
Setiap harinya Renatta selalu datang. Sudah seminggu Renatta terus datang, tapi tanggapan dari Oma Lina masih terlihat belum menyukai dirinya. Renatta pun hanya bisa pasrah saja, apalagi ia hanya mengajukan cuti selama satu Minggu. Otomatis dia harus kembali lagi ke Malang untung bekerja lagi.
"Re, sepertinya aku harus pulang. Kasihan Grace kalau aku ambil cuti kelamaan. Aku juga tidak bisa diam saja, seperti ini terus. Aku sudah terbiasa bekerja dari sebelum lulus SMA. Seminggu nggak kerja tuh rasanya aneh."
Regan mengerucutkan bibirnya. Ia masih ingin bersama Renatta. Ia tidak mau Renatta tinggal di beda kota dengannya. Bahkan, sehari tidak lihat saja rasa rindunya sudah menggebu-gebu.
Tiba-tiba sebuah ide tercetus di kepala Regan. Ia langsung menelpon Grace dan untungnya langsung diterima oleh Grace.
"Ada apa? Ganggu aja orang lagi santai-santai!"
"Renatta nggak bakalan balik kerja disitu lagi," ucap Regan yang membuat Renatta dan Grace terkejut.
"Apaan? Kamu yang ngelarang ya? Dih! Belum juga jadi suami udah posesif gini! Aku sih nggak bakalan percaya kalau Renatta yang bilang begitu."
"Re, kamu bicara apa sih? Aku kan nggak pernah bilang gitu!" sahut Renatta yang ikut nimbrung.
"Tuh kan, sudah aku duga," ucap Grace.
"Aku belum selesai bicara. Kenapa kalian malah nyaut aja sih? Maksudku itu, Renatta nggak bakalan balik kerja di tempat kamu. Sebagai gantinya, kita tukeran sekretaris aja."
"Nggak mau!" tolak Grace.
"Ayolah Grace! Mau ya?" bujuk Regan.
"Ogah!"
Grace masih menolak bujukan dari Regan.
"Apa kamu nggak kasihan, Renatta dan aku harus berpisah lagi? Padahal kita baru aja meresmikan hubungan ke jenjang yang lebih serius loh! Tega banget!"
"Dih! Jangan sok jadi orang paling menyedihkan! Nggak cocok sama kamu!" tukas Grace yang malah merasa jijik.
"Nggak peka banget jadi orang. Tenang aja sekretarisku kerjanya bagus kok. Jadi kamu nggak bakalan kecewa. Ya? Ya? Ya?"
Karena malas mendengar bujukan dari Regan lagi, Grace pun akhirnya menerima pertukaran sekretaris itu. Tapi Grace memberikan syarat, kalau dalam dua hari sekretarisnya belum datang dan berangkat kerja juga, Grace sendiri yang akan menjemput Renatta.
"Oke, tenang aja, nanti aku akan langsung suruh dia pergi ke Malang."
Sambungan telepon pun selesai. Regan tersenyum senang lalu memberikan pesan ke sekretarisnya mengenai pertukaran sekretaris itu. Ketika sudah beres semuanya, Regan menatap ke Renatta yang masih terheran-heran.
"Sudah beres. Jadi kamu nggak perlu pulang ke Malang. Karena kamu akan balik lagi jadi sekretarisku."
"Dasar pemaksa!"
"Tapi, kamu senang juga kan? Ngaku aja?" ledek Regan.
Renatta hanya memalingkan wajahnya ke arah jendela.
"Besok kan masih hari libur. Jadi, kamu nggak usah ke rumah keluargaku lagi. Kita jalan-jalan aja seharian. Selama disini, kita kan belum pernah jalan bareng."
Renatta pun mengangguk. Kini keduanya sedang menonton film bersama. Mereka tertawa bahkan kadang Regan menjahili Renatta supaya bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Apalagi suasananya sangat mendukung dengan ada adegan kiss di dalam film yang mereka tonton.
Regan tak mau kalah, ia benar-benar memanfaatkan kesempatan yang ada ketika Renatta terbengong melihat film yang ditontonnya.
"Nggak usah iri, kalau kamu mau, aku bisa melakukan itu juga," ucap Regan dengan senyuman liciknya.
Ingin memukul Regan, tapi tangan Renatta justru ditarik dan akhirnya wajah mereka saling berhadapan dan Regan meraih tengkuk Renatta untuk lebih dekat dengan wajahnya sampai akhirnya ...
Cup
Ciuman benar-benar mendarat di bibir Renatta. Sangat lembut bahkan Renatta jadi terlena saking lembutnya. Ciuman itu terus Regan perdalam sampai tangannya terulur mau membuka kancing piyama yang digunakan oleh Renatta.
Dengan cepat Renatta mendorong Regan hingga membuat pria itu terjatuh ke lantai.
"Ma-maaf, tapi aku tidak ingin melakukan yang lebih dari ciuman sebelum menikah."
Bukannya marah, Regan malah tersenyum. Itu artinya Renatta benar-benar punya prinsip untuk menjaga kehormatan dirinya. Ia harus menghargai prinsip Renatta itu meski harus menahan hasrat dalam dirinya. Sebenarnya Regan pun tidak mau melakukan sesuatu di luar batas, tapi berada di dekat Renatta rasanya ia suka kehilangan akal sehatnya.
Regan bangun dari posisinya lalu memeluk Renatta.
"Kalau aku melakukan hal seperti tadi lagi, dorong aku lagi. Kalau masih tidak mempan, tampar aku supaya sadar, oke?"
Renatta mengangguk di dalam pelukan Regan.
*
*
Keesokan harinya, Renatta dan Regan pun jalan-jalan bersama. Yang artinya di hari itu Renatta tidak mengunjungi rumah keluarga Regan.
Oma Lina yang sudah berada di ruang keluarga terus melirik ke arah jam dinding yang telah menunjukkan pukul 10. Padahal biasanya Renatta sudah ada di rumah, sekitar pukul 8 lewat. Mommy Jessie yang melihat sikap aneh dari Oma Lina pun datang mendekat.
"Sok tahu kamu! Emangnya siapa yang lagi nunggu dia datang? Kurangi kerjaan banget!" jawab Oma Lina yang belum mau mengakui itu.
"Iya kah? Tapi sepertinya, Renatta sudah menyerah Ma. Dia nggak bakalan datang lagi kesini. Abisnya selalu diabaikan terus." Mommy Jessie berusaha mengompori Oma Lina.
"Baru segitu aja udah nyerah! Nggak cocok banget jadi menantu di keluarga ini!" ucap Oma Lina.
Mommy Jessie tersenyum. Itu artinya di lubuk hati Oma Lina, wanita tua itu sudah menerima kehadiran Renatta.
"Berarti mama sudah mulai menerima Renatta?"
"Siapa yang bilang begitu? Nggak, aku masih belum menerimanya," ucap Oma Lina.
"Ya sudahlah terserah mama aja. Aku mau keluar dulu cari angin segar."
Mommy Jessie pun meninggalkan Oma Lina sendirian di ruang keluarga.
Di dalam kesendiriannya itu, Oma Lina malah menonton film home alone yang direkomendasikan oleh Renatta. Ia bahkan menonton dari seri pertama hingga akhir. Rasanya kosong karena tak ada yang tertawa bersamanya, tak ada yang berisik ketika menonton juga. Tanpa sadar, Oma Lina mengharapkan kehadiran Renatta untuk menemaninya menonton. Bahkan Oma Lina sudah jarang menonton acara artis-artis dan gosip.
Tiba-tiba Amanda datang dengan membawa kue.
"Siang Oma," sapa Amanda dengan senyuman.
"Siang juga Manda."
"Aku bawain kue buat Oma. Dijamin Oma pasti suka." Amanda memberikan bingkisannya ke Oma.
Oma Lina langsung membukanya dan mengambil sedikit dengan tangannya lalu memasukkan ke dalam mulutnya.
Rasanya tidak seenak kue yang sering dibawakan oleh Renatta. Ini terlalu manis dan keras.
"Kenapa Oma? Oma nggak suka?" tanya Amanda yang keheranan dengan Oma Lina yang terdiam.
"Kurang cocok di lidah Oma."
"Yah, padahal aku beli kue ini mahal-mahal khusus untuk Oma."
"Lebih enak rasa kue yang sering dibawakan Renatta," ucap Oma Lina membandingkan.
Wajah Amanda langsung berubah jadi kesal.
"Jadi Amanda sering datang kesini Oma?" tanya Amanda.
"Ya, hampir setiap hari, dan membawakan Oma kue beda rasa tiap harinya. Tapi Oma tidak terlalu suka jadi sering Oma abaikan."
Seketika sebuah senyum mengembang dari bibir Amanda.
"Oma jangan mudah terhasut oleh sikap baik Renatta. Dia hanya cari muka supaya Oma setuju."
Biasanya Oma Lina akan langsung percaya dengan ucapan Amanda, tapi kini ia merasa sedikit ragu. Namun, ia tetap mengangguk.
Amanda pun menemani Oma Lina menonton acara komedi. Namun tanggapan yang diberikan Amanda hanya lontaran perkataan buruk tentang acara itu.
"Sejak kapan Oma suka acara televisi seperti ini? Hanya buang-buang waktu, Oma. Acara ini tidak berkelas. Lebih baik kita tonton acara artis saja. Apalagi katanya ada acara reality show yang mengundang desainer ternama. Kita ganti itu ya Oma," ucap Amanda.
Namun, Oma Lina malah menolak. Ia masih ingin menonton acara komedi saja. Karena seperti apa yang dikatakan Renatta. Acara seperti ini lebih menghibur apalagi di usia Oma Lina yang sudah berumur. Lebih butuh pikiran yang tenang dan menikmati kehidupan.
"Oma mau nonton ini aja. Oma sudah tua. Ingin pikiran jadi relaks."
Amanda sedikit heran, karena biasanya Oma Lina tidak akan menolak. Bahkan Oma Lina tampak menyukai acara komedi itu. Apalagi gelak tawa muncul dari mulut Oma yang jarang sekali terlihat oleh Amanda.
"Oma, kita tonton yang lain aja ya?" bujuk Amanda lagi.
"No, Oma mau nonton ini aja. Oma juga masih punya rekomendasi acara lainnya."
"Oma, siapa yang membuat Oma suka nonton ini?" tanya Amanda yang penasaran.
"Renatta," jawab Oma Lina singkat.
Lagi-lagi Amanda jadi kesal. Ia pun malah berpamitan ke Oma Lina dengan alasan ada janji dengan temannya. Padahal ia sudah tidak berselera lagi untuk ada di dekat Oma Lina yang sepertinya sudah menyukai Renatta.
Ketika sudah ada di halaman rumah keluarga Regan, Amanda mengepalkan tangannya.
"Awas aja, aku nggak akan biarkan kamu diterima di keluarga ini."
*
*
TBC