleng-geleng doang. Regan memakaikan dasinya tidak rapih tapi miring ke sebelah kanan.


Renatta pun berjalan dengan tongkatnya ke arah Regan, tapi Regan meminta Renatta untuk berhenti, biar dia yang berjalan ke arah Renatta.


Ketika sudah saling berhadapan, Regan malah mengomeli Renatta.


"Dasar nakal, harusnya kamu tuh di kamar aja, biar nanti aku yang datang dan suapin kamu makan."


"Emangnya aku anak kecil apa?"


"Ya semacam itu."


"Kamu tuh yang anak kecil, udah gede gini, masang dasi tetep aja miring. Heran banget," ujar Renatta.


"Benerin makannya. Itukan tugas kamu."


Karena tidak mungkin Renatta membenarkan posisi dasi Regan dengan berdiri. Renatta pun duduk di kursi dan meminta Regan untuk berlutut. Dengan cara inilah ia bisa melakukannya.


Renatta mulai membenarkan kerah kemeja Regan yang berantakan. Ia pun merapihkan bentuk dasi yang dibuat Regan.


"Udah selesai," ucap Renatta.


"Kok cepet banget?"


"Ya iyalah, masa beneran dasi doang sampe berjam-jam kan nggak mungkin Regan!"


"Ya kan bisa dilama-laimain dikit lah. Abisnya belum puas liat wajah kamu dari dekat."


Renatta memalingkan wajahnya, bukannya senang, ia lebih ke malu. Karena dirinya belum mandi. Ia bahkan lupa untuk mencuci wajahnya. Ia cuma bermodalkan mengusap wajahnya dengan tisu.


"Udah sana berdiri."


Regan pun berdiri dan membantu Renatta untuk berdiri juga.


"Mau jalan-jalan ke depan sebentar? Mumpung sarapan belum siap, dan semua orang belum berkumpul."


Renatta mengangguk.


Sebenarnya Regan ingin memapah Renatta saja supaya ia tidak perlu bersusah payah menggunakan tongkatnya, tapi dasar wanita itu keras kepalanya, Renatta malah menolaknya. Jadinya, Regan hanya bisa mengawasinya.


Ketika sudah berada di depan rumah, udara segar begitu terasa. Suasana pagi yang masih berembun belum terdengar kendaraan umum sama sekali.


"Kata kamu, kamu akan bekerja di rumah, lalu kenapa kamu berpakaian rapih seperti ini?" tanya Renatta.


"Kalau ada meeting, aku tetap harus keluar Nat. Karena tidak bisa diwakili orang lain. Lagipula aku juga mau mengecek sampai mana kasus kecelakaan kamu ditemukan buktinya. Ini sudah lebih dari seminggu. Harusnya sudah ada beberapa bukti. Jadi, hari ini aku tidak bisa menemani kamu di rumah, tidak apa-apa kan?"


"Iya tidak apa-apa. Aku malah senang, karena kamu tidak bekerja di rumah karena aku. Ya meskipun cuma karena ada meeting doang sih."


"Jangan bahas itu lagi, kemarin kan sudah selesai."


"Iya, iya, maaf."


Regan mendekatkan wajahnya ke wajah Renatta. Renatta langsung sigap menutup mulutnya.


"Nggak boleh," larang Renatta.


"Ya kenapa? Kan nggak ada orang disini?" tanya Regan.


"Aku belum mandi, belum cuci muka. Takut bau mulutnya," ucap Renatta dengan jujurnya.


Regan pun tertawa mendengarnya. Ia pun tak jadi mencium Renatta karena takut Renatta akan malu, padahal ia tak mempermasalahkan itu.


"Baiklah, baiklah."


"Regan! Renatta! Masuk! Sarapan udah siapa!" teriak Mommy Jessie dari dalam rumah.


Regan dan Renatta pun kembali masuk ke dalam dan melihat semua orang yang berkumpul di meja makan. Senyum mengembang Renatta perlihatkan.


*


*


Setelah meeting selesai, Regan pergi menuju ke tempat detektif itu berada. Meski ia sudah mendengar penjelasan dari Ozy, tetap saja, ia ingin melihat bagaimana wajah dari si penabrak. Ia sudah bertekad akan menemukan orang itu.


Sesampainya di kantor polisi, Regan pun bertemu dengan detektif itu. Detektif memperlihatkan wajah si penabrak.


"Apa mereka sudah ditemukan?"


"Kami masih mencari. Katanya mereka selalu berpindah-pindah markas. Tapi kami berhasil menangkap salah satu anak buah mereka. Kemungkinan besar, kami akan segera menemukan pelakunya."


"Baguslah, pokoknya cari sampai ketemu."


"Baik, Anda tenang saja, kamu akan mencari semampu kami."


Regan mengangguk. Ia pun mengunjungi Amanda yang ada disana. Ia berharap Amanda benar-benar sudah mengakhiri rasa benci dan dendamnya ke Renatta. Karena semua itu hanya akan merusak dirinya.


Amanda tersenyum senang begitu tahu yang mengunjunginya adalah Regan. Ia berpikir kalau Regan pasti akan membebaskan dirinya dan menjadikan ia jadi istri Regan. Ia masih belum percaya Regan bisa melupakannya semudah itu.


"Kamu datang kesini pasti karena mau membebaskan aku kan? Kamu pasti mau mengadu kalau Renatta tidak begitu baik, kamu sudah putus dengannya dan ingin bersamaku, kan?" ucap Amanda dengan percaya dirinya.


Regan memperlihatkan senyum kecutnya. Rupanya, harapannya cuma sia-sia saja. Amanda tidak akan pernah berubah. Hatinya sudah dipenuhi dendam dan kebencian.


"Jangan kepedean! Siapa yang mau membebaskan mu? Siapa juga yang mau bersamamu? Aku masih waras, untuk tidak bersama wanita bermuka banyak seperti kamu! Setidaknya meski dulu Renatta jahat, tapi dia jujur, tidak seperti kamu yang berpura-pura baik di depan, dan jahat di belakang."


Amanda kesal dan mengepalkan tangannya.


"Aku datang kesini cuma ingin lihat, apa kamu sudah menyesal dan sadar akan perbuatanmu atau tidak. Tapi ternyata tidak."


"Kamu kan tahu sendiri Regan, gimana aku dulu diperlakukan oleh Renatta. Aku selalu dibully olehnya, ditindas, bahkan sampai harus ke psikiater juga. Kenapa kamu bisa dengan mudahnya memaafkan kesalahan dia? Dia juga kan sudah membuat kamu tidak bisa menggapai cita-cita kamu!"


Regan hanya tertawa mendengar ucapan Amanda itu. Ia benar-benar tidak habis pikir. Wanita di depannya ini masih tidak mau mengakui kesalahannya.


"Sampai sekarang, kamu masih mengkambinghitamkan Renatta. Kamu menuduh orang yang salah. Karena itu, aku juga jadi membenci orang yang salah. Tapi aku sadar, dia memang dulu salah sikapnya. Tapi dia sudah meminta maaf Pada semua korban penindasannya dan berubah. Sementara kamu? Mengakuinya saja tidak mau. Apalagi meminta maaf. Itulah bedanya kamu dengan Renatta. Aku bersyukur karena aku tidak telat menyadari semuanya. Entah bagaimana jadinya, jika dulu kamu menerima lamaran ku. Mungkin aku benar-benar bisa marah besar. Terima kasih, karena kamu menolaknya. Aku jadi mendapatkan wanita yang jauh lebih-lebih dari kamu. Semoga lambat laun, kamu sadar dan menyesali perbuatanmu di dalam sini."


Setelah mengatakan hal tersebut, Regan berdiri dan hendak pergi, tapi ucapan Amanda membuatnya berhenti di tempat dan menatap tajam ke arah Amanda.


"Aku yakin, Renatta tidak akan selamat, dia pasti akan mati karena kecelakaan itu! Kamu pikir aku cuma diam saja disini? Tentu tidak. Kalau kamu masih memilihnya, aku akan terus berusaha membuat Renatta celaka!"


Regan jadi sadar, kecelakaan itu memang disengaja pasti atas perintah Amanda. Mungkin saja Tante Dewi lah yang membantunya dari luar. Akhirnya, ia menemukan titik terangnya juga.


"Terima kasih, karena berkat ucapan kamu! Aku bisa menangkap Tante Dewi juga. Semoga kalian akur-akur nantinya di dalam penjara," ucap Regan dengan tersenyum miring.


Amanda berteriak histeris karena ia tidak ingin mamanya ikut masuk ke dalam penjara juga. Kalau seperti itu jadinya, ia tidak bisa lagi balas dendam.


"Arghhh! Regan sialan! Jangan melakukan itu ke mamaku!"


Karena teriakan Amanda yang keras, para penjaga pun datang dan membawa Amanda masuk lagi ke dalam sel nya.


Regan langsung menghubungi detektif dan menyuruhnya untuk mencari keberadaan Tante Dewi.


"Aku tidak akan biarkan, kalian berdua terus menyakiti Renatta. Kalian benar-benar iblis. Aku benar-benar menyesal telah mencintai wanita yang salah dulunya."


*


*


TBC