
Beberapa waktu sebelumnya, orang suruhan Tante Dewi sudah mulai beraksi. Mereka selalu mengawasi Renatta dari luar gedung perusahaan milik Regan. Begitu Renatta keluar, mereka berpisah. Yang satu mengikuti Renatta dan yang satu tetap berada di tempat dengan motornya. Nantinya mereka akan saling menghubungi saat Renatta telah selesai memesan makanan.
Begitu Renatta pergi dari restoran, si preman satunya langsung menghubungi temannya untuk melakukan aksinya.
Motor yang dikendarai teman si preman melaju dengan kecepatan tinggi sampai untuk Renatta menghindar pun tak ada waktu.
Brakkkkk!
Bunyi hantaman motor dan tubuh Renatta yang begitu nyaring dan tragisnya. Si preman itu pun langsung pergi sebelum banyak orang yang datang.
Tubuh Renatta terpental ke sisi jalan, kondisinya pun berlumuran darah di tangan, bagian kepala juga kakinya. Tenaganya seakan terkuras habis begitu juga dengan darahnya. Sebelum memejamkan matanya, Renatta bergumam lirih memanggil nama Regan.
"Regan ... "
*
*
Regan yang berada di ruangannya jadi gelisah. Karena Renatta tak kunjung kembali ke ruangannya. Ia pun mengambil ponselnya dan membaca pesan yang dikirimkan oleh Renatta.
"Bilangnya 15 menit akan kembali. Tapi kenapa sudah sekitar 20 menit dia belum kembali juga?"
Regan langsung menelpon nomor Renatta, tapi tak ada jawaban sama sekali. Ia jadi panik dan khawatir, apalagi, ia merasa seperti ada bisikkan di telinganya yang memanggil dirinya. Regan pun keluar dari ruangannya ingin menyusul Renatta.
*
*
Di tempat kejadian, Renatta langsung dikerumuni oleh orang-orang. Ada yang memanggil ambulans dan ada yang sedang mencari ponsel milik Renatta. Siapa tahu ada yang bisa dihubungi dari keluarga korban.
Mereka bahkan tidak ada yang sadar siapa yang menabrak Renatta karena terlalu fokus ada aktivitas masing-masing. Bahkan makanan yang dibawa Renatta pun bercecer kemana-mana.
Lalu, ada salah satu dari karyawan Regan yang memang ingin makan siang di luar, ia pun terkejut ketika melihat Renatta yang tergeletak di jalanan dengan bersimbah darah. Orang tersebut langsung berlari masuk lagi ke dalam untuk memberitahukan kecelakaan tersebut ke Regan.
Pas sekali ketika ia akan menaiki lift, ia bertemu dengan Regan yang keluar dari lift.
"Pak, sekretaris anda Pak," ucap seorang pegawai tu dengan napas yang tersengal karena habis berlari.
"Iya, kenapa dengan Renatta?" tanya Regan yang kebingungan.
"Kecelakaan Pak," ucapnya.
Mata Regan Landung membulat, ia langsung mencecar banyak pertanyaan ke karyawannya itu.
"Kecelakaan dimana? Bagiamana kondisinya? Dia tidak terluka parah kan?" tanya Regan kemudian berlari keluar dari gedung tanpa mendengarkan sedikit pun jawaban dari karyawannya.
"Aneh, kenapa Pak Regan sepertinya khawatir sekali dengan sekretarisnya. Rasa khawatirnya seperti untuk orang spesial. Ah, bodo amat lah. Ngapain juga aku pikirin."
Karyawan itu pun tak jadi makan di luar, ia malah berlari ke kantin perusahaan.
*
*
Ketika Regan sudah berada di luar gedung, di saat itu Renatta sedang dimasukan ke dalam mobil ambulans dibantu oleh orang sekitar dan petugas dari rumah sakit. Regan berlari dengan kencangnya ingin ikut masuk ke dalam mobil ambulans. Ia bahkan tak peduli dengan tanggapan orang-orang nantinya, apalagi ada beberapa dari mereka yang sepertinya adalah karyawannya.
Si petugas pun mengizinkan Regan untuk masuk. Mobil ambulans melaju dengan kecepatan tinggi karena keadaan Renatta yang lumayan parah.
Regan menatap Renatta dengan tatapan nanar. Matanya bahkan sudah berlinang air mata. Ia tak bisa melihat orang yang dicintainya terluka. Sudah banyak luka yang diterima oleh Renatta.
"Kamu harus bertahan Nat. Pokoknya kamu harus pulih dan bangun. Aku akan marah kalau kamu tidak bangun!" ucapnya sambil menggenggam jari-jemari Renatta.
Sesampainya di rumah sakit, Regan langsung memerintahkan dokter untuk memberikan pelayanan dan perawatan terbaik untuk Renatta.
Regan menunggu di luar ruangan sambil menyatukan tangannya di depan wajahnya. Ia benar-benar menyesal telah membiarkan Renatta keluar sendirian. Apa yang harus ia katakan ke papanya Renatta? Ia merasa gagal untuk menjaga Renatta. Walau di keadaan seperti ini, pikirannya harus tetap waras karena ia tidak akan tinggal diam. Ia akan mencari siapa yang telah menabrak Renatta.
Regan langsung menelpon Ozy.
"Re, gimana Natta? Aku dengar-dengar dari Ara pegawai katanya dia kecelakaan."
"Tolong selidiki kecelakaan Renatta ini. Karena ketika aku ada di tkp tadi pelaku penabraknya tidak ada. Kemungkinan dia kabur. Cari sampai ketemu. Aku tidak akan membiarkan dia lolos begitu saja setelah membuat luka di tubuh Renatta."
"Oke, baik, aku akan menyewa detektif yang kemarin lagi. Kamu jangan banyak pikiran dulu. Cukup temani Renatta saja disana. Urusan pekerjaanmu dan Renatta biar aku yang gantikan."
"Thanks Zy."
Sambungan telepon pun berakhir. Regan langsung memberikan kabar ini ke Mommy Jessie dan juga Oma Lina lewat pesan. Ia sekarang bimbang antara memberitahukan ke papanya Renatta atau tidak.
Setelah satu jam lebih menunggu, dokter pun keluar dari ruangan. Regan Langsung berdiri dari duduknya dan bertanya ke dokter.
"Dia kehabisan darah, untungnya persediaan darahnya masih tersisa satu. Lalu dia mengalami luka ringan di kepalanya. Tulang lengan bagian kanan dan kaki bagian kanannya patah. Jadi kami harus meng-gips nya. Jika dilihat dari lukanya, Nona ini sangat beruntung karena masih diberikan keselamatan. Sebentar lagi kami akan memindahkan ke ruang perawatan."
"Dok, berapa lama patah tulang itu akan berlangsung? Apa luka di kepalanya bisa mengakibatkan dia amnesia, Dok?" tanya Regan yang ketakutan. Ia benar-benar takut apalagi jika ia mengingat-ingat drama yang pernah tak sengaja ia tonton yang kekasihnya kehilangan sebagian ingatannya dan melupakan kekasihnya. Regan tak ingin hal tersebut terjadi padanya. Rasanya ia tak akan sanggup.
Dokter pun lalu menjelaskan, "Tenang saja Anda tidak perlu khawatir, luka di kepalanya tidak akan membuat Nona amnesia. Tapi untuk patah tulangnya, kemungkinan 2-3 bulan baru bisa pulih seperti semula jika Nona rajin terapi."
*
*
Renatta sudah dipindahkan ke ruang perawatan, Regan masuk ke dalam dan melihat kondisi Renatta yang kepalaku di perban begitu juga tangan dan kakinya.
"Nat, maafkan aku yang tidak becus menjagamu. Bukalah matamu. Aku ingin dengar celotehan mu. Setelah ini aku akan jadi tangan dan kakimu. Apapun yang kamu inginkan akan aku turuti. Tolong bangunlah Nat."
Regan mencium tangan Renatta yang tidak di gips.
Hampir 30 menitan Regan berada di dalam, ia pun keluar ruangan dan mendaratkan keningnya di dinding rumah sakit. Ia memukul pelan dinding itu untuk melampiaskan rasa kecewa pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba Regan mendapatkan telepon dari Mommy Jessie.
"Kamu di ruangan mana? Mommy sama Oma udah di ruangan sakit."
"Ruangan VIP no 204 Mom."
"Baiklah, Mommy akan segera kesana."
"Iya Mom."
Regan menutup panggilannya dan duduk di kursi depan ruangan. Tak berselang lama, Oma Lina dan Mommy Jessie pun telah sampai. Oma Lina masuk lebih dulu ke ruangan untuk melihat calon cucu mantunya. Sementara Mommy Jessie memeluk anaknya yang sedang bersedih.
"Mom, ini semua salahku yang tidak bisa menjaga Natta. Seharusnya tadi aku menemaninya keluar, hiks ... "
Mommy Jessie belum menanggapi ucapan anaknya. Ia membiarkan Regan menumpahkan semuanya.
"Sudah, sudah, jangan menyalahkan diri kamu. Ini semua musibah Regan. Kita tidak akan tahu kapan datangnya."
"Aku bahkan tak memiliki keberanian untuk memberitahukan ini semua ke papanya Natta, Mom. Aku takut, dia akan memisahkan aku dan Natta. Aku harus gimana Mom?"
Mommy Jessie memeluk Regan semakin erat, bahkan meski isak tangis Regan tak begitu keras, tapi air mata Regan yang jauh ke pakaiannya begitu terasa. Mommy Jessie pun bisa merasakan betapa takut dan sedihnya anaknya saat ini.
"Walaupun begitu, kamu harus tetap memberitahukan ini ke papanya Natta, Regan. Dia berhak tahu."
"Tapi, Mom ... "
"Walaupun kamu tidak memberitahu, namanya orang tua pasti punya feeling terhadap anaknya. Lebih baik kamu beritahu daripada nantinya papanya Natta tidak mempercayai kamu lagi."
Regan melepaskan pelukan Mommy nya. Ia menghapus air matanya dan menatap sang Mommy.
"Percaya sama Mommy. Papanya Natta pasti tidak akan memisahkan kalian. Mungkin ia akan kesal dan kecewa sama kamu diawal, tapi itu tidak akan lama."
Setelah perasaannya sudah lebih tenang, Regan memberitahukan keadaan Renatta ke Papa Dewa. Awalnya Papa Dewa merasa terkejut dan marah karena Regan tak bisa menjaga putrinya dengan baik. Tapi untuk sekarang bukan itu yang penting. Tapi kesembuhan anaknya lah yang penting.
"Aku akan meminta Grace untuk mengantarkan Om dan Kak Nesha untuk ke Jakarta. Nanti aku akan ceritakan semuanya disini. Sekali lagi aku minta maaf Om."
Telepon Regan langsung dimatikan begitu saja oleh Papa Dewa.
Regan menghela napasnya. Ini memang resikonya.
"Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja."
Regan menyandarkan kepalanya di bahu Mommy Jessie.
"Kalau semuanya memburuk bagaimana Mom? Renatta bahkan belum sadar juga Mom. Tulang tangan dan kakinya patah Mom. Di harus melakukan terapi untuk bisa memulihkannya lagi. Aku nggak tahu gimana nanti respons Renatta ketika bangun dan mengetahui keadaannya yang seperti itu. Aku takt Mom. Aku takut Renatta akan bersedih dan menyalahkan dirinya lagi. Kalau semua ini adalah karma akan kejahatan yang dia lakukan dulu. Aku benar-benar takut Mom."
Mommy Jessie mengelus kepala Regan untuk membuat putranya tenang.
*
*
Di tempat lain, dua preman tadi sudah berhasil melakukan aksinya dan kini mereka sedang bertemu dengan Tante Dewi di gedung yang waktu itu mereka bertemu.
"Kami sudah berhasil melaksanakan tugas. Kondisinya pun sangat parah. Saya jamin, meski dia selamat pun, dia tidak akan bisa berjalan. Karena luka di kakinya begitu parah."
Tante Dewi tersenyum senang, tapi ia tidak bisa memberikan bayaran kekurangan kemarin sekarang. Karena itu hanya asumsi kedua preman itu saja.
"Aku akan membayar kalian, jika kalian bisa memastikan keadaan wanita itu benar-benar parah. Aku juga akan tambahkan bonusnya kalau kalian bisa memperparah lagi keadaannya di rumah sakit, kalau perlu buat dia mati sekalian."
"Kalau begitu, anda harus membayar kami lebih banyak," ucap salah satu preman itu yang tidak mau rugi.
"Tenang saja, aku memiliki banyak uang," ucapnya sambil tersenyum miring.
*
*
TBC