Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
Bab 62 - Anak siapa sih?!



Di kamar hotel, Regan tersenyum senang karena akhirnya semua masalah Renatta dan masalah hubungan mereka sudah teratasi. Kini tinggal mendapatkan restu dari keluarga besarnya. Karena baik Mommy dan Daddy nya sudah setuju.


Regan mengingat lagi pertemuan pertamanya dengan papanya Renatta ketika mengantarkan wanita itu pulang ke rumahnya.


"Dia siapa Nat?" tanya Papa Dewa.


"Regan, Pa. Temen SMA aku dulu. Itu loh yang selalu juara satu di angkatan aku," ucap Renatta seraya mengingatkan papanya.


"Oh, yang itu. Kok bisa disini? Dia kerja disini juga?" tanya Papa Dewa yang penasaran.


Renatta mengikuti Regan untuk bicara langsung dengan Papa Dewa.


"Em, jadi begini Om. Saya ini sebelumnya adalah bos Renatta di perusahaan sebelum yang sekarang. Sebelumnya saya mau minta maaf karena mengantarkan Renatta pulang larut malam. Maksud dan kedatangan saya kesini ingin bicara sama Om. Kalau saya menginginkan Renatta jadi istri saya. Saya sudah melamarnya tadi, tapi rasanya kurang sopan kalau belum meminta restu juga dari Om."


Regan mengucapkan itu dengan kaki dan tangan yang gemetar. Rasanya menghadapi calon mertua seperti ini lebih sulit dibandingkan berhadapan dengan para kliennya.


"Benar begitu Nat?" tanya Papa Dewa memastikan ke Renatta.


Renatta mengangguk.


Papa Dewa tampak terdiam. Ia mencoba memikirkan semuanya. Renatta adalah putri yang sangat ia sayangi. Apalagi sejak bayi, Renatta diurus langsung olehnya. Mau ini dan itu, selalu ia kabulkan. Hanya karena peristiwa dituduhnya ia jadi narapidana saja yang ia tidak bisa memberikan kasih sayang dan nafkah yang utuh. Tapi ia tetap menginginkan putrinya mendapatkan laki-laki yang bertanggungjawab.


"Saya tidak mau menutupi aib keluarga saya di depan kamu. Saya adalah mantan narapidana, kakaknya Natta hamil di luar nikah. Dan kalau kamu memang dulunya satu SMA dengan Natta pasti kamu sudah tahu betapa buruknya sikapnya dulu. Apa kamu bisa terima?"


"Saya sudah tahu Om dan saya menerima itu semua."


"Tapi bagaimana dengan keluarga kamu? Apa mereka bisa menerima Renatta? Saya yakin pasti keluarga kamu orang yang terpandang. Saya tidak mau anak saya nantinya jadi makan hati jika bersama kamu meskipun kalian berdua saling mencintai. Karena sebuah pernikahan itu menyatukan dua keluarga bukan cuma kaliannya saja."


"Mommy dan Daddy saya sudah setuju Om. Bahkan mereka lah yang meminta saya untuk cepat-cepat melamar Natta."


Papa Dewa menghela napasnya. Sesungguhnya ia masih belum bisa melepaskan Renatta begitu saja kepada orang lain. Apalagi ia keluar dari penjara belum lama ini. Ia masih ingin memanjakan anaknya dan menebus semua kasih sayang yang hilang selama 8 tahun terakhir.


"Kalau keluarga kamu sudah setuju dan menerima semua kekurangan Natta dan keluarga kami. Saya bisa apa? Saya tidak bisa tidak menerima laki-laki yang anak saya cintai. Saya hanya berpesan satu hal sama kamu. Cintai dia, seperti kamu mencintai diri kamu sendiri. Jaga dia seperti kamu menjaga keluargamu. Jika suatu hari nanti kamu tak mencintainya lagi. Jangan sakiti dia, kembalikan saja pada saya. Saya akan dengan senang hati menerima anak saya kembali."


Renatta menangis mendengar ucapan tersebut dari mulut papanya. Ia pun langsung memeluk papanya.


"Jangan melakukan hal bodoh terus dengan mengorbankan diri kamu. Kamu harus bahagia. Papa terima lamaran dari Regan. Berbahagialah putriku."


Regan yang melihat kedekatan dan kasih sayang di antara ayah dan anak itu jadi terharu. Ia jadi merasa iri hati, apalagi dirinya dulu benar-benar tidak bisa dikatakan anak yang baik karena sering membantah ayahnya. Tapi sekarang, ia akan berusaha untuk mewujudkan keinginan papanya yaitu dengan memajukan dan memimpin perusahaan keluarga.


"Saya akan selalu ingat pesan-pesan dari Om. Saya tidak akan berjanji tapi saya akan berusaha untuk terus mencintai dan menjaga Renatta. Rencananya satu minggu lagi saya akan pulang ke Jakarta Om. Saya berniat untuk membawa Renatta dan mengenalkannya ke keluarga besar saya."


"Bawalah, dan jaga anak saya baik-baik, saya percaya kamu bisa menjaganya."


"Terima kasih Om."


Papa Dewa mengangguk. Kemudian mereka pun mengobrol dengan suasana yang sudah mulai akrab. Bahkan Papa Dewa menceritakan tentang dirinya yang hanya difitnah oleh rekan kerjanya ke Regan.


Dan ingatan itu berakhir, Regan tampak memikirkan cara untuk memulihkan nama baik Papa Dewa yang sudah dicap sebagai mantan narapidana. Melihat bagaimana sikap Papa Dewa ketika bertemu dengannya tadi, ia tahu kalau Papa Dewa hanya dijebak dan difitnah. Betapa malangnya nasib keluarga Renatta. Tapi ia akan berusaha untuk menjadikan keluarga Renatta tak dipandang sebelah mata.


"Aku akan berjuang untuk memulihkan nama baik papamu lagi Nat."


*


*


Keesokan harinya, Renatta bekerja seperti biasanya. Kini ia tak mendapatkan lagi tatapan sinis dari orang-orang dan bahkan banyak orang yang menyapanya. Renatta membalasnya dengan senyuman. Karena memang ia pun sedang berbunga-bunga.


Hal itu pun tak luput dari penglihatan Grace yang sudah tiba lebih dulu di perusahaan.


Renatta tampak memukul pelan lengan Grace. Ia benar-benar kesal karena Grace ikut andil dalam rencana Regan semuanya. Tapi ia dengan bodohnya malah tidak tahu apapun.


"Tega banget kamu nggak cerita kalau orang yang nolongin aku adalah Regan."


"Dia yang minta. Aku sih nurut aja. Lagian dia itu kelihatan tulus dan cinta banget sama kamu Nat. Ya walaupun agak ngeselin dan keras kepala sih! Tapi emang dia yang paling cocok sama kamu."


Pipi Renatta jadi memerah karena ucapan Grace.


"Sama-sama keras kepala," tambah Grace yang membuat Renatta jadi mengerucutkan bibirnya.


"Tapi aku jujur Nat, Regan benar-benar membuktikan rasa cintanya ke kamu, dia sampai rela membantu proses perceraian Gio supaya lebih cepat dan rela datang kesini. Padahal aku sudah melarangnya. Dapat darimana lagi coba laki-laki kaya dia. Baik dia ataupun kamu kalian sama-sama beruntung memiliki satu sama lain. Pokoknya aku akan selalu jadi pendukung utama untuk kamu."


"Thank you Grace," ucap Renatta dengan tulus dan memeluk Grace. Karena disaat butuh, Grace selalu ada.


"Sama-sama. Ya udah aku mau ke ruanganku dulu. Banyak kerjaan yang harus aku selesaikan hari ini."


Renatta melepas pelukan itu dan menatap punggung Grace yang mulai menghilang dari pandangannya. Ia pun duduk di tempatnya dan mendapatkan pesan dari Regan.


Selamat pagi calon istri ❤️ Semangat kerjanya.


Renatta tersenyum membaca pesan itu tanpa membalasnya.


*


*


Regan yang tak memiliki kegiatan apapun di kamar hotel, hanya bisa guling-guling di atas kasur. Apalagi ia tak mendapatkan ucapan selamat pagi balik dari Renatta.


"Ih, ngeselin banget! Dibaca tapi nggak dibales. Nggak tahu apa kalau aku lagi nunggu-nunggu balasannya."


Yang ditunggu siapa yang memberi kabar siapa. Regan mendengus sebal ketika yang memberikan kabar adalah Mommy nya.


Gimana? Kamu udah berhasil mendapatkan Renatta kembali?


Regan pun membalas pesan Mommy Jessie.


Udah Mom. Tenang aja. Udah direstui juga sama Papanya. Nanti aku jadi pulang ke rumah bawa Renatta seminggu lagi.


Tak berselang lama, Mommy Jessie membalas pesan Regan lagi.


Gimana cara kamu melamar Renatta?


Regan membalas lagi sesuai kenyataan yang ada.


Berteriak sambil bilang wanita jahat, menikahlah denganku. Begitu Mom.


Mommy Jessie yang membaca pesan itu langsung membulat matnya.


Astaga! REGAN! KAMU INI MELAMAR ANAK ORANG KENAPA NGGAK ADA ROMANTIS-ROMANTISNYA SIH? KASIH CINCIN KEK, ATAU APA KEK! BENER-BENER YA KAMU! ANAK SIAPA SIH?!


Padahal itu cuma pesan. Tapi Regan bisa merasakan pengang di telinganya seakan-akan Mommy Jessie mengomelinya dan memukul lengannya di depan dirinya.


*


*


TBC