Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
Bab 54 - Aku akan selalu menunggumu



Renatta pulang ke rumah sewanya, ia terlihat bahagia ketika melihat kakak dan papanya tersenyum bahagia entah sedang membicarakan apa. Rasa sedih dan lelahnya seakan menghilang kala melihat itu.


"Pa, Kak aku pulang," ucap Renatta lalu ikut duduk bersama dengan mereka.


"Gimana pekerjaan kamu disana? Menyenangkan?" tanya Papa Dewa.


"Ya begitulah Pa, namanya juga kerja Asti ada senang dan tidaknya. Tapi aku tetap harus menjalaninya kan? Kalau aku tidak bertahan. Lalu kita mau makan apa?"


Seketika raut wajah Papa Dewa langsung sedih. Ia merasa jadi papa yang buruk untuk anak-anaknya.


"Maafkan papa Nat. Maafkan papa karena seorang narapidana. Papa sudah mencoba mencari pekerjaan tadi. Tapi, ternyata orang setua papa selalu saja diremehkan. Katanya papa tidak akan kuat, katanya papa hanya akan jadi beban kalau bekerja."


Renatta menggenggam tangan Papa Dewa.


"Sudah tidak apa-apa Pa. Selagi aku masih kuat, selagi aku masih sehat. Aku bisa kok. Papa dan kakak pokoknya tidak usah mengkhawatirkan semuanya."


"Maafkan kakak juga ya, kakak tidak bisa menjaga diri dengan baik sampai mengandung anak ini."


"Iya kak, yang terpenting kakak sudah sadar kalau kakak bersalah. Itu sudah luar biasa. Intinya jangan ulangi lagi, dan jangan pernah sekalipun terbesit untuk bunuh diri atau menggugurkannya. Pokoknya aku akan marah kalau kakak melakukan itu lagi."


"Iya," jawab Nesha dengan memeluk adiknya.


Papa dewa pun menepuk punggung Nesha sebagai dukungan untuknya.


Pelukan itu pun terlepas.


"Pa, maafkan Nesha juga ya."


"Iya sayang, kamu ingat baik-baik ucapan adik kamu itu. Kita cuma bertiga. Jadi jangan pernah ada satu pun di antara kita yang pergi kecuali dipanggil oleh Tuhan. Jangan melakukan hal apapun yang bisa membahayakan diri kamu. Sekarang fokus untuk menjaga dia sampai ia lahir."


Nesha pun mengangguk. Ia memeluk Papa Dewa. Ia benar-benar bersyukur memiliki papa sambung dan adik sambung yang sangat menyayangi dirinya.


"Ya sudah, kalau gitu aku mau ke kamar dulu ya. Mau cepet-cepet mandi, udah gerah banget ini."


"Iya sana!"


*


*


Di malam harinya, Renatta pergi keluar mencari makanan untuk kakaknya yang sedang mengidam pecel lele. Di sepanjang jalan ia terus memikirkan banyak hal. Memikirkan tentang Regan yang sudah sembuh atau belum. Sampai ketika ia mendengar suara notifikasi pesan dari Mommy Jessie. Ia tersadar kalau ia lupa memblokir nomor Mommy nya Regan juga.


Kamu ada masalah sama Regan? Kenapa kalian putus begitu saja? Kamu bahkan memblokir nomornya. Kenapa? Coba cerita ke Mommy.


Rasanya Renatta ingin menangis saja disana. Kenapa sih Mommy nya Regan harus sebaik ini? Ia kan jadi tidak enak sendiri.


Maafkan Natta, Tante. Mungkin itu yang terbaik. Terima kasih karena Tante sudah baik sama Natta. Maaf kalau Natta tidak tahu diri dengan memutuskan Regan setelah membuat kekacauan dan di saat dia masih dalam masa pemulihan.


Renatta mengirimkan pesan itu, berharap Mommy Jessie tak pernah mengirimkan pesan lagi padanya walaupun ia tak memblokir nomornya. Ia pun menyimpan kembali ponselnya ke dalam sakunya. Kemudian terus berjalan mencari tukang pecel lele.


Sampai ia pun menemukan tenda biru di pinggir jalan yang bertuliskan pecel lele Pak Basir. Renatta pun pergi kesana. Ia memesan 3 pecel lele sekaligus.


Sambil menunggu pesanan matang, Renatta memainkan ponselnya dan melihat-lihat media sosialnya. Ia pun membuat story dengan caption.


Pecel lele yang kutunggu, semoga cepat selesai dibuat oleh si bapaknya.


Namun, pada akhirnya Renatta membuka juga pesan balasan dari Regan.


Pecel lele aja mau kamu tunggu. Kenapa aku tidak? Kenapa kamu memutuskan aku secara sepihak? Padahal kita baik-baik aja sebelumnya. Aku tidak terima kamu yang memutuskan hubungan kita. Aku akan menganggap kita masih sepasang kekasih. Kalau kamu masih ingin menyelesaikan masalahmu. Selesaikanlah, lalu setelah itu kembalilah. Aku akan selalu menunggumu.


Cairan bening dari mata Renatta mengalir begitu saja. Kalau begini caranya, ia tidak akan bisa melupakan Regan. Kata 'Aku akan selalu menunggumu' itu membuatnya jadi kembali berharap dan segera ingin pergi. Tapi, ia tak bisa melakukan itu semua. Tekatnya sudah bulat.


Renatta pun hanya membaca pesan itu saja tanpa membalasnya. Ia pun segera keluar dari aplikasi media sosialnya dan menonaktifkan data selulernya.


Air mata itu masih terus mengalir sampai si bapak pun memberikan pesanan dari Renatta.


"Mba nya menangis karena terlalu lama menunggu ya? Duh, maaf ya mba. Soalnya pesanan nya lagi banyak," ucap si bapak.


"Bukan kok Pak. Tadi saya cuma kelilipan aja. Berapa Pak semuanya?"


"Empat puluh lima ribu Mba."


Renatta pun mengambil uang dari sakunya dns memberikan uang lima puluh ribu ke si bapaknya.


"Kembalinya buat bapak aja. Terima kasih Pak."


"Terima kasih ya Mba."


Renatta mengangguk kemudian pergi dari sana. Ia menghapus air matanya yang masih terlihat dan membasuh wajahnya di kran air yang ada di pinggir jalan, agar ketika pulang kakak dan papanya tidak curiga.


*


*


Sesampainya di rumah, Renatta memperlihatkan senyumnya ketika membawa pecel lelenya.


"Mari kita makan. Pasti ponakan aku udah nungguin dari tadi ya? Maafkan Tante ya sayang."


"Iya, aku maafin kok Tante," jawab Nesha dengan gaya khas anak kecil yang dibuat-buat.


Renatta dan Nesha tertawa bersamaan. Merasa geli dengan perbicangan keduanya. Papa Dewa hanya bisa geleng-geleng kepalanya. Mereka pun makan malam bersama dengan penuh canda dan tawa.


Selesai makan malam, Renatta membuang sampahnya ke depan rumah. Supaya keesokan paginya diangkut oleh orang yang suka mengangkut sampah. Ia tak langsung kembali ke dalam rumah, melainkan duduk-duduk santai di bawah pohon.


"Jika memang jalan hidupku seperti ini, aku terima. Aku akan menghadapinya dengan kuat dan berani. Tapi, tolong jangan pernah biarkan keluargaku menangis lagi. Aku hanya punya mereka. Aku tidak ingin mereka menangis. Rasanya hati ini tersayat-sayat ketika melihat itu. Semoga Engkau mendengarkan jerit hati ini, Tuhan."


Renatta memohon sambil menatap ke arah langit.


Tanpa Renatta sadari, Papa Dewa melihat apa yang Renatta lakukan dan mendengarkan kalimat yang Renatta ucapkan.


"Papa janji Nak. Papa akan menjadi papa yang berguna untuk kamu. Papa akan mencari kerja lebih giat lagi, supaya kamu tidak usah terlalu bekerja keras seperti ini. Papa juga janji, akan terus tegar dan tidak bersedih supaya kamu bisa tersenyum. Terima kasih Nak. Terima kasih karena kamu sudah tegar dan kuat sampai saat ini. Papa beruntung memiliki putri seperti kamu."


*


*


TBC