Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
KESALAHAN



Mira bergegas pulang setelah menerima sebuah pesan. Sebelum meninggalkan kantor dia telah memberitahu Dona dan Arifin atasannya untuk pulang lebih awal karena mendadak memiliki urusan. Mira bersyukur bisa memiliki rekan kerja dan atasan yang begitu pengertian.


"Kau siapa?"


Wanita parubaya itu begitu terkejut mendengar suara seorang pria yang berbicara padanya.


"Siapa kamu? Sedang apa kamu disini?"


Pikiran George seolah dua kali lebih cepat bekerja sehingga dalam waktu singkat dia menyadari bahwa wanita dihadapannya ini adalah ibu Mira.


"Dimana sopan santun ku? Maafkan aku.Anda pasti Nyonya Stella."


"Darimana kau tahu? Apa kita saling mengenal?"


"Belum. Kita belum saling mengenal nyonya. Tapi aku mendengar sedikit cerita tentang anda. Sebenarnya aku berencana memperkenalkan diriku pada anda, tuan Marthin dan juga Mark minggu depan, namun tak disangka kita bertemu hari ini."


"Oh, tapi siapa sebenarnya dirimu? Dan sedang apa kamu di apertemen anakku?" Stella tampak kebingungan.


"Saya George Goldsmith, Client Mira sekaligus kekasihnya. Dan saya tinggal disini bersama Mira."


"Apa?"


Jantung Mira terasa berat saat membayangkan mamanya bertemu dengan George. Saat dia di kantor, di menerima pesan dari Stella dimana wanita itu sudah tiba di Jakarta dan sementara dalam perjalanan menuju apertemen. Mira tidak pernah memberitahu orang tuanya jika sekarang ia telah memiliki kekasih. Lebih daripada itu, Mira takut memberitahu jika sekarang ia bahkan tinggal satu rumah dengan kekasihnya. Sungguh ia tidak siap menghadapi konsekuensinya jika Stella mendapati seorang pria tinggal di apertemennya.


"Ma, kenapa teleponnya tidak diangkat? Mama dimana sih? "


Kecemasan tinggi mulai melanda Mira. Dalam taksi yang ia tumpangi, ia tak berhenti menekan nomor yang sama hanya untuk memastikan keberadaan mamanya.


"Ma, please angkat teleponnya."


Usai mendengarkan penjelasan George, lutut Stella terasa lemas. Sambil berusaha mencerna perkataan pria itu, Stella melangkah menuju sofa. Ia tak mampu lagi berdiri. Tangan dan kakinya bergetar menahan amarah, ketakutan, kesedihan dan kekecewaan. Seberkas kekagetan terlihat pada wajah Stella. "Apa maksudmu?"


Saat memandang mata coklat wanita itu, George menyadari ada kesedihan disana. Pria itu hanya bisa berkata, "Maafkan aku."


"Seharusnya kamu bisa mengucapkan kata - kata lain dari pada sekedar meminta maaf." Teriak Stella.


Keheningan menggantung sesaat hingga George kembali mengeluarkan suaranya, "Ini memang sulit dipercaya, tapi inilah faktanya. Tapi anda tidak perlu khawatir. Akan kupastikan kebahagiaan dan keselamatan Mira. Dia adalah prioritasku."


"Benarkah? Aku tidak yakin!"


George memandang wanita itu. Ada kekalutan dimatanya. "Aku berjanji padamu bahwa seumur hidupku aku akan menjaga, membahagiakan dan mencintai Mira sepenuh hatiku. Setelah urusan pekerjaanku di New York selesai, aku akan segera kembali dan mengurus pernikahan kami."


"Demi Tuhan, apa lagi ini?"


Saat taksi berhenti di depan apertemen, Mira segera turun dan berlari sekencangnya berharap dia bisa tiba lebih dulu dari mamanya. Begitu berada di dalam apertemen, Mira merasakan hawa panas memenuhi ruangan itu.


Lama sekali sebelum akhirnya Stella menjawab pertanyaan Mira. "Apa kamu pikir mama bisa baik - baik saja setelah mengetahui semua ini, haaaaa...? Anak kurang ajar!!! Inikah yang kau lakukan selama disini? Tidak tahu malu!!!" Stella berteriak sejadinya sambil memukul punggung Mira dengan tangannya.


"Ampun ma, Mira tahu Mira bersalah. maafkan Mira ma." Airmata tak berhenti mengalir di pipi wanita itu. Mira menangis bukan karena sakit di punggungnya, tapi karena dia tahu bahwa dia telah melakukan kesalahan dan dia telah mengecewakan mama.


Dalam sekejap George bangkit menghampiri Mira dan berusaha menarik dirinya agar George bisa menghadang Stella dengan punggunnya. "Maafkan aku nyonya, ini bukan salah Mira, tapi ini adalah kesalahanku."


"Sialan kalian berdua."


"Maaf ma."


"Maaf nyonya."


Tatapan Mira beralih ke George. "Pergilah dari sini. Bukankan kau punya urusan pekerjaan di New York?"


"Tapi aku tidak bisa meninggalkan kamu seperti ini sayang."


"Tidak apa - apa. Sungguh! Aku perlu berbicara dengan mama. Kami akan baik - baik saja. Percayalah." Mira meyakinkan George.


"Baiklah kalau begitu. Ma, aku harus pergi sekarang. Tapi aku berjanji aku akan segera kembali setelah pekerjaanku selesai disana. Aku berjanji..."


"Cukup. Hentikan. Sebaiknya kau segera pergi dari sini." Ucap Stella sambil menatap sinis pada George.


"Baiklah, aku pergi."


George memberikan ciuman lembut pada Mira di bibir tipisnya lalu segera mengambil barang - barang yang telah ia kemas.


"Aku pergi. Aku akan segera meneleponmu saat aku tiba di New York. Aku mencintaimu."


Stella memperhatikan kedua insan dihadapannya. "Demi Tuhan, ini membuatku gila. Mereka bahkan tidak malu berciuman dihadapanku."


Hawa panas masih mengalir dan Mira tahu dia harus menunggu sampai aliran itu berhenti. Dulu saat Mira melakukan kesalahan dan Stella memarahinya, butuh waktu beberapa menit bagi mereka berdua untuk menenangkan pikiran. Setelah merasa tenang, barulah mereka berbicara.


Namun kali ini berbeda. Mira sadar ini adalah kesalahannya yang paling fatal.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Hallo kakak - kakak,


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.


Like, comment and Vote ☺☺☺


Terima kasih πŸ’•πŸ˜˜πŸ’•πŸ˜˜πŸ’•