Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
Bab 101 - Terima kasih sayang



Semua masalah hati dan beban pikirannya sudah selesai. Renatta menjadi lega dan siap menjalani hidupnya yang baru bersama pasangan hidupnya. Regan, laki-laki cinta pertamanya yang jadi cinta terakhirnya juga.


"Gimana? Apa Amanda menyakiti kamu di dalam?" tanya Regan dengan kekhawatiran yang terlihat jelas dari wajahnya.


Renatta menggeleng pelan.


"Semuanya sudah selesai. Aku dan dia sudah berdamai. Aku sudah lega sekarang. Ayok kita pulang," ajak Renatta.


"Baguslah kalau begitu, aku berharap kali ini Amanda benar-benar bisa berubah."


"Aku yakin kali ini dia memang berubah."


Renatta menggenggam tangan Regan dan berjalan beriringan keluar dari kantor polisi.


*


*


Sesampainya di apartemen, Renatta benar-benar memperlihatkan senyum sumringahnya. Ia akan membuat kehidupan bahagia bersama orang yang dicintainya. Bahkan, yang biasanya Regan yang memulai, kini Renatta duluan lah yang menggoda Regan.


"Sayang, ini masih sore loh, jangan salahkan aku kalau aku tergoda. Salah sendiri kamu nakal sekarang."


Renatta hanya senyum-senyum kemudian mencium bibir Renatta duluan. Regan sempat terkejut dan tak percaya. Tapi ia malah menyambut baik ciuman Renatta itu. Ia bahkan membiarkan Renatta untuk memimpin permainan mereka di sore itu.


Pasangan tersebut saling berbagi keringat dan cinta satu sama lain sampai akhirnya mendapatkan kepuasan masing-masing.


"Rasanya, mencintai kamu itu selalu punya kejutan yang tak terduga Nat. Aku selalu menantikannya. Tetap seperti ini, jangan pernah berubah. Aku sangat mencintaimu sayang."


Regan mengecup kening Renatta kemudian memeluk tubuh Renatta yang sudah polos itu. G*irahnya naik lagi, dan mereka pun melakukan hubungan panas lagi di atas ranjang itu.


*


*


Enam tahun kemudian, Regan dan Renatta sudah dikaruniai dua anak. Anak pertama mereka berjenis kelamin laki-laki dengan usia 5 tahun bernama Reviano Artajasa dan anak kedua mereka berjenis kelamin perempuan berusia 3 tahun bernama Revani Artajasa. Kedua anaknya itu tak pernah akur sama sekali. Cara mereka berdua saling menyayangi adalah dengan berantem. Apalagi si kecil Revani yang begitu jahil dengan kakaknya.


"Mom, kakak jahat! Dia ngerusakin mainan Vani," adu Revani pada Mommy nya. Si kecil Vani ini, sudah pandai bicara, bahkan dari usia dua tahun saja, dia sudah lancar berbicara.


"Benar kakak yang ngerusakin? Bukan kamu kan yang mulai duluan?"


Revani mengerucutkan bibirnya karena tak mendapatkan dukungan dari Mommy nya. Sebenarnya bukannya tak mau memberi dukungan, hanya saja Renatta paham betul bagaimana sikap kedua anaknya itu, adiknya yang selalu mengganggu membuat kakaknya kesal dan berakhir dengan salah satunya yang kalah. Dan itu pasti adalah Revani.


"Mommy selalu gitu, Vani nggak mau sama Mommy! Mau sama Daddy aja!" cicitnya.


"Kenapa sayang? Kenapa nggak mau sama Mommy?" tanya Regan yang tiba-tiba dipeluk kakinya oleh Revani.


"Mommy selalu belain kakak, Vani kan juga mau dibelain," adunya.


Regan memposisikan tubuhnya untuk jongkok di depan putri kesayangannya itu. Mengelus rambut panjang sebahu putrinya itu dan menasehatinya.


"Kalau kamu nggak mau sama Mommy, nanti siapa yang masak untuk kita bertiga? Vani kan tahu sendiri kalau Daddy nggak bisa masak. Jadi, jangan pernah bilang seperti itu lagi ke Mommy. Mommy tidak membela kakak kamu. Mommy cuma membela yang benar. Kamu paham kan sayang?"


Revani masih mendengus tak mau berdamai. Sampai akhirnya Reviano datang dan membawakan Barbie yang sudah diperbaiki kepalanya yang putus olehnya sendiri.


"Nih!" ucap Reviano sambil memberikan boneka Barbie yang tadi sempat ia copot kepalanya.


"Makanya, jadi adik itu jangan bandel. Harus nurut sama kakak."


Revani tersenyum senang karena boneka Barbie nya sudah kembali seperti semula lagi. Ia bahkan sudah tidak ngambek lagi dan malah berhamburan ke pelukan Mommy nya.


"Maafin Vani ya Mom."


Renatta tersenyum lalu membalas pelukan putrinya itu. Renatta selalu mengajarkan untuk meminta maaf ketika berbuat salah pada anak-anaknya.


"Maafin kakak ya Vani, abis kamu tuh ngeselin banget jadi adek!"


Dibalas cengiran oleh Revani.


Bahkan ketika berkunjung ke rumah Oma, Opa dan kakeknya pun mereka selalu saja ribut berdua. Renatta kadang suka pusing sendiri kalau keduanya tak bisa dibilangin.


*


*


Selama enam tahun itu juga, Renatta dan Nesha sudah memiliki beberapa cabang restoran yang mereka kelola bersama. Keduanya memanfaatkan investasi dari Regan dan Daddy Arthur sebaik mungkin.


Mengenai kabar Devan, laki-laki itu kini tinggal di Bandung dengan status yang masih duda. Katanya sih dia masih belum ingin berumah tangga. Tapi, ketika main ke rumah dirinya dan Regan, saat melihat Revani dan Reviano malah jadi ingin punya anak. Malah terkadang Reviano seperti anak Devan karena lebih dekat dengan Devan. Regan sendiri sampai suka kesal sendiri dan selalu menyuruh Devan untuk menikah supaya punya anak sendiri dan tidak menjadikan anaknya sebagai anak Devan.


Untuk Grace sendiri, wanita itu kini sudah menikah dengan seorang arsitek terkenal dan memiliki seorang putri seumuran dengan Revani. Kadang Regan sekeluarga pergi ke Malang dan disana lah mereka liburan bersama.


*


*


Kini hidup Renatta penuh dengan banyak cinta dari keluarganya, sahabatnya juga dari beberapa orang terdekat lainnya. Ia sudah tak percaya lagi akan karma. Yang ia percaya hanya sebuah penebusan dosa yang dibayar di dunia.


Renatta menatap ke arah jendela kamarnya, ia menatap anak-anaknya yang bermain dengan riang gembira di halaman rumah ditemani oleh penjaga mereka. Di saat sedang seriusnya mengawasi anaknya, Renatta mendapatkan sebuah pelukan dari belakang oleh Regan.


Regan juga meletakkan kepalanya di bahu Renatta.


"Nggak nyangka ya, anak-anak kita sudah sebesar itu sekarang. Aku ingat betul waktu mereka masih harus disuapi dan kemana-mana selalu digendong. Sekarang mereka sudah bisa makan sendiri, jalan sendiri. Rasanya aku masih ingin memanjakan mereka."


"Mereka masih kecil loh sayang. Vani juga masih manja sama kamu," ucap Renatta mengingatkan.


"Kalau Vani sih iya, tapi tidak dengan Vian, dia baru berusia 5 tahun, tapi sudah seperti sudah besar saja. Apa-apa maunya sendiri, aku kan jadi tidak bisa memanjakan putraku sendiri."


Renatta tersenyum.


"Mungkin dia seperti itu karena dia adalah seorang kakak. Ia ingin memperlihatkan kalau dirinya bisa mandiri. Vian juga akan memperlihatkan sisi manjanya ketika dia ingin. Kalau dipikir-pikir lagi, Vian itu seperti kamu sayang. Terlihat seperti harimau dari luar, dan ketika kenal dan didekati seperti anak kucing yang manja."


Regan mulai menciumi pipi Renatta bahkan menggigit leher Renatta juga.


"Terima kasih sayang, sampai saat ini, kamu masih setia dan sabar menghadapi aku yang mood nya suka naik dan turun. Aku benar-benar beruntung."


Lagi dan lagi Regan menggigit leher Renatta sampai terlihat bekas kemerahan disana.


"Regan! Kalau sampai anak-anak lihat bekasnya gimana? Haduh!"


Renatta jadi panik sendiri.


"Bilang aja, abis digigit nyamuk yang sangat besar."


Renatta mendengus kesal. Regan membalikkan tubuh Renatta dan menatapnya dengan penuh cinta. Wajah Regan semakin mendekat dan mendekat sampai tak ada jarak di antara keduanya. Ketika sudah akan menempel, tiba-tiba terdengar suara dua burung beo yang berteriak.


"Mommy! Daddy! Apa yang kalian lakukan?" tanya Reviano yang membuat Renatta dan Regan saling menjauh.


Keduanya saling pandang lalu menghampiri anaknya.


"Tadi bulu mata Mommy ada yang jatuh, Daddy cuma membantu untuk membuangnya."


"Benar begitu Mom? Bukannya kalian mau berciuman ya?"


"What!!!!"


*


*


Tamat


Cerita berakhir sampai disini ya teman-teman. Terima kasih sudah mengikuti cerita ini dari awal sampai akhir. Love you all ❤️