Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
PASRAH



Mira baru berjalan menuju gedung pencakar langit itu, tiba - tiba seorang muncul dan berteriak memanggil namanya.


"Mira . . ."


Mira mengalihkan pandanganya mencari darimana suara itu berasal.


"Mira, mengapa kau baru datang ? Sebenarnya apa yang terjadi ? Mengapa bajumu basah ? Tanya Acha, manager Luna.


"Astaga...Kau mengagetkanku saja.


Ku pikir siapa yang berteriak. Ternyata kamu Cha. Oh ya, tadi pertanyaan kamu banyak sekali. Kamu seperti seorang wartawan saja." Kata Mira.


"Ini semua gara - gara kamu dan Amira." Jawab Acha.


Seharian ini entah sudah berapa kali aku jadi sasaran amarah Luna.


Keadaan hening


"Maafkan aku Cha." Ucap Mira dengan wajah bersalah.


"Pertanyaanmu tadi akan kujawab semuanya nanti. Sekarang tidak ada waktu lagi. Aku harus memberikan ini." Kata Mira sambil mengangkat kotak yang dipegangnya.


Tapi, ada apa dengan Amira ? Tanya Mira.


Amira bekerja sebagai MUA permanen Luna . Selama 5 tahun ini, Amira setia menemani Luna kemanapun majikannya pergi. Memoles wajah seserorang adalah pekerjaan yang tidak begitu melelahkan, terlebih lagi merias wajah merupakan hobbynya. Itu sebabnya Amira mengambil pekerjaan ini.


"Mungkin dia sudah bosan bekerja dengan Luna." Jawab Acha.


"Kenapa ? " Tanya Mira penasaran.


"Dia tidak datang kesini." Aku sudah menghubunginya berkali - kali, namun nomor handphonenya tidak aktif."


Sialnya lagi, aku tidak sempat mencari tukang make up profesional untuk mendadani Luna.


Mimpi apa aku semalam ? Kenapa hari ini begitu banyak masalah. Gerutu Acha.


"Situasi seperti ini bisa sedikit membantuku." Gumam Mira dalam hati.


Hening sesaat . . .


Tersadar dari lamunannya, Mira menepuk bahu Acha sambil berkata,


Ijinkan aku membantumu dan Luna.


Perkataanya dibarengi dengan senyum mengembang.


"Maksudmu ?" Tanya Acha.


"Nanti kau akan tahu." Seperti yang kukatakan tadi, kita tidak memiliki banyak waktu." Sekarang dimana Nona Luna ?" Tanya Mira.


"Kalau begitu ayo kita kesana."


Mira dan Acha berjalan menuju lift.


Ruang ganti yang ditempati Luna berada dilantai 5.


Dalam perjalanan ke ruang ganti, Acha mengatakan sesuatu yang membuat Mira resah.


"Mir, kau bersiaplah mendengar amukan Nona Luna." Kata Acha.


Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk Mira merinding.


Tangannya yang memegang kotak tiba - tiba terasa lemah. Terlihat kecemasan diwajah Mira.


Tapi dia pantas menerima amukan pelanggannya karena dalam hal ini dirinyalah yang salah.


"Aku pasrah aja Cha. Toh ini aku yang salah." Jawab Mira dengan wajah frustasi.


Acha menarik tangan Mira sambil menatap wajahnya yang terlihat pucat pasi.


"Tidak perlu takut. Dia hanya akan memarahimu bukan memakanmu." Acha berbicara sambil sedikit terkekeh.


"Hehehhehee . . . Kau ini.


Bisa - bisanya kau bercanda disaat seperti ini." Seru Mira.


"Apapun yang terjadi, dibawa santai aja kali Mir." Acha menasehati Mira.


Acha sudah tahu sifat majikannya itu.


Luna memang memiliki tempramen tinggi. Namun ia hanya sebatas berteriak dan yang paling parah hanya sebatas memaki saja.


Luna tidak pernah bersikap kasar seperti menampar, memukul, menendang atau menjambak rambut.


Baginya itu bukan perilaku wanita berkelas.


Marah boleh saja, tapi memukul itu tidak bisa dibenarkan. Tindak kriminal bisa menghancurkan karir yang dibangun dengan susah payah. Karena itu Luna tidak pernah melakukannya meski amarahnya sudah memuncak.


Perkataan Acha sedikit membuat Mira terhibur. Ia kembali menemukan keberanian dan kepercayaan dirinya.


Mira menarik dan membuang nafas dalam - dalam.


"Tentu." Jawab Mira sambil tersenyum menatap Acha.


"Lagipula aku sudah menemukan cara untuk meredahkan amarahnya." Gumam Mira dalam hati.