
Rupanya apa yang dibayangkan Regan memang jadi kenyataan karena tiba-tiba Mommy Jessie menelponnya. Niatnya sih tidak mau mengangkat, tapi kalau Mommy marah, bisa panjang urusannya.
"DASAR COWOK NGGAK ROMANTIS! LAMAR ULANG RENATTA NYA! KASIH CINCIN!"
"Jangan teriak-teriak dong Mom! Telingaku sakit dengarnya. Lagian nih ya, dulu pas aku nembak Natta aja di dalam kamar hotel dan nggak romantis. Tapi Natta fine, fine aja tuh! Dia nggak protes atau bicara apapun ke aku."
"Haduh kasiannya, calon mantuku! Pokonya Mommy nggak mau tahu, kamu harus lamar ulang Renatta yang romantis. Kalau kamu nggak ada uang. Mommy kirimin. Mau berapa? 50 juta? 100 juta apa 1 miliar?"
"Mom, come on. Renatta bukan orang yang seperti itu. Dulu mungkin iya, tapi sekarang enggak. Cuma dibeliin makanan di pinggir jalan aja dia udah seneng. Jangan berlebihan Mom."
Mommy Jessie tampak menghela napasnya. Ia berpikir meski Renatta seperti itu, tetap saja seorang wanita pasti menginginkan dilamar dengan romantis.
"Ya udah, ajak aja Renatta makan di tempat biasa dia makan terus kamu atur sedemikian rupa tempatnya untuk melamar Renatta dengan romantis. Mommy tahu, tak semuanya bisa diukur dengan uang. Tapi, sekali-kali untuk menyenangkan orang yang kita sayangi. Itu tidak apa-apa. Ngerti kan, Son?"
"Ngerti banget Mom."
"Pinter nya. Oh iya, Mommy mau kasih tahu, kalau Mommy dan Daddy akan pulang dalam 3 hari ke depan. Jadi, Mommy akan beritahu Oma lebih dulu supaya dia nggak kaget pas tahu kamu bawa cewek ke rumah."
"Oke Mom. Thank you. Udahan dulu ya, aku mau pergi. Bye Mom."
"Bye sayang."
Regan meletakkan ponselnya di atas meja, ia pun mengganti pakaiannya dan bersiap untuk keluar. Rasanya ia merasa bosan kalau terus-terusan ada di dalam kamar hotel. Ia akan mengunjungi Renatta di perusahaan keluarga Grace.
*
*
Di jam istirahat makan siang, Regan sudah menunggu Renatta di kantin perusahaan. Ia duduk sendirian sambil memainkan ponselnya. Tak lama kemudian Renatta muncul dan menghampiri Regan.
"Kamu memang nggak sibuk?" tanya Renatta.
Regan menggeleng.
"Semua pekerjaan sudah dialihkan ke Ozy dan sekretaris baruku. Disini aku cuma nikmatin liburan," jawab Regan.
"Ya udah lebih baik kamu pulang duluan aja. Nanti biar aku nyusul sendiri. Kasian Ozy selalu disuruh-suruh ini dan itu sama kamu."
"Nggak mau lah," tolak Regan yang takut Renatta malah tidak datang.
"Udah jangan pikirin gimana keteteran nya Ozy. Pikirin aja pernikahan seperti apa yang kamu inginkan."
"Heh? Secepat itu aku harus mikirin nya? Aku aja belum ketemu keluarga besar kamu. Kalau nanti mereka malah nggak setuju dengan aku gimana coba?"
"Gampang! Aku akan buat mereka setuju. Kamu nggak usah pusing-pusing."
Regan menggampangkan semuanya. Karena memang omanya juga mudah dibujuk, ya walaupun mungkin akan menolak diawalnya.
"Tetap aja, aku selalu kepikiran tahu," ucap Renatta.
"Kamu belum makan kan? Ini aku belikan nasi padang tadi."
"Wah, terima kasih."
Renatta pun membuka nasi kotak itu dan mulai memakannya. Tapi Regan justru malah terus memperhatikannya.
"Kenapa? Kamu mau?"
Regan mengangguk.
"Nih!" Renatta memberikan sendoknya ke Regan, tapi Regan malah menolak dan malah minta disuapi.
"Suapin!"
"Dasar bayi besar!"
Regan hanya tersenyum tipis kemudian mendapatkan suapan dari Renatta. Hanya seperti ini saja sudah membuat hatinya senang.
"Nanti pulangnya aku jemput."
"Iya. Mau aku menolak pun kamu pasti akan tetap jemput."
"Tau aja, hehe."
Dibalas dengan tawa oleh Regan.
"Rupanya kamu tahu banyak tentang aku."
"Ya gimana nggak aku tahu. Selama aku jadi sekretaris mu. Salah sedikit dimarahi. Ngomel dikit dimarahi. Menolak dikit juga dimarahi. Selain nggak bisa dibantah, kamu itu mudah marah dan tersinggung."
"Pintar! Memang cocok jadi istri Regan!" ucapnya dengan senyum manis sambil mengusap kepala Renatta.
"Jangan kaya gini, nanti kita jadi pusat perhatian orang. Udah minta disuapi, sentuh-sentuh kepala orang pula."
Regan yang tidak peduli itu semua malah mendekatkan wajahnya ke Renatta dan mengecup bibir Renatta.
Renatta membulatkan matanya karena terkejut dan kesal ke Regan. Sementara laki-laki itu hanya tertawa dan merasa tidak berdosa sama sekali.
"Regan!" kesal Renatta dengan suara kecilnya.
Regan malah memanyunkan bibirnya ingin mencium Renatta lagi. Ia suka sekali melihat wajah kesal Renatta yang terlihat menggemaskan di matanya.
"Aih! Kamu jadi tambah ngeselin!" ujar Renatta.
"Ngeselin-ngeselin gini tapi kamu suka kan?" ledek Regan.
"Mau dijawab nggak, nanti ada yang marah, mau dijawab iya, tapi kok aku yang kesel?"
Regan tertawa lagi. Padahal cuma ngobrol ringan dan saling meledek tapi rasanya kebahagiaan itu mudah sekali ia dapatkan. Kini Regan mengambil alih sendoknya dan bergantian menyuapi Renatta.
Grace yang tiba-tiba muncul langsung meledek keduanya.
"Ya elah, yang bucin, nggak tahu tempat. Aku benar-benar nggak pernah bayangin Regan akan melakukan hal seperti ini sama wanita apalagi wanitanya itu kamu, Nat."
"Orang asing tolong diam ya! Jangan jadi setan, kalau nggak mau pergi," ucap Regan.
Grace mendengus sebal.
"Harusnya kamu jangan sama dia Nat. Dia nyebelin! Sukanya cari gara-gara sama aku! Apalagi kalau lagi penasaran, duh! Bikin aku selalu berkhianat sama kamu! Kaya yang kemarin itu."
"Kalau aku bisa milih, aku juga maunya bukan dia. Maunya sih yang baik hatinya, nggak mudah marah dan pemaksa."
Regan langsung mendelik dan menatap Renatta dengan tajam.
"Tapi walaupun begitu, dia memang yang aku butuhkan. Orang yang bisa memarahi aku ketika aku salah, dan membujuk aku ketika susah dibujuk. Apalagi dia ini laki-laki bodoh yang masih ngejar wanita yang buat dia sekarat. Gimana aku nggak memilih dia?"
Seketika tatapan tajam Regan berubah jadi senyuman dan ia malah menyandarkan kepalanya di bahu Renatta.
"Ahhh! Kalian berdua ini sudah terdeteksi bucin akut. Sebaiknya aku pergi. Kalau tidak aku bisa kena virus. Bye!"
Renatta dan Regan tertawa bersamaan melihat Grace yang kabur karena geli melihat kebucinan keduanya.
Regan tiba-tiba mengecup pipi Renatta kemudian pura-pura tutup mata dan masih bersandar di bahu Renatta.
Renatta cuma geleng-geleng kepala. Ia masih merasa semua ini masih mimpi di siang bolong.
Ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul 1 siang, Renatta mau kembali bekerja. Tapi, Regan malah cemberut karena belum puas bersama Renatta.
"Nggak usah kerja, kita pergi jalan-jalan aja," ajak Regan.
"Kalau ini perusahaan kamu, mungkin bisa. Tapi ini bukan perusahaan kamu jadi jangan memerintah seenaknya. Udah ya, aku mau kerja lagi."
"Iya deh."
Sebelum pergi dari sana Renatta memeluk Regan dulu lalu pergi. Padahal Regan sangat berharap dicium tepat di bibirnya.
"Ih, dasar nggak peka!"
Setelah itu Regan pergi entah kemana sambil menunggu waktu Renatta selesai bekerja.
*
*
TBC