Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
Bab 95 - Semakin dekat



Renatta dan Regan pergi mengunjungi butik rekomendasi Mommy Jessie bersama. Disana mereka akan memilih gaun dan kemeja yang akan digunakan nantinya.


Ketika sampai, Renatta dibuat terkagum-kagum dengan beraneka gaun pengantin yang modelnya berbeda-beda. Ia melihatnya satu per satu dari ujung kiri ke ujung kanan.


"Ada yang bisa saya bantu Nona?" tanya si pegawai butik itu.


"Kami sudah melakukan janji temu pukul 1 siang."


Si pegawai langsung tersadar, kalau yang ada di hadapannya adalah klien istimewa dari bos nya. Ia ingat betul kalau bosnya memintanya untuk melayani dengan baik dan mengikuti apapun yang dimau oleh kliennya.


"Jadi, Nona yang bernama Renatta, dan Tuan bernama Regan, apa betul?"


Regan dan Renatta mengangguk bersamaan.


"Silahkan duduk dulu Tuan, Nona," pintanya.


"Nona mau gaun pernikahan seperti apa?"


"Sejujurnya kalau ditanya seperti itu aku sendiri agak bingung. Apa boleh aku lihat saja koleksi gaun disini? Siapa tahu ada yang aku sukai."


"Tentu saja boleh Nona."


Si pegawai memberikan daftar foto gaun yang ada di butik tersebut, juga memperlihatkan gaun-gaun yang dipajang disana. Mata Renatta tertuju pada gaun indah dengan model simpel tapi elegan. Tidak terlalu memperlihatkan lekuk tubuhnya dan juga tidak seksi juga. Renatta menunjuk gaun tersebut.


Si pegawai pun membawa gaun tersebut ke ruang ganti. Renata mengikutinya dan masuk ke ruang ganti dengan si pegawai menunggu di luar, siapa tahu Renatta butuh bantuan.


Tak lama kemudian, Renatta keluar dan memperlihatkan gaun yang dikenakannya di hadapan Regan.


Untuk sesaat Regan terdiam. Ia benar-benar terpesona dengan kecantikan Renatta yang terlihat semakin bersinar. Apalagi model gaun yang Renatta pilih sesuai sekali dengan karakter Renatta.


"Gimana? Bagus nggak?" tanya Renatta.


"Cantik," jawab Regan.


Renatta hanya terkekeh pelan. Ia tahu kalau Regan terpesona.


"Mba, bantu aku untuk melepas gaunnya ya? Sepertinya aku akan pilih gaun ini saja."


"Baik Nona."


Selesai melepas gaun tersebut, giliran Regan yang memilih tuxedo nya. Tapi ia enggan mencobanya dan hanya memilih modelnya saja.


Keduanya memilih beberapa gaun dan tuxedo warna senada untuk dikenakan nantinya.


Katanya sih supaya cepat dan tidak membuang-buang waktu. Renatta hanya menurut saja, karena memang masih banyak yang harus mereka urus.


Masalah pakaian selesai, kini mereka pergi untuk mengurus dekorasi dan make up. Renatta memilih dekorasi dominan putih dipadukan dengan warna lavender. Ia pun memilih model make up yang terlihat natural.


Selesai dengan itu semuanya, Regan mengantarkan Renatta untuk pulang ke rumah Renatta. Ia bahkan mampir sebentar untuk sekedar duduk-duduk atau minum segelas.


Nesha menyambut mereka, bahkan menitipkan putranya untuk dijaga sebentar selagi ia menyuguhkan makanan untuk Regan.


Karena Regan sering bertemu dengan Nelson, jadinya bayi tersebut tak menangis. Karena Nelson akan menangis ketika melihat orang asing. Bayi tersebut bahkan tak mudah dekat dengan orang lain.


Ketika berada di pangkuan Regan, bayi itu tampak nyaman, bahkan sampai tersenyum juga.


"Sepertinya kalian memang sudah siap dan cocok memiliki anak. Aku doakan semoga Renatta akan hamil cepat setelah kalian menikah nantinya," ucap Nesha sambil menaruh cemilan dan minuman di meja.


"Aku pun berharap demikian," ucap Regan sambil melihat Nelson.


Seketika, laki-laki itu teringat dengan ayah dari bayi yang dipangkunya.


"Apa nanti ketika dia sudah besar, Kakak akan menceritakan siapa ayahnya?"


Nesha menghela napas sejenak.


"Mau bagaimana pun, dia berhak tahu siapa ayahnya. Entah bagaimana tanggapan dia nantinya, aku pun harus siap menerimanya."


Renatta meletakkan tangannya di pundak kakaknya.


"Aku akan bantu jelaskan nantinya, jika kakak belum siap."


"Terima kasih Nat. Oh, iya gimana perkembangan persiapan pernikahan kalian? Udah oke semua?" tanya Nesha yang penasaran.


"Udah aman semua kak. Kami tinggal menunggu hari H nya saja. Doakan ya kak, semoga semuanya berjalan dengan lancar."


"Tentu, kakak akan doakan yang terbaik untuk kalian berdua. Ngomong-ngomong nanti kalian ada pingit-pingitan nggak sih?" tanya Nesha lagi.


"Udah jaman modern masa masih ada pingit-pingitan segala. Nggak mungkin ah," ucap Regan yang tak memikirkan hal tersebut.


"Ya, mungkin kamu berpikiran begitu, tapi Oma Lina?"


Seketika Regan jadi terdiam. Benar, Oma Lina pasti tidak akan diam saja, wanita tua itu pasti akan menyuruhnya ini dan itu.


"Udah sore, sebaiknya kamu pulang Regan," ucap Nesha ke Regan.


"Ngusir nih ceritanya Kak?"


"Ya belajar untuk tidak sering bertemu dulu. Dua Minggu lagi kan kalian akan menikah. Setelah itu, kalian bebas mau ngapain aja."


Regan mendengus sebal, tapi ia tetap menurut. Ia memindahkan Nelson ke pangkuan Renatta lalu pergi dari sana.


*


*


"Ish! Oma! Nggak usah ada pingit-pingitan segala. Lagian aku bertemu dengan Renatta pun paling cuma dua jam tiga jam doang setiap harinya."


"Tetap aja, tradisi harus tetap dilaksanakan Regan."


"Yang nggak boleh, cuma ketemu kan Oma? Jadi kalau kirim pesan, boleh kan?"


"Ya nggak bisa juga dong, nanti ponsel kamu Oma sita."


"Menyebalkan sekali!"


"Nurut saja sama yang lebih tua. Pokoknya mulai dari besok, kalian tidak boleh bertemu."


Regan mengerucutkan bibirnya lalu pergi dari ruang keluarga ke kamarnya.


*


*


Regan menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Ia berbicara sendirian, menumpahkan keresahan hatinya.


"Kenapa harus ada pingit-pingitan segala sih? Udah tahu, dua jam tiga jam aja nggak cukup untuk ketemu Renatta. Sekarang aku harus tidak bertemu dengannya sampai hari pernikahan? Yang benar saja! Aku bisa gila karena rindu."


Regan berpindah posisi jadi tengkurap, ia menelpon Renatta, tapi tak ada jawaban sama sekali.


"Kemana sih dia? Masa iya jam segini udah tidur?"


Alhasil, Regan cuma bisa memainkan ponselnya saja. Menonton film animasi kesukaannya. Sambil terus menggerutu.


"Hari semakin dekat, bukannya semakin lengket ini malah semakin jauh. Kenapa juga harus ada tradisi seperti ini?"


"Huh!"


*


*


Hari telah berganti, Regan pergi ke kantor dengan wajah yang tak bersemangat, bagaimana tidak? Mulai hari ini, ponselnya sudah mulai disita oleh Oma nya. Bahkan untuk pergi ke kantor saja, sekarang harus diantar supir. Regan tak bisa pergi kemana pun kecuali cuma kantor saja.


Ozy yang memang sangat memahami Regan, langsung bisa menebaknya ketika melihat wajah masam Regan.


"Udah, jangan dipikirin. Selama masa pingitan. Anggap aja, ini ujian. Karena ketika nanti kalian saling melihat dan bertemu lagi, pasti rasa cinta dan rindu jadi bertambah besar dan membuncah. Di saat itu, pingitan itulah berfungsi untuk saling melepas rindu di malam pertama kalian. Aku juga mengalami hal seperti ini dulu."


"Tetap aja, tradisi seperti ini, bukankah terlalu kejam? Seolah-olah ingin memisahkan dia orang yang saling mencintai."


Ozy menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tak habis pikir dengan isi kepala Regan.


"Jangan lebai! Cuma dia Minggu ini kan? Kamu pasti bisa!"


"Entahlah, rasanya badanku jadi lemas! Sepertinya aku harus pergi ke rumah Renatta."


Ketika Regan akan melangkah pergi, Ozy langsung menariknya dan memasukkan Regan ke dalam ruangannya. Ozy memperlihatkan setumpuk dokumen yang harus Regan selesaikan sebelum mengambil cuti panjang pernikahan.


"Obati rasa rindumu dengan bekerja, dengan begitu, kamu tidak akan terlalu memikirkan tentang pingitan. Aku akan mengawasinya dari depan. Pokoknya semua dokumen tersebut harus udah selesai dalam minggu ini."


"Kamu tidak mau membantu? Ini terlalu banyak Zy!"


Ozy menggeleng.


"Terlalu sering aku membantumu, pokoknya harus kerjakan dengan teliti."


"Iya."


Ozy pun keluar dari ruangan Regan sambil tersenyum senang. Rupanya, ia juga diperintahkan oleh Oma Lina mengawasi Regan seharian di kantor. Memastikan Regan tidak pergi kemana pun.


*


*


Begitu juga dengan Renatta, kini wanita itu sudah dilarang untuk membuatkan makan siang dan mengantarkannya ke kantor. Hal tersebut atas perintah Papa Dewa dan Nesha. Rupanya kedua orang tersebut sudah kongkalikong dengan Oma Lina lewat telepon.


Renatta hanya bisa pasrah. Untung saja, meski cuma di rumah, ia masih bisa melakukan kegiatan lain ketika ponselnya disita. Apalagi ada Nelson yang jadi mainannya.


"Ingat ya, Nat. Jangan sesekali kamu masuk ke kamar kakak dan mengambil ponsel kamu."


"Iya kak, aku tidak akan melakukan hal tersebut. Tenang aja."


"Kenapa kakak malah jadi tidak percaya?" ucap Nesha.


"Ish!" Renatta jadi kesal dibuatnya.


*


*


TBC