Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
Bab 91 - Tante Dewi dan Amanda bertemu



Beberapa hari setelahnya, Amanda dan Tante Dewi akhirnya bertemu ketika mereka makan siang. Amanda begitu terkejut ketika mamanya sendiri memakai pakaian yang sama dengan dirinya. Ia sampai menepuk pipinya untuk menyadarkan diri. Tapi ternyata, terasa sakit, yang artinya bukanlah mimpi.


Amanda menaruh makanannya di meja, kemudian menghampiri mamanya yang tampak mematung ketika bertemu anaknya. Sejujurnya, Tante Dewi selalu menghindar, supaya tidak berpapasan dengan Amanda ketika makan siang, biasanya ia selalu menghindar, tapi kenapa sekarang malah bertemu?


"Ma, ngapain disini? Kenapa mama memakai seragam seperti aku juga? Apa yang terjadi, Ma? Apa Renatta sudah mati?"


Tante Dewi hanya diam saja.


"Ma jawab!" teriak Amanda yang sudah tidak sabar ingin mendengarkan penjelasan. Pantas saja, selama beberapa hari terakhir ini, mamanya tak pernah lagi mengunjunginya. Rupanya inilah alasannya.


Karena tak kunjung menjawab, Amanda sampai memegang bahu mamanya dan menggoyangkan.


"Renatta masih hidup, cuma kakinya mengalami patah tulang. Regan menjebloskan mama kesini."


Tante Dewi akhirnya menjawab juga.


Amanda berteriak histeris dan mengacak-acak rambutnya sampai berantakan. Ia bahkan sampai terduduk di lantai saking tak percayanya. Padahal ia sudah sangat berharap sekali. Tapi, kenapa tak ada satu pun yang sesuai dengan harapannya?


Tiba-tiba orang yang biasanya menindas Amanda pun datang. Dia merasa terganggu dengan teriak Amanda dan langsung menarik rambut Amanda dengan kerasnya.


"Aw, aw!" Amanda berteriak kesakitan.


"Kamu jangan banyak bertingkah disini! Sudah aku bilang, jadilah penurut dan jangan menggangguku!"


Tante Dewi yang melihat itu pun langsung memarahi wanita yang ada di hadapannya.


"Lepaskan tanganmu dari putriku!" teriaknya.


Si perundung tersenyum kecut sambil menatap ke Tante Dewi tanpa melepaskan tangannya dari rambut Amanda.


"Ow, ternyata kalian ibu dan anak. Luar biasa sekali! Bisa sama-sama ada di dalam penjara!"


"Lepaskan, aku bilang!"


Bukannya melepaskan, si perundung itu malah semakin menarik rambut Amanda sambil Amanda menjerit lagi.


Karena tak ingin anaknya disakiti, Tante Dewi melawan si perundung itu ingin mendorongnya ke belakang. Tapi, malah dirinya sendiri yang terdorong sampai terduduk di lantai.


"Ingat! Disini akulah yang berkuasa. Kalau kalian masih ingin hidup, jangan mengganggu ketenangan ku!"


Di perundung melepaskan tangannya dari rambut Amanda dan mendorong Amanda ke ibunya. Kemudian dia pergi dari sana.


Tante Dewi langsung bangun dan mengkhawatirkan Amanda. Ia memastikan tak ada luka di tubuh Amanda dengan menyentuhnya.


"Kenapa kamu nggak pernah bilang, kalau disini ada orang seperti dia? Kenapa kamu harus bohong dengan mengatakan kamu baik-baik aja?" tanya Tante Dewi yang khawatir.


Amanda cuma diam aja, dan berusaha berdiri sendiri.


"Ma, kita harus bicara."


Tante Dewi pun mengikuti Amanda pergi ke lorong. Disana tak ada seorang pun yang lewat, jadi keduanya bisa bicara dengan nyaman satu sama lainnya.


"Kalau mama tertangkap, lalu siapa yang melanjutkan balas dendam ku?"


Tante Dewi hanya terdiam. Ya, jawabannya pasti tidak ada. Karena mereka tak memiliki siapapun lagi.


Amanda kesal dan ingin marah. Tapi, sangat tidak mungkin ia melampiaskan pada sang mama.


"Lalu gimana dengan orang suruhan mama itu? Apa mereka tertangkap juga?"


Lagi-lagi Tante Dewi hanya terdiam.


Amanda tak lagi bisa berkata-kata, ia melampiaskan amarahnya ke tembok dengan memukulnya sekuat tenaga.


"Manda!" teriak Tante Dewi yang takut tangan Amanda terluka.


"Kalau seperti ini jadinya, aku tidak bisa hidup tenang Ma. Aku tidak mau Renatta bahagia. Aku ingin dia menderita. Aku tidak bisa terima kalau dia sampai menikah dengan Regan! Pokoknya aku tidak rela!"


Tante Dewi mengusap punggung Amanda untuk menenangkan amarahnya.


"Nanti kita pikirkan bagaimana caranya. Intinya salah satu dari kita harus bisa keluar dari sini," ucap Tante Dewi.


"Ya, tapi gimana caranya Ma?" tanya Amanda yang tidak bisa memikirkan cara apapun.


Tante Dewi pun tidak tahu caranya, ia hanya asal berucap saja.


Di saat keduanya masih berbincang-bincang, para polisi penjaga sudah memerintahkan untuk kembali ke sel masing-masing karena jam makan siang telah selesai. Keduanya pun harus berpisah disana.


*


*


Ketika Regan berhenti berenang, ia keluar dari kolam renang dan menghampiri Renatta dan duduk di kursi sebelahnya.


Renatta memberikan handuk kecil ke Regan untuk mengeringkan rambutnya. Tapi dasarnya manja, Regan malah ingin Renatta lah yang mengeringkan rambutnya.


Untungnya, tangan Renatta yang patah tulang itu sudah sembuh, berbeda dengan kakaknya yang masih dalam proses penyembuhan.


"Dasar manja! Kalau begini jadinya, aku seperti mengurus bayi besar."


Regan terkekeh pelan sambil terus menikmati wajah Renatta yang cantik natural.


"Kamu kan pernah bilang, kalau kamu tidak bisa berenang, nanti kalau sudah sembuh, akan aku ajarin sampai bisa."


"Janji ya? Nggak boleh bohong?"


"Janji!"


Renatta tersenyum.


Tiba-tiba Oma Rasti pun datang dengan membawakan cemilan dan minuman untuk keduanya.


"Aduh Oma, tidak usah repot-repot membawakan ini," ucap Renatta yang tidak enak.


"Tidak apa-apa," jawab Oma kemudian duduk di samping Renatta.


"Gimana kaki kamu? Sudah bisa digerakkan?" tanya Oma Lina.


"Bisa sedikit Oma. Melangkah pun masih belum seimbang, kadang aku masih terjatuh juga," jawab Renatta jujur.


"Percayalah, kalau kamu mengikuti kata dokter dan melakukan terapi rutin tiap minggunya. Pasti kamu bisa berjalan normal kembali. Oma benar-benar tidak sabar menunggu hari bahagia kalian tiba."


"Iya Oma, terima kasih. Ngomong-ngomong Oma mau kemana? Kenapa berpakaian rapih sekali?"


Renatta sedikit heran, karena biasanya kalau di rumah saja Oma Lina tidak akan memakai pakaian yang rapih paling cuma kaos saja.


"Oma mau ke kantor polisi. Oma ingin menanyakan sesuatu ke Amanda."


Regan yang mendengar itu, matnya langsung membulat sempurna. Ia bahkan langsung melarang Oma Lina untuk pergi.


"Buat apa sih Oma? Dia sudah menjahati Oma! Ngapain Oma kesan? Yang ada dia malah senang, karena berpikir kalau Oma masih mendukungnya! Oma di rumah aja jangan kemana-mana!"


Di saat Regan melarang, Renatta justru malah membaurkan Oma Lina untuk pergi.


"Kalau memang ada sesuatu yang ingin Oma tanyakan. Lebih baik memang Oma tanyakan. Karena rasa ketidakjelasan dan ketidaktahuan itu tidak enak Oma. Lebih baik tahu alasan. Pergilah Oma, tolong sampaikan juga, aku akan segera mengunjunginya jika sudah bisa berjalan."


Oma Lina tersenyum karena Renatta berpikiran hal yang sama dengannya.


"Baiklah, nanti akan Oma sampaikan."


Oma Lina pun berdiri dan meninggalkan mereka berdua disana. Regan lalu menatap tidak suka ke Regan. Bahkan Regan sampai menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Kenapa kamu malah membiarkan Oma mengunjungi Amanda?"


"Aku hanya ingin Oma tidak bertanya-tanya dalam pikirannya akan sesuatu yang ingin dia tahu. Lebih baik mendapatkan penjelasan sejelas-jelasnya daripada tidak tahu apapun. Di dunia ini ada banyak jenis orang Regan. Ada orang yang lebih baik tidak tahu apa-apa daripada sakit hati. Tapi ada juga orang yang lebih baik sakit hati daripada tidak tahu apapun. Dan Oma memilih untuk tahu, dan membiarkan hatinya untuk sakit. Kamu pikir aja sendiri, Oma dan Amanda pasti sudah sangat dekat. Tapi tiba-tiba Amanda melakukan sesuatu yang menyakiti Oma. Pasti hati Oma sakit, tapi di hatinya juga masih ada rasa sayang. Mungkin Oma ingin memastikan itu semua. Ini sih cuma tebakanku saja."


Renatta mengatakan apa yang ada di kepalanya mengenai pikiran Oma Lina. Ia mencoba untuk memberikan Regan pengertian..


"Meski begitu, tetap saja aku tidak ingin Oma bertemu dengan Amanda lagi!Aku tidak ingin Oma dihasut lagi!'


Renatta mengelus pundak Regan untuk menenangkannya.


"Kalau seperti itu pikiran kamu, berarti kamu tidak percaya pada Oma mu sendiri. Kita lihat saja ketika Oma pulang nanti. Dia kan tersenyum atau bersedih."


Regan mendengus sebal, Renatta seolah ingin mengajaknya untuk bertaruh. Karena tak mau perdebatan itu jadi panjang, Regan berdiri dan menceburkan dirinya ke kolam renang lagi.


Renatta hanya geleng-geleng kepalanya saja. Ia jadi merasa, ia mengeringkan rambut Regan percuma saja karena akan basah lagi.


*


*


TBC