
Hari telah berganti, suara mesin fotokopi di tempat kerja begitu terdengar. Renatta sedang duduk menunggu disana sambil melihat karyawan lain yang berlalu lalang, ada juga yang sedang berkoordinasi tentang pekerjaan mereka. Selama bertahun-tahun ia bekerja disana, tak ada satu pun orang yang jadi temannya. Mereka kenal sebatas kenal karena keperluan pekerjaan, untuk hal lainnya. Tak ada satu pun yang mau mengajak Renatta berteman. Ketika dulu ia pernah mendekat pun merekanya yang menghindar. Jadinya, Renatta sudah terbiasa seperti itu hingga sekarang. Bedanya sekarang ia punya teman seperti Ozy dan orang yang mendengarkan keluh kesahnya yaitu Regan.
Seakan-akan kehidupannya berubah ketika adanya Regan di perusahaan. Tapi, juga membawa banyak sekali masalah-masalah baru di hidupnya. Untungnya, dibalik masalah itu semua, ada sebuah kebahagian yang datang padanya. Sesuatu yang tak pernah ia sangka dan duga. Terkadang ia masih menyangka semuanya hanyalah mimpi. Tapi mengingat ia dan Regan yang selalu bersama dan tak sinis seperti dulu. Ia sadar semuanya memanglah nyata.
Mesin fotokopi pun berhenti. Renatta mengambil berkasnya dan membawanya ke tempat kerjanya. Menyusun berkas itu dan menstaples nya sesuai urutan untuk dibawa ketika meeting nantinya.
Tak lama kemudian Regan keluar dari ruangannya dan mengajak Renatta untuk ke ruang meeting dan menyiapkan segala sesuatu untuk keperluan meeting nantinya. Renatta pun menurut dan berjalan di belakang Regan.
Sesampainya mereka di ruang meeting, Renatta meletakkan file nya di depan meja untuk satu per satu orang yang akan ada disana. Regan kesana hanya untuk menemani Renatta, selama di kantor ia harus seprofesional mungkin kecuali di ruang kerjanya dan di ruang tertutup seperti sekarang.
Regan bangkit dari duduknya dan memeluk Renatta dari belakang.
"Ih, Regan! Lepasin! Kalau ada orang yang masuk gimana coba?" pekik Renatta yang takut semua orang akan tahu hubungan mereka. Pasti yang ada dirinya akan dikata-katai wanita penggoda. Bisa-bisanya orang biasa mendapatkan orang terpandang seperti Regan.
"Kenapa sih? Orang belum ada yang datang pun. Meeting masih 20 menitan lagi. Masih ada waktu Nat. Lagian tadi aku juga terlalu sibuk mengurus pekerjaanku, kamu juga begitu."
Renatta melepaskan pelukan Regan dan membalikkan tubuhnya untuk saling berhadapan dengan Regan.
"Iya namanya juga kerja ya kita sama-sama sibuk. Tapi kan kalau di rumah tidak," ucap Renatta.
Regan mendengus sebal lalu melingkarkan tangannya lagi di pinggang Renatta.
"Selagi ada waktu untuk bermesraan kita tak boleh menyia-nyiakan itu Nat. Hubungan yang dirahasiakan begini sangat memicu adrenalin. Aku jadi selalu ingin melakukan ini dan itu."
Tiba-tiba wajah Regan perlahan-lahan mendekat ke wajah Renatta. Wajah mereka sudah dekat sekali, tapi ketika akan menempelkan bibirnya, tiba-tiba.
Ceklek!
Pintu ruangan meeting terbuka. Regan dan Renatta refleks langsung melihat ke arah pintu dan melihat siapa yang datang.
"Upsss! Sorry!"
Ozy masuk tanpa permisi. Ia pun merasa jadi serba salah. Apalagi ia ditatap dengan tatapan tajam oleh Regan. Sepertinya ia memang datang di waktu yang tidak tepat. Sementara Renatta sedikit memalingkan wajahnya karena malu.
"Silahkan dilanjutkan lagi, aku akan keluar dan berjaga di depan supaya tidak akan ada yang masuk dulu ke dalam."
Ozy keluar dan langsung menutup pintunya.
Renatta menatap Regan dengan sedikit kesal.
"Kan aku bilang juga apa. Pasti akan ada yang masuk. Untung saja Ozy, kalau orang lain bagaimana?"
"Cerewet banget sih, kalau orang lain yang tahu, ya udah biarin aja," ucap Regan dengan entengnya.
Lagi-lagi Regan menarik Renatta untuk kembali bertatapan dengannya. Kali ini ia berhasil mencium bibir Renatta meski cuma sekejap saja.
Kemudian ia memberikan senyum manis ke Renatta.
"Yang lebih panasnya nanti sepulang kerja aja."
Regan pun melepaskan tangannya dari tubuh Renatta dan melayangkan flying kiss ke Renatta dan keluar dari ruangan meeting.
Rupanya Ozy benar-benar menunggu di luar ruangan, Regan menepuk pundak Ozy dan mengajaknya untuk pergi bersamanya.
"Mau kemana? Meeting sebentar lagi mau dimulai."
"Ke ruanganku, ambil laptop."
"Ye, tinggal ambil sendirilah," tolak Ozy.
Namun tatapan tajam dari Regan tak mampu Ozy bantah. Mau tak mau ia pun mengekor di belakang Regan.
Sementara di ruangan meeting, Renatta hanya bisa geleng-geleng kepala. Regan yang dulu dikenalnya dan yang sekarang sangat berbeda sekali sikapnya.
Waktu jam meeting pun tiba, semua orang yang ada di ruangan mendengarkan dengan seksama apa yang dipresentasikan oleh Regan. Bahkan mereka semua memberikan tepuk tangan ketika Regan telah selesai mempresentasikan proyek mereka.
"Pesan online aja Nat, kali ini aku tidak bisa menemani kamu keluar. Banyak sekali berkas yang harus aku baca dan pelajari. Aku tidak bisa istirahat atau keluar dari ruanganku."
"Tidak mau, aku lagi mau makan makanan disana."
"Ya udah, minta seseorang aja untuk beli, kamu disini temani aku saja," pinta Regan.
"Aku masih bisa beli sendiri Re. Tidak usah meminta orang lain. Kamu tunggu aja di ruangan kamu. Nanti aku akan datang dengan membawa makanan. Lagipula kan tidak jauh, cukup nyebrang aja. Kalau pesan online harganya lebih mahal."
"Ya udah deh, terserah kamu aja Nat. Tapi hati-hati nyebrang nya ya," ucap Regan meminta Renatta berhati-hati karena takut Renatta kenapa-kenapa.
"Iya tenang aja," ucapnya sambil tersenyum. Kemudian Renatta pun pergi meninggalkan ruangan Regan.
Regan sebenarnya tak ingin Renatta keluar sendirian. Tapi mau gimana lagi, ia memang tak bisa menemani Renatta.
*
*
Renatta keluar dari gedung perusahaan Regan. Ia berdiri di pinggir jalan sambil menunggu kendaraan yang lewat lumayan sepi. Ketika sudah tak rame-rame sekali, Renatta langsung menyebrang dan berjalan menuju ke restoran yang ingin ditujunya. Ia memesan dua menu makanan disana. Lalu menunggu di kursi yang disediakan.
Sambil menunggu, Renatta memainkan ponselnya. Ia sengaja ber-selfie disana untuk nantinya dikirimkan ke Regan. Ternyata di dalam foto selfie nya itu, ada satu orang yang entah siapa terambil gambarnya juga yang berada di belakang Renatta.
Renatta mengirimkan hasil selfie-nya ke Regan dengan sebuah pesan.
Calon tunanganmu sedang menunggu pesanan. Mungkin sekitar 15 menit lagi udah selesai dibuat. Jadi mohon ditunggu ya, hihi.
Setelah mengirimkan pesan itu, Renatta menaruh ponselnya di saku pakaiannya. Namun, ponselnya bergetar tanda ada pesan masuk, Renatta sudah menduga kalau pesan itu dari Regan tapi ternyata bukan. Pesan itu berasal dari Devan.
Apa siang ini kamu makan bersama Regan? Kalau tidak, bisa kita bertemu?
Pesan tersebut langsung dibaca oleh Renatta, tapi sengaja tak ia balas. Renatta malah langsung menelpon Devan.
"Makan siang barengnya lain kali aja ya Dev. Hari ini aku makan siang bareng Regan di kantor. Terus pekerjaanku juga banyak sekali."
"Ah, begitu, baiklah Nat. Sebut saja kamu bisanya kapan."
"Tapi aku harus izin dulu ke Regan, takutnya dia cemburu."
Terdengar tawa kecil dari Devan ketika Renatta mengatakan hal tersebut.
"Aku lupa, kamu sekarang sudah punya pasangan. Baiklah, minta izinlah dulu ke Regan. Kalau dia tidak mengizinkan untuk kamu pergi berdua saja denganku, ajak aja dia sekalian."
"Ide bagus. Sudah dulu ya Dev, aku lagi menunggu antrian dipanggil ini."
"Baiklah."
Sambungan telepon pun akhirnya terhenti. Renatta memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku pakaiannya. Renatta berpikir mungkin Regan sedang tak memegang ponselnya. Makanya tak membalas pesannya.
"Atas nama Renatta," panggil si pelayan kasir.
Renatta pun langsung menuju ke depan dan membawa pesanan nya. Ia berdiri lagi di pinggir jalan sambil menengok kanan dan kiri karena memang jalan disana bukan satu arah. Ketika sudah terlihat sepi, Renatta segera menyebrang jalan.
Tiba-tiba ada sebuah motor yang melaju dengan sangat kencang. Renatta bahkan tak bisa menghindar saking cepatnya hingga.
Brakkkkk!
Kecelakaan pun terjadi.
*
*
TBC