Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
PENASARAN



Mira merasa sedikit risih. Semua orang yang berada di lobby kantor menatapnya dengan tatapan mencurigai. Sesekali ia mencuri pandang, mematut wajahnya di layar ponsel memeriksa apa ada yang salah dengan riasannya.


Tidak ada yang aneh dengan wajahku. Make up nya masih cukup bagus walaupun bibirku ini terlihat pucat. Tapi mengapa mereka melihatku seperti itu ?


Mira melangkahkan kakinya cepat, berharap ia segera berada diruangannya. Ia harus menghindari orang - orang ini yang tampak begitu penasaran dengan dirinya.


Setibanya diruangan, Mira mendapati rekan - rekannya berkumpul sembari bergosip.


"Selamat pagi." Sapa Mira.


Kini pandangan delapan orang rekannya hanya tertuju pada dirinya.


Terlihat jelas pandangan mereka mengisyaratkan rasa penasaran. Sebelum rekan - rekannya menghujani dirinya dengan pertanyaan - pertanyaan, buru - buru Mira berjalan menuju meja kerjanya.


Mira sengaja mengabaikan tatapan penuh tanya dari semua orang yang berada diruangan itu.


"Em..Bisakah kau menjelaskan tentang rumor yang beredar tentang dirimu, yang diantar ke kantor oleh kekasihmu dengan mobil mewah seharga 2 miliar rupiah." Dona memberanikan dirinya bertanya.


"Ia bu. Kurasa tadi aku melihat Ibu turun dari mobil sedan mewah berwarna hitam." Sambung Bella.


Mira tampak frustasi. Disini semua orang menunggu penjelasannya.


"Ia, benar itu aku. Seseorang mengantarku ke kantor dengan, em... sebuah mobil sedan." Ucap Mira.


"Lalu siapa orang itu ? Apa benar dia kekasihmu ?" Tanya Sintia sambil tersenyum lebar.


"Entahlah. Mungkin bisa disebut begitu atau mungkin juga, em ." Mira menggantungkan ucapannya.


"Atau apa?" Tanya Dona semakin penasaran.


Beberapa detik berlalu sebelum Mira menjawab. Seraya mencuri pandang pada rekan - rekannya Mira berucap. "Lupakan saja. Semuanya masih belum pasti."


"Ayo kita bekerja. Kita dibayar untuk berkerja bukan bergosip."


Semuanya terdiam sesaat. "Baiklah, kami berharap kamu dan pria itu segera menemukan jawaban yang pasti pada hubungan kalian." Ucap Dona tulus.


"Semoga, terima kasih Don."


Demi mengalihkan pikirannya yang kembali mengingat bagaimana dia bisa berhubungan dengan George, Mira segera melakukan pekerjaannya dengan semangat.


***


Diwaktu yang sama namun ditempat yang berbeda.


George menemui Arifin dan mereka mengobrol ringan.


"Bolehkah aku melihat ruang produksimu dan bolehkah aku bertemu dengan desainer - desainermu?" Tanya George.


"Tentu boleh Mr. George."


Arifin mengajak George berkeliling, membawa pria bule itu ke semua ruangan yang berada didalam kantornya. Kini tibalah mereka di ruang desain tempat Mira berada.


"Hmmm..."Arifin berdeham.


"Semuanya kemarilah sebentar." Perintah Arifin.


Sementara George mengedarkan pandangannya mencari Mira. Meja kerja wanita itu ternyata berada disudut kiri ruangan.


Semua karyawan diruangan itupun segera berkumpul dan berbaris berjejer. Para wanita menatap George penuh ketertarikan, tapi tidak dengan Mira. Ia harus menahan ketertarikannya terhadap pria bule itu.


"Perkenalkan. Ini Mr. George client kita dari New York." Ucap Arifin sambil memegang lembut punggung pria itu.


Satu persatu dari mereka secara bergantian bersalaman dengan George sambil memperkenalkan diri mereka, tak terkecuali Mira.


Saat Mira menjabat tangan George, tiba - tiba pria itu mengedipkan matanya menggoda Mira sambil tersenyum begitu manis.


"Senang bisa bertemu kembali denganmu Mira." Ucap George dengan suara lembut.


Semua yang berada diruangan begitu terkejut dengan aksi pria bule itu, lalu merekapun menatap Mira dan George dengan ekspresi penasaran mereka.


Mira tidak tahu apa yang ada dipikiran George. Dia hanya bisa beramsumsi bahwa pria itu sengaja melakukan ini.


Apa dia tidak punya pekerjaan lain selain mengangguku?


"Hmmm..." Senang bertemu denganmu juga Mr. George."


Arifin menjelaskan pekerjaan desainernya secara mendetil kepada George.


George mendengarkannya dengan baik.


Selang beberapa waktu, George melirik arlojinya. "Kurasa aku harus pergi. Aku masih memiliki jadwal yang cukup padat hingga siang nanti. Terima kasih atas sambutan kalian." Ucap George sambil menatap ke arah Arifin lalu beralih ke arah Mira.


Arifin tersenyum ramah kepada George. "Terima kasih juga atas kunjungan anda kesini Mr. George."


Setelah saling berterima kasih, George dan Arifin meninggalkan ruangan itu tetapi George dapat merasakan tatapan Mira terhadapnya selagi ia berjalan keluar.


Mira membalikan tubuhnya dan melangkahkan kaki menuju meja kerjanya, namun semua rekan - rekannya menghalangi langkah kakinya.


"Kau semakin membuat kami penasaran Mira." Ucap Dona dengan wajah serius.


Mira menyadari bahwa ia tak mungkin bisa menghindar lagi. Ia jelas harus memberikan penjelasan kepada mereka.


Sambil berdeham Mira mencari celah diantara kerumunan agar dia bisa duduk di kursi kerjanya. Setelah itu ia menghela nafas dalam - dalam dan mulai menjelaskan.