Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
Bab 74 - Regan sudah tahu pelakunya



Regan langsung menarik dua detektif itu untuk menjauh dari Amanda dan Renatta. Ia sengaja tidak menjelaskan kondisi Oma Lina yang sebenarnya karena memang curiga ke keduanya. Tapi kecurigaannya itu lebih besar ke Amanda.


"Tolong geledah area lantai bawah sampai bersih. Temukan sesuatu yang berbau pestisida. Pasti keracunan Oma saya ini atas unsur kesengajaan. Jika ada pekerja yang tanya, atau siapapun di rumah ini mohon untuk tetap diam."


Dua detektif itu langsung mengangguk dan bergerak setelah Regan menyelesaikan ucapannya. Sementara Ozy terkejut ketika mendengar Oma Lina keracunan. Pantas saja Regan sampai memintanya untuk membawa detektif ke rumah. Ternyata oh ternyata, ada masalah besar seperti ini.


Regan dan Ozy kembali ke ruang tamu dimana Renatta dan Amanda berada. Aura Regan masih tidak bersahabat. Ia bahkan terus diam dengan tatapan yang mengerikan. Meski begitu, Renatta tidak takut karena memang ia tak melakukan kesalahan apapun. Ia mendekat ke Regan dan langsung bertanya tentang kondisi Oma Lina.


"Gimana kondisi Oma? Apa kata dokter?" tanya Renatta yang langsung ditatap dengan tajam juga oleh Regan tapi Regan tetap menjawab pertanyaan Renatta itu.


"Oma masih dalam pemeriksaan. Aku belum tahu pasti apa yang terjadi pada Oma."


Kemudian, Amanda langsung menyahut.


"Kalau seperti itu, kenapa kamu harus membawa detektif ke rumah? Kan hasil pemeriksaan belum keluar?"


Regan langsung tersenyum sinis. Kini ia bisa menebak bahwa Amanda lah yang sudah meracuni Oma nya. Terlihat sekali kakinya yang gemetar. Tapi, ia tidak bisa menuduhnya begitu saja, karena belum ada buktinya.


"Memangnya kenapa kalau aku bawa detektif ke rumah? Aku hanya merasa ini mencurigakan, Oma orangnya jarang muntah-muntah dan pingsan tapi hal itu terjadi secara tiba-tiba padanya, seperti ada seseorang yang memang sudah merencanakan ini semua. Aku hanya ingin memastikan saja," ucap Regan dengan entengnya.


Hal tersebut, membaut Amanda semakin gelisah dan ketakutan. Bahkan kini telapak tangannya sudah berkeringat sakit takutnya. Seketika, ia pun teringat sesuatu. Ia sudah membuang botol kecil yang diberikan mamanya ke dalam tong sampah. Ia sangat takut kalau botol itu sampai ditemukan. Ia pun langsung pamit pergi dengan alasan kebelet pipis. Padahal ia pergi ke dapur untuk mengecek botol itu agar tidak ditemukan oleh detektif tadi.


Sayangnya, tempat sampah itu kini sudah bersih. Ketika melihat seorang pembantu sedang bersih-bersih lantai, Amanda menanyakan tentang tempat sampah itu.


"Tadi sampahnya sudah saya buang ke tempat sampah besar di depan Non karena sudah penuh," jawab pembantu itu.


Amanda pun bernapas lega. Apalagi detektif tadi sepertinya belum menggeledah di sekitar dapur. Mereka berdua masih menggeledah di dekat tempat penyimpanan sembako.


Tak lama kemudian, Amanda kembali dengan senyuman tipis yang terlukis di bibirnya. Kini ia sudah tak takut dan cemas lagi. Karena tak ada bukti apapun yang akan menjeratnya.


Namun, ketika berada di dekat Regan lagi, entah kenapa nyalinya jadi ciut lagi. Apalagi Regan bertanya apa yang mereka lakukan tadi saat laki-laki itu sedang menerima telepon.


Renatta menjawab lebih dulu.


"Tadi aku dan Amanda membuat es jeruk di dapur bersama. Kemudian kembali ke ruang tamu dan membawa minuman dan cemilan ringan. Aku membawa minumannya dan Amanda yang membawa toples cemilannya. Setelah itu kita minum, dan Oma tiba-tiba muntah-muntah setelah menghabiskan minuman itu beberapa menit setelahnya. Lalu pingsan seketika sampai kita semua panik."


Amanda pun mengiyakan ucapan Renatta itu agar ia tidak usah repot-repot menjelaskan. Amanda pun pamit karena ia sudah ada janji dengan temannya. Regan membiarkan saja Amanda untuk pulang.


Setelah kepulangan Amanda itu, Renatta lagi-lagi ditanyai oleh Regan untuk memastikan sesuatu.


"Jelaskan! Apa kamu tadi sempat tak berada di sisi Amanda ketika membuat es jeruk?"


"Iya, saat aku ambil cemilan di lemari. Saat itu aku tidak ada di sisi Amanda. Dan Oma muntah-muntah setelah meminum es jeruk itu. Aku menduga-duga Amanda memang memasukan sesuatu ke dalam minuman Oma. Tapi aku tak bisa membuktikannya. Melihat tadi kamu datang membawa detektif, pasti hal janggal terjadi ke Oma. Kalau kamu tidak mau percaya pada ucapanku, tidak mengapa. Aku sudah terbiasa seperti ini. Tapi, aku memang tidak melakukan apapun yang bisa membahayakan Oma Lina."


Sejujurnya, Regan tahu apa yang diucapkan Renatta bukanlah kebohongan. Tapi ia akan tetap waspada dan tak memihak di antara Renatta dan Amanda demi agar Amanda tak melakukan sesuatu yang bisa merusak semua rencananya.


"Lebih baik kamu pulang dulu ke apartemen. Aku masih harus mengurus ini semua. Mungkin aku tidak akan pulang kesana. Nanti aku kabari lagi."


Renatta tampak tersenyum kecut. Ia kecewa dengan Regan yang belum bisa percaya padanya. Percuma mereka memiliki hubungan jika tak memiliki kepercayaan satu sama lainnya. Renatta langsung pulang saja dengan diantar oleh supir di rumahnya.


Hal itu membuat Ozy bertanya-tanya dan kesal ke Regan. Karena Regan terlihat tidak percaya ke Renatta.


"Aku percaya kalau dia bicara jujur."


"Bodoh! Lalu kenapa kamu bersikap seperti tadi? Seolah-olah kamu tidak percaya ke Renatta."


"Aku harus melakukan itu, supaya Amanda tidak melakukan sesuatu lagi untuk merusak penyelidikan ini. Apa kamu tidak sadar, kalau saat dia bilang akan pergi ke toilet tadi, dia bukan pergi ke toilet melainkan ke dapur. Aku yakin dia ingin memastikan sesuatu disana."


"Tapi seharusnya kamu jangan bersikap seperti itu juga dengan Renatta. Kamu menyakiti hatinya lagi Regan!"


"Aku tahu."


"Aku tahu, aku tahu! Tapi kamu selalu saja menyakitinya."


Regan hanya diam tak membalas apapun ucapan Ozy. Tak lama kemudian detektif menghampiri Regan dan membawa botol kecil yang sudah ditaruh ke dalam plastik bening.


"Kami menemukan botol kecil yang berbau pestisida. Kami akan langsung mengeceknya ke bagian forensik. Pasti nantinya akan ditemukan sidik jadi seseorang disana. Kami menemukan ini di dalam tempat sampah. Lalu kami meminta pembantu di rumah anda untuk membuang sampahnya."


Regan mengangguk lalu mengucapkan terima kasih atas kerja dua detektif itu. Ia akan menunggu sampai hasil forensik diketahui.


Setelah dua detektif itu pergi, Regan menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Ia merasa kalau hidupnya selalu tak tenang sejak ia dekat dengan Renatta. Tapi karena itu juga, ia tahu kalau Amanda tak sebaik yang ia kira. Walau begitu, ia akan tetap bersama Renatta.


*


*


Amanda sampai di rumahnya dan segera mencari mamanya. Ia hanya beralasan saja ada janji dengan teman supaya bisa pergi dari rumah keluarga Regan. Ia menemukan mamanya sedang minum kopi susu di dekat kolam renang.


"Ada apa? Kenapa kamu kelihatan gelisah gitu? Gimana apa kamu membawa berita baik untuk mama?"


"Berita baik apanya Ma? Aku ketakutan disana tahu. Regan sampai membawa detektif ke rumahnya. Sepertinya keadaan Oma Lina tidak begitu baik. Aku takut Ma."


"Tapi kamu tidak bertindak ceroboh kan?"


"Tadi aku membuang botolnya ke tempat sampah. Tapi untungnya, sampahnya udah dibuang jadi aku bisa bernapas lega."


"Syukurlah kalau seperti itu. Lagian isi dari botol itu cuma pestisida biasa kok. Paling Oma Lina cuma di rumah sakit dua hari. Dia akan cepat pulih. Kenapa harus repot-repot nyewa detektif segala coba? Terus tadi Regan bicara apa? Apa dia menuduh kamu ataupun Renatta? Gimana katanya keadaan Oma Lina sekarang?


Amanda menghela napasnya lalu menjawab.


"Sepertinya Regan mencurigai kami berdua. Dia menatap kami dengan sangat tajam. Aku bahkan merinding di dekatnya Ma. Tapi, aku senang karena Regan rupanya belum bisa mempercayai Renatta sepenuhnya. Itu artinya ada sedikit keraguan terhadap Renatta."


Amanda tersenyum senang.


*


*


TBC