
Esok harinya, Regan dan Renatta pulang ke rumah keluarga Regan. Rencananya disana akan menginap selama seminggu, di rumah Papa Dewa pun seminggu. Setelah itu mereka akan tinggal di apartemen Regan sampai rumah yang sedang Regan bangun selesai.
Kehadiran Renatta disambut dengan senyuman manis oleh Mommy Jessie dan Oma Lina. Bahkan Regan sampai merasa terasingkan ketika ada Renatta. Ia merasa jadi anak yang terbuang.
"Mom, Oma, ada aku disini loh? Kalian tidak menyambut ku juga?" ucap Regan.
"Kamu siapa?" ucap Mommy Jessie dan Oma Lina bersamaan.
Regan mengerucutkan bibirnya karena tidak dianggap. Sementara Renatta tertawa kecil karena Regan merajuk. Tapi, di dalam hati Regan, ia benar-benar bahagia, karena orang yang disayanginya diterima dengan baik di keluarganya.
"Nat, gimana selama hampir 3 hari di hotel? Apa kalian menikmatinya?" tanya Mommy Jessie.
Renatta tak menjawab. Ia malah malu-malu kucing dan memerah pipinya. Yang ia ingat ketika di hotel ya, yang anu-anu bersama Regan. Mana mungkin hal seperti itu ia ceritakan ke Mommy Jessie dan Oma Lina.
"Mommy nih, kepo banget sih jadi orang, sudah jelas lah menikmatinya. Apalagi kita bisa melakukan apapun yang kita mau tanpa adanya gangguan."
Regan lah yang menjawab pertanyaan itu karena Renatta tak kunjung menjawabnya.
"Sudah ya para ibu-ibu, aku mau bawa istriku ke kamar dulu. Kami berdua sangat lelah, ingin istirahat di kamar."
Regan membawa Renatta pergi dari dua ibu-ibu yang penuh kekepoan itu.
Saat berada di kamar, Regan mendudukkan Renatta di ranjang.
"Kamu jangan keseringan mengobrol dengan Mommy dan Oma. Lama-lama kamu ikutan jadi tukang gosip. Apalagi yang kalian gosipkan pasangan kalian sendiri. Pokoknya jangan!" larang Regan.
"Lah, kok ngelarang? Terserah aku dong!"
"Nurut aja sayang."
"Hm."
Muach
Regan mencium bibir Renatta tanpa aba-aba.
"Kebiasaan banget deh, sukanya nyosor tiba-tiba."
"Salah sendiri, kenapa bibir kamu kaya minta dicium terus."
"Emang bibir bisa ngomong?" tanya Renatta yang keheranan.
"Ya intinya, aku tahu bahasa bibir kamu."
"Heleh!"
"Hehe."
Renatta geleng-geleng kepalanya melihat tingkah Regan itu. Apalagi sekarang ditambah Regan yang bermanja padanya, meminta dielus kepalanya, seperti anak kucing aja. Tapi, Renatta bersyukur, karena Regan hanya menunjukkan sisi manjanya di depannya saja. Sementara di depan orang lain, ia akan terlihat garang.
Renatta tersenyum senang.
"Terima kasih sudah mencintai aku sebesar ini. Mari kita saling menjaga cinta ini agar tetap utuh," ucap Renatta.
"Tanpa kamu ngomong seperti itu pun, aku memang akan selalu menjaga cinta kita. Susah payah aku dapatin kamu. Melewati segala macam rintangan. Kalau akhirnya kandas, untuk apa?"
Renatta tak menanggapinya lagi. Ia hanya mengelus kepala Regan dengan lembut sampai akhirnya Regan malah tertidur.
"Terima kasih sudah membawa aku keluar dari kehidupan burukku dan menerima aku apa adanya. Entah apa jadinya, kalau kita tidak pernah bertemu lagi. Aku benar-benar bersyukur Tuhan mempertemukan kita lagi dan menjadikan kita sebagai pasangan suami istri. I love you my husband."
*
*
Waktu terus berlalu, seminggu sudah dilalui Renatta dan Regan di rumah keluarga Regan, kini gantian menginap di rumah Papa Dewa. Setiap malamnya, selalu terdengar suara bayi yang menangis. Awalnya Regan merasa terganggu karena tak biasa, tapi lama-lama ia terbiasa juga. Bahkan Nesha sedikit memberikan wejangan ke Regan.
"Itung-itung kamu belajar jadi seorang ayah, bantu kakak jagain Nelson sama Natta. Nanti kamu pun akan merasakan seperti ini kalau punya anak nantinya. Bangun tengah malam, karena mendengar tangisan anak. Mulai paham apa yang membuat anak menangis, bisa karena lapar, pengen pup atau karena sakit juga. Jadi, kalian belajarlah dari sekarang."
Regan hanya mengangguk saja. Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepala Regan.
Nesha menggeleng.
"Untuk saat ini, aku sedang tks ingin berhubungan dengan pria lagi. Aku ingin fokus membesarkannya saja. Aku juga belum siap menjalin hubungan baru, aku takut dikecewakan lagi yang akhirnya aku akan terluka. Lebih baik begini."
"Tapi kalau berubah pikiran, kakak bisa hubungi aku."
Nesha mengangguk lalu pergi ke dapur untuk menyeduh susu untuk diminumnya supaya Nelson menerima asupan yang bergizi juga dari ASI-nya.
Sementara Regan dan Renatta bermain bersama Nelson yang masih anteng berada di gendongan Regan. Memang jika dilihat dari cara Regan menggendong, sudah cocok sekali jadi seorang ayah.
*
*
Waktu terus berlalu, seminggu sudah Regan dan Renatta tinggal di rumah Papa Dewa. Mereka pun kembali ke apartemen Regan untuk hidup berdua. Sebelum memulai hidupnya, Renatta ingin mengunjungi Amanda untuk terakhir kalinya, ia ingin bicara dari hati ke hati dengan Amanda. Awalnya Regan menolak rencana Renatta itu, tapi karena bujuk rayu Renatta yang tak bisa ia tolak, Regan pun akhirnya mengizinkan.
Mereka berdua pergi ke kantor polisi, Regan menunggu di luar sementara Renatta di dalam untuk mengobrol dengan Amanda.
Kehadiran Renatta tak disambut baik dengan Amanda, malah ditatap dengan sinis oleh Amanda.
"Mau apa kamu kesini? Mau menertawakan aku? Karena sudah menderita seperti ini? Kamu pasti senang kan?"
Renatta menggeleng pelan.
"Aku tidak senang Manda. Aku datang untuk berdamai. Aku ingin kamu melepaskan semua dendam dan kebencian itu. Tak ada gunanya Manda," pinta Renatta.
"Omong kosong! Damai katamu? Aku tidak mau! Aku masih benci sama kamu! Aku benci karena kamu punya segalanya! Aku benci karena kamu selalu disanjung orang-orang bahkan sampai ditakuti. Sementara aku? Aku hanya orang biasa yang kebetulan jadi anak sambung dari keluarga kaya dahulu. Tapi sekarang? Aku kembali lagi jadi orang biasa. Aku iri padamu! Kenapa kamu harus hidup seenak itu?"
Amanda menumpahkan segala isi hatinya di depan Renatta. Wanita itu sudah tak bisa lagi menyembunyikannya.
"Tapi, kamu juga tahu, aku pernah berada di titik paling rendah ketika papaku ditangkap polisi. Bahkan aku pun di-bully dan tak memiliki teman sama sekali."
"Kamu tahu? Di saat itulah, aku memiliki celah untuk merebut semua yang kamu inginkan. Sayangnya, aku baru bisa mencapainya setelah 8 tahun berlalu. Tapi apa yang terjadi sekarang? Semuanya gagal total! Kenapa kamu dan Regan harus saling jatuh cinta? Hal tersebut tidak pernah terpikirkan olehku! Aku berpikir kamu akan terus patah hati karena Devan aku rebut darimu. Sampai aku menceraikan Devan, dan kamu jadi semakin patah hati. Tapi semua rencana itu sirna, karena kalian jatuh cinta. Kalian terlihat sangat bahagia satu sama lainnya. Aku benci itu! Karena aku tak pernah mendapatkan cinta seperti itu sampai membuat aku bahagia!"
Kali ini Amanda meneteskan air matanya. Ia benar-benar mengeluarkan semua emosinya di depan Renatta.
"Kamu salah Manda. Kamu pernah mendapatkan cinta tulus itu. Tapi kamu sendiri yang mengabaikannya. Kamu mendapatkan cinta tulus dari Regan dan Devan dalam waktu bersamaan. Seharusnya kamu menerima cinta tulus itu dengan tulus juga."
Seketika Amanda teringat dengan Devan. Laki-laki itu selalu sabar menerima dirinya. Bahkan tak pernah sekalipun membentaknya kecuali jika sedang dibandingkan dengan Regan.
Amanda semakin menangis. Ia menyadari semua kesalahannya. Ia sadar ketika sudah dalam kubangan dosa dan rasa bersalah. Amanda bahkan sampai menutup wajahnya karena tak ingin Renatta meledeknya.
"Manda, orang baik itu punya masa lalu, dan orang jahat pun berhak memiliki masa depan. Maka dari itu, aku mohon kamu berubah untuk diri kamu sendiri. Setidaknya kamu mulai introspeksi diri dan jangan terus menyalahkan orang lain atas tindakan kamu sendiri. Aku sudah melupakan semua kesalahan yang kamu lakukan dan sudah memaafkan mu juga. Aku tahu aku juga memiliki salah sama kamu. Karena aku ingin hidup dengan suasana hati yang baru, tanpa adanya beban pikiran. Aku harap, kamu pun begitu. Tetap jaga kesehatan disini ya. Terima kasih, karena kamu, aku mendapatkan pelajaran hidup yang banyak sekali. Mengajarkan aku untuk tetap kuat dan kokoh menjalani hidup. Selamat tinggal Manda, ucapkan salam dariku untuk Tante."
Ketika Renatta berdiri dan hendak pergi, Amanda mencegahnya.
"Kenapa? Kenapa sampai akhir pun kamu tidak marah dan benci padaku? Kenapa Nat? Seharusnya kamu marah dan lampiaskan semuanya padaku! Huhu! Aku benci kamu! Aku benci kamu yang sekarang terlalu baik! Aku benci!"
Renatta menghela napasnya.
"Kebencian hanya akan menghancurkan kita secara perlahan-lahan. Tidak baik untuk dipelihara."
"Tapi tetap saja kamu harusnya benci aku Nat!"
"Aku memang pernah membenci kamu tapi itu dulu. Setelah beberapa kejadian buruk menimpaku, aku selalu berpikir kalau itu semua adalah karma yang aku terima dari perlakuan burukku. Bahkan, aku merasa seolah tak pantas untuk hidup bahagia. Tapi seiring berjalannya waktu, kalau aku terus memupuk benci tersebut, rasanya hatiku tidak nyaman, makanya aku selalu mengemis permintaan maaf padamu dulu supaya hatiku tenang dan hidupku terasa damai. Kumohon, jangan benci siapapun lagi, Manda."
Renatta hendak keluar lagi, tapi terhenti lagi, karena mendengar ucapan maaf dari Amanda.
"Maafkan aku Nat, maaf. Aku benar-benar salah," ucap Amanda dengan penuh tangisan.
Setelah mendapatkan maaf dari Amanda, hatinya jadi lega. Renatta pun pergi keluar dari sana dengan sebuah senyuman.
*
*
TBC