
Beberapa hari kemudian, Renatta kembali bekerja jadi sekretaris Regan. Hal itu pun membuat Ozy terkejut. Ia pikir Regan mengganti sekretarisnya dengan yang baru lagi karena tidak suka dengan kinerja sekretaris yang ia pilihkan. Rupanya, malah diganti menjadi Renatta lagi.
"Coba jelasin ini semua? Apalagi wajah kalian tampak bersinar terang. Lalu kalian berjalan pun berdampingan. Sepertinya ada sesuatu yang aku tidak tahu disini," ucap Ozy penuh selidik.
"Udah, nggak usah penasaran. Intinya Renatta balik lagi kerja disini dan dia balik lagi jadi kekasih gue sekaligus calon istri."
"WHAT!!!!!!"
Mata Ozy membulat karena saking terkejutnya.
"Pertahankan posisi itu sampai siang nanti ya? Bye!" ucap Regan sambil menepuk pundak Ozy kemudian berjalan menuju ke ruangannya bersama Renatta.
"Jahat banget! Kasian Ozy tahu. Lagian kenapa kamu nggak cerita?"
"Males, dia mah suka heboh,", jawab Regan.
"Ya itu artinya dia antusias dengerin kamu cerita. Justru temen yang seperti itu yang awet sampe tua."
"Tetep aja males, nanti juga kalau aku lagi mau cerita, pasti cerita sendiri tanpa dia paksa."
"Baiklah, baiklah Tuan yang tidak mau dipaksa."
Regan gemas lalu mengacak-acak rambut Renatta. Renatta lalu menatap tajam ke arah Regan.
"Regan, ini di kantor! Jangan begini!" ucap Renatta dengan sedikit mengerutkan alisnya.
"Bodo amat, lagian aku bos nya."
Tangan Regan mulai terulur dan meraih tangan Renatta untuk digenggamnya. Renatta sudah berusaha menolak, tapi kekuatan Regan lebih besar. Ia pun hanya bisa pasrah saja.
Pindah ke Ozy, laki-laki itu masih ada di posisinya untuk beberapa saat. Baru sedetik kemudian ia tersadar dan akhirnya menyadari kalau hubungan Regan dan Renatta sudah membaik bahkan lebih baik dari sebelumnya jika dilihat dari wajah dan tingkah laku keduanya. Ozy pun berjalan ke ruangannya
*
*
Di ruang keluarga, Oma Lina merasa kesepian, apalagi Mommy Jessie dan Daddy Arthur pun sedang sibuk mengurus pekerjaan mereka. Yang ada di rumah hanya para pekerjanya saja.
Seketika Oma Lina terpikirkan akan Renatta. Jika ada gadis itu, pasti rumah terasa ramai. Apalagi meski ia abaikan, Renatta selalu punya obrolan lain, atau cerita lain untuk didengarnya.
"Apa Renatta benar-benar wanita baik yang cocok untuk Regan?"
Oma Lina mulai mempertanyakan itu dan mengingat kembali bagaimana sikap Renatta ketika bersamanya dan berusaha untuk merebut hatinya. Ia akui, Renatta memang wanita yang baik terlepas dari masa lalu dan keluarganya yang buruk.
"Aku aku restui saja mereka berdua? Melihat Regan bersama Renatta, wajah Regan selalu berseri-seri. Mungkin memang benar kalau Regan sudah melupakan Amanda sepenuhnya. Aku juga ingin Regan bahagia. Lagipula meski Amanda tidak jadi cucu menantuku, dia akan tetap aku anggap cucu sendiri."
Hati Oma Lina luluh. Ia sudah menerima kehadiran Renatta dan berniat mempertemukan mereka bertiga di hari libur pekan ini.
*
*
Malam pun tiba, Regan dan Renatta tampak makan malam berdua di meja makan. Mereka sudah terlihat seperti pasangan suami dan istri. Bahkan Regan dilayani dengan baik oleh Renatta. Diambilkan nasi dan lauk-pauk ke piringnya. Regan tersenyum mendapatkan perlakuan seperti itu.
"Seandainya waktu bisa dipercepat. Aku ingin segera menjadikanmu istriku seutuhnya."
"Tunggu Oma kamu menerima aku dulu. Aku nggak ingin menikah tanpa diterima di keluarga kamu. Aku ingin disukai oleh semua keluarga kamu. Aku selalu memimpikan punya pasangan dan keluarganya yang menyayangiku seperti keluargaku menyayangi diriku. Mungkin, ini terdengar klise atau terlalu berharap. Tapi aku memang menginginkan itu semua."
Regan tersenyum. Lalu tak lama kemudian ponselnya berdering. Rupanya Oma Lina lah yang menelpon.
"Panjang umur, orangnya langsung telepon," ucap Regan memberi tahu.
"Angkat aja," suruh Renatta.
Regan pun mengangkat telepon dari Oma Lina.
"Malam Oma, ada apa? Tumben malam-malam telepon?" tanya Regan.
"Sabtu depan datanglah ke rumah, ajak Renatta juga. Oma mau membicarakan sesuatu bersama kalian," jelas Oma Lina.
"Wah, ada apa ini? Apa Oma sudah menerima Renatta? Iy kah Oma?"
Regan begitu antusias bertanya, tapi Oma Lina tak menjawab pertanyaan Regan dengan penjelasan.
"Sudah datang aja."
"Baiklah Oma. Jangan lupa siapkan makanan yang enak ya Oma. Ada lagi Oma?"
Terdengar cengiran dari Regan.
"Ya, siapa tahu Oma mau tidur cepat kan?"
"Ya, ya, ya. Lebih baik sudahi saja. Malas Oma bicaranya."
Oma Lina jadi kesal ke Regan.
"Jangan baperan dong Oma!"
Tanpa Regan sadari, sambungan telepon sudah dimatikan lebih dulu oleh Oma Lina.
"Oma, Oma, halo?"
Regan pun melihat ke ponselnya yang rupanya panggilan itu sudah terputus.
"Yah, udah dimatiin!"
"Lagian kamu sih, suka banget cari gara-gara sama Oma sendiri. Udah tahu sikapnya sebelas dua belas sama kamu. Harusnya kamu lebih paham gimana Oma kamu."
"Hih! Kenapa kamu jadi ikut marah-marahin aku?"
"Enggak. Kan cuma ngomongin doang."
Regan cemberut. Untungnya ia sudah selesai makan, kalau belum, bisa aja ia sudah tak berselera makan.
"Cuci piringnya, gantian aku udah masak," perintah Renatta.
"Iya, ibu negara!"
Renatta langsung menatap ke arah Regan karena dipanggil seperti itu. Tapi beberapa detik kemudian, ia bersikap bodo amat dan malah memilih untuk duduk di sofa dan menyalakan televisinya.
Regan membawa semua piring kotor ke wastafel. Menyalakan kran airnya dan menuangkan sabun ke spons cuci. Ia mulai mencuci piring sambil menggerutu.
"Natta kalau natap orang kaya tadi, nyeremin juga. Kalau dia casting jadi pemeran antagonis atau jadi psikopat kayanya cocok banget. Udah pasti bisa menang penghargaan itu. Anehnya, kenapa aku jadi suka dia, padahal dulu aku begitu membencinya. Emang bener kata orang. Jangan terlalu membenci nantinya akan terlalu mencintai."
*
*
Hari libur pun telah tiba, Amanda yang juga dihubungi oleh Oma Lina tampak bersiap-siap untuk pergi kesana. Entah kenapa firasat di hatinya sangatlah buruk. Ia pun mengutarakan firasatnya itu ke mamanya.
"Ma, dari tadi perasaan aku kok nggak enak ya? Kira-kira Oma Lina mau bicara apa ya ke aku?"
"Cuma perasaan kamu aja itu mah. Nggak usah dipikirin berlebihan. Yang penting kamu harus tetap berjuang supaya bisa jadi mantu di keluarga Artajasa," ucap Tante Dewi yang masih berharap.
"Tapi, ya Ma. Waktu terakhir kali aku berkunjung ke rumah Oma. Dia kelihatan mulai menyukai Renatta. Gimana kalau pertemuan hari ini, ternyata Oma menyetujui Regan dan Renatta? Aku nggak terima Ma! Aku nggak mau kalah dari Renatta!"
Tante Dewi yang mendengarnya jadi ikut cemas juga. Terus sebuah ide cemerlang muncul di kepalanya.
"Kamu tunggu dulu sebentar. Mama mau kasih kamu sesuatu. Jangan berangkat dulu."
"Oke Ma," jawab Amanda.
Beberapa menit kemudian, Tante Dewi memberikan sebuah botol kecil ke Amanda. Amanda pun sedikit bingung dengan botol kecil yang diberikan oleh mamanya.
"Ini buat apa Ma?" tanya Amanda.
"Nanti kamu campurin ini ke dalam makanan atau minuman Oma Lina. Pokoknya pilih salah satunya. Lalu setelah bereaksi, kamu fitnah Renatta lah yang sudah meracuni Oma Lina. Dengan begitu semua keluarga Regan akan membenci Renatta dan kamulah satu-satunya orang yang akan dipilih untuk jadi menantu."
"Tapi nggak bahaya kan, Ma? Aku takut kalau Oma Lina sampai meninggal nantinya," ujar Amanda yang sedikit merasa takut.
"Nggak, tenang aja, paling cuma muntah-muntah, sakit perutnya sama diare."
"Oke deh Ma, aku lakuin rencana Mama."
Amanda dan Tante Dewi pun tersenyum bersamaan. Kemudian Amanda pamit untuk pergi ke rumah Oma Lina.
"Kamu pasti berhasil, Manda! Jadilah mantu di keluarga itu. Dengan begitu kamu tidak akan pusing soal keuangan."
*
*
TBC