
Di London, Regan masih dalam pemulihan. Setelah membaca pesan dari Renatta yang mengakhiri kisah mereka begitu saja, Regan merasa marah dan kesal. Tapi entah kenapa ia tak bisa membenci karena di hati kecilnya mengatakan kalau pasti ada alasan kenapa Renatta melakukan itu semua. Dan ia merasa kalau Renatta sedang dalam masalah. Makanya ia memberikan pesan balasan ke story media sosial Renatta.
Tapi, karena itu juga, Regan jadi ingin cepat kembali ke Indonesia dan menanyakan semuanya langsung ke Renatta.
"Mom, aku pulang ya ke Jakarta?" pinta Regan pada Mommy Jessie.
"No. Mommy belum mengizinkan itu. Kamu loh baru sadar dari koma. Kamu hampir mati Regan! Mommy nggak mau sesuatu yang buruk terjadi sama kamu di jalan nantinya. Pokoknya Mommy tidak mengizinkan, biarpun kamu merengek seperti bocah."
Regan mengerucutkan bibirnya, ia merasa sedih karena tidak diizinkan.
"Tapi, Mom. Aku harus mendapatkan penjelasan dari Natta. Aku juga sudah meninggalkan pekerjaanku begitu lama. Kasian Ozy yang harus meng-handle-nya."
"Sekali tidak tetap tidak!"
Mommy Jessie tidak mau terbujuk dengan bujukan putranya itu.
"Mom, please!" ucap Regan sambil menyatukan kedua tangannya di depan Mommy nya.
"No Regan!"
Regan memiringkan posisi tidurannya jadi menyamping. Ia kesal karena Mommy nya tidak mengizinkan dirinya.
Terdengar helaan napas dari Mommy Jessie.
"Kalau kamu sudah pulih, Mommy akan mengizinkan kamu. Tapi keadaan kamu masih belum stabil. Jadi mengertilah. Mommy tidak ingin kehilangan kamu. Kalau kamu ingin segera kembali ke Jakarta. Fokuslah pada pemulihan dan jangan bawel dan tidak mau minum obatnya."
Regan kemudian membalikkan tubuhnya dan menatap Mommy nya.
"Mommy nggak bohong kan? Oke aku akan rajin minum obatnya. Aku akan mematuhi semua perintah dokter. Tapi Mommy juga harus janji untuk tidak mengingkari apa yang sudah Mommy ucapkan."
"Oke."
Regan pun tersenyum.
Nat, tunggu aku, aku akan segera pulih dan datang padamu.
*
*
Seminggu pun berlalu, seharusnya Ozy merasa senang karena Regan telah kembali. Tapi entah kenapa, ia merasa ada aura-aura mengerikan yang akan terjadi nantinya. Apalagi selama ini, ia benar-benar menyimpan rapat-rapat masalah yang dialami oleh Renatta karena permintaan wanita itu. Ia juga tidak memberitahukan tentang pengunduran diri Renatta dari perusahaan mereka.
Di dalam mobil, Ozy masih dilanda kegelisahan yang begitu dalam. Ia yakin cepat atau lambat Regan akan mengetahui semuanya. Ia harus siap jika nantinya dijadikan pelampiasan oleh Regan.
"Apa selama aku tidak ada, Renatta selalu terlihat murung dan bersedih?" tanya Regan ke Ozy.
Ozy tampak bingung menjawabnya. Tapi ia tetap menjawab supaya Regan merasa lega.
"Ya, mungkin saja. Aku tidak terlalu memperhatikannya. Apalagi kamu tahu sendiri, Renatta itu pintar sekali menyembunyikan perasaannya."
Regan tersenyum kecut mendengar jawaban dari Ozy. Yang dikatakan Ozy memanglah benar. Saking pintarnya, ia kadang tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Renatta.
"Sebelum antar aku ke apartemen, antar aku dulu ke rumah Natta," pinta Regan.
Ozy langsung menolak, karena ia tidak mungkin membiarkan hal itu terjadi. Karena Regan akan tahu kalau Renatta kini tak berada lagi di kota yang sama. Ia juga sudah berjanji pada Tante Jessie agar langsung mengantarkan Regan ke apartemen untuk beristirahat.
"Lain kali saja. Kamu harus istirahat. Kalau sampai kondisimu drop lagi. Bisa-bisa kamu masuk rumah sakit lagi. Jadi, untuk kali ini kamu harus menurut. Kalau tidak aku akan melaporkan ini ke Tante Jessie."
Regan langsung memalingkan wajahnya. Ia kesal kenapa semua orang tak ada yang mau mengerti dirinya yang sudah rindu setengah mati. Ia ingin melihat wajah Renatta dan memeluk wanita itu. Ia akan membuat hubungannya kembali membaik.
Sesampainya di apartemen, Regan langsung merebahkan dirinya di atas ranjang. Ia memainkan ponselnya dan membuka sosial medianya. Ia mengunjungi akun media sosial Renatta untuk melihat postingan terbaru dari wanitanya, tapi ternyata tidak ada. Ketika melihat kolom pesan, ia melihat Renatta yang tidak aktif lagi setelah ia memberikan pesan balasan waktu itu.
Regan menghela napasnya dan bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada Renatta sehingga wanita itu bisa berubah secepat ini. Ketika masih asik bermain media sosial, tanpa sengaja Regan melihat sebuah postingan seseorang yang mengatakan kalau Renatta adalah seorang pelakor dan ada juga foto mesranya.
Regan langsung marah. Tapi ia tak mau langsung berpikiran negatif lagi ke Renatta. Ia mengamati dan memperhatikan foto mesra itu. Sampai akhirnya ia menyadari kalau foto itu bukanlah asli melainkan editan. Karena proporsi wajah yang terlihat tidak simetris. Regan melihat tanggal postingan tersebut diunggah. Rupanya sudah hampir 1 bulan yang lalu.
Aura kemarahan dan kekesalan begitu terlihat dari wajah Regan. Ia merasa jadi orang bodoh yang tidak mengetahui apapun tentang Renatta dan kesedihannya.
Ingin menghubungi Ozy, tapi tak jadi karena rupanya sudah jam 10 malam. Ia tidak ingin mengganggu istirahat Ozy dan istrinya. Di malam itu pun, Regan tidur dengan tidak tenang karena terus memikirkan Renatta. Apalagi tadi ia sempat membaca komentar-komentar jahat dari netizen untuk Renatta.
*
*
Di kantor, Regan datang dengan raut wajah dingin, tak bersahabat dan penuh amarah. Ia langsung bergegas ke ruangannya untuk bertemu dengan Renatta.
Betapa terkejutnya ia ketika melihat orang yang ada di meja kerja sekretaris bukan lagi Renatta. Regan pun tak jadi masuk ke ruangannya dan malah pergi ke ruangan Ozy.
Dengan aura mengerikan, ia masuk tanpa mengetuk pintunya lebih dulu.
"Jelaskan padaku! Kenapa sekretarisku bukan lagi Renatta? Kenapa hal sepenting ini tidak kamu beritahukan padaku!"
Regan menunjukkan postingan yang memfitnah Renatta di hadapan Ozy.
Ozy jadi gelagapan sendiri. Rupanya firasatnya, kegelisahannya akan cepat terjadi.
"Zy, jelaskan! Kenapa tidak ada yang memberitahukan soal itu! Cepat telepon Renatta! Suruh dia datang ke kantor!"
"Re, em .. aku tidak bisa menelpon Natta karena dia memblokir nomorku."
"Arghh sial!!! Aku akan pergi ke rumah Renatta! Kamu handle pekerjaanku hari ini!"
Ketika Regan sudah akan berjalan ke arah pintu, Ozy membuka suaranya lagi.
"Percuma, kamu tidak akan menemukannya. Dia sudah pindah, aku sudah pernah ke rumahnya waktu itu. Aku tidak tahu kemana Renatta dan keluarganya pergi."
Regan langsung menghampiri Ozy lagi dengan menarik kerah baju Ozy.
"Kenapa baru bilang sekarang bodoh! Kenapa tidak dari kemarin! Sialan!"
Regan mendorong tubuh Ozy sampai terjatuh di lantai.
"Seharusnya kamu bilang, seharusnya kamu tidak menyembunyikan semua ini padaku!"
"Maaf Re, aku hanya menuruti kemauan Renatta. Dia tidak ingin kamu tahu."
"Sial! Kenapa dia keras kepala sekali sih?! Memangnya dia bisa menyelesaikan masalah ini sendirian? Dasar wanita jahat! Lagi-lagi kamu membuat aku seperti laki-laki bodoh yang tidak tahu apapun! Lalu apa gunanya aku jadi kekasih mu kalau tidak dimanfaatkan!"
Regan melempar buku yang ada di hadapannya ke lantai. Ia sangat marah dan marah sekali.
"Lalu bagaimana kelanjutannya, apa sudah ada klarifikasi atau pembelaan diri dari Renatta?"
Ozy menggeleng.
"Aku menawarkan bantuan saja pada Natta, ia tolak mentah-mentah. Katanya dia sudah tahu pelakunya. Tapi entah kenapa, Renatta malah membiarkan berita itu terus menjadi-jadi sampai seperti ini. Bahkan berita akan adanya perceraian dari Karen dan Gio pun masih jadi trending topik padahal sudah sangat lama."
Regan jadi bertanya-tanya.
Sebenarnya siapa yang sedang kamu lindungi lagi saat ini Nat? Kenapa kamu selalu rela disalahkan, padahal bukan kamu orangnya? Kenapa kamu begitu bodoh dan terlalu baik sih? Bagaimana mungkin aku bisa melepaskan kamu begitu saja, disaat kamu terlihat menyedihkan seperti ini!
*
*
TBC