Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
Bab 90 - Panggilan sayang



Regan pulang ke rumahnya dan langsung menjauhkan tubuhnya di sofa. Ia benar-benar lelah menyelesaikan masalahnya. Tapi ia juga senang karena sebentar lagi nama baik papamu Renatta akan kembali.


Renatta berjalan dengan tongkatnya menghampiri Regan. Ia duduk di sebelah Regan sambil terus menatap Regan dengan detail.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Regan ke Renatta.


"Kenapa kamu melakukan ini semua?" tanya Renatta.


"Melakukan apa?" tanya Regan yang tidak aham arah pembicaraan Renatta.


"Kenapa kamu harus capek-capek membantuku mencari pelaku yang sudah menabrak ku? Kenapa kamu harus capek-capek mengembalikan nama baik papaku? Bagaimana nantinya aku membayar semuanya? Kamu begitu berjasa dan aku terlalu banyak berhutang budi padamu Regan," ucapnya dengan kepala yang menunduk setelahnya.


"Aku benar-benar merepotkan mu, maaf," ucapnya lagi.


Bukannya marah, Regan malah tersenyum senang. Ia memegang wajah Renatta dan menghadapkannya ke wajahnya.


"Harusnya kamu bisa tahu alasannya tanpa harus bertanya. Karena jawabannya sudah jelas kalau aku mencintai kamu. Aku tidak ingin kamu terluka. Aku ingin membuat semuanya membaik."


Renatta meneteskan air matanya. Ia tahu kalau Regan mencintainya tapi kenapa harus berkorban sampai seperti ini juga? Padahal ini bukanlah kewajibannya.


"Lagi-lagi kamu meneteskan air matamu. Kenapa cengeng sekali sih? Lagian apa yang aku lakukan, semuanya untuk kamu. Jangan merasa tidak enak, karena nantinya kita akan saling bergantung sama lainnya. Kamu akan jadi istriku dan aku jadi suamimu."


Perkataan itu semakin membuat Renatta menangis. Karena ia merasa kebahagian ini tidak pantas untuk ia dapatkan.


"Sebenarnya bukan kamu yang berhutang budi, tapi aku, karena kamu aku tahu bagaimana sikap dan sifat Amanda sebenarnya. Andaikan saja, aku menolak untuk bekerja di perusahaan pusat, mungkin aku tidak akan bertemu kamu lagi dan aku akan menyesal seumur hidup karena membenci orang yang salah. Aku juga berterimakasih karena kamu selalu berada di sisiku ketika aku patah hati, kehadiranmu benar-benar menyembuhkan luka itu. Bahkan kini aku menganggap semuanya adalah hadiah terindah. Dipertemukan dengan wanita yang begitu baik hatinya. Terima kasih, kamu sudah menerimaku," ucap Regan sambil menghapus air mata Renatta. Ia benar-benar beruntung memiliki wanita seperti Renatta.


Keduanya merasakan keberuntungan itu satu sama lainnya. Mereka tidak percaya, rasa sakit yang dialami akibat patah hati justru malah mendekatkan keduanya sampai bisa seperti sekarang.


Regan memeluk Renatta, ia benar-benar mencintai wanita ini, sampai tidak rela Renatta untuk terluka lagi.


"Jangan menangis lagi, setelah ini aku akan mengantar kamu ke rumah sakit untuk terapi jalan. Apa kata dokter nantinya kalau melihat mata kamu yang sembab. Dia pasti akan berpikir kalau aku yang sudah melukai mu," ucap Regan lalu mendapatkan sedikit pukulan di punggungnya dari Renatta.


Regan malah terkekeh pelan, karena pukulan itu tak berarti apapun baginya. Ia melepaskan pelukan itu lalu mengecup kening Renatta. Lalu membopongnya masuk ke dalam mobil.


"Kamu pasti lelah hari ini, aku tidak apa-apa tidak usah ditemani, aku bisa minta tolong papa untuk menemaniku disana. Lebih baik kamu istirahat saja," ucap Renatta.


"Tidak mau."


Regan dengan tegas menolak, lalu menutup pintu mobilnya dan masuk ke mobil di tempat kemudi. Ia menjalankan mobilnya pergi menuju ke rumah sakit.


Renatta terus menatap wajah wajah Regan.


"Aku tahu, wajahku sangat tampan," ucapnya dengan percaya diri.


"Cih, memang kepercayaan dirimu berada di level tertinggi," ucap Renatta yang membuat Regan tersenyum.


"Tapi level rasa cintaku padamu levelnya tak hingga Nat."


Wajah Renatta jadi merona merah dan tersipu malu. Ia bahkan sengaja memalingkan wajahnya untuk melihat ke jalanan.


"Sepertinya kita harus merubah panggilan, masa sampai sekarang kita masih memanggil nama masing-masing. Kalau orang lain mendengarnya, pasti akan menyangka kita cuka sekedar teman saja, iya kan sayang?"


Regan langsung menyematkan kata sayang diakhir kalimatnya, Renatta jadi semakin merona. Tapi masih enggan menanggapi ucapan Regan tersebut.


"Sayang, hei, sayang, liat aku dong!" ucap Regan ingin agar Renatta melihat ke arahnya.


Namun, Renatta malah menggelengkan kepalanya.


"Jangan katakan itu lagi!"


"Kata yang mana?" ucap Regan sengaja ingin mendengar ucapan sayang dari Renatta.


"Yang terakhir itu."


"Iya, yang mana? Aku sudah lupa."


"Yang sayang, hei sayang itu," ucap Renatta menirukan ucapan Regan yang tadi.


"Oh, yang itu sayang. Tapi kan bagus."


"Nggak bagus," ucap Renatta yang tidak setuju dengan Regan. Karena jantungnya merasa tidak akan ketika Regan memanggilnya dengan sebutan itu.


"Sayang," ucap Regan sengaja meledek Renatta.


"Regan!" teriak Renatta sedikit keras.


"Apa sih sayang?"


"Hentikan itu!"


"Oh, oke baiklah, tapi menghadap lah ke arahku."


Renatta pun menurut, di saat itu, Regan malah memberhentikan mobilnya. Renatta agak sedikit heran.


Sementara Renatta tak bisa memalingkan wajahnya karena Regan memegang kedua pipinya.


"Coba panggil aku sayang, sekali aja," pinta Regan.


Renatta masih bungkam, ia benar-benar tak terbiasa dengan suasana seperti ini. Tapi, orang seperti Regan kalau tidak dituruti, dia tidak akan pernah berhenti.


"Sayang, bisa tolong jalankan mobilnya lagi," ucap Renatta yang malah terkejut ketika bibir Regan menyentuh bibirnya.


Awalnya terkejut, tapi lama-lama Renatta pun menikmatinya. Ciuman Regan selalu lembut dan memabukkan. Ciuman mereka berlangsung beberapa menit lalu Regan menghentikannya dan mengecup lagi bibir Renatta.


"Di rumah aku tidak bisa melakukan ini padamu, pasti aku akan dimarahi habis-habisan oleh Mommy dan papamu."


"Iya lah, mencium anak orang tanpa permisi."


"Tapi suka kan? Kamu bahkan tadi membalasnya," ledek Regan yang membuat Renatta merona lagi.


"Aku benar-benar berharap kamu bisa berjalan lagi, lalu kita bisa segera melangsungkan pernikahan. Aku tidak mau terus seperti ini, hanya menjadi status calon suami," tambah Regan lagi


Renatta tersenyum lalu mengecup bibir Regan sekilas dan langsung memalingkan wajahnya. Regan tersenyum bahagia. Ia melanjutkan lagi perjalanan untuk sampai di rumah sakit.


*


*


Regan melihat proses terapi berjalan yang Renatta lakukan bersama dokternya. Ia cukup senang karena kini Renatta bisa berdiri dengan sempurna meski belum bisa melangkahkan kakinya dengan benar. Setidaknya masih ada harapan.


Setelah dua jam lebih menemani Renatta, akhirnya terapi itu selesai. Regan membawa Renatta untuk pulang ke rumah lagi.


Setibanya di rumah, ia mendapatkan pelukan hangat dari papanya Renatta.


"Terima kasih, terima kasih karena kamu aku bisa mengembalikan nama baikku," ucap Papa Dewa sambil menangis.


Regan membalas pelukan itu.


"Iya Om."


Pelukan itu pun sudah terlepas. Papa Dewa memegang pundak Regan dan berucap lagi.


"Om benar-benar lega akan melepas Renatta ke laki-laki baik seperti kamu. Terima kasih sudah menerimanya, dan menemaninya di saat terpuruk. Kini kekhawatiran Om tidak sebanyak dulu lagi. Om harap kamu akan tetap seperti ini hingga nanti tua dan hidup bahagia bersama Renatta. Sekali lagi terima kasih."


Regan merasa jadi tidak enak terus mendapatkan rasa terima kasih dari papanya Renatta.


"Aku juga berterimakasih karena Om sudah memiliki putri seperti Renatta. Terima kasih juga sudah merestui kami."


Papa Dewa kembali memeluk Regan lagi. Ia benar-benar merasa senang bisa melepas Renatta pada laki-laki yang tepat. Walaupun di lubuk hati terdalamnya, ada sedikit rasa tidak rela, tapi demi kebahagian putrinya, Papa Dewa akan melakukannya.


Tiba-tiba Mommy Jessie datang dan terheran-heran dengan suasana haru yang dilihatnya.


"Wah, ada apa ini?"


Papa Dewa melepas pelukannya, dan melihat ke arah Mommy Jessie. Ia juga mengucapkan rasa terima kasih pada wanita itu karena telah menerima Renatta dengan baik.


"Terima kasih, karena sudah menerima Renatta yang memiliki banyak kekurangan ini. Aku sebagai papanya, benar-benar tidak menyangka, orang terpandang seperti kalian bisa menerima keluarga kami yang seperti ini. Sekali lagi terima kasih."


Mommy Jessie tersenyum. Ia merasa pilihannya merestui dan menerima Renatta tak salah. Sikap semua keluarga Renatta sangat baik. Mereka mengaku bersalah ketika melakukan kesalahan. Mudah meminta maaf dan mengucapkan terima kasih.


"Aku sama-sama berterimakasih karena kamu memiliki putri seperti Renatta. Mulai saat ini, kita semua adalah keluarga meski belum resmi. Tapi setidaknya sebentar lagi."


Suasana di hati itu, tiba-tiba jadi haru karena Renatta kembali menangis dan memeluk papanya. Kehidupan bau mereka akan dimulai sebentar lagi. Apalagi persidangan untuk memulihkan nama baik papanya mungkin akan dilakukan setelah pelaku sebenarnya tertangkap.


*


*


Malam harinya, Mommy Jessie duduk di ayunan rotan bersama Daddy Arthur. Mommy Jessie menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.


"Dad, aku merasa senang sekali hari ini. masalah demi masalah yang keluarga Renatta hadapi mulai terselesaikan satu per satu. Aku tahu mereka itu keluarga baik-baik. Mungkin hanya salah bertemu orang saja."


"Iya Mom, semenjak kehadiran Renatta juga, Regan jadi mau tinggal disini. Wanita itu benar-benar bisa mengendalikan Regan kita yang nakal."


Mommy Jessie tertawa kecil. Memang benar, Regan itu nakal bahkan sudah untuk dibilangin. Terlalu keras kepala. Tapi, ketika bersama Renatta, keras kepalanya itu sedikit menurun.


"Mau bagaimana pun juga, seseorang akan berubah jika bertemu dengan orang yang tepat. Berubah karena memang kemauan hatinya, bukan karena terpaksa. Itu semua karena cinta. Cinta lah yang membuat anak kita berubah."


Daddy Arthur mengangguk. Kemudian keduanya menatap ke langit yang bertaburan bintang yang berkelap-kelip.


*


*


TBC